Rekomendasi Saham GGRM dan HMSP Saat Penjualan Rokok Tertekan

- Penulis

Jumat, 11 September 2026 - 08:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rekomendasi Saham GGRM — Grafik produksi rokok nasional yang mencapai 157,4 miliar batang pada semester I-2026

Produksi rokok nasional mencatatkan rekor tertinggi dalam tujuh tahun terakhir pada semester I-2026.

Redaksiku.com – Industri hasil tembakau tanah air mencatat lonjakan produksi rokok yang signifikan pada semester I-2026, meski di sisi lain tren permintaan pasar justru menunjukkan arah yang berbeda.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan, total produksi rokok nasional tercatat mencapai 157,4 miliar batang sepanjang paruh pertama tahun ini. Angka tersebut mencatatkan pertumbuhan sebesar 9,76% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, sekaligus menjadi rekor produksi tertinggi dalam tujuh tahun terakhir sejak 2019.

Kendati demikian, lonjakan angka produksi ini ternyata tidak serta-merta mencerminkan pemulihan daya beli di tingkat konsumen akhir. Berdasarkan laporan Nielsen, volume penjualan industri rokok secara keseluruhan justru masih mengalami tekanan dan mengalami penurunan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dinamika Kinerja Emiten Rokok Tier I dan Tier II

Kondisi pasar yang menantang ini menciptakan perbedaan kinerja yang cukup tajam antara produsen rokok skala besar atau pemain tier I dengan pemain skala menengah atau tier II. Perusahaan rokok besar seperti PT Gudang Garam Tbk dan PT HM Sampoerna Tbk menghadapi pertumbuhan yang cenderung melambat atau bahkan terkoreksi.

Sepanjang periode Januari hingga Juni 2026, penjualan bersih PT Gudang Garam Tbk tercatat mengalami penurunan sebesar 7,19% secara tahunan menjadi Rp 41,2 triliun. Sementara itu, PT HM Sampoerna Tbk hanya mampu membukukan pertumbuhan tipis sebesar 2,39% dengan nilai penjualan mencapai Rp 56,49 triliun.

Sebaliknya, pemain di segmen tier II seperti PT Wismilak Inti Makmur Tbk justru menunjukkan ketahanan bisnis yang lebih solid. Perusahaan tersebut sukses mencatatkan pertumbuhan penjualan hingga 12,28% menjadi Rp 3,23 triliun pada semester pertama tahun ini.

Volume penjualan industri rokok nasional secara keseluruhan masih mengalami penurunan sebesar 6,8% pada semester I-2026 akibat tekanan daya beli masyarakat.

Analis Panin Sekuritas Sarkia Adelia menjelaskan bahwa kenaikan jumlah produksi pabrikan sama sekali belum menggambarkan pertumbuhan riil pada permintaan pasar. Kinerja keuangan emiten sangat bergantung pada kemampuan mereka mengelola volume penjualan serta margin keuntungan di tengah situasi ekonomi yang dinamis.

Direktur Gudang Garam Heru Budiman menyampaikan bahwa penurunan volume penjualan industri pada semester I-2026 sebenarnya sedikit lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang terkontraksi 7,9%. Namun, angka tersebut tetap mengonfirmasi bahwa pemulihan permintaan belum sepenuhnya terjadi.

Segmen Sigaret Kretek Mesin mencatat penurunan volume terbesar sebesar 8,8% dan menyumbang 62,2% dari total pangsa pasar industri secara keseluruhan.

Fenomena Downtrading dan Pergeseran Konsumsi

Tekanan yang dialami oleh produsen rokok besar sebagian besar dipicu oleh fenomena pergeseran konsumsi atau yang dikenal sebagai downtrading. Akumulasi kenaikan tarif cukai yang cukup tinggi sepanjang kurun waktu 2020 hingga 2024 memaksa sebagian konsumen kelas menengah ke bawah untuk mencari alternatif produk yang lebih ramah di kantong.

Akibat tren tersebut, segmen Sigaret Kretek Tangan yang menawarkan harga lebih terjangkau karena beban cukai yang lebih ringan justru mencatatkan kenaikan pangsa pasar yang substansial. Pangsa pasar SKT dilaporkan melonjak dari 27,1% pada Desember 2023 menjadi 33,4% pada Juni 2026.

