Sholat Kafarat Jumat Terakhir Ramadhan: Susunan Metode, Doa , Serta Prinsipnya

- Penulis

Sabtu, 6 April 2024 - 00:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sholat Kafarat Jumat Terakhir Ramadhan: Susunan Metode, Doa , Serta Prinsipnya

Sholat Kafarat Jumat Terakhir Ramadhan: Susunan Metode, Doa , Serta Prinsipnya

Redaksiku.com – Menjelang penghujung Ramadhan, tersedia sejumlah amalan yang dapat dilaksanakan oleh umat Islam. Salah satunya adalah sholat kafarat Jumat paling akhir Ramadhan.

Sholat kafarat disebut termasuk bersama dengan sholat al-bara’ah. Sholat ini dimaksudkan untuk mengganti sholat fardhu yang pernah ditinggalkan atau yang tidak sah di era lalu.

Lantas apa itu sholat kafarat? Berikut penjelasannya beserta tata cara, doa dan hukum mengerjakannya.

Sholat Kafarat Jumat Terakhir Ramadhan: Susunan Metode, Doa , Serta Prinsipnya
Sholat Kafarat Jumat Terakhir Ramadhan: Susunan Metode, Doa , Serta Prinsipnya

Apa itu Sholat Kafarat?

Berdasarkan buku Fikih Jinayat (Hukum Pidana Islam) yang ditulis Ali Geno Berutu, rencana kafarat berasal dari kata “kufir” yang bermakna tertutup. Kafarat dapat dijelaskan sebagai pembayaran denda yang harus diserahkan sebagai akibat melanggar larangan Allah atau tidak memenuhi janji. Kafarat termasuk dianggap sebagai ekspresi taubat dan upaya untuk menebus dosa seseorang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dengan dasar tersebut, beberapa individu yakin bahwa melakukan sholat kafarat pada Jumat paling akhir di bulan Ramadhan dapat menggantikan sholat yang ditinggalkan di era lalu. Bahkan, sholat ini dikatakan dapat mengisi kekurangan di dalam kekhusyu’an sholat yang pada mulanya diragukan.

Mengutip laman NU Online, sholat Kafarat dilaksanakan sejumlah sholat fardhu, yaitu lima kali sementara sholat atau berjumlah 17 rakaat. Sejumlah ulama berpendapat bahwa sholat ini dibolehkan bersama dengan meng-qadha sholat yang diragukan ditinggalkan atau tidak sah.

Akan tetapi, tersedia perbedaan pendapat mengenai perihal ini. Lantas, bagaimana tata langkah mengerjakan dan hukum sholat Kafarat Jumat? Simak penjelasannya di bawah ini!

Tata Cara Sholat Kafarat

Cara melakukan sholat Kafarat tidak tidak sama bersama dengan sholat harus pada umumnya. Sholat ini terdiri dari empat rakaat dan dapat dilaksanakan sesuai bersama dengan beberapa langkah berikut:

Membaca niat sholat kafarat:

Nawaitu usholli arba’a raka’atin kafaratan limaa faatanii minash-sholati lillaahi ta’alaa.
Membaca surat Al-Fatihah dan surat pendek, yaitu surat Al-Qadr sebanyak 15 kali dan dilanjutkan bersama dengan membaca surat Al-Kautsar sebanyak 15 kali.
Melanjutkan bersama dengan gerakan sholat harus pada umumnya.

Doa setelah Sholat Kafarat

Setelah sholat kafarat dapat membaca istighfar sebanyak 10 kali, sholawat nabi sebanyak 100 kali, dan membaca basmallah, hamdallah, serta syahadat. Kemudian, dilanjutkan bersama dengan membaca doa kafarat berikut:

