Novel: Nayanika (Part 5)

- Penulis

Minggu, 22 September 2024 - 22:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel: Nayanika (Part 5)

Aku tiba di bandara Soekarno Hatta International tepat pukul sembilan pagi. Tiap kali melewati pintu kedatangan, ingatanku selalu kembali pada masa pertama kali aku nekat menginjakkan kaki di Jakarta. Waktu itu Mama tidak bisa menemani, Diandra pun sibuk dengan urusan kampusnya.

Tahun demi tahun kulewati sendirian. Tidak pernah pulang bahkan sekalipun aku libur semester atau waktu perayaan hari keagamaan. Aku selalu beralasan sibuk ikut acara kampus, kegiatan pengembangan diri atau temu kumpul komunitas yang kuikuti.

Semua hanyalah kebohongan karena alasan sebenarnya adalah aku menghindari Arya dan Diandra. Tepatnya tidak ingin melihat kedekatan mereka. Hingga Mama harus menyempatkan waktunya untuk mengunjungiku tiap tahun yang mungkin saja beliau mengendus ketidakberesan hubungan antara aku, Diandra dan Arya namun memilih berpura-pura tidak tahu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Seolah rasa sakit hati yang kualami karena merasa terkhianati itu belum cukup, tepat delapan tahun aku di Jakarta, ketika usiaku sudah memasuki 25 tahun, aku mendengar kabar menggembirakan untuk Diandra dan Arya, yang menjadi berita buruk untukku. Mereka memutuskan untuk menikah.

Aku begitu mengingat telepon Mama malam itu. Dari suaranya aku memahami bahwa penyampaianya dilakukan pelan-pelan, mungkin agar tidak melukaiku. Beliau memohon untuk aku menyempatkan waktu untuk pulang. Menghadiri hari kebahagiaan kakakku. Waktu itu aku tidak mengiyakan, aku tidak ingin menjanjikan apa pun.

Di luar dari perkiraanku, Diandra datang seminggu kemudian. Sendirian. Waktu itu aku masih menyewa apartemen, karena berbagi dengan temanku dapatnya lebih murah. Sosoknya membuatku kaget ketika membuka pintu di pagi hari saat aku libur kerja.

Aku nggak mau dengar alasan lagi, pokoknya kamu harus datang, ucapnya merengek kala itu, ketika aku memintanya masuk dan istirahat di kamarku.

Melihatku yang cuma terdiam sambil membereskan cucian yang menumpuk di keranjang, dia berubah menjadi mode serius. Nay, kamu masih marah?

Gerakanku terhenti. Paham maksud pembicaraannya mengarah ke mana. Selama ini kami memang tidak pernah saling terbuka untuk membahasnya, aku mengira perasaan kecewa ini akan menghilang seiring waktu, tapi nyatanya tidak semudah itu.

Nay? Diandra mendekatiku yang membelakanginya. Kamu masih marah soal aku yang mendekati Mas Arya?

Apa aku punya alasan untuk marah? tanyaku balik.

Diandra terdiam, menunduk sebentar lalu kembali menatapku. Maaf, Nay.

Aku melanjutkan beres-beresku. Kumasukkan cucian kotorku ke dalam kantongan untuk memudahkanku membawanya ke laundry.

Nay.

Kamu mending pulang. Tenang aja aku akan datang.

Terima kasih, Nay.

Satu hal lagi. Aku sudah tidak marah. Kecewa, masih. Untuk itu jangan berharap keramahanku. Aku nggak bisa memaksa untuk bisa seperti dulu lagi.

Sekali lagi maaf, Nay.

Aku mengangguk. Pulang lah. Aku juga mau keluar sebentar lagi.

Dan aku menepati janjiku. Aku menghadiri pernikahan mereka, namun langsung pulang begitu resepsi selesai. Aku sengaja untuk tidak begitu menghiraukan Arya yang selalu mengajakku mengobrol, menanyakan proses adaptasiku yang sendirian di Jakarta. Sebisa mungkin aku harus mengontrol atas campur aduknya perasaanku kala itu.

