Petani Aceh Budidayakan Kacang Koro Pedang Alternatif Kedelai Tahan Iklim

- Penulis

Selasa, 22 September 2026 - 13:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Petani di Aceh Besar memetik polong kacang koro pedang sebagai alternatif pengganti kedelai.

Petani di Desa Lamteuba, Aceh Besar, mulai membudidayakan kacang koro pedang sebagai alternatif kedelai yang tahan iklim.

Redaksiku.com – Di bawah terik matahari, sejumlah petani tampak sibuk memetik polong-polongan di Desa Lamteuba, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. Tanaman yang mereka kembangkan bukanlah komoditas konvensional, melainkan kacang koro pedang atau yang oleh warga setempat lebih akrab disapa sebagai kacang parang.

Dulu, jenis tanaman ini kerap dipandang sebelah mata karena dianggap sebagai gulma atau tumbuhan liar yang tidak bernilai ekonomis. Namun, perubahan iklim serta kebutuhan mendesak akan pangan alternatif membuat para petani di Aceh mulai melirik potensi besar dari komoditas tahan banting ini.

Transformasi Kacang Liar Menjadi Harapan Baru

Kacang koro pedang yang memiliki nama latin Canavalia ensiformis kini perlahan naik kelas di tanah Serambi Mekkah. Budidaya tanaman ini mulai masif digerakkan oleh warga setelah mereka memahami nilai guna serta ketahanannya terhadap cuaca ekstrem yang kerap mengancam sektor pertanian modern.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Gerakan budidaya ini tidak hanya berpusat di satu titik saja. Berbagai kelompok tani di beberapa wilayah lain turut mengikuti jejak serupa untuk memanfaatkan lahan yang sebelumnya kurang produktif:

  • Petani di Kabupaten Aceh Besar mulai mengintegrasikan tanaman koro ke dalam sistem kebun mereka.
  • Komunitas tani di wilayah Aceh Selatan turut mengembangkan komoditas ini sebagai langkah antisipasi kerentanan iklim.
  • Warga di kepulauan Simeulue juga mulai membudidayakan kacang parang untuk memperkaya sumber pangan lokal.

Transformasi ini membuktikan bahwa kearifan lokal dalam membaca potensi alam dapat menjadi solusi atas tantangan ketahanan pangan global. Tanaman yang dulunya dibiarkan merambat liar kini menjelang sebagai salah satu komoditas tumpuan baru.

Pola Tumpang Sari dan Pengalaman Petani Lokal

Praktik penanaman koro pedang ini dapat dilihat langsung di lahan milik Ruhani, seorang warga yang memulai peruntungannya sejak April 2026. Di atas lahan seluas satu hektar, ia menerapkan sistem pertanian tumpang sari yang memaksimalkan setiap jengkal tanah yang tersedia.

Sebagian dari lahan tersebut ditanami ribuan batang koro yang dikombinasikan dengan berbagai tanaman semusim lainnya untuk menjaga produktivitas tanah. Pendekatan ini dinilai sangat efektif karena petani tidak perlu menunggu satu jenis tanaman saja untuk bisa memanen hasil.

Ruhani memanfaatkan sela-sela tanaman koro seluas seperempat lahannya untuk membudidayakan kunyit, lengkuas, nanas, cabai, hingga kacang tanah secara bersamaan.

“Pokoknya apa yang ada, kita tanam di sini, sambil menunggu koro panen, juga bisa panen yang lain,” ujar Ruhani saat merawat kebunnya.

Strategi bercocok tanam seperti ini memberikan kepastian ekonomi harian maupun mingguan bagi para petani sambil menunggu masa panen polong koro yang memakan waktu beberapa bulan. Sistem tumpang sari juga membantu menjaga kelembapan tanah serta menekan pertumbuhan rumput liar secara alami.

Pengolahan Tradisional dan Nilai Kuliner Lokal

Sebelum dikenal sebagai pengganti kedelai yang potensial, pemanfaatan kacang parang di kalangan masyarakat Aceh sebenarnya terbatas pada tradisi kuliner rumahan. Hanya segelintir warga di Lamteuba yang secara turun-temurun mengolah bijinya menjadi sajian sayur harian.

Biasanya, warga mengolah kacang tersebut dengan cara menumisnya bersama bumbu khas daerah yang kaya rempah. Salah satu elemen kuncinya adalah penggunaan u-neulheu, yaitu bumbu tradisional yang dibuat dari kelapa parut sangrai.

Kelapa parut tersebut disangrai hingga berubah warna menjadi kecoklatan dan mengeluarkan minyak khas, lalu digiling hingga halus sempurna. Perpaduan bumbu ini menghasilkan cita rasa gurih yang khas untuk menetralisir tekstur kacang yang padat.

Masyarakat setempat juga mengenal varian lain dari jenis polong-polongan ini yang memiliki karakteristik fisik serupa namun memiliki warna biji yang berbeda. “Kami sebelumnya mengenal jenis koro yang bijinya berwarna hitam, buahnya sama, daunnya sama, bijinya yang warnanya hitam, bahasa kami reuteuk kacang parang,” kata Ruhani pada Selasa, 18 Agustus 2026.

