Kritik Penanganan Karhutla: Belum Ada Pelaku yang Diproses Hukum

- Penulis

Kamis, 24 September 2026 - 13:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penanganan Karhutla — Wakil Gubernur Papua Selatan Paskalis Imadawa meninjau lokasi kebakaran hutan dan lahan di Distrik Jagebob.

Wakil Gubernur Papua Selatan Paskalis Imadawa saat melakukan peninjauan lapangan terkait kasus kebakaran hutan dan lahan di Distrik Jagebob.

Redaksiku.com – Wakil Gubernur Papua Selatan Paskalis Imadawa menyoroti lonjakan kasus kebakaran hutan dan lahan yang kini melanda berbagai titik di wilayah Papua Selatan. Berdasarkan peninjauan lapangan yang ia lakukan baru-baru ini, fenomena alam yang dipicu oleh musim kemarau diperparah oleh aktivitas manusia dalam mengelola lahan terbuka.

Temuan Lapangan di Distrik Jagebob

Kunjungan kerja ke Distrik Jagebob membuka mata pemerintah daerah terhadap pola kebakaran yang terjadi di tengah masyarakat. Di lokasi tersebut, Paskalis mendapati sisa-sisa pembersihan lahan yang dibiarkan menumpuk dalam jumlah besar di sekitar area pertanian maupun perkebunan warga.

Kayu-kayu sisa penebangan pohon tersebut dulunya dikumpulkan secara sengaja untuk dijadikan pembatas atau pematang lahan. Sayangnya, material kayu yang dulunya basah akibat musim hujan kini telah berubah menjadi bahan bakar yang sangat mudah tersulut api seiring datangnya cuaca panas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tumpukan kayu hasil pembukaan lahan yang mengering di musim kemarau menjadi pemicu utama meluasnya kebakaran hutan dan lahan di Papua Selatan.

Karakteristik Api di Tumpukan Kayu

Proses pemadaman kebakaran di wilayah tersebut menghadapi tantangan teknis yang jauh lebih berat dibanding kebakaran padang rumput biasa. Paskalis menjelaskan bahwa bara api yang merambat ke dalam tumpukan kayu kering membutuhkan waktu pemadaman yang jauh lebih lama.

Kondisi geografis dan cuaca kering di Papua Selatan membuat api dapat bertahan tersembunyi di balik tumpukan kayu meskipun bagian permukaannya tampak sudah padam. Hal ini menuntut kesiapsiagaan ekstra dari tim penanggulangan bencana di tingkat distrik hingga kabupaten.

  • Material kayu sisa pembersihan lahan dibiarkan menumpuk rapi di sekitar area terbuka.
  • Perubahan cuaca dari musim hujan ke kemarau membuat kayu-kayu tersebut sangat kering dan mudah terbakar.
  • Titik api meresap ke dalam tumpukan kayu sehingga proses pemadaman menjadi lambat dan sulit dikendalikan.

Langkah Antisipasi Pemerintah Daerah

Pemerintah Provinsi Papua Selatan terus memantau perkembangan situasi di lapangan guna mencegah meluasnya dampak lingkungan akibat kabut asap dan kerusakan ekosistem. Koordinasi dengan instansi terkait dan aparat keamanan terus ditingkatkan untuk mengawasi aktivitas pembukaan lahan oleh masyarakat.

“Yang saya lihat, sumber api terbesar itu karena ada hutan yang dibabat, lalu kayu-kayu yang dikumpulkan menjadi macam pembatas-pembatas pematang. Kayu-kayu ini yang dibakar lagi dan ini yang menambah kebakaran.”

— Paskalis Imadawa

Melalui temuan langsung ini, pemerintah daerah berupaya merumuskan kebijakan yang lebih ketat terkait tata cara pengolahan lahan tanpa harus memicu bencana ekologis. Edukasi kepada warga mengenai bahaya pembakaran sisa kayu di musim kemarau menjadi salah satu fokus utama pencegahan ke depan.

Pertanyaan Umum

Apa penyebab utama karhutla di Papua Selatan?

Kebakaran hutan dan lahan dipicu oleh kombinasi musim kemarau dan keberadaan tumpukan kayu sisa pembukaan lahan yang mengering dan tersulut api.