Lamunanku berhenti ketika suara yang kukenal memanggilku. Ghani berjalan cepat menghampiriku, memelukku erat.

Kangen banget. Sori ya kamu nunggu lama? Nyari parkir susah banget.

Aku menggeleng, menghadiahkannya senyuman. Nggak sampai sepuluh menit kok.

Ya udah. Yuk! Ghani mengambil alih gagang koperku dan menyeretnya. Memanduku berjalan ke arah parkiran.

Aku merasa bersalah. Selama berada di Surabaya, aku jarang menghubungi laki-laki ini. Bahkan aku melupakan kehadirannya selama ini di hidupku ketika bersama Arya. Namun Ghani tidak pernah mengeluh sedikit pun, katanya dia tidak begitu mencemaskanku jika berada di dekat keluargaku sendiri.

Gimana Surabaya?

Aku menghela napas. Panas.

Ghani tertawa ringan. Ibumu?

Baik. Cuma ya gitu. Selalu sedih dengan kondisi Diandra.

Kami tiba di parkiran mobil. Begitu menemukan punya Ghani, laki-laki itu memasukkan koperku di bagasi. Tanpa menunggunya aku membuka pintu depan lalu mendudukkan bokongku di kursi penumpang.

Diandra gimana? Ghani melanjutkan topik obrolan tadi begitu duduk di sebelahku, yang kujawab dengan gelengan ringan.

Tapi aku masih sangat berharap kesembuhannya. Ada banyak yang belum kami selesaikan bersama.

Ghani menatapku simpati, lalu menjangkau kepalaku dengan tangan kirinya, mengacak rambutku dan merapihkannya kemudian. Pasang seatbelt-mu. Kamu boleh tidur, nanti aku bangunkan kalau sudah sampai.

Aku pun memasang sabuk pengaman, lalu menurunkan sandaran kursiku. Tidak lama kemudian, kesadaranku mulai menghilang.

***

Sudah seminggu aku menjalani rutinitasku kembali. Berangkat pagi dan pulang malam. Kesibukan seperti ini memang terjadi tiap majalah bulanan di kantorku akan terbit, jadi aku sudah terbiasa dan sudah menikmatinya. Toh ritme kerjaan akan kembali ke semula jika sudah terbit.

Waktu menunjukkan pukul tujuh malam, tepat di saat aku mulai merapikan meja kerjaku, ponselku yang berada dalam tas berbunyi. Aku mengambil dan melihat kontak mama di layar.

Iya, Ma? Tumben nelepon jam-jam segini? Sembari menjepit ponsel di telinga, aku meraih tas lalu menjinjingnya. Melangkah ke arah lift di pojok ruangan.

Naya. Pulang, Nak. Diandra baru saja pergi meninggalkan kita.

Ayunan kakiku terhenti. Aku semakin menempelkan ponsel di telingaku. Gimana, Ma?

Mamaku tidak menjawab. Hanya suara tangisan pilu yang kudengar beberapa saat.

Diandra¦ meninggal. Isakan Mama semakin keras. Pulang, Nak.

Seketika tubuhku menjadi lunglai, ruangan yang kutempati seolah berputar, dengan cepat aku memegang dinding di sebelahku, sebelum aku benar-benar ambruk di lantai. Beberapa temanku menghampiri, sebagian lagi melemparkan tatapan penuh tanya.

Aku segera pulang, Ma.

Nay, oke kan? tanya salah satu dari mereka begitu aku menutup panggilan.

Aku tidak menjawabnya. Dengan cepat dan tanpa menunggu keterangan lebih banyak, aku meninggalkan pijakanku, tergesa-gesa memasuki lift dan langsung memesan taxi online untuk pulang. Motorku kutinggal di kantor untuk sementara. Aku tidak bisa menyetir ditengah kondisi seperti ini, lagi pula aku harus segera memesan tiket pesawat dalam perjalanan pulang ke kontrakan.

***

Ketika mengaktifkan ponsel, beberapa laporan panggilan tidak terjawab dari Mama, pun chat-chat yang menanyakan keberadaanku. Selama menunggu koperku di pengambilan bagasi, aku menelepon dan menanyakan di mana Diandra akan disemayamkan. Mama kemudian memberiku alamat dimana taxi-ku kini menepi.

