Novel: Padamu Aku Akan Kembali (Part 6)

- Penulis

Sabtu, 30 November 2024 - 12:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel: Padamu Aku Akan Kembali (Part 6)

Novel: Padamu Aku Akan Kembali (Part 6)

Bab. 6

POV: HAURA

 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Alhamdulillah. Akhirnya sampai juga aku di titik ini. Terima kasih ya Allah,” gumamku penuh rasa syukur.

 

Aku tak pernah menyangka akan berjodoh dengan Irfan. Laki-laki  yang tampan, wajah yang tegas dengan rambut jambang tipis yang tumbuh di sepanjang kedua rahangnya, menambahkan kesan kelelakiannya. Hidung yang tinggi mancung namun tidak terlalu besar, bibir yang tipis, kulit putih bersih khas cowok asia membuatnya menjadi idola para teman kerja wanitanya.

 

Sifatnya yang penyayang keluarga, dan bertanghung jawab serta caranya menghormati wanita membuatku semakin jatuh cinta. Pertemuan pertama aku dan Irfan justru terjadi tanpa disengaja karena sebuah insiden kecil. Dari pertemuan itu berlanjut ke pertemuan selanjutnya ternyata lebih tidak pernah kuduga sebelumnya. Irfan ternyata teman kuliah sepupuku, Fania. Aku memang kuliah di tempat yang sama. Hanya saja, kita beda angkatan sehingga tidak pernah saling mengenal di masa-masa kuliah.

 

Pertemuan keduaku dengan Irfan saat aku baru saja pulang dari London setelah menyelesaikan pendidikan S-2ku. Saat itu aku sedang mengurus berkas administrasi untuk menjadi dosen di sebuah kampus swasta yang cukup terkenal di Bandung. Dari sanalah hubungan kami semakin dekat. Hingga akhirnya aku sampai berada di titik ini. Irfan menikahiku.

 

Hari yang akan menjadi sejarah terindah dalam hidupku tiba. Hari pernikahanku. Seluruh keluarga besarku sedang sibuk mempersiapkan segala kebutuhan untuk acara yang sakral itu. Segala persiapan sebenarnya telah dilakukan sejak empat bulan yang lalu setelah proses lamaranku dengan Irfan.

 

Beberapa keluarga yang jauh telah datang. Semua bergembira berkumpul di rumah orang tuaku. Sebagian ada  yang datang sehari sebelum hari pernikahan dan menginap di rumah saudara Mama yang masih dalam satu kota ini. Ada juga yang sengaja menginap di hotel dekat tempatku menggelar resepsi.

 

Tempatku menggelar akad dan resepsi masih dalam kota, hanya kurang lebih lima belas menit dari rumahku. Saat-saat mendebarkan telah tiba. Para bridesmaid sudah berkumpul siap membantuku. Mereka yang menjadi bridesmaidku merupakan orang-orang terdekatku. Keluarga dan sahabatku. Fania sepupuku dan Mila sahabatku dari sejak SMA salah satunya. Semua persiapan sudah 99%. Acara akan segera dimulai.

 

Rombongan pengantin pria telah datang. Irfan mengenakan beskap putih dipadukan dengan bawahan kain batik. Dia diapit oleh bapak dan ibunya yang juga mengenakan baju adat sunda yang juga sama dipakai Papa dan Mamaku. Ekspresi  gugup dan tegang tampak jelas dari wajah Irfan. Robongan pengantin dan tamu mulai memasuki area restoran yang kami sewa untuk acara sakral ini. Para tamu duduk di tempat-tempat yang telah disediakan dan ditata rapi.

 

Acara pun dimulai. Aku masih menunggu di ruang rias pengantin. Tibalah saatnya prosesi ijab kabul pernikahan.

 

“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Irfan Nizar Wardana bin Lukman Wardana dengan putri saya yang bernama Meidina Haura Bening dengan mas kawin berupa satu set perhiasan emas sebesar 50 gram dan uang sebesar 20 juta rupiah dibayar tunai.” Suara Papa menggema saat mengucapkan ijab.

 

“Saya terima nikah dan kawinnya Meidina Haura Bening binti Hendra Cahyadi dengan mas kawin satu set perhiasan emas sebesar 50 gram dan uang sebesar 20 juta rupiah dibayar tunai.” Jawaban Irfan yang lantang dan jelas seolah tidak lagi ada ketegangan dalam dirinya membuatku bangga padanya. Hatiku bsrbisik, “inilah lelakiku.”

 

“Bagai mana para saksi? Sah?” ucap penghulu kepada para saksi nikah.

 

“Sah!”

 

“Alhaamdulillah. Barakallahu laka wa baraka alaika wa jama a baina kumma fi khair.” Seluluh tamu undangan dan  keluarga yang hadir melantunkan kalimat tahmid atas kelancaran ijab kabul yang Irfan ucapkan.

 

Aku tak kuasa menahan rasa haru, sedih, dan bahagia yang bercampur di hari terindahku ini. Titik air yang berkumpul di dua sudut mataku akhirnya meluncur bebas mengalir ke pipiku. Aku terharu dan bahagia karena akhirnya aku bertemu dengan jodohku. Di sisi lain rasa sedih juga hadir di hari bahagiaku. ini aku telah dewasa. Aku tak mungkin terus berada di sisi  Papa dan Mama. Karena, sebentar lagi aku akan tinggal bersama keluarga kecilku, keluarga baruku.

 

Acara resepsi yang dihadiri oleh seluruh keluarga besarku, teman-teman, kerabat yang dekat dan kerabat Papa dan Mama dari luar kota turut hadir dalam pestaku yang  berlangsung meriah. Area halaman belakang resto diubah menjadi tempat yang indah dengan berbagai hiasan ala pesta kebun.