Di mana lokasi peninjauan karhutla dilakukan?

Peninjauan langsung dilakukan oleh Wakil Gubernur Papua Selatan di Distrik Jagebob.

Mengapa api sulit dipadamkan di lokasi tersebut?

Api sulit dipadamkan karena merambat ke dalam tumpukan kayu kering hasil penebangan, bukan sekadar membakar rumput permukaan.

Ringkasan

Wakil Gubernur Papua Selatan, Paskalis Imadawa, menyoroti lonjakan kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dipicu oleh kombinasi musim kemarau serta aktivitas pembukaan lahan oleh masyarakat. Berdasarkan peninjauan lapangannya di Distrik Jagebob, ia menemukan bahwa sisa-sisa penebangan pohon yang dikumpulkan sebagai pematang lahan dibiarkan menumpuk, mengering, dan menjadi bahan bakar yang mudah tersulut api.

Kondisi geografis dan cuaca panas membuat bara api merambat ke dalam tumpukan kayu kering tersebut, sehingga proses pemadaman menjadi jauh lebih sulit dan lambat dibandingkan kebakaran rumput biasa. Meski demikian, laporan tersebut belum mencatat adanya proses hukum terhadap pihak-pihak yang bertanggung jawab atas pembakaran atau pembiaran material kayu tersebut.

Sebagai langkah antisipasi, Pemerintah Provinsi Papua Selatan memperketat koordinasi dengan instansi terkait dan aparat keamanan untuk mengawasi aktivitas pengelolaan lahan. Pemerintah daerah juga fokus merumuskan kebijakan tata cara pengolahan lahan yang lebih ketat serta mengedukasi warga mengenai bahaya membakar sisa kayu di tengah musim kemarau.

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Aturan Pajak dan Pendaftaran IMEI iPhone 18 Pro dari Bea Cukai
Demo Buruh di Jakarta 24 September 2026 dan Jalur Alternatif
Gaya Nayeon TWICE dengan Ultra Mini Dress di Acara Pembukaan
Istri Berjarak Paxton Buka Suara soal Senat Texas
PT HKI Salurkan 28 Ribu Liter Air Bersih ke Tiga Desa di Muba
Axel Matthew Thomas Menikah Privat dengan Cicilia Golda
Daya Tarik L’Eminence Golf & Resort Lembang untuk Staycation Alam
Dua Kota di California Masuk Pasar Terbaik untuk Penjual Rumah

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Kamis, 24 September 2026 - 15:07 WIB

Aturan Pajak dan Pendaftaran IMEI iPhone 18 Pro dari Bea Cukai

Kamis, 24 September 2026 - 15:03 WIB

Demo Buruh di Jakarta 24 September 2026 dan Jalur Alternatif

Kamis, 24 September 2026 - 14:54 WIB

Gaya Nayeon TWICE dengan Ultra Mini Dress di Acara Pembukaan

Kamis, 24 September 2026 - 14:52 WIB

Istri Berjarak Paxton Buka Suara soal Senat Texas

Kamis, 24 September 2026 - 14:50 WIB

PT HKI Salurkan 28 Ribu Liter Air Bersih ke Tiga Desa di Muba

Berita Terbaru

Nawir menunjukkan ketangguhan mental dengan mengelola bengkel di Jayapura meski menghadapi keterbatasan fisik dan berbagai cobaan.

Teknologi

Kisah Nawir, Pemilik Bengkel yang Sering Dibobol Maling

Kamis, 24 Sep 2026 - 15:09 WIB

Pelanggaran lalu lintas yang terekam kamera ETLE berdampak langsung pada status administratif kendaraan di Samsat.

Otomotif

Aturan Sanksi ETLE: Bayar Denda Saja Tidak Cukup

Kamis, 24 Sep 2026 - 15:02 WIB

Pasar mobil klasik di Indonesia diminati kolektor sebagai investasi dan hobi bernilai tinggi pada 2026.

Otomotif

6 Mobil Klasik Berharga Tinggi Incaran Kolektor 2026

Kamis, 24 Sep 2026 - 14:58 WIB

error: Content is protected !!