Rumah Diandra cukup ramai. Semua mengenakan pakaian serba gelap. Beberapa kukenali masih keluarga jauh, sisanya aku tidak tahu. Mungkin kenalan Diandra, atau relasi Arya. Yang kuperhatikan, ketika melihatku turun dari mobil, pelayat menatapku dengan mata bertanya-tanya. Mungkin mereka tidak tahu jika Diandra memiliki saudara kembar.

Kulangkahkan kakiku memasuki rumah, melewati sekumpulan orang di ruang tamu. Begitu sekat yang menghubungkan dengan ruang tengah kulewati, terlihat di mataku sosok yang terbaring di tengah-tengah dengan kain yang menutupi sekujur tubuh. Di sisinya ada Mama dan Arya yang memeluknya.

Begitu menyadari kehadiranku, Mama langsung berdiri menghampiri lalu memelukku. Tubuhnya bergetar karena tangisan, pelukannya sangat erat, seolah akan meremukkan badanku. Aku tidak bisa membalas pelukan dan menenangkannya, sebab saat ini aku masih tidak percaya Diandra akan pergi secepat ini.

Ketika pelukan Mama mulai melemah, aku berjalan dengan pelan. Menghampiri Diandra yang menutup mata seperti tertidur. Aku bersimpuh di sisinya, memegang sisi tubuhnya dengan tangan yang gemetar, lalu karena tidak bisa menahan lagi, aku memeluk dan membaringkan kepalaku di bagian dadanya.

Seketika momen-momen kebersamaan kami sejak kecil hingga remaja seolah ditampilkan di depan mataku, seperti film di layar bioskop. Saat aku mengajarinya mengendarai sepeda, saat dia membelaku dari gangguan teman yang bandel atau pun saat teman-teman sekolah membandingkanku dengannya.

Yang paling kusesali dan sepertinya akan selalu membayangiku adalah hubungan kami yang belum membaik seperti seharusnya. Diandra pergi tanpa mendengar kata maafku. Mendengarkan bahwa sesungguhnya aku sudah merelakan hubungannya dengan Arya sejak mereka memiliki anak.

Mungkin aku akan masih memeluknya seandainya saja sepasang lengan tidak membangunkanku. Mataku menemukan Arya, yang balik menatapku penuh keteduhan.

Diandra mencarimu di detik-detik kepergiannya. Dia hanya mengatakan ˜Naya™ dan ˜maaf™.

Hatiku semakin perih mendengar fakta itu. Aku kembali menatap wajah Diandra yang terlihat damai. Aku kehilangan lagi. Setelah kepergian Ayah, aku mengalami sakit itu lagi.

***

Sepulang mengantarkan Diandra ke peristirahatan terakhirnya, aku baru melihat anak-anaknya. Dijaga oleh mamaku yang memang tidak dibiarkan ke pemakaman karena ditakutkan akan tumbang di sana.

Hime langsung memelukku begitu aku memasuki kamarnya. Sementara Ren hanya berdiri di sisi kasur, menatapku yang menunduk untuk membalas pelukan adiknya. Aku baru menyadari sosok Arya di sudut ruangan ketika aku kembali berdiri tegak dengan Hime yang kini berada di gendonganku.

Ibu mana? Tanya Ren padaku begitu aku berjalan dan duduk sambil memangku Hime.

Aku melirik Arya, yang tidak terkejut dengan pertanyaan anaknya. Tentu saja aku diam, tidak tahu harus menjawab apa. Lagian orang yang pantas menjawab pertanyaan itu adalah ayahnya. Bukan aku.

Tadi Ibu tidur di sana. Tapi kenapa nggak balik-balik? Hime mengangkat kepala, kedua matanya menatapku penuh tanya. Mata yang persis sama dengan milik Diandra. Kamu kayak Ibu.

Hime. Tante Naya saudaranya Ibu. Bukannya menjawab pertanyaan anak-anaknya, Arya justru menjelaskan statusku.

