Pelajaran dari Jepang: 25 Tahun Membasmi Garangan di Satu Pulau

- Penulis

Selasa, 22 September 2026 - 12:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi garangan di pulau sebagai pelajaran pengendalian hama dari Jepang selama 25 tahun

Jepang membutuhkan waktu 25 tahun dan anggaran besar untuk mengatasi dampak introduksi spesies garangan.

Redaksiku.com – Ketika sebuah spesies asing didatangkan untuk mengendalikan populasi hama, keputusan itu sering dianggap sebagai solusi cepat dan murah oleh banyak pihak. Pertimbangan awalnya biasanya sangat sederhana, yaitu satu predator dilepas, populasi target menyusut, lalu masalah dianggap selesai sepenuhnya tanpa ada hambatan lanjutan. Yang jarang dihitung sejak awal adalah kemungkinan besar bahwa introduksi itu gagal mencapai tujuan ekologisnya. Memperbaiki kegagalan tersebut ternyata bisa memakan waktu puluhan tahun serta anggaran luar biasa besar yang jauh melampaui biaya pelepasan awalnya.

Kasus garangan kecil india dengan nama ilmiah Herpestes auropunctatus di Pulau Amami Oshima, Jepang, menjadi salah satu contoh paling nyata dari pola ini. Setelah sekitar 30 ekor garangan dilepas pada tahun 1979 untuk mengendalikan ular berbisa, pemerintah Jepang harus membayar harga yang sangat mahal. Mereka menghabiskan sekitar 3,6 miliar yen atau setara dengan kurang lebih 24 juta dolar AS hanya untuk periode 2000 hingga 2024. Dana masif tersebut dikeluarkan demi menyingkirkan hewan mamalia karnivora yang sama dari pulau tempat mereka dilepas.

Operasi pemusnahan ini memakan biaya fantastis hingga mencapai 3,6 miliar yen selama kurun waktu dua puluh empat tahun pelaksanaan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tiga Dekade Operasi Pemberantasan Bertahap

Upaya menangani populasi garangan di Pulau Amami Oshima sebenarnya dimulai jauh lebih awal dari yang banyak diberitakan oleh media massa internasional. Pemerintah daerah setempat mulai bergerak menangkap garangan sebagai hewan pengganggu pada tahun 1993 silam. Tindakan mandiri tersebut dilakukan jauh sebelum adanya program nasional yang terkoordinasi secara rapi dari pemerintah pusat.

Kementerian Lingkungan Jepang baru meluncurkan serangkaian survei mendalam serta proyek percontohan pada pertengahan dekade 1990-an. Mereka akhirnya menetapkan program eradikasi berskala penuh pada tahun 2000 ketika situasi ekologis sudah semakin mendesak. Pada tahun tersebut, populasi garangan di alam liar diperkirakan telah melonjak hingga mencapai angka sekitar 10.000 ekor individu.

Metode penangkapan di lapangan terus dievaluasi dan berubah seiring berjalannya waktu agar tingkat efektivitasnya semakin meningkat. Beberapa strategi utama yang diterapkan oleh tim ahli meliputi:

  • Penggunaan perangkap tabung ringan yang mematikan mulai diterapkan secara masif sejak tahun 2003.
  • Perekrutan tim profesional secara khusus untuk menangani operasi lapangan yang rumit dan menantang.
  • Pengesahan Undang-Undang Spesies Asing Invasif oleh pemerintah Jepang dua tahun kemudian.
  • Pembentukan unit khusus bernama Amami Mongoose Busters yang fokus bekerja di lapangan.

Teknologi dan Pendekatan Lapangan Modern

Keberhasilan sebuah program eradikasi spesies invasif sangat bergantung pada ketepatan alat dan kedisiplinan para petugas yang terjun langsung ke alam. Di Pulau Amami Oshima, operasi ini melibatkan puluhan ribu perangkap yang tersebar di berbagai sudut hutan. Selain itu, ratusan kamera pemantau dipasang secara strategis untuk melacak pergerakan nokturnal dari hewan target.

Pemerintah juga mengerahkan tim anjing pelacak khusus yang dilatih secara intensif untuk mendeteksi keberadaan garangan di medan yang sulit dijangkau manusia. Kombinasi teknologi pemantauan modern dan kepekaan indra penciuman anjing pelacak membuat perburuan menjadi jauh lebih terarah. Setiap laporan penampakan langsung ditindaklanjuti dengan penyisiran wilayah secara ketat oleh para ahli konservasi.

Operasi pembersihan ini melibatkan puluhan ribu perangkap, ratusan kamera pemantau, dan tim anjing pelacak khusus sebelum dinyatakan tuntas.