 

Dekorasi bunga  yang cantik dipasang di depan pintu menuju halaman. Pelaminan yang sederhana berhiaskan bunga-bunga  yang cantik menambah kesan asri tapi tetap elegan. Meja-meja tempat hidangan berisi aneka makanan juga tersusun dengan rapi. Ada menu utama nasi beserta hidangan pelengkap lainnya, aneka jajanan pasar, dessert, minuman ringan dan lainnya.

 

Beberapa kursi dan meja tertata rapi dipasang khusus untuk para tamu VIP. Karena konsepnya pesta kebun sehingga tidak banyak tersedia kursi. Di salah satu sudut taman ini tersedia photo boot untuk para tamu yang datang.

 

Mama, papa, ibu, dan bapaknya Irfan terlihat sangat bahagia. Terlebih Mama dan Papa, anak bungsu mereka kini telah melepas masa lajangnya.

 

Sebagian teman-temanku hadir dan turut memberikan doa restu untuk kehidupan rumah tanggaku kelak. Beberapa teman berhalangan hadir karena satu dan lain hal. Namun, hal tersebut tidak mengurang rasa bahagiaku hari ini.

 

Antrean tamu undangan yang akan menyalamiku yang sedati tadi mengular semakin pendek. Mila turut mengantre bersama tamu yang lain. Ia datang bersama pacarnya, Gilang.

 

“Congrats, ya, Hau-hau-ku Sayang!” Ia memelukku, sampai aku hampir oleng dibutnya. Dia memang memiliki panggilan unik untukku, begitu juga aku, selalu memanggilnya dengan panggilan lain untuk lucu-lucuan yang menunjukkan kita sepasang sahabat yang tak terpisahkan. Ketulusan hatinya memanjatkan doa untukku terasa dari pelukan eratnya. “Semoga langgeng dan bahagia dunia akhirat, segera memberiku keponakan yang lucu-lucu, rumah tanggamu yang bahagia bersama Irfan.” Doa tulus itu mengalir dari bibir Mila.

 

“Amiin … aamiiinTerima kasih, My Milamoy Sayang, semoga kamu secepatnya menyusul, ya,” Mila melepaskan pelukannya.

Irfan dan Gilang hanya diam dan tersenyum penuh keheranan menyaksikan kehebohan kami. Lalu, Mila menyalami Irfan. Samar-samar ku dengar ia berpesan pada Irfan.

 

“Irfan, titip sahabatku, ya. Jaga dia baik-baik. Dia sahabatku satu-satunya. Jangan buat dia menangis. Aku nggak rida, lho, kalau kamu sampai menyakiti hatinya,” ucap Mila yang aku tahu dia sedang bercanda.

 

“Siap, Komandan!” ucap Irfan seraya mengangkat tangannya tanda memberikan hormat pada sahabatku yang satu ini. Lalu, Mila menuju meja-meja tempat hidangan disajikan dan menghilang dari pandanganku.

 

Pesta pernikahanku telah selesai digelar. Tamu-tamu undangan dan sebagian anggota keluarga besar dari pihakku atau pun keluarga besar dari pihak Irfan telah kembali ke rumahnya masing-masing. Begitu pula dengan aku dan Irfan.

 

Kami memilih pulang ke rumah Mama dan Papa sebelum pergi untuk berbulan madu. Sebab ada beberapa kerjaan yang harus Irfan selesaikan sebelum cuti untuk berbulan madu.

 

Setiap laut pasti ada badainya. Setiap rumah tangga pasti ada ujian dan masalahya. Begitu pula dengan rumah tanggaku. Aku memang sangat mencintai Haura

 

Aku tak pernah menyangka bahwa aku harus mengalami lika-liku kehidupan pernikahan seberat ini. Mungkin sebenarnya awal pertemuanku dengan Irfan dalam insiden itu sebagai pertanda atau peringatan bahwa dalam menjalani kehidupan kita harus selalu waspada dan berhati-hati. Akan selalu ada hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik dalam setiap kejadian. Dari insiden itu Allah pertemukan aku dengan jodohku dengan cara yang tak pernah kuduga sebelumnya.

 

Malam harinya, untuk pertama kalinya kami Irfan makan malam satu meja bersama kedua orang tuaku sebagai anggota keluarga baru. Karakter Irfan yang supel dan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan baru membuatnya tidak sulit untuk lebih akrab dengan papa dan mama. Bahkan, mereka terlihat seperti anak dan orang tua kandung.

 

“Nak Irfan, sambil menunggu makan malam siap, bagaimana kalau kita main catur dulu di ruang tamu?”

 

“Wah, asik, nih sekalian belajar sama masternya. Boleh banget, Pa. Siapa takut?!”

 

Sementara itu aku di dapur sibuk membantu mama menyiapkan dan menata makan malam. Aku memang sangat dekat dengan mama dan papa. Mungkin karena aku anak bungsu. Mama selalu ingin memberikan yang terbaik untukku.

 

Mama selalu memberiku nasihat-nasihat terbaik. Ya, itulah salah satu bentuk dari kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.

 

“Haura, sekarang kamu sudah menjadi seorang istri. Kamu bukanlah perempuan yang bebas seperti dulu lagi. Maksud Mama, sekarang kamu sudah punya suami. Kebahagiaan dan kunci surganya seorang istri itu ada pada rida suaminya. Bukan lagi sepenuhnya pada keridaan kedua orang tuanya.” Sambil memotong bahan makanan mama memberiku nasihat.

 

Aku mendengarkan dengan seksama.”Iya, Ma.”

