Ilustrasi AI (foto: Unsplash)
Redaksiku.com – Kecerdasan buatan kini memegang peran penting dalam mentransformasi fungsi keuangan perusahaan modern di berbagai belahan dunia. Kendati demikian, pemanfaatan teknologi canggih ini di kalangan Chief Financial Officer di kawasan Asia Tenggara masih berada pada tahap awal dan tergolong terbatas akibat berbagai tantangan operasional.
Berdasarkan temuan terbaru dari riset regional, adopsi teknologi cerdas ini belum merata di seluruh struktur organisasi perusahaan. Para pemimpin keuangan harus menghadapi realitas bahwa integrasi sistem otomatisasi membutuhkan persiapan matang, mulai dari infrastruktur teknologi hingga kesiapan sumber daya manusia yang ada di dalam perusahaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Realitas Adopsi Teknologi di Lapangan
Hasil riset dari Deloitte Asia Pacific CFO Pulse Survey menunjukkan bahwa lanskap pemanfaatan teknologi di departemen keuangan masih menyisakan banyak ruang untuk berkembang. Mayoritas pemimpin keuangan masih berhati-hati dalam menanamkan modal dan mengintegrasikan sistem otomatisasi ke dalam operasional inti mereka.
Sebagian besar eksekutif keuangan melaporkan bahwa mereka baru menyentuh permukaan dari kemampuan penuh yang ditawarkan oleh sistem cerdas tersebut. Data survei memperlihatkan fakta menarik mengenai sejauh mana integrasi ini telah berjalan:
- Sebanyak 46 persen CFO baru memanfaatkan teknologi cerdas pada area tertentu yang spesifik dalam fungsi keuangan.
- Hanya ada 12 persen pimpinan perusahaan yang benar-benar telah menerapkannya secara luas di seluruh bagian organisasi.
- Sebagian besar responden masih berfokus pada uji coba terbatas sebelum memutuskan untuk melakukan ekspansi teknologi secara menyeluruh.
Sekitar 46 persen CFO di kawasan Asia Tenggara saat ini baru memanfaatkan kecerdasan buatan pada area tertentu dalam fungsi keuangan perusahaan.
Tantangan Utama yang Dihadapi Pimpinan Keuangan
Transformasi digital di sektor keuangan bukanlah proses instan yang bebas dari hambatan. Para eksekutif di tingkat manajerial tertinggi harus bergulat dengan berbagai kendala struktural yang menghalangi laju adopsi teknologi secara optimal di perusahaan masing-masing.
Laporan yang sama mengidentifikasi tiga hambatan terbesar yang paling sering dikeluhkan oleh para pengambil keputusan di sektor finansial. Faktor-faktor ini mencakup aspek finansial, ketersediaan tenaga ahli, hingga integritas dari data itu sendiri yang menjadi fondasi analisis bisnis.
- Kebutuhan biaya dan alokasi sumber daya yang besar menjadi tantangan utama bagi 53 persen responden survei.
- Kesenjangan talenta dan penguasaan keterampilan digital yang memadai dikeluhkan oleh 50 persen pimpinan keuangan.
- Persoalan mengenai kualitas dan keakuratan data internal perusahaan mencapai 43 persen dari total keluhan yang ada.
Sebanyak 53 persen CFO mengaku terkendala masalah biaya dan sumber daya, sementara 50 persen lainnya menghadapi tantangan kesenjangan talenta digital.
Strategi Pengembangan Talenta dan Kepemimpinan
Menghadapi berbagai hambatan tersebut, para pemimpin perusahaan tidak tinggal diam dan mulai mengambil langkah proaktif. Investasi pada pengembangan kapasitas internal menjadi prioritas utama guna memastikan organisasi siap menyongsong era digital yang kompetitif.
Sebanyak 78 persen CFO menyatakan telah mengalokasikan anggaran dan sumber daya untuk menjalankan program peningkatan keterampilan bagi tenaga kerja mereka. Langkah ini dinilai krusial agar karyawan dapat beradaptasi dengan sistem kerja baru yang berbasis otomatisasi dan analisis data mendalam.
CFO Program Leader Deloitte Indonesia, Liana Lim, menjelaskan bahwa implementasi teknologi canggih harus berjalan beriringan dengan strategi pengembangan sumber daya manusia yang berkelanjutan. Tanpa adanya keseimbangan tersebut, investasi teknologi dikhawatirkan tidak akan memberikan hasil yang maksimal bagi ketahanan bisnis jangka panjang.
“Adopsi AI tanpa rencana suksesi yang kuat ibarat mengotomatisasi kapal tanpa ada nahkoda yang mengendalikannya. Peluang terbesarnya bukan sekadar efisiensi, melainkan memanfaatkan AI untuk meluangkan waktu bagi pengambilan keputusan krusial.”
— Liana Lim
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa manfaat terbesar dari sistem cerdas ini bukan sekadar memangkas biaya operasional harian. Teknologi tersebut berfungsi untuk memberikan ruang bagi para pemimpin keuangan agar dapat lebih fokus pada perumusan strategi bisnis yang berdampak langsung.
Pertanyaan Umum
Mengapa adopsi kecerdasan buatan di kalangan CFO Asia Tenggara masih terbatas?
Adopsi masih terbatas karena perusahaan di kawasan ini dihadapkan pada tantangan biaya yang tinggi, keterbatasan talenta serta keterampilan digital, dan masalah kualitas data internal.
Berapa banyak perusahaan yang sudah menerapkan sistem otomatisasi secara luas?
Berdasarkan survei terbaru, hanya ada sekitar 12 persen CFO yang telah menerapkan teknologi tersebut secara luas di seluruh lini organisasi mereka.
Bagaimana cara perusahaan mengatasi hambatan kesenjangan talenta digital?
Sebagian besar pimpinan keuangan, yakni sekitar 78 persen, memilih untuk berinvestasi secara serius dalam program peningkatan keterampilan atau upskilling bagi tenaga kerja mereka.
Ringkasan
Berdasarkan riset Deloitte Asia Pacific CFO Pulse Survey, adopsi kecerdasan buatan (AI) di kalangan Chief Financial Officer (CFO) di Asia Tenggara masih berada pada tahap awal dan terbatas. Sebanyak 46 persen CFO baru memanfaatkan teknologi tersebut pada area spesifik di fungsi keuangan, sementara hanya 12 persen yang telah menerapkannya secara luas di seluruh bagian organisasi.
Laporan ini mengidentifikasi tiga hambatan utama dalam adopsi AI, yaitu kendala biaya dan alokasi sumber daya yang besar bagi 53 persen responden, kesenjangan talenta digital bagi 50 persen responden, serta masalah kualitas dan keakuratan data internal bagi 43 persen responden. Untuk mengatasi tantangan tersebut, sekitar 78 persen CFO telah mengalokasikan anggaran untuk program peningkatan keterampilan tenaga kerja.
CFO Program Leader Deloitte Indonesia, Liana Lim, menekankan pentingnya menyeimbangkan implementasi teknologi dengan strategi pengembangan sumber daya manusia yang berkelanjutan. Menurutnya, pemanfaatan AI yang tepat tidak hanya bertujuan memangkas biaya operasional, tetapi juga memberikan ruang bagi para pemimpin keuangan untuk fokus pada pengambilan keputusan strategis.






