Pagi ini adalah hari kedua aku berada di Surabaya. Semalam aku diminta untuk pulang, Arya ingin aku dan Mama datang pagi agar dia bisa ke rumah sebentar untuk memastikan kondisi anak-anaknya, sekalian mengurus kerjaan sebentar.
Bisa dibilang selama aku menjaga Diandra, kerjaanku perlahan selesai sesuai tenggat waktu. Siang ini sisa aku kirimkan hasil kerjaanku ke atasan langsung, namun sepertinya harus tertunda karena kedatangan Arya.
Kabar baik yang kami tunggu ternyata tidak kunjung datang, malah yang ada seketika membuat kami semakin bersedih. Bahkan Mama tidak sekali pun menyentuh makanan di tangannya ketika Arya datang membawa hasil pemeriksaan Diandra.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dari keterangan dokter yang berbicara empat mata dengan Arya tadi menyebutkan jika kanker yang menyerang Diandra kini menyebar hingga ke otak. Awalnya Diandra mengidap kanker payudara, sudah menjalani beberapa tahap kemoterapi, tapi penyebaran pun tidak bisa dicegah.
Sementara ini dokter sudah menyatakan tindakan terbaik yang akan dilakukan serta kemungkinan beberapa resikonya, namun tetap menunggu keputusan pihak keluarga, yang berarti ada di tangan Arya sebagai suaminya.
Jadi apa keputusan Nak Arya? Suara Mama mengindikasi untuk berusaha tegar di tengah kondisi yang nyaris putus asa.
Arya berjalan gontai mendekati Diandra, merunduk lalu mencium dahinya lembut seakan-akan kulit istrinya akan terkelupas jika tidak berhati-hati. Tatapannya tertuju lekat pada sepasang mata yang sedang tertutup, menyimpan sejuta pesan yang ingin disampaikan.
Saya tetap ingin berjuang, Ma. Saya yakin Diandra juga masih.
Mataku ikut tertuju pada wajah saudaraku itu. Jika saja rasa sakit bisa dibagi-bagi, aku bersedia menampung sebagian rasanya. Bahkan jika Diandra meminta sesuatu untuk kulakukan saat ini, maka tanpa berpikir aku akan melakukannya. Tidak banyak yang bisa kulakukan selama Diandra sakit, malah dengan sengaja aku mengabaikan kabar dari Mama, hanya demi memenuhi keegoisanku.
***
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam, aku dan Mama masih berada di samping Diandra. Entah karena pengaruh obat atau apa, Diandra banyak tertidur hari ini. Sesekali bangun mencari suaminya, ataukah mencari anaknya.
Aku sebenarnya ingin anak-anak mereka hadir untuk melihat ibunya. Bisa jadi kehadiran mereka menjadi penyemangat Diandra untuk berjuang, namun Arya tidak menginginkan hal sama. Dia tetap bersikeras dengan keyakinannya bahwa jika anak-anaknya datang, yang ada malah bisa mengganggu istirahat ibunya. Aku semakin penasaran bagaimana aktifnya mereka. Selama berada di sini, tidak sekalipun aku berjumpa dengan mereka.
Cutiku tersisa besok, itu berarti aku harus balik ke Jakarta besok juga. Maka dari itu malam ini aku ngotot ingin menjaga Diandra hingga pagi. Besok subuh rencana pulang ke rumah Mama, siapkan pakaian, dan langsung ke bandara. Meski awalnya Arya keberatan akan keputusanku, dia akhirnya menyerah ketika tahu besok hari terakhirku di Surabaya.
Meski ada kami bertiga di ruangan ini, aku tetap saja merasa canggung meski jarak antara aku dengan Arya bisa dibilang tidak dekat. Aku dibiarkan duduk di bed khusus penunggu, sedangkan dia di sofa yang berada di sisi kiri Diandra.
Ketika aku ingin buang air ke WC, terdengar suara lirih dari mulut Diandra. Aku dan Arya spontan mendekat di masing-masing sisi.
Mas, panggilnya. Naya mana?
Merasa namaku disebut, aku mendekatkan wajah. Kenapa, Di? Aku di sini.
Dengan sedikit tenaga yang dipunya, Diandra memiringkan kepala menghadapku. Nay. Jaga anak-anakku.
Aku mengerutkan dahi, kulihat Arya pun melakukan sama. Aku berdeham, tiba-tiba tenggorokanku terasa gatal. Kan ada kamu yang bisa menjaga mereka. Ada Mas Arya juga.
Diandra menoleh dengan lemah, mencari wajah suaminya. Mas. Nikahi Naya.
Aku membelalakkan mata. Meski suaranya terdengar lirih, aku masih bisa mendengar dengan jelas. Apa yang dipikirkan Diandra hingga bisa meminta seperti itu? Karena itu sungguh permintaan konyol.
Di, masih ada kita. Kita bisa menjaga mereka.
Dengan malu bercampur gugup aku melirik wajah Arya. Kontras denganku, Arya terlihat tetap tenang dengan permintaan istrinya yang begitu tidak masuk akal.
