Aku bergegas keluar. Dari kejauhan kulihat Tante Linaibunya Ryumemakai kebaya hijau dan hijab dengan warna senada. Jantungku tiba-tiba berdebar. Sekilas Tante Lina mirip dengan Mama. Cantik sekali.
Apa kabar, Akira? Ya ampun Tante kangen banget! Pelukan hangat dari Tante Lina membuat mataku menghangat. Buru-buru kudongakkan kepala, sementara tangan Tante Lina masih menepuk-nepuk punggungku.
Baik, Tante. Tante sehat, kan? Aku mengurai pelukan dan menatap sepasang mata teduh milik ibunya Ryu itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Wanita itu mengangguk lalu memelukku sekali lagi. Selamat, ya, Nak. Wisuda akhirnya.”
Aku mengeratkan pelukan. Kalau tidak ingat bahwa ini di pinggir jalan, rasanya ingin kutumpahkan semua air mata. Terakhir aku memeluk Mama saat ada di ICU, saat Mama mengembuskan napas terakhir menyusul Papa.
Ayo, buruan masuk, biar nggak telat, seru Om Hadi.
Mobil melaju dengan tenang. Ryu dan Om Hadi duduk di kursi depan, sedangkan aku dan Tante Lina di belakang. Di sela-sela obrolannya dengan Ryu, sesekali Om Hadi menanyaiku tentang pekerjaanku kemarin.
Yang punya Retro Bar itu, namanya Robby Alatas, kan, Ki? tanya Om Hadi.
Iya. Om kenal? Aku balik bertanya.
Ya ¦ kenal karena satu organisasi pengusaha aja, sih. Dia ketuanya.
Oh ¦. Aku mengangguk-angguk. Enak kali, ya, masuk jejaring pengusaha, batinku.
Istrinya temen arisan Tante, sahut Tante Lina.
Aku melongo. Masak Sandra berteman sama ibu-ibu? Belum reda rasa terkejutku, Tante Lina melanjutkan, Pak Robby itu, kan, punya banyak anak asuh, Ki. Ada yang disekolahin sampe kuliah. Eh, kayaknya ada yang satu kampus sama kalian, deh. Siapa, Ry, namanya?
Sandra, jawab Ryu pelan.
Nah, iya, Sandra. Pernah dibawa juga pas arisan sama istrinya Pak Robby itu, terus disuruh megang konten Instagramnya kelompok arisan istri-istri pengusaha ini, biar kalo ngadain charity banyak yang nyumbang.
Kepalaku mendadak berdenyut nyeri, sedangkan Ryu terlihat menahan tawa. Oh, dunia.
***
Om Hadi mengajakku makan-makan di restoran setelah wisuda selesai. Beliau mengamati ijazah dan transkrip nilaiku. Sekilas aku seperti sedang menghadapi sidang skripsi jilid dua. Sementara Ryu dan ibunya asyik makan dan bercanda.
Om Hadi mengangguk lalu meletakkan dokumenku di atas meja. Beliau berdeham, punggungku tiba-tiba menegang.
Kebetulan ada tim marketing yang barusan resign karena hamil. Kamu bisa masuk kapan?
Secepatnya bisa, Om.
Tapi, nggak ada istilah diistimewakan ya, Ki. Kamu tetap karyawan seperti yang lain, cuma bedanya nggak lewat HRD aja. Dokumen-dokumenmu tetep dikasih ke HRD besok, ya. Penilaian macem-macem ikut prosedur juga.
Iya, Om. Saya ngerti.
Udah, nggak usah tegang gitu. Di kantor nanti ya kita atasan bawahan. Kalau di luar ya biasa aja kayak gini. Ryu udah Om percayain megang cabang satunya, jadi kalian nggak sekantor besok.
Ryu tiba-tiba menengok ke arah kami, Ha? Gimana-gimana?
Tante Lina menyahut, Biar nggak pacaran mulu.
Aku dan Ryu saling berpandangan.
Tante, aku sama Ryu nggak
Ntar kerja dapet berapa tahun terus nikah aja deh, ya, Ki. Gitu aja ya, Yah?
Om Hadi mengangguk menyetujui usulan istrinya. Aku menggaruk kepala yang tidak gatal, sementara Ryu hanya mengangkat bahunya. Sejurus kemudian Ryu mengedipkan sebelah matanya, rasanya ingin kulemparkan sendok ke wajahnya.
Halaman : 1 2