اَللَّهُمَّ يَا مَنْ لاَ تَنْفَعُكَ طَاعَتِيْ وَلاَ تَضُرُّكَ مَعْصِيَتِيْ تَقَبَّلْ مِنِّيْ مَا لاَ تَنْفَعُكَ وَاغْفِرْ لِيْ مَا وَلاَ تَضُرُّكَ يَا مَنْ إِذَا وَعَدَ وَفَا وَ إِذَا تَوَعِدُ تَجَاوَزَ وَعَفَا اِغْفِرْ لِيْ لِعَبْدٍ ظَلَمَ نَفْسَهُ وَأَسْأَلُكَ اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ بَطْرِ اْلغِنَى وَجَهْدِ اْلفَقْرِ إِلَهِيْخَلَقْتَنِيْ وَلَمْ أَكُنْ شَيْئًاً وَرَزَقْتَنِيْ وَلَمْ اَكُنْ شَيْئاً وَارْتَكَبْتُ اْلمَعَاصِيْ فَإِنِّيْ مُقِرٌّ لَكَ بِذُنُوبِيْ فَإِنْ عَفََوْتَ عَنِّيْ فَلاَ يَنْقُصُ مِنْ مُلْكِكَ شَيْئاً وَإِنْ عَذَبْتَنِيْ فَلاَ يَزِدُ فِيْ سُلْطَاِنكَ شيئاً اَللَّهُمَّ إِنَّكَ تَجِدُ مَنْ تُعَذِّبُهُ غَيْرِي لَكِنِّيْ لاَ أَجِدُ مَنْ يَرْحَمْنِيْسِوَاكَ فَاغْفِرْ لِيْ مَا بَيْنِيْ وَبَيْنَكَ وَمَا بَيْنَ خَلْقِكَ اِرْحَمْنِيْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَيَا رَجَاءَ السّائِلِيْنَ وَيَا أَمَانَ اْلخَائِفِيْنَ إِرْحَمْنِيْ بِِرَحْمَتِكَ الْوَاسِعَةَ أَنْتَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَاَلمِيْنَ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ ِللْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ وَتَابِعِ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ بِالْخَيْرَاتِ ربّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَ أَنْتَ خَيْرُالرَّاحِمِيْنَ وصل الله على سيّدنا محمّد وعلى ألِهِ وصحبه وسلّم تسليمًا كثيرًا والحمد لله ربّ العالمين. أمين.

Allahumma yaa man laa tan-fa’uka tha’atii wa laa tadhurruka ma’shiyatii taqabbal minnii ma laa yanfa’uka waghfirlii ma laa yadhurruka ya man idzaa wa ‘ada wa fii wa idzaa tawa’ada tajaa wa za wa’afaa ighfirli’abdin zhaalama nafsahu wa as’aluka. Allahumma innii a’udzubika min bathril ghinaa wa jahdil faqri ilaahii khalaqtanii wa lam saya syai’an wa razaqtanii wa lam saya syaii’in wartakabtu al-ma’ashii fa-innii muqirun laka bi-dzunuubii. Fa in ‘afawta ‘annii fala yanqushu min mulkika syai’an wa-in adzdzaabtanii falaa yaziidu fii sulthaanika syay-‘an. Ilaahii anta tajidu man tu’adzdzi buhu ghayrii wa-anaa laa ajidu man yarhamanii ghaiyraka aghfirlii maa baynii wa baynaka waghfirlii ma baynii wa bayna khlaqika yaa arhamar rahiimiin wa yaa raja’a sa’iliin wa yaa amaanal khaifiina irhamnii birahmatikaal waasi’aati anta arhamur rahimiin yaa rabbal ‘aalaamiin. Allahummaghfir lil mukminiina wal mukminaat wal musliimina wal muslimaat wa tabi’ baynana wa baynahum bil khaiyrati rabbighfir warham wa anta khairur-rahimiin wa shallallaahu ‘alaa sayidina Muhammadin wa ‘alaa alihii wa shahbihi wasallama tasliiman katsiiran.

Artinya:

“Yaa Allah, yang mana segala ketaatanku tidak ada bermakna bagiMu dan segala perbuatan maksiatku tidak ada merugikanMu. Terimalah diriku yang tidak ada bermakna bagiMu. Dan ampunilah saya yang mana ampunanMu itu tidak merugikan bagiMu. Ya Allah, seandainya Engkau berjanji tentu Engkau tepati janjiMu. Dan seandainya Engkau mengancam, maka Engkau senang mengampuni ancamanMu. Ampunilah hambaMu ini yang telah menyesatkan diriku sendiri, saya telah Engkau beri kekayaan dan saya mengumpat di sementara saya Engkau beri miskin.

Wahai Tuhanku Engkau ciptakan saya dan saya tak bermakna apapun. Dan Engkau beri saya rizki samasekali saya tak bermakna apa-apa, dan saya melakukan perbuatan seluruh maksiat dan saya mengaku padaMu bersama dengan segala dosa-dosaku. Apabila Engkau mengampuniku tidak mengurangi keagungan-Mu sedikitpun, dan seandainya Kau siksa saya maka tidak bakal menambah kekuasaanMu, wahai Tuhanku, bukankah masih banyak orang yang bakal Kau siksa tak hanya aku.

Namun bagiku hanya Engkau yang dapat mengampuniku. Ampunilah dosa-dosaku kepadaMu. Dan ampunilah segala kesalahanku di pada saya bersama dengan hamba-hambaMu. Ya Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Pengasih dan daerah pengaduan seluruh pemohon dan daerah berlindung bagi orang yang takut. Kasihanilah saya bersama dengan pengampunanMu yang luas.