Janji sama aku. Seandainya aku¦ gak bisa bertahan, nikahi Naya. Diandra kembali menoleh ke arahku. Jadilah istri Mas Arya, Nay.
Tentu saja aku masih diam. Tidak berani bersuara, sekalipun aku tahu dengan mengatakan ˜iya™ mungkin akan membuat Diandra tenang dan tidak membahas hal ini lebih lama, namun tetap saja permintaannya terlalu berat dan sulit. Aku tidak mau ceroboh mengiyakan.
Nay? Diandra gantian menggenggam tanganku. Cuma ini yang aku minta.
Di. Sebaiknya kamu istirahat.
Nay? desak Diandra lagi, masih dengan suara lemah.
Aku menatap Arya, laki-laki itu pun sama menatapku. Ada semacam pesan yang ingin disampaikan melalui matanya, seolah memintaku untuk segera mengiyakan permintaan istrinya.
Naya pasti mau. Sekarang kamu butuh istirahat, biar kondisimu fit dan pengobatan bisa dilanjutkan.
Diandra masih menatapku, lalu setitik air mata jatuh di pipinya. Reaksinya itu membuatku tambah bingung. Maka aku mengikuti permainan Arya, aku mengangguk mengiyakan. Mungkin permintaan Diandra ini hanyalah bentuk keputusasaan sesaat. Besok pasti dia akan lupa.
Saat aku mengusap air matanya, Diandra perlahan menutup mata. Terpejam dengan irama napas yang teratur. Tinggallah aku dan Arya dengan keadaan yang canggung. Aku berpura-pura batuk, tapi justru itu menarik perhatiannya, hingga beberapa saat kami malah saling bertatapan. Untuk mengakhiri sebelum semua menjadi semakin aneh, aku melanjutkan niat ke WC tadi. Aku berharap setelah menyelesaikan urusanku di sana, Arya sudah tertidur pulas di sofa.
***
Selepas subuh, aku meninggalkan rumah sakit. Diandra masih tidur, sementara Arya menawarkan mobilnya untuk kupakai, namun kutolak dengan halus. Jam-jam segitu jalanan sudah ramai, aku merasa tidak ada yang perlu kukhawatirkan.
Lebih aman lagi kalau kamu membawa mobilku, ucap Arya masih setengah memaksa.
Lalu yang balikin ke sini siapa? tanyaku menahan rasa kesal.
Kan ada Mama. Nanti kalau Mama mau pulang, aku bisa antar.
Trus yang nungguin Diandra siapa?
Sorean ibuku mau datang. Membawa anak-anak.
Haduh. Ribet sekali Arya ini. Lagian ini bukan pertama kalinya aku jalan sendirian di subuh-subuh begini. Di Jakarta, aku bahkan sudah terbiasa pulang larut karena harus lembur kejar target.
Apa jangan-jangan dia terbawa perasaan dengan permintaaan Diandra semalam? Dia tidak menganggap serius kan? Kenapa mendadak perhatian seperti ini? Kemarin-kemarin juga cuek. Bahkan jarang berbicara jika bukan aku yang inisiatif mengajaknya ngobrol.
Nggak usah, Mas. Aku bisa sendiri. Aku jamin aku nggak akan kenapa-kenapa. Sebelum otakku menyimpulkan hal-hal yang tidak mungkin terkait perasaan yang muncul di hati Arya, aku segera mengambil ranselku, lalu mendekati Diandra untuk mencium dahinya. Sementara aku melakukan itu, ekor mataku menangkap Arya yang mengikuti pergerakanku. Sebelum kepalaku semakin memikirkan hal konyol, aku berjalan cepat menuju pintu keluar.
Sampai di rumah, aku segera mandi dan menyiapkan semua barang dan pakaianku ke dalam koper. Aku berpesan pada Mama untuk selalu mengabariku setiap perkembangan Diandra. Beliau ingin mengantarku ke bandara, namun tidak kubiarkan. Aku memintanya untuk segera ke rumah sakit untuk menggantikan Arya. Diandra dan Arya lebih membutuhkan.
***
Bandara Juanda Surabaya belum begitu ramai. Tanpa melalui antrean yang panjang, aku berhasil melakukan check in dan pemeriksaan bagasi. Tidak lama kemudian aku sudah menjatuhkan bokongku di ruang tunggu yang sebagian besar sudah ditempati beberapa penumpang. Untung saja aku mendapatkan apa yang kucari. Segera kukeluarkan charger ponsel untuk kusambungkan ke stop kontak yang tersedia.
Selama menunggu boarding, aku mengirimkan kabar ke Ghani. Laki-laki itu libur manggung hari ini, dan bisa menjemputku nanti di bandara. Sisanya waktuku kuhabiskan dengan scroll chat WA grup kantor, siapa tahu ada yang kulewatkan.
Tidak lama menunggu, airport announcement terdengar. Aku segera memasukkan charger dan berjalan di barisan antrean.
