Redaksiku.com – Terusan Pinglu resmi beroperasi sebagai jalur air strategis yang menghubungkan wilayah pedalaman barat daya China langsung ke Laut China Selatan, menandai pergeseran besar dalam peta logistik regional antara China dan Asia Tenggara. Proyek infrastruktur raksasa ini dirancang untuk memangkas biaya transportasi secara signifikan bagi pelaku usaha di wilayah yang selama ini terisolasi dari akses laut langsung.
Bagian Terusan Pinglu di Qinzhou, Guangxi, China, pada 19 September 2026. (Foto: CNA/Lan Yu)
Memangkas Hambatan Logistik di Pedalaman
Bagi perusahaan manufaktur di wilayah pedalaman seperti Guizhou, biaya logistik menuju pelabuhan sering kali menjadi beban yang memangkas daya saing produk. Produsen seperti China Aviation Guizhou Elevator harus menanggung biaya tambahan hingga 3.000 yuan per unit hanya untuk membawa barang ke pelabuhan, sebuah hambatan yang menghambat ekspansi ke pasar internasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Terusan Pinglu hadir sebagai solusi dengan memangkas jarak tempuh hingga lebih dari 560 km dibandingkan rute lama melalui Guangdong. Dengan nilai investasi mencapai 72,7 miliar yuan, proyek ini diharapkan mampu menurunkan biaya transportasi sebesar 18 hingga 30 persen bagi eksportir di wilayah barat daya China.
Pembangunan kanal sepanjang 134,2 km ini diproyeksikan mampu menghemat biaya operasional hingga 5 miliar yuan setiap tahunnya.

Lengan robot beroperasi di lini produksi otomatis pabrik Guizhou Zhonghang Elevator di Zunyi, Provinsi Guizhou, pada 2020. (Foto: China Aviation Guizhou Elevator)
Potensi dan Tantangan Arus Kargo
Sejak resmi dibuka pada 16 September 2026, operator telah mencatat minat dari berbagai sektor, mulai dari bijih besi hingga produk pertanian. Namun, para analis menekankan bahwa keberhasilan jangka panjang terusan ini bergantung pada kemampuan untuk menciptakan arus kargo baru, bukan sekadar memindahkan rute yang sudah ada.
- Perusahaan logistik kini mulai menguji rute untuk pengiriman bahan kimia dan produk industri lainnya.
- Pihak pengelola telah mengamankan kesepakatan pengangkutan untuk 3 juta ton kargo sebagai indikasi awal permintaan pasar.
- Tantangan utama tetap pada efisiensi biaya dibandingkan dengan pelabuhan mapan di Guangdong yang memiliki frekuensi pelayaran lebih tinggi.

Kompleks Madao di Terusan Pinglu, Qinzhou, Guangxi, China, pada 19 September 2026. (Foto: CNA/Lan Yu)
Mendorong Perdagangan Dua Arah dengan ASEAN
Konektivitas yang lebih baik dengan ASEAN menjadi pilar utama dalam pemanfaatan terusan ini. Dengan status ASEAN sebagai mitra dagang terbesar China, Terusan Pinglu diharapkan dapat memfasilitasi pertukaran barang yang lebih efisien, terutama impor buah-buahan dari Asia Tenggara ke pasar China.
Integrasi antara kawasan industri China dan Malaysia menjadi kunci untuk menciptakan keseimbangan arus barang dalam perdagangan bilateral.

Meski demikian, pelaku industri di Malaysia mencatat adanya ketimpangan volume ekspor-impor yang perlu diatasi. Keberadaan infrastruktur seperti China-Malaysia Qinzhou Industrial Park menjadi upaya nyata untuk meningkatkan konektivitas rantai pasok antara kedua negara.

Perspektif Industri dan Masa Depan
Perusahaan pelayaran internasional seperti PSA International telah menyatakan kesiapan fasilitas mereka di Terminal Peti Kemas Internasional Teluk Beibu untuk melayani kapal yang melintasi jalur baru ini. Langkah ini menunjukkan kepercayaan pelaku industri terhadap potensi jangka panjang Terusan Pinglu sebagai simpul logistik baru.
Dalam jangka panjang, keberhasilan terusan ini akan diukur dari kemampuannya untuk tetap kompetitif setelah masa subsidi awal berakhir. Sinergi antara pengiriman kargo curah dan efisiensi rute akan menjadi penentu apakah jalur ini mampu mengubah lanskap ekonomi di kawasan barat daya China secara permanen.

Kapal kargo di Teluk Beibu, China selatan, pada 19 September 2026. (Foto: CNA/Lan Yu)
Pertanyaan Umum
Apa fungsi utama dari Terusan Pinglu?
Terusan ini berfungsi sebagai jalur air yang menghubungkan wilayah pedalaman barat daya China langsung ke Pelabuhan Qinzhou di Laut China Selatan, memangkas jarak tempuh logistik secara signifikan dibandingkan rute darat atau sungai sebelumnya.
Bagaimana dampak terusan ini terhadap biaya logistik?
Pemerintah China memperkirakan biaya transportasi melalui rute baru ini dapat berkurang sekitar 18 hingga 30 persen, yang secara langsung meningkatkan daya saing produk dari wilayah pedalaman di pasar global.
Apakah terusan ini hanya untuk ekspor China?
Tidak, terusan ini dirancang untuk mendukung perdagangan dua arah. Pemerintah daerah dan mitra internasional berusaha mendorong impor, khususnya komoditas pertanian dari negara-negara ASEAN, untuk memastikan kapal memiliki muatan saat kembali ke China.
Ringkasan
Terusan Pinglu resmi beroperasi pada 16 September 2026 sebagai jalur air strategis sepanjang 134,2 km yang menghubungkan wilayah pedalaman barat daya China langsung ke Laut China Selatan melalui Pelabuhan Qinzhou. Infrastruktur senilai 72,7 miliar yuan ini dirancang untuk memangkas jarak tempuh logistik hingga 560 km, yang diproyeksikan mampu menurunkan biaya transportasi sebesar 18 hingga 30 persen serta menghemat biaya operasional hingga 5 miliar yuan setiap tahunnya bagi eksportir di wilayah tersebut.
Keberhasilan proyek ini sangat bergantung pada kemampuan untuk menciptakan arus kargo baru dan menyeimbangkan perdagangan dua arah dengan negara-negara ASEAN. Meski telah mendapatkan dukungan dari operator logistik internasional seperti PSA International, tantangan utama tetap pada efisiensi biaya operasional jangka panjang dan kemampuan untuk bersaing dengan pelabuhan mapan di Guangdong, terutama dalam menarik komoditas impor seperti hasil pertanian untuk memastikan keberlanjutan arus barang melalui jalur tersebut.






