Redaksiku.com – Puluhan warga memadati halaman rumah Amaq Marni pada siang hari menjelang pelaksanaan ritual adat di Desa Kesik. Sembilan hari sebelum acara puncak Nunas Nede, para petani mulai berdatangan untuk mengantarkan hasil bumi ke kediaman perempuan berusia 73 tahun tersebut.
Hasil pertanian yang terkumpul berupa beras dan ketan nantinya diolah bersama menjadi makanan tradisional pelengkap prosesi. Kesibukan tampak di bawah tenda sederhana, di mana para perempuan menampi beras dan mengaduk adonan ketan, sementara kaum lelaki menyiapkan perlengkapan ritual.
Menuju Sumber Mata Air di Kaki Perbukitan
Dua hari berselang, warga Desa Kesik berjalan kaki beriringan menuju sumber mata air di kaki perbukitan. Mereka membawa dulang berisi padi, buah-buahan, ayam kampung, serta kendi kecil untuk menampung air dari mata air keramat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Perjalanan ini melibatkan berbagai elemen masyarakat yang menjunjung tinggi warisan leluhur. Tradisi tersebut rutin dilaksanakan setiap tahun untuk menyambut peralihan musim.
- Warga berjalan beriringan membawa dulang berisi hasil bumi.
- Prosesi melibatkan pelestarian sumber air di kaki perbukitan.
- Kegiatan ini menjadi agenda tahunan warga Desa Kesik.
Ritual Nunas Nede merupakan tradisi tahunan masyarakat Desa Kesik untuk menyambut peralihan musim dari kemarau ke musim hujan.
Makna Spiritual dan Ekologis
Bagi warga Kecamatan Masbagik, Kabupaten Lombok Timur, perjalanan tersebut bukan sekadar kegiatan budaya. Masyarakat memandangnya sebagai wujud pelestarian ekologi sekaligus penghormatan kepada sejarah leluhur.
Ketergantungan yang tinggi pada sektor pertanian membuat kelestarian alam menjadi prioritas utama. Mata air di perbukitan dipelihara secara turun-temurun demi keberlangsungan hidup warga sekitar.
Sebanyak puluhan warga terlibat aktif dalam persiapan bahan pangan tradisional di rumah Amaq Marni sebelum ritual dimulai.
Akar Tradisi dari Kekhawatiran Alam
Sebagian besar penduduk Desa Kesik menggantungkan sumber penghidupannya pada sektor pertanian sawah dan ladang. Faktor cuaca menentukan siklus tanam dan hasil panen setiap tahunnya.
Ketika musim kemarau berlangsung terlalu panjang, debit mata air kerap menyusut drastis. Kondisi tersebut memicu kecemasan kolektif di kalangan petani karena ancaman gagal panen.
Perubahan musim yang ekstrem dapat menyebabkan kekeringan pada lahan pertanian dan menyusutnya debit mata air di wilayah setempat.
Pertanyaan Umum
Apa itu ritual Nunas Nede?
Nunas Nede adalah tradisi tahunan masyarakat Desa Kesik, Lombok Timur, yang digelar menjelang peralihan dari musim kemarau ke musim hujan.
Di mana lokasi pelaksanaan ritual ini?
Prosesi adat ini berpusat di Desa Kesik, Kecamatan Masbagik, dengan titik puncak perjalanan menuju sumber mata air di kaki perbukitan.
Apa saja yang dibawa warga saat prosesi?
Warga membawa dulang berisi hasil bumi seperti padi, ketan, buah-buahan, ayam kampung, serta kendi untuk diisi air dari mata air.
Ringkasan
Artikel ini membahas ritual adat Nunas Nede yang rutin dilaksanakan setiap tahun oleh puluhan warga Desa Kesik, Kecamatan Masbagik, Kabupaten Lombok Timur, guna menyambut peralihan dari musim kemarau ke musim hujan. Tradisi ini diawali dengan persiapan bahan pangan tradisional seperti beras dan ketan di kediaman Amaq Marni, seorang warga berusia 73 tahun, sebelum dilanjutkan dengan prosesi berjalan kaki menuju sumber mata air di kaki perbukitan.
Dalam pelaksanaannya, warga membawa berbagai hasil bumi seperti padi, buah-buahan, ayam kampung, serta kendi kecil untuk menampung air dari sumber mata air keramat. Ritual ini tidak hanya berfungsi sebagai warisan leluhur, tetapi juga memiliki makna ekologis yang mendalam untuk menjaga kelestarian lingkungan dan mengatasi kekhawatiran petani terhadap ancaman gagal panen akibat penyusutan debit air saat kemarau panjang.






