Redaksiku.com – Menteri Agama Nasaruddin Umar kembali menegaskan pentingnya dialog, kerja sama, dan penghormatan terhadap perbedaan melalui penyelenggaraan Rukun Festival 2026.
Festival lintas generasi dan lintas iman tersebut digelar di The Telkom Hub, Jakarta Selatan, pada Minggu, 12 Juli 2026. Rangkaian acaranya berlangsung sejak pagi hingga malam dengan menghadirkan generasi muda, komunitas, tokoh agama, akademisi, kreator, pejabat publik, dan pegiat perdamaian.
Perkembangan terbaru mengenai acara tersebut dipublikasikan pada 15 Juli 2026 melalui laporan bertajuk Celebration of Harmony. Puncak festival menjadi ruang apresiasi terhadap perjalanan intelektual, karya, serta kontribusi Nasaruddin Umar bagi kehidupan keagamaan, kebangsaan, dan perdamaian.
Nasaruddin Umar Masih Menjabat Menteri Agama
Nasaruddin Umar saat ini menjabat sebagai Menteri Agama Republik Indonesia dalam Kabinet Merah Putih. Ia mulai menjalankan tugas tersebut pada 21 Oktober 2024.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain menjadi Menteri Agama, Nasaruddin juga dikenal sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal. Dua posisi tersebut menempatkannya dalam peran penting, baik dalam penyusunan kebijakan keagamaan maupun pengembangan dialog antarumat beragama.
Rukun Festival 2026 diselenggarakan oleh Nasaruddin Umar Office atau NUO dalam rangka menyambut miladnya yang ke-67. Acara tersebut dirancang bukan hanya sebagai perayaan pribadi, tetapi sebagai ruang pertemuan masyarakat dari beragam agama, keyakinan, profesi, dan generasi.
Lebih dari 1.500 Peserta Hadiri Rukun Festival
Rukun Festival 2026 dilaporkan dihadiri lebih dari 1.500 peserta dari berbagai latar belakang. Mereka terdiri atas anak muda, komunitas, pemuka agama, tokoh publik, akademisi, pekerja kreatif, dan masyarakat umum.
Festival ini membawa semangat Celebrate Harmony. Tujuannya adalah menciptakan ruang bagi masyarakat untuk saling terhubung, berbagi pandangan, dan mengembangkan kolaborasi di tengah keberagaman Indonesia.
Nasaruddin menilai ruang dialog dan ekspresi kreatif perlu diperbanyak, terutama untuk generasi muda. Menurutnya, perbedaan tidak cukup hanya diakui, tetapi perlu dijembatani agar dapat menjadi kekuatan bersama dalam membangun kehidupan yang harmonis.
Kerukunan Tidak Boleh Berhenti pada Toleransi
Salah satu pesan utama dalam festival adalah bahwa kerukunan tidak boleh berhenti pada sikap saling membiarkan atau sekadar menerima keberadaan pihak lain.
Toleransi perlu dilanjutkan menjadi kerja sama yang nyata. Masyarakat dari latar belakang berbeda dapat berkolaborasi menyelesaikan persoalan seperti kemiskinan, pendidikan, lingkungan, kekerasan, ketimpangan sosial, dan penyebaran informasi menyesatkan.
Dalam Harmony Talks, Yenny Wahid menekankan bahwa dialog merupakan fondasi penting, tetapi perlu diterjemahkan menjadi aksi kolaboratif lintas identitas. Gagasan tersebut sejalan dengan tujuan festival untuk mempertemukan masyarakat dan mendorong kerja bersama yang memberi manfaat langsung.
Nasaruddin melalui NUO juga membawa gagasan untuk menyatukan kelompok yang terpisah, mencairkan hubungan yang membeku, melindungi kelompok rentan, dan menjadi penghubung dalam mencegah konflik sosial.

Empat Rangkaian Utama Rukun Festival 2026
Festival menghadirkan empat rangkaian utama yang menggabungkan refleksi spiritual, dialog lintas iman, pemberdayaan perempuan, dan perayaan karya.
Teman Pulang
Rangkaian pertama mengajak peserta menemukan kembali makna hidup dan kedamaian batin di tengah tekanan yang dihadapi generasi muda.
Sesi ini menempatkan harmoni sebagai proses yang dimulai dari dalam diri. Seseorang dinilai akan lebih siap menghormati pihak lain ketika mampu berdamai dengan dirinya dan mempunyai landasan spiritual yang sehat.
Harmony Talks
Harmony Talks mempertemukan pembicara dari berbagai latar belakang agama dan keyakinan.
Tokoh yang hadir antara lain Yenny Wahid, Dewi Lestari, Pendeta Steve Marcel, Yan Mitha Djaksana, dan Habib Isa Al-Kaff. Diskusi tersebut mengajak peserta memandang perbedaan sebagai kesempatan untuk belajar, bukan alasan untuk saling mencurigai.
Pembahasan juga menyinggung pentingnya berpikir kritis. Informasi yang tidak diverifikasi dapat melahirkan prasangka terhadap agama atau kelompok tertentu, kemudian berkembang menjadi ancaman bagi hubungan sosial dan persatuan.