Engkau yang Maha Pengasih dan Penyayang dan Engkaulah yang memelihara seluruh alam yang ada. Ampunilah segala dosa-dosa orang mu’min dan mu’minat, muslimin dan muslimat dan satukanlah saya bersama dengan mereka di dalam kebaikan. Wahai Tuhanku ampunilah dan kasihilah. Sesungguhnya Engkau Maha Pengasih kembali Maha Penyayang.”

Hukum Sholat Kafarat

Ada pembicaraan mengenai status hukum sholat kafarat. Dalam buku Kasyf al-Khafa’ wa al-Khilaf fi Hukmi Sholat al-Bara’ah min al-Ikhtilaf, Mufti Hadlramaut Yaman, Syekh Fadl bin Abdurrahman, mencatat perbedaan pendapat para ulama mengenai kasus ini.

Beberapa ulama memperbolehkan sholat kafarat, sedangkan yang lain menganggapnya sebagai suatu hal yang diharamkan. Berikut penjelasannya yang dirangkum dari laman NU Online.

Pandangan yang Membolehkan:

Mengacu pada pendapat al-Qadli Husain yang membolehkan meng-qadha sholat fardhu yang pernah ditinggalkan atau diragukan.
Tidak tersedia orang yang dapat menegaskan apakah sholatnya yang telah dilaksanakan itu dianggap sah oleh Allah SWT. Terlebih kembali sholat yang terdahulu.
Larangan mengenai sholat kafarat ini disandarkan pada kekuatiran seandainya sholat tersebut cukup untuk mengganti sholat fardhu selama setahun. Sehingga kecuali kekuatiran itu hilang, maka hukum haramnya pun hilang.

Alasan mengikut amaliyyah yang telah dilaksanakan oleh para pembesar ulama dan para wali Allah yang pakar makrifat. Hal ini telah cukup jadi hujjah dibolehkannya sholat kafarat ini.

Pandangan yang Mengharamkan:

1. Tidak tersedia tuntunan yang mengetahui mengenai sholat kafarat dari hadits nabi atau kitab-kitab syari’ah. Sehingga pelaksanaannya termasuk isyra’u ma lam yusyra’ (mensyariatkan ibadah yang tidak disyariatkan) atau ta’athi bi ‘ibadatin fasidah (melakukan ibadah yang rusak).

Adapun dalil yang disebutkan di atas sebagai acuan sholat kafarat, oleh Ustadz Yusuf Suharto, disebutkan bahwa hadist tersebut adalah hadits maudhu’. Yaitu hadits palsu yang dan tidak tersedia mengenai sanad bersama dengan Nabi.

Menurut para ulama, disaat sebuah amalan bersumber dari hadits maudhu’, maka amalan tersebut tidak boleh dikerjakan.

Mengutip laman MUI Jatim, Syaikh asy-Syaukani berkata:

ﻫﺬا: ﻣﻮﺿﻮﻉ ﻻ ﺇﺷﻜﺎﻝ ﻓﻴﻪ ﻭﻟﻢ ﺃﺟﺪﻩ ﻓﻲ ﺷﻲء ﻣﻦ اﻟﻜﺘﺐ اﻟﺘﻲ ﺟﻤﻊ ﻣﺼﻨﻔﻮﻫﺎ ﻓﻴﻬﺎ اﻷﺣﺎﺩﻳﺚ اﻟﻤﻮﺿﻮﻋﺔ ﻭﻟﻜﻨﻪ اﺷﺘﻬﺮ ﻋﻨﺪ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻣﻦ اﻟﻤﺘﻔﻘﻬﺔ ﺑﻤﺪﻳﻨﺔ ﺻﻨﻌﺎء ﻓﻲ ﻋﺼﺮﻧﺎ ﻫﺬا ﻭﺻﺎﺭ ﻛﺜﻴﺮ ﻣﻨﻬﻢ ﻳﻔﻌﻠﻮﻥ ﺫﻟﻚ ﻭﻻ ﺃﺩﺭﻱ ﻣﻦ ﻭﺿﻌﻪ ﻟﻬﻢ. ﻓﻘﺒﺢ اﻟﻠﻪ

Artinya: “Ini adalah hadis palsu. Tidak tersedia kejanggalan di dalamnya. Tidak saya temukan sedikitpun di dalam kitab yang mengumpulkan hadis-hadis palsu. Hal semacam ini masyhur dilaksanakan oleh orang-orang yang mengaku pakar fikih di kota Sana’a di era kita ini. Banyak dari mereka yang melakukannya. Aku tidak mengetahui siapa yang memalsukannya. Semoga Allah memperlakukan tidak baik pada mereka (al-Fawaid al-Majmu’ah 1/54)”

2. Mengkhususkan sholat kafarat pada hari Jumat paling akhir bulan Ramadhan tidak punya dasar yang mengetahui di dalam syari’at.