Hasil Panen Perdana dan Prospek ke Depan

Memasuki bulan kelima penanaman, kerja keras para petani mulai membuahkan hasil yang menggembirakan di tengah tantangan cuaca. Ruhani mencatat hasil panen perdana yang cukup memuaskan pada akhir Juli, disusul oleh gelombang panen berikutnya yang terus berjalan.

Pada panen perdana tersebut, ia berhasil memetik sekitar 30 kilogram polong koro, yang kemudian disusul oleh hasil panen susulan sebesar 80 kilogram.

Jejak langkah positif ini turut diikuti oleh petani lain di desa yang sama, seperti Cut Badriah, yang juga menanam komoditas serupa pada akhir April 2026. Keberhasilan panen ini memicu optimisme bahwa koro pedang dapat diandalkan sebagai sumber pendapatan baru yang menjanjikan.

Dengan ketahanan iklim yang dimilikinya, kacang parang kini bukan lagi sekadar tanaman liar peninggalan masa lalu di pekarangan warga. Komoditas ini siap menjadi pilar ketahanan pangan alternatif yang digerakkan langsung dari ketekunan para petani di berbagai pelosok Aceh.

Pertanyaan Umum

Apa itu kacang koro pedang yang ditanam petani Aceh?

Kacang koro pedang atau Canavalia ensiformis adalah tanaman polong-polongan tahan iklim yang kini dibudidayakan petani di Aceh sebagai alternatif kedelai dan sumber pangan potensial.

Bagaimana cara petani menanam kacang koro di lahan mereka?

Petani menanamnya menggunakan sistem tumpang sari, memadukan ribuan batang koro dengan tanaman lain seperti kunyit, lengkuas, nanas, cabai, dan kacang tanah di satu lahan yang sama.

Bagaimana masyarakat mengolah kacang parang secara tradisional?

Warga biasanya mengolah kacang parang menjadi sayur tumis dengan bumbu khas Aceh bernama u-neulheu, yang terbuat dari kelapa parut sangrai dan digiling halus.

Ringkasan

Petani di Aceh Besar, Aceh, mulai membudidayakan kacang koro pedang (Canavalia ensiformis) atau kacang parang sebagai alternatif kedelai yang tahan terhadap perubahan iklim dan cuaca ekstrem. Diprakarsai oleh petani lokal seperti Ruhani dan Cut Badriah sejak April 2026, komoditas yang sebelumnya dianggap sebagai gulma liar ini kini dikembangkan secara masif di berbagai wilayah seperti Aceh Selatan dan Simeulue untuk memperkuat ketahanan pangan.

Dalam praktiknya, petani menerapkan sistem pertanian tumpang sari di lahan seluas satu hektar, memadukan tanaman koro dengan komoditas lain seperti kunyit, lengkuas, nanas, cabai, dan kacang tanah guna menjaga produktivitas tanah dan memberikan kepastian ekonomi. Hasil panen perdana telah menunjukkan keberhasilan nyata, di mana Ruhani mencatat perolehan 30 kilogram polong koro pada akhir Juli 2026 yang kemudian disusul panen susulan sebesar 80 kilogram.

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sony Rilis Headset PS5 Pulse Baru dengan Driver Planar Magnetic
Banjir Bandang dan Longsor Terjang Kompleks Pemkab Solok di Arosuka
Pulsar Pamerkan Mouse Gaming Ergonomis X5 di TGS 2026
Menteri Energi Qatar Tepis Bessent: Selat Hormuz Tetap Penting
Kematian Cara Trager dan Tuntutan Klarifikasi kepada Zohran Mamdani
Klasemen Medali Asian Games 2026 (22/9): China Memimpin, Indonesia 13
Investasi Otomotif Jepang Turun Kuartal II/2026 & Tren 5 Tahun
Jadwal dan Harga Tiket Konser Bigbang di Jakarta 2027

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 22 September 2026 - 14:45 WIB

Sony Rilis Headset PS5 Pulse Baru dengan Driver Planar Magnetic

Selasa, 22 September 2026 - 14:42 WIB

Banjir Bandang dan Longsor Terjang Kompleks Pemkab Solok di Arosuka

Selasa, 22 September 2026 - 14:36 WIB

Pulsar Pamerkan Mouse Gaming Ergonomis X5 di TGS 2026

Selasa, 22 September 2026 - 14:35 WIB

Menteri Energi Qatar Tepis Bessent: Selat Hormuz Tetap Penting

Selasa, 22 September 2026 - 14:31 WIB

Kematian Cara Trager dan Tuntutan Klarifikasi kepada Zohran Mamdani

Berita Terbaru

Erigo dan Cottonink Men mendominasi tren busana pria akhir 2026 yang memadukan gaya santai dan profesional.

Life Style

Inspirasi Outfit Pria dari Erigo dan Cottonink Men

Selasa, 22 Sep 2026 - 14:41 WIB

error: Content is protected !!