Pelajaran Ekologis bagi Kebijakan Global

Pengalaman pahit di Pulau Amami Oshima memberikan banyak pelajaran berharga bagi para ilmuwan konservasi di seluruh belahan dunia. Memasukkan spesies asing ke dalam ekosistem baru demi kepentingan praktis manusia terbukti sering kali memicu bencana lingkungan yang tidak terduga. Alih-alih memangsa target utama seperti ular berbisa, garangan tersebut justru memangsa satwa endemik lokal yang tidak memiliki pertahanan diri.

Dibutuhkan komitmen politik jangka panjang serta pendanaan yang stabil untuk membalikkan dampak buruk dari kesalahan introduksi masa lalu. Tanpa adanya regulasi ketat mengenai perpindahan satwa antarwilayah, kasus serupa dikhawatirkan akan terus berulang di masa depan. Upaya pemulihan ekosistem di Amami Oshima akhirnya baru membuahkan hasil nyata setelah kerja keras selama seperempat abad.

Pertanyaan Umum

Mengapa garangan dilepaskan di Pulau Amami Oshima?

Garangan kecil india awalnya dilepaskan pada tahun 1979 dengan tujuan utama untuk mengendalikan populasi ular berbisa yang dianggap meresahkan penduduk setempat.

Berapa biaya yang dihabiskan untuk membasmi garangan tersebut?

Pemerintah Jepang menghabiskan sekitar 3,6 miliar yen atau setara dengan 24 juta dolar AS hanya untuk kurun waktu operasi dari tahun 2000 hingga 2024.

Kapan operasi eradikasi garangan ini dinyatakan selesai?

Operasi besar-besaran yang melibatkan puluhan ribu perangkap dan anjing pelacak ini akhirnya resmi dinyatakan berhasil pada bulan September 2024.

Ringkasan

Artikel ini mengulas pelajaran penting dari upaya pemusnahan spesies invasif garangan kecil india (Herpestes auropunctatus) di Pulau Amami Oshima, Jepang. Pemerintah Jepang terpaksa menghabiskan waktu selama seperempat abad dan dana masif sebesar 3,6 miliar yen (sekitar 24 juta dolar AS) antara tahun 2000 hingga 2024 untuk membasmi populasi garangan yang sempat melonjak hingga 10.000 ekor di alam liar.

Garangan tersebut awalnya didatangkan dan dilepaskan sebanyak 30 ekor pada tahun 1979 dengan tujuan praktis untuk mengendalikan populasi ular berbisa. Namun, keputusan tersebut berujung pada bencana ekologis karena garangan justru memangsa satwa endemik lokal. Pemerintah Jepang akhirnya membentuk unit khusus, menerapkan regulasi ketat, serta mengerahkan puluhan ribu perangkap, ratusan kamera pemantau, dan anjing pelacak hingga operasi eradikasi ini resmi dinyatakan sukses pada September 2024.

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kemarau Panjang, Sukun Jadi Alternatif Pangan Potensial
Ilmuwan Temukan Spesies Baru Ular Pemakan Telur Berleher Putih
Populasi Gajah Sumatera Terbaru: 1.365–1.719 Individu (2026)
Penemuan Spesies Kucing Liar Baru Setelah 100 Tahun
Spesies Kucing Baru Leopardus tilcayo Ditemukan di Bolivia
Macan Tutul Jawa Terekam Kamera di Hutan Mendolo
Pentingnya Data Populasi Lumba-lumba di Jalur Migrasi Laut Indonesia
Perdagangan Bayi Orangutan di India Diduga Lewat Jalur Aceh

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 22 September 2026 - 12:32 WIB

Kemarau Panjang, Sukun Jadi Alternatif Pangan Potensial

Selasa, 22 September 2026 - 12:21 WIB

Pelajaran dari Jepang: 25 Tahun Membasmi Garangan di Satu Pulau

Sabtu, 19 September 2026 - 14:39 WIB

Ilmuwan Temukan Spesies Baru Ular Pemakan Telur Berleher Putih

Sabtu, 19 September 2026 - 01:03 WIB

Populasi Gajah Sumatera Terbaru: 1.365–1.719 Individu (2026)

Jumat, 18 September 2026 - 13:27 WIB

Penemuan Spesies Kucing Liar Baru Setelah 100 Tahun

Berita Terbaru

Samsung Electronics Indonesia resmi meluncurkan AC Neo WindFree Ultra pada 22 September 2026.

Home Appliances

Samsung AC Neo WindFree Ultra Rilis di Indonesia: Spesifikasi dan Harga

Selasa, 22 Sep 2026 - 13:32 WIB

PLN UP3 Cikokol menggelar audiensi strategis bersama Pemerintah Kota Tangerang untuk memperkuat kolaborasi lintas sektoral.

Keuangan

PLN UP3 Cikokol dan Pemkot Tangerang Perkuat Sinergi

Selasa, 22 Sep 2026 - 13:27 WIB

error: Content is protected !!