“Sigaret Kretek Mesin, sebagai segmen terbesar, mencatat penurunan sebesar 8,8%.”

— Heru Budiman

Selain tantangan pergeseran pola belanja konsumen, industri hasil tembakau juga masih dihadapkan pada persoalan klasik seperti maraknya peredaran rokok ilegal dan pembatasan ruang penyesuaian harga jual eceran. Kendati demikian, para pelaku industri mulai melihat secercah harapan dengan adanya sinyal stabilitas tarif Cukai Hasil Tembakau dan Harga Jual Eceran untuk tahun mendatang.

Dari sisi pasar modal, sejumlah analis memberikan pandangan yang bervariasi terhadap saham-saham di sektor rokok. Sarkia Adelia menyematkan rekomendasi beli untuk saham GGRM dan HMSP dengan target harga masing-masing di level Rp 26.500 dan Rp 1.150 per saham, sementara Kiwoom Sekuritas merekomendasikan aksi trading buy untuk GGRM.

Pertanyaan Umum

Mengapa produksi rokok naik padahal penjualannya turun?

Kenaikan produksi terjadi karena pabrikan menyesuaikan strategi stok dan mengantisipasi berbagai dinamika regulasi, sementara penurunan penjualan disebabkan oleh melemahnya daya beli masyarakat yang membuat konsumen mengerem pengeluaran.

Apa itu fenomena downtrading pada industri rokok?

Downtrading adalah kondisi ketika konsumen beralih membeli produk rokok dengan harga yang lebih murah akibat keterbatasan anggaran, yang dalam hal ini menguntungkan segmen Sigaret Kretek Tangan dibandingkan Sigaret Kretek Mesin.

Bagaimana rekomendasi saham emiten rokok saat ini?

Analis pasar modal memberikan rekomendasi bervariasi seperti beli dan trading buy untuk emiten besar seperti Gudang Garam dan HM Sampoerna, dengan tetap mencermalkan potensi profitabilitas jangka panjang apabila tarif cukai stabil.

Ringkasan

Meskipun produksi rokok nasional melonjak 9,76% pada semester I-2026, penjualan emiten besar seperti GGRM dan HMSP justru tertekan akibat melemahnya daya beli dan fenomena downtrading ke produk yang lebih murah.

Analis memberikan rekomendasi beli dan trading buy untuk saham GGRM dengan target harga Rp 26.500 serta HMSP di level Rp 1.150 di tengah ekspektasi stabilitas cukai ke depan.

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rupiah Melemah ke Rp 17.622 per Dolar AS, Terlemah di Asia
Amman Mineral Incar Rp 17,6 Triliun Lewat IPO di Hong Kong
Rupiah Melemah Tertekan Kenaikan Harga Minyak Dunia
Pertamina Alih Kelola 6 SPBU Pelanggar Aturan di Sumbar
Rupiah Melemah ke Rp 17.580 per Dolar AS pada 11 September 2026
PTPP Teken Restrukturisasi Kredit Rp 18,2 Triliun dengan 4 Bank
Puradelta (DMAS) Incar Lahan Data Center 85 Ha dan Sediakan 60 Ha
Prospek Kinerja HEAL 2026 dan Tantangan Margin Keuntungan

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Jumat, 11 September 2026 - 12:55 WIB

Rupiah Melemah ke Rp 17.622 per Dolar AS, Terlemah di Asia

Jumat, 11 September 2026 - 12:52 WIB

Amman Mineral Incar Rp 17,6 Triliun Lewat IPO di Hong Kong

Jumat, 11 September 2026 - 12:31 WIB

Rupiah Melemah Tertekan Kenaikan Harga Minyak Dunia

Jumat, 11 September 2026 - 12:17 WIB

Pertamina Alih Kelola 6 SPBU Pelanggar Aturan di Sumbar

Jumat, 11 September 2026 - 11:56 WIB

Rupiah Melemah ke Rp 17.580 per Dolar AS pada 11 September 2026

Berita Terbaru