Hubungan yang terjalin antara aku dan Tiwi tak satu orang pun yang mengetahuinya. Keluargaku, orang tuaku, dan keluarga Tiwi, apa lagi. Kami simpan rapat rahasia ini. Bahkan, selama aku mengenal dan menjalani hubungan gelap ini dengan Tiwi, ia belum pernah membawaku ke rumahnya.
Ia tak pernah mengenalkanku dengan orang tuanya dan keluarganya. Sebab, orang tua mana yang akan setuju anaknya menjadi selingkuhan seorang suami yang telah beristri dan memiliki anak? Tak akan ada.
Begitu pun aku. Entahlah, suami dan ayah macam apa aku ini?. Aku yang seharusnya tidak perlu coba-coba untuk memasuki dunia kelam ini. Aku yang seharusnya sadar dengan perbuatanku. Aku membiarkan godaan dan rayuan itu masuk dalam jiwa sehingga aku lupa diri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kuakui pesona Tiwi begitu memukau sehingga menyilaukan diriku. Kekagumanku pada kemandirian, kegigihan, keuletannya dalam dunia bisnis membawaku pada kekaguman pesonanya yang lain. Ditambah kedekatan kami karena pekerjaan membuat kami semakin tak bisa terpisahkan. Terjalinlah hubungan terlarang itu yang berakibat fatal. Aku tenggelam dalam hubungan perselingkuhan dengannya.
Aku pun memahami maksud Tiwi. Saat ini dia terus mendesakku terus-menerus. Aku tahu dia sangat mencintai dan menginginkanku. Aku pun demikian. Kehadiran dan kebersamanku dengannya memberikan warna baru yang membuat hidupku bahagia.
Tapi, di sisi lain, adrenalinku terpacu. Aku menyadari betul bahwa perbuatanku ini salah. Tapi, aku tak kuasa menahan gejolak ini. Entah dosa apa yang pernah kulakukan sehingga aku tak mampu melawan rayuan dan bisikan yang membuat imanku goyah.
Ada rasa bersalah yang begitu besar membelenggu dalam jiwa ini. Terlebih lagi saat aku sedang bersama Haura dan anak-anak. Hubungan perselingkuhan ini semakin dalam. Sulit bagiku untuk keluar dari hubungan ini. Sering kali aku berpikir, Tuhan mengapa Engkau biarkan aku larut dalam jurang yang begitu dalam dan gelap ini?
Beberapa bulan terakhir riuh gemuruh kurasakan dalam dada. Hatiku gundah dan gelisah. Masalah-masalah yang aku alami silih berganti. Tiwi terus-menerus mendesakku untuk segera menikahinya. Anak-anak yang semakin hari bertambah besar dan menuntut kehadiranku bersama mereka, dan Haura, … ia mulai menanyakan peran dan kehadiranku sebagai ayah dalam keluarga yang mulai sedikit terabaikan.
Aku tahu, apa yang mengganggu pikiran dan membuat hatiku gelisah semua karena ulahku sendiri. Bayang-bayang tentang kehidupanku bersama Haura, menjalani kehidupan rumah tangga bersamanya. Bagaimana kerepotan kami mengurus rumah dan anak-anak, meskipun ada Mbak Parti yang seminggu dua kali datang membantu kami. Ya, kami memepekerjakan Mbak Parti hanya untuk mencuci pakaian anak-anak dan setrika saja.
Aku sering bermimpi Tiara yang merengek meminta dibacakan dongeng menjelang tidurnya. Mala yang beberapa kali datang dalam mimpiku memintaku untuk mengambil raport di sekolah. Haura yang sering memintaku meluangkan waktu untuk hadir dalam membersamai tumbuh kembang anak-anak kami.
Mimpi yang sering datang mungkinkah karena aku selalu memikirkan rasa bersalahku pada mereka? Rasa bersalah itu yang selalu menghantui hari-hariku. Siang dan malam.
Halaman : 1 2