Semua proses pengecekan dokumen berjalan mulus, aku berjalan mengikuti orang-orang di depanku hingga tiba di pintu pesawat. Seorang pramugari dengan pakaian rapi membentuk tubuh membantu untuk menemukan kabinku. Aku pun segera duduk setelah mengucapkan terima kasih padanya.
Permisi, sapaan seseorang menyadarkanku. Kursi saya dekat jendela.
Oh. Aku langsung berdiri dan memberinya jalan masuk.
Dia seorang wanita yang mungkin lima tahun lebih tua dariku. Penampilannya terlihat trendi, dengan cincin bermahkota mutiara di jari manisnya. Awalnya aku mengira perempuan ini akan diam saja sepanjang perjalanan, ternyata dugaanku salah. Orangnya cukup ramah, selalu memancing topik obrolan denganku, hingga sampai ditahap dia menceritakan persoalan rumah tangganya.
Usia pernikahanku memasuki tahun kesepuluh, Mba. Tapi belum juga dikaruniai anak, ucapnya bersedih, sementara aku hanya mengangguk pelan. Tidak tahu ingin merespon apa.
Karena itu, setahun yang lalu, aku mengijinkan suamiku untuk menikah lagi.
Tanpa bisa mengontrol raut wajah, aku menoleh dengan cepat menghadapnya. Terkejut dengan fakta yang baru saja diucapkannya.
Mengijinkan?
Perempuan itu tersenyum sambil menggeleng ringan. Bukan mengijinkan. Lebih tepatnya meminta beliau untuk menikah lagi.
Tapi¦ kenapa?
Aku begitu heran dengan perempuan-perempuan yang mudah meminta suaminya untuk menikahi perempuan lain. Apa di dalam hatinya tidak menyimpan perasaan cemburu? Apakah semudah itu proses ikhlas?
Karena saya tahu suami saya sangat mendambakan seorang anak, meskipun tidak pernah mengatakannya.
Dari suara perempuan itu, aku mendengar nada pilu dan putus asa. Entah karena belum dikaruniai anak ataukah karena tidak memiliki pilihan selain membiarkan suaminya menikahi perempuan lagi.
Maaf. Apa suami Ibu setuju?
Perempuan itu terdiam sejenak, lalu menunduk cincin manis di jarinya. Awalnya tidak, tapi setelah kupaksa, akhirnya beliau mau.
Wah, gila! Kebanyakan perempuan di luar sana justru rela mempertontonkan aib rumah tangganya karena diselingkuhi demi mengobati rasa sakit mereka. Dengan alasan ˜hancur bersama™. Sementara perempuan di sebelahku ini justru memaksa suaminya untuk membagi hati dan raga.
Aku jadi penasaran seberapa besarnya cinta yang dia miliki hingga rela mengorbankan perasaan demi melihat impian suaminya terwujud?
Saya tidak tahu harus merespon apa. Sejujurnya saya mungkin tidak bisa sekuat Ibu.
Saya pun tidak sekuat itu. Ada kalanya saya ingin kembali ke masa-masa awal kami menikah. Sepasang kekasih yang belum lelah dan tidak putus asa menanti buah hati. Tapi menaruh harapan yang tidak kunjung jadi kenyataan juga sama melelahkannya. Akhirnya sampailah saya di keputusan itu.
Sekarang Ibu bahagia?
Perempuan itu kembali tersenyum, lalu menoleh menatapku. Pasti. Tidak lama dari pernikahan kedua suami saya, kami dikaruniai seorang bayi. Sekarang istrinya sedang mengandung anak kedua.
Kali ini aku tidak bisa menahan rasa terkejutku. Bahkan tanpa sadar aku membulatkan mulut hingga perempuan di sebelahku itu tertawa renyah.
Percayalah, tidak semenyakitkan itu. Awal-awal mungkin saya merasa tersingkirkan, terasing dan tidak menjadi prioritas lagi, tapi semakin lama saya menjalani, saya bisa menerima garis kehidupan yang ditakdirkan untuk saya. Saya bahagia melihat suami bahagia. Terlebih ketika dilibatkan dalam pengasuhan bayi mereka. Lagian kasih sayang dari suami saya tidak berkurang kok, justru kehadiran istrinya membuat saya merasa memiliki teman baru yang seru diajak ngobrol.
Aku menghela napas. Turut lega ketika perempuan di sebelahku bisa melihat kebahagian dari sisi lain. Semoga dia bertahan bukan karena takut kekurangan materi jika memilih berpisah dengan suaminya.
Mungkin orang lain mengira saya ini matre. Takut jatuh miskin jika memilih cerai, namun yang tidak diketahui orang-orang adalah perusahaan yang dikelola suami saya adalah milik saya. Perusahaan warisan dari ayah saya.
Aku menelan ludah, mendadak malu, karena barusan menjadi salah satu orang yang dimaksud.
Kisah perempuan ini mengingatkanku atas permintaan Diandra semalam. Permintaan konyol yang bahkan tidak pernah muncul di mimpiku sekalipun.
Part sebelum dan selanjutnya -> Nayanika