Women Leading Harmony
Sesi ketiga membicarakan kontribusi perempuan dalam menciptakan kehidupan yang damai, inklusif, dan berdaya.
Kegiatan tersebut menghadirkan Helmi Nasaruddin Umar, Asma Nadia, Revie Sylviana, dan sejumlah tokoh perempuan lainnya. Kepemimpinan perempuan dibahas melalui nilai ketangguhan, empati, kemandirian, serta kemampuan membangun kolaborasi.
Celebration of Harmony
Puncak kegiatan menghadirkan peluncuran buku, tausiah kebangsaan, seni pertunjukan, dan refleksi perjalanan intelektual Nasaruddin Umar.
Acara tersebut dihadiri tokoh agama, pejabat, akademisi, diplomat, komunitas, serta generasi muda. Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk melihat hubungan antara pengetahuan, spiritualitas, dan upaya mewujudkan perdamaian.
Buku Terbaru Nasaruddin Umar Diluncurkan
Celebration of Harmony juga menjadi panggung peluncuran dua karya Nasaruddin Umar dalam bahasa Arab dan Inggris.
Buku berbahasa Arab berjudul Al-I‘tidāl ad-Dīnī wa Taḥaddiyāt al-Ummah fīl-Mustaqbal. Sementara itu, versi berbahasa Inggris menggunakan judul Religious Moderation and the Future Challenges of the Ummah.
Penerbitan dalam dua bahasa tersebut diarahkan untuk membawa perspektif moderasi beragama Indonesia kepada pembaca internasional.
Pembahasannya tidak hanya berkaitan dengan hubungan antaragama di Indonesia, tetapi juga tantangan umat, perdamaian, toleransi, kemanusiaan, dan masa depan kehidupan global.
Langkah ini menunjukkan bahwa gagasan moderasi beragama tidak dimaksudkan hanya sebagai program domestik. Pemikiran tersebut juga ditempatkan sebagai bagian dari kontribusi Indonesia dalam menghadapi konflik dan polarisasi di tingkat dunia.
Buku Diplomasi Agama Disusun 24 Akademisi
Selain karya Nasaruddin, Rukun Festival 2026 menjadi tempat peluncuran buku Diplomasi Agama: Jalan Damai Nasaruddin Umar.
Buku tersebut disusun oleh 24 akademisi, rektor, guru besar, dan intelektual dari berbagai perguruan tinggi serta disiplin ilmu. Para penulis merekam dan merefleksikan pemikiran Nasaruddin dalam bidang agama, perdamaian, kemanusiaan, dan dialog lintas iman.
Pembahasannya dibagi ke dalam sejumlah tema, termasuk humanisme religius, tafsir sebagai landasan diplomasi agama, spiritualitas, moderasi beragama, kesetaraan, dialog lintas iman, dan diplomasi peradaban.
Gagasan utamanya adalah bahwa agama dapat menjadi bahasa universal untuk membangun kepercayaan dan solidaritas, bukan sumber pembenaran bagi konflik.
Diplomasi Agama Menjadi Gagasan Utama
Nasaruddin Umar mendorong pendekatan yang disebut diplomasi agama atau religious diplomacy.
Pendekatan tersebut menempatkan pemuka agama, nilai spiritual, dialog kemanusiaan, dan jaringan masyarakat sebagai bagian penting dalam proses perdamaian.
Menurut pemikiran yang disampaikan dalam Celebration of Harmony, kesepakatan politik saja belum tentu menciptakan perdamaian yang bertahan lama. Perdamaian juga memerlukan kesadaran moral dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Nasaruddin menggunakan istilah seperti “diplomasi hati” dan “diplomasi kemanusiaan” untuk menggambarkan pendekatan yang menyentuh sisi terdalam manusia, bukan hanya kepentingan formal antarnegara.
Gagasan tersebut relevan ketika konflik sering kali melibatkan identitas agama, etnis, atau kelompok. Tokoh agama dinilai dapat membantu mengurangi ketegangan apabila mempunyai keberanian membangun komunikasi yang terbuka.
Perjalanan Intelektual Nasaruddin Umar
Nasaruddin dikenal sebagai ulama, akademisi, penulis, dan pejabat publik.
Perjalanan intelektualnya menghasilkan puluhan karya yang membahas Al-Qur’an, tasawuf, kesetaraan, moderasi beragama, dan kehidupan kebangsaan.
Salah satu karya yang disebut dalam Celebration of Harmony adalah Tafsir Teosofis Najda. Pendekatan buku tersebut digambarkan mendalam, reflektif, dan humanis dalam memperkaya khazanah keislaman Indonesia.
Ia juga memperoleh Rekor MURI sebagai penulis kolom terbanyak secara berkesinambungan. Pada 2025, Nasaruddin menerima gelar doktor kehormatan dari Hartford International University for Religion and Peace di Amerika Serikat atas kontribusinya terhadap dialog lintas agama dan perdamaian.
Rukun Hub Disiapkan sebagai Program Berkelanjutan
Penyelenggara menyatakan Rukun Festival tidak ingin berhenti sebagai acara satu hari.