 

“Sebelum kamu memilih sesuatu, berbuat sesuatu atau bahkan memutuskan sesuatu, kamu wajib membicarakannya pada suamimu terlebih dulu. Saat kamu akan keluar rumah, mintalah izin terlebih dulu pada suamimu.” Mama menyodorkan piring yang sudah kering untuk di tata di meja makan.

 

Aku mendengarkan setiap nasihat mama dengan penuh perhatian.

 

“Haura, menaklukkan laki-laki itu sangat mudah, kalau kita tahu poin-poin   pentingnya.”

 

“Apa tuh, Ma?” tanyaku penuh selidik. Aku menatap mama yang sedang mengaduk masakan di kuali.

 

“Taklukkanlah suamimu dengan memperhatikan dan selalu memenuhi tiga kebutuhan utamanya. Pertama, jaga dan kunci pandangan mata suamimu.”

 

“Maksudnya, Ma?” tanyaku.

 

Mama membalikkan badannya, lalu, menyentuh bahuku. “Laki-laki itu sangat suka dengan pemandangan yang indah. Kamu harus pintar-pintar untuk mempercantik diri. Jaga penampilanmu, lakukan perawatan agar tubuhmu sehat, bugar, wangi, segar dan menyenangkan saat suami memandangmu, sehingga ia tidak butuh pemandangan lain karena sudah cukup dengan yang ada pada istrinya.”

 

“Baik, Ma.”

 

“Yang kedua, senangkan suamimu dengan selalu menyenangkan perutnya. Artinya, hidangkan selalu makanan yang enak untuk suamimu. Upgrade selalu skill memasakmu agar kamu pandai menghidangkan masakan terbaik untuk suami dan keluargamu. Seorang istri yang panadai memasak ia akan bisa menyesuaikan dengan kondisi keuangan dalam rumah tangganya. Ketika kondisi finansial sedang tidak baik akan bisa mengurangi pengeluaran karena memasak makanan sendiri tanpa harus beli di restoran. Apalagi masakan yang dimasak istri dengan penuh cinta akan menambah ikatan cinta kalian semakin kuat.” Mama terdiam.

 

“Betul juga, ya, Ma. Pantas aja Papa nggak terlalu suka makan di luar karena Mama selalu menghidangkan makanan terbaik buat Papa,” ucapku. Mama menatapku dan tersenyum. “Tapi, Ma, aku kan nggak sejago Mama. Bagaimana aku bisa menyajikan masakan yang enak untuk Irfan?” keluhku.

 

“Haura anak Mama yang cantik, memasak itu pekerjaan yang sangat mudah untuk dipelajari. Kamu, kan, bisa belajar, Nak. Apalagi zaman sekarang, akses untuk belajar itu sangat mudah. Tinggal browsing aja mudah. YouTube ada, buku resep banyak, noh di toko buku.” Mama mematikan kompor. Aku membantu mama mengupas mangga lalu memotongnya menjadi bagian kecil-kecil agar mudah untuk dimakan.

 

“Yang ketiga, penuhi kebutuhan biologisnya. Puaskan lelakimu dalam urusan ranjang. Jangan pernah sekalipun kamu menolak saat dia menginginkanmu, kecuali dengan alasan yang dilarang oleh agama dan norma. Perlu kamu ketahui, Nak, seorang laki-laki dewasa yang normal butuh untuk mengeluarkan spermanya secara rutin paling sedikit dua minggu sekali. Jangan sampai kamu abaikan hal ini, ya, Nak, agar suamimu tak mudah berpaling pada wanita lain di luar sana. Begitu, ya, Nak, pesan dari Mama,” ucap mama lembut tapi ada sedikit tekanan. Mama mengusap lembut kedua bahuku.

 

Aku masih mencerna nasihat-nasihat dari mama. Aku terdiam. Pandanganku menerawang jauh ke luar jendela dapur yang menghadap taman di belakang rumah. Isi kepalaku masih dipenuhi nasihat yang baru saja ia sampaikan. Pikiranku menerawang jauh. Aku bermonolog, “Tuhan mampukan aku menjadi satu-satunya istri yang bisa menenangkan hati suamiku.”

 

Sementara itu di ruang tamu papa dan Irfan masih asik bermain catur. Sesekali mereka mengobrol dan tertawa bersama. Selesai membereskan dapur, mama memintaku untuk memanggil papa dan Irfan karena makan malam telah siap. Malam itu kami tutup dengan makan malam bersama.

 

“Pa, Ma, Irfan dan Haura masuk ke kamar duluan, ya, sudah malam. Papa dan Mama juga  pasti capek karena seharian ini menerima tamu,” pamit Irfan pada mertuanya. Lalu, Irfan menyusulku masuk ke kamar.

 

Momen bulan madu kami harus tertunda tiga hari kemudian karena ada urusan  pekerjaan yang tak bisa Irfan tinggalkan. Sedikit mengecewakan, sih. Tapi, tidak masalah bagiku. Mama pernah bilang bahwa berumah tangga itu memang lebih sering untuk bisa saling legowo menerima keadaan.

 

Setelah menikah aku masih tinggal di rumah Mama. Rumah yang Irfan bangun untuk tempat tinggal kami, masih dalam proses pembangunan. Rencananya setelah pulang dari bulan madu kami baru pindah ke rumah baru.

 

Aku tak henti mengucapkan rasa syukur pada Allah. Dia Yang Maha baik. Selalu memberikan yang terbaik untukku sesuai apa yang aku butuhkan. Allah mengabulkan doa dan pengharapanku. Menikah di usia 25 tahun adalah dambaanku, dan Allah mengabulkan harapanku.

