Redaksiku.com – Lonjakan luas kebakaran hutan dan lahan yang terjadi sepanjang paruh kedua tahun 2026 telah memicu kekhawatiran serius terhadap komitmen iklim nasional. Berdasarkan analisis terbaru dari Yayasan Madani Berkelanjutan, tercatat terjadi peningkatan drastis area terbakar dari 100.700 hektar pada Juli menjadi 1,32 juta hektar di bulan Agustus, yang secara langsung mengancam keberhasilan target penurunan emisi di sektor kehutanan.
Dinamika Luas Area Terbakar
Fenomena kebakaran tahun ini mencakup total area indikatif terbakar mencapai 1,36 juta hektar sepanjang periode Januari hingga Agustus 2026. Data menunjukkan bahwa sebagian besar lahan yang terdampak merupakan wilayah yang sebelumnya tidak terpapar api, menandakan adanya perluasan jangkauan ancaman karhutla ke area-area baru.
Berikut adalah rincian sebaran area terdampak berdasarkan analisis Yayasan Madani Berkelanjutan:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
- Area baru yang mengalami kebakaran mencapai 1,32 juta hektar atau sekitar 97,26% dari total luasan.
- Kejadian kebakaran berulang hanya mencakup 37,2 ribu hektar atau 2,74% dari total area.
- Total kumulatif area terbakar sejak awal tahun hingga akhir Agustus telah menembus angka 1,36 juta hektar.
Kondisi ini sebenarnya telah diantisipasi oleh otoritas terkait sejak awal tahun. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memberikan peringatan dini mengenai potensi musim kemarau ekstrem yang jauh lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, yang menjadi katalis utama bagi meluasnya titik api di berbagai wilayah.
Sebanyak 1,32 juta hektar lahan baru hangus terbakar hanya dalam kurun waktu satu bulan, yakni sepanjang Agustus 2026, yang memperburuk kondisi emisi nasional.
Ancaman Terhadap Target FOLU Net Sink 2030
Sektor kehutanan memegang peranan krusial dalam peta jalan iklim Indonesia melalui skema FOLU Net Sink 2030. Program ini bertujuan mencapai kondisi di mana tingkat penyerapan gas rumah kaca dari sektor kehutanan dan lahan setara atau lebih tinggi daripada jumlah emisi yang dilepaskan ke atmosfer.
Namun, besarnya area yang terbakar saat ini berisiko menggagalkan target ambisius tersebut. Giorgio Budi Indrarto dari Badan Pengurus Yayasan Madani Berkelanjutan menjelaskan bahwa sebagian besar area yang terbakar justru berlokasi di titik-titik strategis program pemerintah.
“Sebab, sekitar 511.300 hektar atau 38,70% area terbakar berada di wilayah Rencana Operasional FOLU Net Sink 2030.”
— Giorgio Budi Indrarto
Wilayah-wilayah tersebut seharusnya menjadi garda terdepan dalam upaya mitigasi dan penyerapan karbon. Dengan terbakarnya area tersebut, upaya pemulihan ekosistem menjadi lebih menantang karena harus melakukan rehabilitasi ulang di lahan yang baru saja mengalami kerusakan akibat api.
Dampak Emisi Karbon Skala Besar
Selain kerusakan vegetasi secara fisik, kebakaran hutan dan lahan juga melepaskan karbon dalam jumlah yang sangat masif ke udara. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Nasional telah melakukan estimasi terhadap dampak emisi yang dihasilkan dari kebakaran vegetasi sepanjang tahun ini.
Estimasi total emisi dari vegetasi yang terbakar sejak Januari hingga awal September 2026 telah mencapai sekitar 31 juta ton CO2.
Angka ini menunjukkan besarnya beban lingkungan yang harus ditanggung akibat fenomena karhutla. Untuk memberikan konteks, jumlah emisi tersebut setara dengan total emisi gas rumah kaca tahunan dari seluruh sektor ekonomi, energi, dan transportasi di negara Kuba, yang memiliki populasi lebih dari 11 juta jiwa.
Pemerintah dan masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan pada area-area yang masuk dalam rencana operasional FOLU Net Sink 2030 untuk mencegah kerusakan lebih lanjut pada cadangan karbon strategis.
Pertanyaan Umum
Apa yang dimaksud dengan FOLU Net Sink 2030?
FOLU Net Sink 2030 adalah kondisi di mana tingkat penyerapan gas rumah kaca oleh sektor kehutanan dan penggunaan lahan di Indonesia diproyeksikan lebih tinggi atau seimbang dengan tingkat emisi yang dilepaskannya pada tahun 2030.
Mengapa area kebakaran tahun ini dianggap berbahaya?
Selain karena luasannya yang mencapai 1,36 juta hektar, sebagian besar area yang terbakar berada di lokasi strategis Rencana Operasional FOLU Net Sink 2030, sehingga menghambat upaya mitigasi perubahan iklim nasional.
Bagaimana dampak kebakaran ini dibandingkan dengan emisi negara lain?
Emisi dari kebakaran vegetasi di Indonesia hingga September 2026 mencapai 31 juta ton CO2, yang secara statistik setara dengan total emisi tahunan dari seluruh sektor di negara Kuba.
Ringkasan
Sepanjang Agustus 2026, Indonesia mencatat lonjakan drastis luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari 100.700 hektar menjadi 1,32 juta hektar dalam satu bulan. Berdasarkan analisis Yayasan Madani Berkelanjutan, total akumulasi area terbakar sejak Januari hingga Agustus 2026 telah mencapai 1,36 juta hektar, dengan 97,26% di antaranya merupakan wilayah baru yang terdampak api.
Kondisi ini mengancam target nasional FOLU Net Sink 2030, mengingat sekitar 511.300 hektar area yang terbakar berada di wilayah strategis rencana operasional program tersebut. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mengestimasi emisi dari vegetasi yang terbakar mencapai 31 juta ton CO2, jumlah yang setara dengan total emisi tahunan seluruh sektor di negara Kuba, sehingga mempersulit upaya mitigasi perubahan iklim dan pemulihan ekosistem nasional.












