Dan masalahnya Arya bukan lah laki-laki bodoh. Dia bisa membedakan mana buah salak dan mana kelubi. Kelubi yang berukuran lebih kecil dengan tekstur yang lebih keras, dan memiliki rasa asam. Tentu saja dia akan memilih salak yang lebih lunak dan manis.
Ini bukan bentuk diskriminasi pada buah, atau menghina buah khas daerah tertentu. Maksudku jelas. Arya akan memilih sesuai standarnya, dan itu bukan aku.
Dengan rasa malu dan tidak berarti, aku mendekap kado yang kupegang. Perlahan naik kembali ke kamarku dengan langkah yang kubuat seringan mungkin agar mereka tidak menyadari kehadiranku. Aku tidak bisa membayangkan akan seperti apa jika ketahuan, mungkin aku akan berpura-pura santai, atau justru menyerang mereka dengan membabi buta karena membuatku patah hati. Patah hati pertamaku sejak mengenal apa itu asmara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sejak itu, aku mencoba mengurangi komunikasi dengan Arya. Laki-laki itu masih mengirimkan chat, menanyakan soal-soal ujianku. Apakah aku melewati dengan mudah atau memiliki kendala. Tentu saja aku membalas seperlunya. Tidak pernah menghubunginya lebih dulu, atau pura-pura tidur di kamar ketika dia bertamu ke rumah.
Buat apa dia masih ke rumahku? Tentu saja untuk bertemu dengan Diandra. Hubungan mereka semakin dekat seiring waktu. Merayakan atas lulusnya Diandra pada seleksi SNMPTN jalur undangan, dan menemaninya ke kampus untuk berkenalan dengan beberapa calon senior yang merupakan adik tingkat Arya juga. Ya, mereka berdua berada di kampus yang sama. Searasi sekali, bukan?
Sementara aku, berjuang meminta restu pada Mama untuk kuliah di kampus yang kuinginkan. Yang kusyukuri berada di Jakarta. Sejak dulu aku memang mengincar kampus tersebut, hanya saja sedikit sayang jika harus berpisah dengan Mama dan Diandra. Namun ketika perasaanku harus dipaksa mati kala kejadian itu, aku semakin yakin jika pilihanku untuk melanjutkan pendidikan di kampus itu sudah tepat.
Selamat tinggal, Surabaya.
Selamat tinggal, Arya Baga.
Part sebelum dan selanjutnya -> Nayanika