Tante Naya, ibuku ke mana? Hime mengulang pertanyaan kakaknya. Sementara itu Ren sudah berjalan ke arah Arya dan meminta gendong.

Melihat mereka membuatku kembali bersedih. Dengan sekuat tenaga aku menahan tangisku. Aku semakin mengencangkan pelukanku ke tubuh Hime, menyembunyikan wajahku ke rambutnya yang hitam legam. Seolah mengerti kondisi emosiku, Hime menepuk-nepuk punggungku dengan pelan, mengusapnya lembut.

Isakanku menjadi jelas dengan suasana kamar yang sunyi. Begitu aku mengangkat kepala, mataku langsung tertuju pada Arya yang menatapku lekat. Seolah ingin menyalurkan kekuatan padaku.

Tante Naya tinggal di sini? Hime melonggarkan pelukannya setelah aku cukup tenang dan tidak menangis lagi. Kedua tangan mungilnya menangkup kedua pipiku, membersihkan jejak-jejak air mata di sana.

Ya, Tuhan. Baru sebentar aku sudah jatuh hati dengan anak ini. Entah seperti apa didikan Diandra pada anak-anaknya, namun Hime terlihat dewasa dibandingkan anak seumurannya. Dia ramah dan mampu menangkap emosi orang lain yang baru saja dilihatnya. Ataukah mungkin karena wajahku menyerupai ibunya?

Tante nggak tinggal di sini, Sayang. Tante nginap di rumah Nenek, balasku.

Kedua matanya menyipit, namun masih menatapku. Kenapa nggak nginap di sini saja?

Lagi-lagi aku menatap Arya, meminta pertolongannya. Namun laki-laki itu diam saja, tidak memiliki inisiatif membantuku. Padahal di sini dia yang paling mengerti anak-anaknya.

Nggak bisa. Tante harus nemenin Nenek. Aku mengatakan alasan seadanya. Berharap Hime tidak melanjutkan pertanyaannya lagi.

Namun sepertinya itu hanya harapanku, gadis kecil itu kembali memiringkan kepala, menatapku penuh tanya. Kenapa Nenek harus ditemani? Kemarin Nenek tinggal sendiri.

Melihatku yang kelabakan, Arya menghampiri kami. Hime, kamu dan Ren mandi ya? Udah sore. Bisa kan mandi sendiri?

Bisa, Ayah.

Hime kemudian turun dari pangkuanku. Kaki mungilnya melangkah ke arah lemari dan mengambil dua buah handuk di sana. Menyerahkan satu ke Ren. Hime pun memasuki kamar mandi yang disusul oleh Ren.

Gantian, Ren.

Seketika Ren menghentikan langkah begitu mendengar perintah ayahnya, merelakan kamar mandi dipakai adiknya dulu. Anak itu langsung kembali duduk di pinggiran kasurnya.

Mereka memang lagi senang-senangnya ngobrol. Kamu tidak harus bisa menjawab jika tidak bisa.

Aku mengangguk paham, lalu berdiri karena merasa canggung sedekat ini dengan Arya. Seperti berduaan meski ada Ren yang menatap kami dari duduknya.

Aku keluar dulu. Mau lihat Mama.

Arya hanya mengangguk lalu memberiku jalan ke pintu kamar. Entah apa yang akan terjadi di kehidupan keluarga ini selanjutnya. Bagaimana Arya akan melanjutkan hidup dengan dua anak kembarnya? Anak kembar yang jelas membutuhkan keluarga secara utuh.

 

Part sebelum dan selanjutnya -> Nayanika

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)
Novel: Padamu Aku Akan Kembali (Part 7)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Senin, 20 Januari 2025 - 10:31 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)

Berita Terbaru

Foto:Kantor Dinas Kesehatan Kota Parepare. BPK dalam LHP atas LKPD Pemerintah Kota Parepare Tahun Anggaran 2025 menyoroti pembayaran tagihan listrik

Viral

BPK Ungkap Temuan Perjadin Dinkes Parepare, Ada Apa?

Jumat, 7 Agu 2026 - 15:20 WIB