 

Meskipun beberapa temanku telah menikah di usia lebih muda dariku. Aku tetap ikut bahagia karena itu artinya memang jodoh mereka datang lebih cepat dariku. Sebab aku paham  rizki, jodoh, hidup, dan mati seseorang itu Allah yang mementukan. Allahlah memiliki hak mutlak untuk  memberikan atau menahan rizki, jodoh, keturunan, dan kematian kepada siapa saja hambaNya yang Dia kehendaki.

 

Kini aku telah menjadi seorang istri. Kini aku telah memiliki seorang imam yang tidak hanya memimpinku salat saja. Ia juga yang akan memimpin dan membimbing setiap ibadah yang kulakukan. Ia juga yang akan mendidikku dan anak-anakku nanti.

 

Aku harus mulai berbenah diri mempersiapkan bila masa-masa itu telah tiba. Menjadi orang tua tidaklah mudah. Anak yang lahir dan dididik oleh orang tua yang bahagia dan cerdas akan menjadi generasi yang diharapkan bisa menjadi generasi terbaik.

 

Hari ini Irfan mulai mengambil cuti. Kami akan pergi honey moon di Bali selama beberapa hari. Segala keperluan sudah ia persiapkan sebelum menikah. Mulai dari tiket pesawat, resort tempat kami menginap, dan lainnya. Lagi-lagi ini merupakan salah satu bentuk rizki dari Allah yang harus disyukuri. Aku sangat bersyukur mendapatkan suami seperti Irfan

 

Kami tiba di bandara tepat pukul 9 pagi Setelah menunggu kurang lebih dua jam kami terbang ke Bali dan sampai di Bali pukul 2 siang.

 

Kami tiba di resort tempat kami menginap. Kami memilih resort yang bisa menikmati keindahan gunung dan pantai sekaligus. Karena aku sangat menyukai pantai dan Irfan suka dengan gunung dan pegunungan.

 

Aku memilih untuk beristirahat sebentar sebelum mulai menikmati keindahan alam Bali. Kami menikmati fasilitas yang diberikan dari resort untuk merelaksasi tubuh yang lelah dan syaraf-syaraf yang tegang di spa yang tersedia di resort itu. Malam pertama honey moon di Bali kami habiskan untuk beristirahat di kamar. Kami kelelahan setelah seharian melakukan perjalanan.

 

Malam berikutnya, kami menikmati privat dinner. Sepulang dari menikmati sunset di tepi pantai yang sangat indah, Irfan  mengajakku ke sebuah resto yang cukup mewah untuk romantic dinner. Menikmati makan malam romantis bersama orang yang dicintai adalah satu nikmat kebahagiaan yang tak pernah terbayangkan  sebelumnya. Meja makan berhiaskan buket bunga mawar, lilin yang tertata rapi di meja, dan suara deburan ombak  menambah suasana romantis malam itu.

 

“Sayang, terima kasih untuk semua ini. Aku rasa aku menjadi perempuan paling bahagia di dunia ini,” ucapku

 

Irfan tersenyum. Ia menyentuh dan  menggamit tanganku, lalu mencium punggung tanganku dengan mesra.

 

“Iya, Sayang. Aku juga. Terima kasih karena kamu sudah bersedia menjadi istriku. Aku tak bisa berjanji  untuk tidak akan mengecewakanmu. Karena aku hanya laki-laki biasa. Tapi, aku berjanji akan selalu berusaha mengupayakan kebahagiaan untukmu, istriku.”

 

Kami menikmati makan malam romantis yang ditemani denting piano yang dimainkan oleh seorang pianis. Selesai makan malam kami kembali ke  kamar hotel dan resort. Pintu lift telah terbuka. Irfan memberikan isyarat padaku agar aku keluar terlebih dulu. Lalu, ia mengulurkan tangannya membentuk sudut agar aku melingkarkan tanganku pada lengannya. Kami berjalan bergandengan menyusuri koridor menuju kamar kami. Setelah sampai di depan pintu kamar, Irfan mengambil sebuah cardlock dari saku jasnya dan menempelkannya pada kontak sensor yang ada di pintu. Setelah terdengar bunyi Bip, pintu terbuka. Aku masuk lebih dulu.

 

Malam ini, malam yang ditunggu-tunggu bagi pengantin baru seperti kami. Jantungku berdebar kencang. Darahku berdesir. Keringat dingin mulai membasahi telapak tanganku. Aku merasa gugup, sebab mulai malam ini saat-saat bagiku dan Irfan untuk menjalankan ibadah yang pahalanya begitu besar apabila dilakukan oleh  pasangan suami istri.

 

“Kita salat sunnah berjamaah dulu, ya,”

 

“Iya, Sayang.”

 

Irfan bersiap diri dan berdiri di depanku dengan sajadah yang sudah kusiapkan sebelumnya. Selesai melaksanakan salat sunnah aku mencium tangan suamiku. Kami memanjatkan doa terbaik kepada Allah.

 

Selesai melaksanakan salat, aku mempersiapkan diri berganti pakaian di kamar mandi. Setelah aku keluar suamiku sudah menunggu, ia duduk di tepi ranjang. Aku terkejut, langkahku terhenti. Raca canggung dan malu tiba-tiba saja menyergapku karena  ternyata Irfan telah menatap lekat sejak tadi. Aku hanya berdiri di depan pintu kamar mandi.

 

“Masyaallah, Sayang …, cantik banget istriku ini. Terima kasih Ya Allah, Engkau kirimkan aku jodoh yang secantik istriku. Bidadari di surga saja pasti minder lihat kecantikan istriku ini,” pujinya. Membuatku seperti tiba-tiba melesat terbang tinggi di atas awan.

 

“Ya Tuhan, inikah rasanya dirayakan sama orang yang tulus mencintaiku,” batinku.

 

Irfan turun dari ranjang. Ia berjalan mendekatiku yang sedari tadi masih berdiri mematung.

