Redaksiku.com – Situasi panas mewarnai jalannya agenda politik di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Menjelang rapat Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket DPRD Pati yang menghadirkan Bupati Sudewo sebagai pihak yang dimintai klarifikasi, kericuhan besar pecah di area gedung dewan.
Keributan ini pecah sejak pagi, saat ratusan pendukung Bupati Sudewo memadati area Pendopo Kantor Bupati dan sekitar Gedung DPRD. Meski aparat kepolisian sudah dikerahkan dalam jumlah besar, bentrokan tak terhindarkan. Korban pun jatuh, salah satunya adalah aktivis Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), Teguh Istiyanto.
¥ Awal Mula Ricuh
Agenda rapat Pansus Hak Angket DPRD Pati pada Kamis pagi sebetulnya dirancang untuk mendengarkan langsung keterangan dari Bupati Sudewo terkait sejumlah kebijakan yang dinilai bermasalah. Namun, kehadiran massa pendukung bupati di sekitar lokasi justru membuat suasana makin panas.
Sekitar pukul 09.40 WIB, ketegangan mencapai puncaknya ketika Teguh Istiyanto, koordinator AMPB, tiba bersama rekannya Supriyono alias Botok. Keduanya bermaksud masuk ke Gedung DPRD melalui pintu selatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, massa pendukung bupati langsung mengenali mereka. Teriakan keras terdengar: Kuwi Teguh! Kuwi Teguh! dan dalam hitungan detik, puluhan orang menyerbu ke arah mereka.
👊 Aktivis Jadi Sasaran Amuk Massa
Teguh dan Botok tiba-tiba dikepung dan jadi sasaran amuk. Suasana mendadak kacau, dengan dorongan, pukulan, hingga tendangan mengarah ke keduanya.
Botok berusaha menyelamatkan diri dengan memanjat pagar gerbang, sementara Teguh tidak seberuntung itu. Ia terjatuh, membuat posisinya rentan dan menjadi sasaran pengeroyokan lebih parah.
Aparat kepolisian yang berjaga segera bertindak. Teguh akhirnya berhasil dievakuasi, meski dalam kondisi sepatu terlepas sebelah. Ia melompat masuk ke area DPRD demi menghindari amukan lebih lanjut.

👮 Polisi Kewalahan
Kapolresta Pati, Kombes Pol Jaka Wahyudi, yang turun langsung ke lokasi, mengakui bahwa situasi sempat sulit dikendalikan.
Rapat Pansus ini menjadi atensi, sehingga kami menurunkan kekuatan penuh. Ratusan personel ditempatkan di titik strategis agar jalannya persidangan berjalan aman dan tertib, jelas Jaka.
Meski sudah ada ratusan aparat dari berbagai satuan, termasuk Brimob Polda Jawa Tengah, massa yang begitu banyak tetap membuat pengendalian di lapangan tidak mudah. Polisi akhirnya menerapkan pola pengamanan berlapis, mulai dari ring dalam di ruang sidang hingga ring luar di area DPRD, untuk memastikan rapat tetap bisa berlangsung.
ðŸ›ï¸ Rapat Pansus Tetap Jalan
Meski insiden pengeroyokan sempat menimbulkan kegaduhan besar, rapat Pansus Hak Angket DPRD Pati tetap digelar. Kehadiran Bupati Sudewo untuk memberikan klarifikasi dianggap krusial, terutama terkait kebijakan yang dipertanyakan anggota dewan dan masyarakat.
Sayangnya, fokus publik seolah bergeser dari agenda politik ke insiden bentrok. Banyak pihak menilai kejadian ini mencoreng wajah demokrasi lokal, karena diskusi seharusnya bisa dilakukan secara terbuka tanpa intimidasi fisik.
👥 Reaksi Publik
Video dan foto peristiwa ini cepat menyebar di media sosial. Banyak warganet geram melihat aksi pengeroyokan terhadap aktivis yang datang untuk menyampaikan aspirasi.
Beda pendapat boleh, tapi main keroyok itu enggak benar. Demokrasi kita jadi mundur kalau kayak gini, tulis seorang netizen di platform X.
Ada pula yang menyoroti lemahnya pengamanan: Polisi kan ada banyak, kok masih bisa ricuh gitu. Harusnya bisa dicegah sebelum korban jatuh.
📚 Perspektif Demokrasi dan Hukum
Pengamat politik lokal menilai insiden ini menandakan rapuhnya ruang dialog di tingkat daerah. Kekerasan terhadap aktivis menunjukkan adanya ketegangan serius antara masyarakat sipil dan pendukung pemerintah daerah. Kalau tidak segera ditangani, bisa memperburuk krisis kepercayaan publik, ujar seorang akademisi dari Universitas Diponegoro.
Dari sisi hukum, pengeroyokan jelas bisa masuk ranah pidana. Aparat diminta tidak hanya mengamankan rapat, tetapi juga menindak tegas pelaku pengeroyokan demi memberi efek jera.
📊 Pentingnya Pengamanan Rapat Politik
Rapat politik seperti Pansus Hak Angket memang berpotensi memicu konflik karena melibatkan kepentingan besar. Pengamanan harus dirancang bukan hanya untuk melindungi pejabat, tapi juga masyarakat dan aktivis yang punya hak menyampaikan aspirasi.
Pola pengamanan berlapis yang dilakukan polisi patut diapresiasi, tapi kasus Teguh memperlihatkan bahwa ada celah yang masih bisa dimanfaatkan massa. Ke depan, aparat harus lebih sigap mendeteksi titik rawan agar bentrokan serupa bisa dicegah sejak dini.
Ž Pesan Penting dari Insiden
Ada beberapa hal yang bisa dipetik dari kericuhan di DPRD Pati:
-
Kebebasan berpendapat harus dijaga. Aktivis atau masyarakat berhak hadir tanpa rasa takut.
-
Pendukung politik perlu diarahkan. Perbedaan pandangan tak seharusnya berujung kekerasan.
-
Aparat wajib netral dan tegas. Polisi harus memastikan keamanan semua pihak, bukan hanya pejabat.
-
Demokrasi lokal sedang diuji. Insiden ini jadi pengingat pentingnya kedewasaan berdemokrasi.
œ… Kesimpulan
Kericuhan di DPRD Pati pada 2 Oktober 2025 mencatat satu catatan kelam dalam perjalanan politik lokal. Aktivis AMPB, Teguh Istiyanto, yang dikeroyok massa pendukung Bupati Sudewo, menunjukkan betapa rapuhnya ruang dialog ketika emosi massa lebih dominan daripada akal sehat.
Meski aparat kepolisian sudah menurunkan ratusan personel, kenyataannya situasi sempat sulit dikendalikan. Beruntung, Teguh berhasil diselamatkan, meski sempat mengalami luka dan kehilangan sepatu saat melarikan diri.
Rapat Pansus Hak Angket tetap berjalan, tapi peristiwa ini jadi pengingat penting: demokrasi bukan soal siapa yang paling banyak pendukungnya, melainkan bagaimana perbedaan pandangan bisa dikelola dengan kepala dingin, tanpa kekerasan.
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai Sumber