Salah satu visi lanjutannya adalah mengembangkan Rukun Hub, yaitu platform fisik dan digital bagi komunitas untuk bertemu, berkomunikasi, dan menjalankan program bersama sepanjang tahun.
Program tersebut juga diarahkan untuk mendukung peningkatan kerukunan umat beragama, membangun kolaborasi lintas iman, serta memperkenalkan praktik baik Indonesia ke tingkat global.
Keberhasilan program itu nantinya perlu dinilai dari kegiatan yang benar-benar dilaksanakan. Indikatornya dapat berupa jumlah kolaborasi, keterlibatan komunitas daerah, penyelesaian konflik, materi pendidikan, serta dampaknya terhadap kelompok rentan.
Dorong Imam Menjadi Penggerak Peradaban
Gagasan harmoni yang dibawa Nasaruddin Umar juga terlihat dalam persiapan International Grand Imam Conference 2026.
Pada April 2026, ia membuka rangkaian awal konferensi tersebut di Samarinda. Nasaruddin mendorong para imam agar tidak hanya berperan sebagai pemimpin salat, tetapi juga menjadi penggerak literasi, pemberdayaan ekonomi, dan harmonisasi sosial.
Data Sistem Informasi Masjid yang dipaparkannya mencatat lebih dari 740.000 masjid dan musala. Dengan asumsi setiap tempat memiliki satu hingga tiga imam, terdapat potensi sekitar 2,2 juta pemimpin keagamaan di tingkat masyarakat.
Konferensi utama direncanakan melibatkan sekitar 500 imam dari berbagai negara dan diarahkan menghasilkan deklarasi internasional mengenai perdamaian global.
Tantangan Mengubah Dialog Menjadi Aksi
Dialog lintas iman mempunyai nilai penting, tetapi hasilnya perlu diterjemahkan menjadi kegiatan yang dapat dirasakan masyarakat.
Festival kerukunan akan mempunyai dampak lebih kuat apabila diikuti program pendidikan, pertukaran pemuda, kerja sosial, perlindungan kelompok minoritas, pelatihan literasi digital, dan mekanisme mediasi konflik.
Generasi muda juga perlu memperoleh ruang untuk menjadi pelaksana, bukan hanya peserta. Mereka dapat dilibatkan dalam merancang program komunitas, membuat kampanye kreatif, serta mendokumentasikan praktik baik di daerahnya.
Di tengah derasnya konten provokatif di media sosial, kemampuan memeriksa informasi dan mengenal kelompok lain secara objektif menjadi salah satu kebutuhan utama.
Kesimpulan
Nasaruddin Umar menggunakan Rukun Festival 2026 sebagai ruang untuk memperkuat dialog, kerja sama, dan kerukunan lintas iman.
Festival yang berlangsung pada 12 Juli 2026 tersebut dihadiri lebih dari 1.500 peserta dan menghadirkan rangkaian refleksi spiritual, dialog antaragama, penguatan kepemimpinan perempuan, serta peluncuran karya.
Dua buku Nasaruddin dalam bahasa Arab dan Inggris diluncurkan untuk memperluas gagasan moderasi beragama ke tingkat internasional. Buku kolaboratif Diplomasi Agama: Jalan Damai Nasaruddin Umar juga diterbitkan oleh 24 akademisi dan intelektual.
Langkah berikutnya adalah memastikan semangat festival berkembang menjadi kolaborasi nyata. Kerukunan tidak cukup dirayakan dalam seremoni, tetapi perlu diwujudkan melalui tindakan bersama yang melindungi martabat manusia dan menyelesaikan persoalan masyarakat.
FAQ Nasaruddin Umar
Siapa Nasaruddin Umar?
Nasaruddin Umar adalah Menteri Agama Republik Indonesia dan Imam Besar Masjid Istiqlal. Ia mulai menjabat sebagai Menteri Agama pada 21 Oktober 2024.
Apa itu Rukun Festival 2026?
Rukun Festival merupakan kegiatan lintas generasi dan lintas iman yang diselenggarakan Nasaruddin Umar Office untuk membangun kreativitas, spiritualitas, toleransi, dan kolaborasi.
Kapan Rukun Festival 2026 digelar?
Acara tersebut berlangsung pada Minggu, 12 Juli 2026 di The Telkom Hub, Jakarta Selatan.
Berapa jumlah peserta Rukun Festival?
Laporan penyelenggaraan menyebut lebih dari 1.500 peserta hadir dari berbagai komunitas, agama, profesi, dan latar belakang.
Apa buku terbaru Nasaruddin Umar?
Karya yang diluncurkan mencakup buku moderasi beragama dalam bahasa Arab dan versi bahasa Inggris berjudul Religious Moderation and the Future Challenges of the Ummah.
Apa yang dimaksud diplomasi agama?
Diplomasi agama adalah pendekatan perdamaian yang melibatkan nilai spiritual, dialog lintas iman, tokoh agama, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Apa rencana setelah Rukun Festival?
Penyelenggara merencanakan pengembangan Rukun Hub sebagai wadah fisik dan digital untuk kolaborasi komunitas secara berkelanjutan.
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai sumber