 

“Ada apa, Sayang? Oh … aku paham. Sini peluk dulu,” ucapnya sangat lembut.

 

Irfan berdiri tepat di dekatku, ia melngkah semakin merapat ke tubuhku.  Ia memeluk tubuhku. Ia seolah paham benar keresahanku. Aku khawatir dan takut akan rasa sakit akibat selaput daraku mulai robek saat pertama kali melakukan hubungan suami istri. Aku bisa melawan rasa malu dan memberanikan diri hanya memakai lingeri di depan laki-laki yang kini menjadi suamiku. Aku bisa melewati itu.

 

“Aku tahu, kamu takut, ya?Nggak apa-apa, nggak akan terjadi apa-apa, Sayang. Percayalah sama aku. Tak perlu takut. Rasa sakit yang kamu rasakan nggak akan lama, kok. Cuma sementara. Aku janji, malam ini kita lakukan pelan-pelan saja, ya,” bujuknya. Irfan masih memeluk dan sesekali mengusap lembut rambutku panjangku. Irfan kemudian mengajakku untuk merebahkan tubuh di ranjang yang berukuran king size ini. Dengan kesabarannya membimbingku, akhirnya aku bisa melewati malam pertamaku dengan tenang tanpa rasa khawatir lagi.

 

Ada nyaman yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata yang lebih tepat saat aku terbenam dalam pelukannya. Gemuruh di hatiku perlahan mereda.

Sikap Irfan menjadi penenang untuk aku yang salah satu tipe bahasa cintaku adalah physical touch ini.

 

Alarm dari ponselku berdering. Sayup sayup dari kejauhan terdengar alunan Azan Subuh dari pengeras suara masjid yang entah di mana. Aku terbangun. Rasa lelah yang teramat sangat membuatku sedikit malas untuk membuka mata. Ada rasa aneh menyergap tubuh bagian bawahku. Aku membuka mata perlahan. Batinku berkata “ini bukan kamarku. Di mana aku?” Aku menoleh ke samping. Aku baru tersadar, ini hidupku yang baru. Aku tersenyum. Aku menggoyang-goyang tubuh laki-laki di sampingku dengan tanganku yang masih terlelap. Ia pasti merasa lelah sama sepertiku.

 

“Sayang, bangun, kita kesiangan. Ayo mandi, lalu salat Subuh.”

 

“Hmm, iya, Sayang.” Tanpa menunggunya bangun aku segera turun dari ranjang, lalu berjalan untuk meraih handuk kimono kemudian masuk kamar mandi. Saat mandi aku tersenyum sendiri saat mengingat apa yang telah terjadi semalam. Akhirnya aku bisa melewati masa itu. Ternyata tak seburuk yang kubayangkan sebelumnya.

 

Selesai mandi aku keluar kamar mandi dan mendapati suamiku masih terlelap dalam tidurnya. Setelah berganti baju dan segera menunaikan Salat Subuh, Irfan masih nyaman bersembunyi di balik selimutnya. Aku masih berusaha untuk membangunkannya. Kugoyang-goyangkan tubuhnya dengan lembut. Ternyata usahaku sia-sia. Aku harus memakai cara lain agar dia cepat bangun dari tidurnya. Kukecup pipinya agar dia segera bangun.

 

“Sayangku, imamku ayo bangun.”Dia menggeliat, lalu membuka matanya. Ia bangun dari tidurnya , lalu segera menuju kamar mandi.

 

***

Masa cuti telah selesai. Kini kami kembali ke Bandung untuk kembali menjalani kehidupan yang sesungguhnya. Kehidupan yang harus dihadapi dan dijalani.

 

Aku dan Irfan kembali masuk kerja seperti biasanya. Kini kehidupanku telah berubah. Sekarang aku telah menjadi seorang istri. Menjalani kehidupan yang baru memang butuh waktu untuk bisa beradaptasi. Banyak hal telah berubah karena pernikahan. Pola hidup yang berubah, tidur, dan makan pun berubah.

 

Prioritas hidup juga akan berubah setelah kita menikah. Kita akan lebih fokus pada keluarga dan rumah tangga yang sedang kita jalani. Begitu pun degan diriku. Meski Irfan memberikanku kebebasan sepenuhnya padaku, bukan berarti aku bebas melakukan apa pun tanpa mengutamakan keluarga, terutama suami. Irfan tetap memberiku kebebasan untuk bekerja. Ia tetap memberiku kesempatan agar aku tetap bisa berkembang.

 

Kehidupan sosial seorang yang telah menikah pun akan berubah. Saat sebelum menikah, beberapa orang lebih menyukai untuk menghabiskan waktu dalam melakukan segala aktivitas sendiri. Namun setelah menikah, mereka mengalami pergeseran makna, mereka jadi lebih banyak menghabiskan waktu bersama pasangan dan keluarganya.

 

Hal ini juga terjadi padaku. Sebelum menikah aku sering berkumpul bersama teman-teman dan sahabatku mengeksplore dunia luar untuk mencari pengalaman dan menambah jaring pertemanan. Kini setelah aku menikah, rasanya cukup nyaman untuk kemana pun pergi hanya berdua saja.

 

Perubahan hubungan dengan pasangan sebelum dan setelah menikah juga akan mengalami perubahan. Setelah menikah kita akan lebih intim terhadap pasangan. Sebab, banyak hal yang hanya bisa dan boleh dilakukan saat setalah menikah.