3. Keterangan Syekh Ibnu Hajar al-Haitami menyebutkan:

وأقبح من ذلك ما اعتيد في بعض البلاد من صلاة الخمس في هذه الجمعة عقب صلاتها زاعمين أنها تكفر صلوات العام أو العمر المتروكة وذلك حرام أو كفر لوجوه لا تخفى

“Yang lebih tidak baik dari itu adalah normalitas di beberapa daerah berbentuk sholat 5 sementara di jumat ini (jumat akhir Ramadhan) selepas menjalankan sholat jumat, mereka sangat percaya sholat tersebut dapat melebur dosa sholat-sholat yang ditinggalkan selama setahun atau apalagi semasa hidup, yang demikian ini adalah haram atau apalagi kufur karena beberapa segi pandang yang tidak samar.” (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, juz.2, halaman 457)

Buya Yahya, di dalam kanal Youtube Al-Bahjah TV mengutip pendapat Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami tersebut menyebutkan bahwa sholat kafarat hukumnya benar-benar diharamkan.

Penjelasan mengenai Mengqadha Sholat

Adapun sholat yang dulunya telah tertinggal, hukumnya harus untuk diganti (qadha). Hal ini dijelaskan di dalam hadits Rasulullah SAW.

Dari Anas bin Malik Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa yang lupa (melaksanakan) suatu sholat atau tertidur dari (melaksanakan)nya, maka kafaratnya (tebusannya) adalah melakukannya (mengqadha) kecuali dia telah ingat.” (HR. Bukhari Muslim).

Selain itu, di dalam kitab al Fikih alaa Madzaahib al Arba’ah karya Syaikh Abdurrahman al Jaziri dijelaskan, sebagai berikut:

“Hukum mengqadha sholat fardhu menurut kesepakatan tiga madzhab (ulama Hanafi, Maliki dan Hanbali) adalah harus dan harus dilaksanakan sesegera bisa saja baik sholat yang ditinggalkan karena ada udzur (halangan) atau tidak.

Sementara, menurut ulama madzhab Syafi’i, qadha sholat hukumnya harus dan harus dilaksanakan sesegera bisa saja seandainya sholat yang ditinggalkan tanpa ada udzur dan seandainya karena udzur, qadha sholatnya tidak diharuskan dilaksanakan sesegera mungkin.

Dalam perihal ini dijelaskan di dalam kitab Majmu’ syarh al Muhadzab fi fikih as Syafi’i karya al Imam Nawawi sebagai berikut:

“Orang yang harus atasnya sholatnya tetapi melewatkannya, maka harus atasnya untuk meng-qadhanya, baik terlewat karena udzur atau tanpa udzur. Bila terlewatnya karena udzur boleh meng-qadhanya bersama dengan ditunda tetapi seandainya dipercepat hukumnya mustahab”.

 

Follow Sosial Media Redaksiku : FacebookInstagramTiktokXYoutubePinterest

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rebo Wekasan Jatuh Hari Ini, Bolehkah Baca Doa Tolak Bala? Ini Penjelasannya
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Wajib Tahu 7 Makna dan Jawabannya
Doa Setelah Sholat, Wajib Tahu 7 Bacaan Dzikir dan Artinya
8 Keutamaan Puasa Tasua dan Asyura di Bulan Muharram yang Jarang Diketahui
Jarang Diketahui, Ini Amalan 1 Muharram yang Dianjurkan untuk Menyambut Tahun Baru Islam
50 Ucapan Tahun Baru Islam 1448 H untuk WhatsApp, Instagram, Keluarga, dan Teman
Doa Akhir Tahun dan Awal Tahun Islam 1448 H, Dibaca Kapan? Ini Penjelasannya
Tahun Baru Islam 1448 H Jatuh 16 Juni 2026, Ini Makna, Amalan, dan Jadwal Puasa Muharam

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Rabu, 12 Agustus 2026 - 12:12 WIB

Rebo Wekasan Jatuh Hari Ini, Bolehkah Baca Doa Tolak Bala? Ini Penjelasannya

Kamis, 2 Juli 2026 - 08:07 WIB

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Wajib Tahu 7 Makna dan Jawabannya

Rabu, 1 Juli 2026 - 16:06 WIB

Doa Setelah Sholat, Wajib Tahu 7 Bacaan Dzikir dan Artinya

Kamis, 25 Juni 2026 - 18:42 WIB

8 Keutamaan Puasa Tasua dan Asyura di Bulan Muharram yang Jarang Diketahui

Selasa, 16 Juni 2026 - 09:09 WIB

Jarang Diketahui, Ini Amalan 1 Muharram yang Dianjurkan untuk Menyambut Tahun Baru Islam

Berita Terbaru