Redaksiku.com – Esau Sidemo tak pernah menyangka perjalanan mencari ikan di perairan Maluku Utara akan berubah menjadi perjuangan hidup atau mati selama 26 hari terombang-ambing di tengah luasnya Samudra Pasifik. Nelayan berusia 57 tahun asal Desa Bido, Pulau Batang Dua, Ternate, tersebut harus bertahan dalam kondisi ekstrem setelah perahu ketinting yang dikendarainya mengalami mati mesin dan terseret arus ratusan kilometer dari kampung halamannya.
Kisah nyata yang menyerupai adegan dalam film survival ini bermula ketika gangguan teknis melumpuhkan perahu kecilnya di tengah laut lepas. Arus laut yang kuat membawa perahu tersebut jauh meninggalkan zona tangkapan ikan konvensional hingga masuk ke jalur pelayaran internasional. Tanpa alat komunikasi yang memadai, Esau harus mengandalkan insting bertahan hidup yang luar biasa di tengah terjangan ombak dan ketidakpastian.
Perjuangan Ekstrem di Tengah Samudra Pasifik
Selama berminggu-minggu tanpa pasokan air tawar dan makanan yang memadai, Esau terpaksa memanfaatkan apa saja yang tersedia di sekitar perahunya untuk bertahan hidup. Ia memakan burung laut yang hinggap, menangkap ikan mentah yang kebetulan melompat ke dalam perahu, serta mengonsumsi kelapa busuk yang hanyut di permukaan laut. Ketika rasa haus mendera tanpa ampun, ia bahkan terpaksa meminum urinenya sendiri demi menjaga fungsi tubuhnya tetap berjalan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam situasi yang sangat putus asa tersebut, keyakinan dan doa menjadi satu-satunya pegangan bagi nelayan paruh baya ini agar bisa kembali berkumpul dengan keluarganya. Hari demi hari berlalu dengan lambat di bawah terik matahari dan hantaman badai kecil. Hingga pada akhirnya, sebuah keajaiban terjadi ketika sebuah kapal kargo berbendera Prancis melihat keberadaan perahunya di tengah samudra luas.
Kisah penyelamatan dramatis ini bermula ketika kapal kargo berbendera Prancis mendapati perahu Esau terombang-ambing dan membawanya ke China sebelum akhirnya dipulangkan ke Indonesia.
“Ini seperti mukjizat,” ujar Esau mengenang detik-detik ketika pertolongan datang menyelamatkan nyawanya dari jurang kematian di tengah lautan lepas.
Ancaman Nyata bagi Keselamatan Nelayan Tradisional
Kasus yang dialami oleh Esau Sidemo bukanlah insiden tunggal yang terjadi di wilayah perairan Maluku Utara. Kondisi geografis daerah tersebut yang didominasi oleh kepulauan menyimpan risiko tinggi bagi para nelayan tradisional yang menggantungkan hidupnya pada hasil laut. Ancaman utama yang sering dihadapi meliputi:
- Kerusakan mesin perahu secara mendadak di tengah laut.
- Kehabisan bahan bakar akibat salah memperhitungkan jarak tempuh.
- Terjebak dalam gelombang tinggi dan cuaca buruk ekstrem.
Berdasarkan catatan resmi dari Basarnas Ternate, sepanjang tahun 2025 saja telah dilakukan 49 operasi pencarian dan pertolongan terhadap nelayan yang mengalami musibah di laut. Dari total operasi tersebut, sebanyak 122 orang berhasil ditemukan dalam keadaan selamat, sementara tujuh orang dinyatakan meninggal dunia, dan 20 korban lainnya hingga kini masih belum ditemukan.
Kepala Basarnas Ternate Iwan Ramdani mencatat bahwa 49 operasi SAR telah dilakukan sepanjang tahun 2025 dengan total korban selamat mencapai 122 orang.
Tingginya angka kecelakaan laut ini juga dipicu oleh faktor alam yang semakin sulit diprediksi. Gelombang di sejumlah titik perairan dilaporkan sering kali mencapai ketinggian hingga 2,5 meter, yang sangat berbahaya bagi perahu-perahu nelayan berukuran kecil.
Dampak Perubahan Iklim dan Pergeseran Musim
Persoalan keselamatan di laut kini semakin rumit dengan adanya perubahan pola cuaca global yang dirasakan langsung oleh masyarakat pesisir. Gafur Kaboli selaku nelayan tuna sekaligus Sekretaris Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Maluku Utara menjelaskan bahwa pengetahuan tradisional nelayan dalam membaca musim ikan kini mulai kehilangan relevansinya.
“Korban akibat dampak perubahan iklim terus naik seiring cuaca yang tidak lagi menentu. Keselamatan nelayan jadi terancam,” ujar Gafur menyoroti kerentanan sektor perikanan tangkap skala kecil saat ini.
Pengetahuan tradisional dalam membaca musim kini sering kali tidak lagi dapat diandalkan oleh nelayan akibat dinamika perubahan iklim yang ekstrem.
Situasi pelik ini diperparah oleh kondisi ekosistem laut dekat pantai yang semakin sepi tangkapan. Jika pada masa lalu para nelayan masih bisa mendapatkan ikan tuna berkualitas dalam radius kurang dari 12 mil dari garis pantai, kini mereka terpaksa harus berlayar jauh ke tengah lautan demi mendapatkan hasil tangkapan yang memadai.
Pertanyaan Umum
Apa penyebab utama nelayan Maluku Utara sering tersesat di laut?
Sebagian besar kasus disebabkan oleh kombinasi kerusakan mesin perahu, kehabisan bahan bakar, serta perubahan cuaca mendadak dan gelombang tinggi yang mencapai 2,5 meter.
Bagaimana cara Esau Sidemo bertahan hidup selama 26 hari di samudra?
Ia bertahan hidup dengan memakan burung laut, ikan mentah yang melompat ke perahu, kelapa busuk yang hanyut, serta meminum urinenya sendiri sebelum akhirnya diselamatkan kapal kargo asing.
Seberapa sering kecelakaan laut terjadi di wilayah Maluku Utara?
Basarnas Ternate mencatat ada 49 operasi SAR yang dilakukan sepanjang tahun 2025 untuk menangani kecelakaan nelayan dengan ratusan korban terdampak.
This article was originally published on Mongabay
Ringkasan
Esau Sidemo (57), seorang nelayan tradisional asal Desa Bido, Pulau Batang Dua, Ternate, berhasil bertahan hidup selama 26 hari setelah perahu ketintingnya mengalami mati mesin dan terseret arus hingga Samudra Pasifik. Kisah bertahan hidup ekstrem ini berakhir ketika ia diselamatkan oleh sebuah kapal kargo berbendera Prancis yang menemukannya di tengah laut sebelum akhirnya dipulangkan ke Indonesia.
Berdasarkan data Basarnas Ternate, insiden ini menyoroti tingginya kerentanan keselamatan nelayan tradisional di Maluku Utara, di mana tercatat ada 49 operasi SAR yang dilakukan sepanjang tahun 2025 dengan total 122 korban selamat, tujuh meninggal, dan 20 orang hilang. Situasi tersebut kian diperparah oleh cuaca ekstrem dan gelombang tinggi yang mencapai 2,5 meter.
Selain faktor cuaca, Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Maluku Utara mengungkapkan bahwa perubahan iklim telah membuat pengetahuan tradisional nelayan dalam membaca musim ikan kehilangan relevansinya. Hal ini memaksa para nelayan tradisional untuk berlayar lebih jauh ke tengah laut demi mendapatkan hasil tangkapan, yang secara langsung meningkatkan risiko kecelakaan laut.