 

Aku dan Irfan menjalani kehidupan baru, di rumah baru. Irfan memilih membeli rumah yang tidak terlalu jauh dari orang tua kami, agar kami bisa sering berkunjung ke rumah orang tua. Roda kehidupan terus berputar. Setelah menikah, karir Irfan semakin meningkat. Ia kini menempati posisi penting di tempatnya bekerja. Secara finansial kehidupan keluargaku semakin meningkat. Setelah rumah baru, kini kami bisa memiliki mobil baru.

 

Hari-hari berlalu. Kami mulai terbiasa dengan rutinitas sehari-hari. Pagi hari aku dan Irfan berangkat kerja bersama. Setelah Irfan mengantarku ke kampus tempatku bekerja barulah Irfan pergi ke kantornya. Di akhir pekan biasanya kami sempatkan untuk mengunjungi orang tua. Terkadang juga kami menginap di rumah orang tua. Aku mulai menyempatkan diri untuk belajar memasak. Trial dan error pastilah ada. Namun, aku tak pernah menyerah untuk mencoba lagi saat gagal.

 

Untuk mengurus rumah dan segala keperluannya aku dan Irfan lakukan bersama untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Irfan tidak mengenal budaya patriarki dalam keluarganya. Sehingga, ia terbiasa untuk membantuku mengerjakan pekerjaan domestik rumah tangga.

 

Setiap laut pasti ada ombaknya. Setiap rumah tangga pasti ada masalah yang selalu datang dan pergi. Kehidupan rumah tanggaku dan Irfan sangat bahagia. Kami pun semakin mesra saja. Masalah baru dalam rumah tanggaku dimulai. Sudah hampir satu tahun aku dan Irfan menikah.

 

Muncul keresahan dalam diriku tentang kehadiran buah hati. Mengingat aku seorang perempuan. Semakin bertambah usia, peluang untuk hamil dan melahirkan buah hati akan semakin sulit. Meskipun, tidak semu seperti itu. Tidak selalu begitu adanya. Tak sedikit perempuan yang menurut vinis dokter sulit untuk bisa hami di usianya 35 tahun ke atas.

 

Pasangan suami istri mana yang tidak menginginkan kehadiran sang buah hati sebagai pewaris keturunan? Mungkin saja ada, tapi yang jelas bukan aku dan Irfan. Irfan masih terlihat santai menyikapi masalah ini. Namun, tidak buat aku. Banya pikiran negatif yang mencoba mengganggu. Bagaimana kalau ternyata aku nggak bisa hamil? Bagaimana kalau nanti Irfan tak menerima kondisiku? Dan, berbagai macam pikiran negatif yang menari-nari di kepalaku.

 

Aku mulai khawatir saat berkunjung ke rumah orang tua, mereka akan menagih dan menanyakan kehadiran cucu baru yang hingga kini belum juga kami dapatkan. Anak adalah rizki dari Allah. Ia akan diberikan kepada siapa saja yang Allah kehendaki.

 

Mama selalu menasihatiku bahwa ketika iman masih tertanam dalam hati kita, maka contohlah sifat-sifat orang yang beriman yang selalu berprasangka baik atas setiap kejadian yang tidak sesuai dengan harapan. Semua yang terjadi adalah atas izin Allah sebagai pilihan terbaik untuk kita. Allah Maha Tahu yang terbaik bagi hambaNya. Saat seseorang ditakdirkan untuk belum atau bahkan tidak memiliki seorang anak dari rahimnya, bukan berarti Allah menghendaki keburukan baginya. Mungkin saja Allah ingin memberikan sesuatu dalam bentuk lain yang lebih baik untuk aku dan Irfan.

 

Aku mulai diliputi rasa cemas. Usia pernikahanku sudah memasuki bulan keenam. Hingga saat ini tanda-tanda kehamilan juga belum juga aku rasakan. Saat melihat teman yang membawa serta anaknya ke kampus perasaan ingin segera merasakan memiliki buah hati begitu menggebu.

 

Pagi hari setelah selesai salat Subuh, tiba-tiba aku teringat sudah satu minggu belum haid. Sebenarnya aku ragu untuk mengecek apakah aku hamil atau tidak. Hatiku berharap semoga garis dua segera muncul. Aku mengambil test pack yang ada di dalam kotak obat di kamarku. Sejak menikah aku memasukkan test pack ke dalam daftar belanja rutin setiap bulan.

 

 

“Ternyata masih sama seperti bulan lalu,” gumamku.

 

Aku masih berdiri di depan cermin kamar mandi. Tubuhku hanya mematung menatap testpack di tanganku yang menunjukkan satu garis berwarna merah. Aku mengembuskan napas penuh frustasi. Irfan yang sedang duduk di sofa kamar memerhatikanku.

 

“Ada apa, Sayang?” Irfan mendekat dan memelukku dari belakang. Aku hanya diam, menoleh ke arahnya, lalu menunjukkan test pack di tanganku.

 

“Nggak apa-apa, Sayang. Belum rizki kita.”

 

“Iya, tapi aku ingin punya baby ….”

 

“Nanti kita coba lagi, ya.” Irfan menarik membalikkan tubuhku, lalu memelukku erat. “Allah ingin kita sabar dulu, Sayang.”

 

Aku mengangguk pelan.

“Yuk, senyum lagi, ah. Aku lebih suka lihat istriku tersenyum,” ucapnya. Irfan melepaskan pelukannya, lalu menatapku dan menyentuh daguku. Aku tersenyum, tak bisa kusembunyikan rasa malu.

 

Irfan selalu punya cara untuk meredam kegundahanku. Pagi itu aku lalui dengan kedamaian. Seperti biasanya, sebelum berangkat ke kantor aku menyiapkan sarapan untuk kami berdua. Kami belum memiliki asisten karena merasa belum terlalu membutuhkannya. Mungkin saat nanti jika memang diperlukan kami akan memakai jasa asisten. Untuk saat ini aku ingin berusaha menjadi istri yang bisa sepenuhnya melayani suami. Sebisa mungkin aku memasak dan menghidangkan makanan dengan tanganku sendiri.

 

Selesai membereskan meja makan dan mencuci piring-piring bekas sarapan aku bersiap-siap untuk bekerja. Sementara Irfan ia sedang mengecek mobil sebelum digunakan untuk berangkat ke kantor. Setelah itu baru ia mengganti bajunya dan kami berangkat bersama. Irfan masih merawat motor kesayangannya yang sejak dulu ia gunakan untuk mengantarnya kemana pun.

 

“Aku nggak akan pernah menjual motor ini. Ini motor kesayanganku. Motor penuh sejarah. Banyak sekali kenanganku bareng motor ini. Mau ditawar 1 M pun nggak akan kulepas,” ucapnya saat kutawari ia untuk mengganti dengan motor baru.

 

“Sayang, hari ini aku mau meet up sama Mila, ya. Kebetulan hari ini aku cuma ngajar pagi aja, boleh, kan?”

 

“Boleh dong, Sayang. Kamu Hati-hati, ya.”

 

Tak terasa mobil kami sudah sampai di depan kampus tempatku mengajar. Setelah berpamitan aku turun dari mobil, lalu masuk ke kampus.

 

Sudah dua bulan aku dan Mila nggak bertemu. Mila memang sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya. Mila juga temanku yang paling beruntung. Setelah ia putus hubungan dari pacar yang sebelumnya yang toxic, ia mendapatkan pengganti yang lebih baik.

 

Gilang merupakan teman kami saat SMA dulu. Gilang yang pendiam tapi ternyata telah menyimpan rasa pada Mila dari masa sekolah dulu. Hanya saja Gilang hanya menyimpan perasaan itu tanpa berani mengungkapkannya pada Mila. Namanya juga jodoh itu rahasia Tuhan. Siapa yang menyangka mereka kini bisa bertemu kembali hingga saling menyatakan perasaannya.

 

Haura: ” My Mila, jadi, kan hari ini kita meet up? Mumpung aku cuma ngajar pagi, nih.”

 

Pesan WA-ku terkirim. Tak lama tanda ceklist dua berubah membiru. Tanda pesanku telah dibaca olehnya.

 

My Milamoy: “Jadi, dong. Tunggu aku jemput kamu ke kampus, ya! Kebetulan aku lagi ada di daerah dekat kampusmu.”

 

Aku sudah selesai mengisi kelas. Sambil menunggu Mila menjemputku, aku memilih berdiam diri di ruang dosen sambil browsing resep-resep masakan dan kue-kue di internet. Ruang dosen sepi. Beberapa rekanku sedang mengisi kelas, yang lainnya mungkin ada jadwal di kampus lain.

 

Aku senang mengajar di sini. Dosen yang masih berstatus honorer boleh bekerja juga di kampus lain. Aku juga belum terlalu lama mengajar di sini, baru sekitar dua tahun.

Teman-teman kerjaku asik. Rasa kekeluargaan di kantorku cukup baik. Ya, meskipun tetap ada saja orang-orang yang selalu bikin masalah. Namanya juga persaingan di dunia kerja. Di mana pun akan tetap ada.

 

Selain bekerja sebagai dosen aku juga suka dunia menulis. Dari hobiku ini aku bisa menyebarkan ilmu lebih luas pada dunia. Aku ingin memberikan banyak manfaat untuk orang lain lewat tulisanku.

 

Ponselku bergetar. Notifikasi dari mila masuk.

 

My Milamoy: “Hau-Hau, aku udah di depan kampusmu, nih. Yuk, kita jalan sekarang!”

 

Aku segera keluar dari ruang dosen berjalan melewati koridor kampus menuju tempat biasa Mila memarkirkan mobilnya ketika menjemputku. Beberapa dosen yang berpapasan di koridor menyapaku. Saat melewati pos security, seorang petugas menyapaku, “Bu Haura sudah mau pulang, ya?” tanya Pak Tomi. Ia bangkit dari duduknya.

 

“Iya, Pak Tomi, kebetulan hari ini hanya mengisi satu jam mata kuliah saja, Pak.”

 

“Oh begitu, ya. Hati-hati di jalan, Ibu.”

 

“Baik, Pak, terima kasih. Mari, Pak Tomi saya duluan.”

 

Aku berjalan menuju mobil Nissan March warna merah yang terparkir di bawah pohon dekat gerbang masuk kampus. Aku sudah hapal dengan mobil milik Mila, sehingga tak sulit bagiku mencarinya.

 

Kubuka pintu, lalu masuk mobil. Bukan Mila namanya kalau tidak heboh saat berjumpa. Apalagi sudah lama kita tidak bertemu. Setelah cium pipi kanan dan kiri, ia mulai menyalakan mesin mobil.

 

“Duh yang sudah menjadi Nyonya Irfan, auranya makin cerah aja, nih!” pujinya.

 

“Alhamdulillah, Mil. Aku bersyukur banget nikah sama Irfan. He treaded me like a queen! Setiap hari setiap momen aku dirayakan,” jawabku penuh semangat.

 

“Aaaahh, senang banget, deh. Aku juga mauu, Hau,” jawabnya.

 

Tak lama kemudian mobil Mila berhenti di sebuah cafe langganan kami. Setelah mobilnya diparkir, kami keluar mobil. Kami berjalan memasuki cafe. Setwlah mendapat meja, seorang pelayan menghampiri meja kami.

 

“Selamat siang, Kak, apakah sudah siap untuk memesan menu? Kalau boleh tahu untuk berapa orang?” tanya seorang pelayan ramah.

 

“Siang. Ya, saya mau pesan untuk dua orang. Maincourse yang best seller di cafe ini saja, panacotta, dan choco milkshake.” Pelayan dengan sigap mencata menu pesananku. “Kamu mau apa, Mil?”

 

“Samain aja, deh, aku lagi malas mikir,” jawabnya.

 

“Ah, dasar kamu!”celetukku. Mila terkekeh.

 

“Eh, iya, gimana hubunganmu sama Gilang? Aman?” Aku memulai obrolan.

 

“Justru itu aku mengajakmu meet up,” jawabnya. Ia merogoh tasnya untuk mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Lalu menyodorkan kartu undangan padaku.

 

“Aah, My Milamoy, akhirnya ….” Aku berteriak karena kegirangan hingga aku lupa sedang bdrada di caffe. Aku segera membekap mulut sendiri. Untung saja cafe ini lumayan ramai sehingga tidak banyak pengunjung yang menyadari dengan teriakanku. Kami berdua terkekeh.

 

“Iya, makanya kamu wajib datang! Nggak ada alasan. Sekarang giliranmu jadi bridesmaid-ku.”

 

“Iya iya, Insyaallah aku datang.”

 

“By the way, gimana, nih rasanya setelah menjadi Nyonya Irfan? Cerita, dong pengalaman serumu!” desak Mila.

 

“Yes, seriously aku seneng banget. Bersyukur banget aku nikah sama Irfan. He treaded me like a queen. Seperti yang kubilang tadi di mobil. Aku sempat ragu untuk menerima lamarannya, karena waktu kami pacaran, dia tu cuek orangnya, terkadang malah terkesan dingin, gitu. Tapi, setelah ia membuktikan keseriusannya dengan datang melamarku, meminangku memintaku ke Papa. Dari sanalah aku tau seberapa effort-nya dia.” tuturku.

 

“Aah … so sweet, deh.” Ia tersenyum menggemaskan menyipitkan kedua matanya.

 

Obrolan kami terhenti saat seorang pelayan datang membawa pesanan kami. Setelah itu kami fokus untuk menyantap makanan yang telah dipesan.

 

“Oh iya, gimana dengan hubungan kalian? Kamu udah yakin, kan sama dia?” selidikku

 

“Iyalah, Hau. He’s better than my ex boyfriend,” jawabnya penuh penekanan saat mengucapkan better than. Aku paham apa yang ia rasakan sebelum dan setelah ia berpacaran dengan Gilang, calon suaminya.

 

Setelah puas saling bercerita tentang banyak hal aku dan Mila pulang. Mila juga sempat mampir ke rumah saat mengantarku pulang.

 

“Oh My God! Haura, rumahmu nyaman baget ini, beruntung banget jadi kamu. Sebagai sahabatmu, aku turut senang saat sahabatku juga bahagia.”

 

Aku terdiam. Pandanganku menerawang jau ke arah taman yang ada di belakang ruang makan setelah Mila mengucapkan kata ‘bahagia’. Kamu nggak tahu aja, Mil, saat ini hatiku sedang resah, dan cemas, gumamku. Mila menyadari aku sedang melamun dan samar-samar mendengar gumamanku.

 

“Hau …, are you OK?” selidik Mila.

 

“Eh, ya, aku baik-baik saja.”

 

“Nggak, Hau, aku kenal betul siapa kamu. Ini bukan Haura yang aku kenal. Please, ada apa? Oke, kalau kamu nggak mau cerita sekarang, kapan pun kamu mau, aku ada untukmu.” Mila mengusap punggung tanganku.

 

“A-aku …. Aku lagi galau, Mil. Semua telah kudapatkan. Suami yang baik, materi lebih dari cukup, kehidupanku romantis, tapi …, hingga saat ini aku dan Irfan masih belum juga dikaruniai anak. Aku mulai merasa sepi. Apalagi saat Irfan sedang lembur di kantor. Aku mulai merindukan hadirnya anak.”

 

“Maaf, ya, Hau, apa kamu dan Irfan sudah memeriksakan diri ke dokter kandungan?”

 

“Belum, Mil. Aku takut kalau ternyata ada hal yang tidak kami inginkan.”

 

“Haura Bening, kalau kamu nggak pernah ke dokter, bagaiman bisa tahu salah satu dari kalian atau bahkan keduanya bermasalah?”

 

Apa yang diucapkan Mila ada benarnya juga. Aku terdiam lesu tanpa gairah duduk di sofa.

 

“Bentar, deh, Hau, aku ingat, aku punya teman seorang dokter kandungan.” Mila mengaduk-aduk isi tasnya. Ia mengeluarkan sebuah kartu nama dari dompetnya. Lalu, ia berkata, “coba kamu hubungi nomor ini. Semoga bisa membantu kalian.”

 

“Terima kasih, My Milamoy. Terima kasih udah mau mendengar curahan hatiku. Nanti aku coba mengajak Irfan untuk konsultasi.

 

“Sama-sama, Haura. Jangan pernah ragu untuk berbagi cerita padaku. Kalau aku bisa pasti akan kubantu. Kalau begitu aku pamit pulang, ya.”

“Terima kasih, My Milamoy untuk waktunya hari ini buat mendengarkan keluh kesahku.”

Follow Sosial Media Redaksiku : FacebookInstagramTiktokXYoutubePinterest

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru

Foto:Kantor Dinas Kesehatan Kota Parepare. BPK dalam LHP atas LKPD Pemerintah Kota Parepare Tahun Anggaran 2025 menyoroti pembayaran tagihan listrik

Viral

BPK Ungkap Temuan Perjadin Dinkes Parepare, Ada Apa?

Jumat, 7 Agu 2026 - 15:20 WIB