Konflik Satwa: Piton Telan Dua Warga di Taliabu

- Penulis

Senin, 21 September 2026 - 14:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi ular piton raksasa yang menjadi ancaman konflik satwa di Taliabu, Maluku Utara.

Konflik satwa di Kabupaten Taliabu, Maluku Utara, menyebabkan dua warga tewas diterkam ular piton.

Redaksiku.com – Peristiwa tragis mengguncang Kabupaten Taliabu, Maluku Utara, setelah dua warga tewas diterkam dan ditelan oleh ular piton raksasa dalam rentang waktu yang berdekatan. Insiden pertama merenggut nyawa seorang ibu rumah tangga bernama Elizabeth Yamalu ketika ia hendak memindahkan hewan ternaknya di Desa Ratahaya. Kejadian ini sontak memicu gelombang kecemasan yang mendalam di kalangan masyarakat setempat.

Kronologi Tragedi di Desa Ratahaya

Elizabeth Yamalu pamit kepada suaminya, Menjamin Lanto, untuk memindahkan sapi yang terikat sekitar 400 meter dari rumahnya pada Selasa sore, 9 Juni 2026. Hingga malam hari, ibu tersebut tak kunjung kembali ke rumah sehingga memicu kecemasan sang suami. Menjamin lantas memutuskan untuk mencari istrinya dengan membawa senter serta parang ke lokasi sekitar.

Sesampainya di lokasi, sapi milik mereka masih terikat di tempatnya namun sang istri tidak terlihat. Menjamin kemudian berjalan menuju sebuah pohon mangga besar dengan dugaan istrinya tengah mencari buah. Alangkah terkejutnya ia ketika mendapati seekor ular piton besar sepanjang sekitar 7,8 meter tengah melilit tubuh istrinya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ular piton yang memangsa warga di Taliabu memiliki ukuran luar biasa mencapai 7,8 meter.

Bagian tubuh Elizabeth sudah masuk ke dalam mulut ular tersebut saat ditemukan oleh suaminya. Menjamin segera menebas reptil raksasa itu dan berusaha menyelamatkan istrinya yang malang. Namun, nyawa korban tidak dapat tertolong lagi akibat serangan fatal tersebut.

“Saat itu istri saya sudah dililit dan ditelan separuh badannya. Tinggal tangan serta kepala [yang belum tertelan]. Sedangkan bagian kaki semua sudah.”

— Menjamin Lanto

Rangkaian Serangan Susulan

Musibah serupa tidak berhenti pada kejadian di Desa Ratahaya saja. Berselang beberapa minggu kemudian, ancaman dari predator buas ini kembali memakan korban jiwa di wilayah yang sama. Situasi ini membuat aktivitas harian warga menjadi sangat terbatas dan penuh rasa takut.

  • Korban kedua jatuh pada tanggal 23 Juni 2026 di Desa Padang, Kecamatan Taliabu Utara.
  • Peristiwa penyerangan terjadi ketika korban sedang dalam perjalanan menuju kebun miliknya.
  • Lokasi kejadian berada di kawasan hutan Air Pala, Desa Ufung, yang menjadi habitat alami satwa liar.

Rangkaian peristiwa mematikan ini mencatat bahwa konflik antara manusia dan satwa liar di Pulau Taliabu telah mencapai titik yang mengkhawatirkan. Kehadiran reptil berukuran masif di dekat area aktivitas manusia menuntut perhatian serius dari berbagai pihak terkait.

Dampak Psikologis dan Ancaman di Permukiman

Rentetan tragedi tersebut meninggalkan trauma psikologis yang mendalam bagi warga Pulau Taliabu. Rasa waswas menyelimuti keseharian masyarakat karena ancaman predator kini tidak hanya dijumpai di dalam hutan lebat. Warga melaporkan seringnya kemunculan satwa melata berukuran besar di berbagai titik aktivitas publik.

Warga Pulau Taliabu kini hidup dalam ketakutan karena sering menjumpai ular piton berukuran besar di sekitar permukiman dan area perkebunan.

Ancaman nyata ini memaksa penduduk untuk meningkatkan kewaspadaan ekstra setiap kali beraktivitas di luar rumah. Berbagai laporan penemuan ular piton sering kali terjadi di beberapa lokasi strategis:

  • Area perkebunan warga yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan primer.
  • Sekitar permukiman penduduk yang mulai mendekati jalur perlintasan satwa.
  • Kawasan aliran sungai dan bantaran air tempat biasa hewan mencari mangsa.

Pertanyaan Umum

Mengapa ular piton menyerang warga di Taliabu?

Serangan terjadi diduga akibat terganggunya habitat alami satwa liar, sehingga ular piton terpaksa mencari mangsa di sekitar perkebunan dan permukiman warga.

Kapan peristiwa tragis tersebut terjadi?

Insiden pertama terjadi pada 9 Juni 2026 di Desa Ratahaya, disusul kejadian kedua pada 23 Juni 2026 di Desa Padang, Kabupaten Taliabu Utara.

Berapa ukuran ular piton yang memangsa korban?

Berdasarkan keterangan saksi di lokasi kejadian, ular piton yang menyerang warga tersebut memiliki panjang mencapai sekitar 7,8 meter.

Ringkasan

Kabupaten Taliabu, Maluku Utara, diguncang oleh tragedi mematikan ketika dua warga tewas diterkam dan ditelan oleh ular piton raksasa berukuran 7,8 meter dalam rentang waktu berdekatan pada Juni 2026. Korban pertama adalah seorang ibu rumah tangga bernama Elizabeth Yamalu yang diserang saat memindahkan hewan ternak di Desa Ratahaya pada 9 Juni 2026, disusul oleh korban kedua di Desa Padang, Kecamatan Taliabu Utara, pada 23 Juni 2026.

Rentetan serangan fatal yang menimpa warga saat beraktivitas di sekitar perkebunan dan jalur perlintasan satwa ini mengindikasikan telah terjadinya konflik serius antara manusia dan satwa liar akibat kerusakan habitat alami. Situasi tersebut kini menimbulkan trauma psikologis serta rasa takut yang mendalam bagi masyarakat setempat, yang memaksa penduduk untuk meningkatkan kewaspadaan ekstra terhadap ancaman predator buas di sekitar permukiman.

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Laporan Indexing Google Search Console Hilang Juni 2026
KPK Identifikasi 8 Titik Rawan Masalah Pertanahan di Jabodetabek
Satgas Jombang Tarik Beras Fortifikasi Tak Sesuai Standar Kementan
Harga Emas Antam Turun Rp10 Ribu ke Rp2,628 Juta per Gram
Jadwal Ramadhan dan Idul Fitri 2027 Versi Muhammadiyah
Jadwal Sholat Indonesia Hari Ini 21 September 2026
Orkes Melayu Lebah Begantong Tampil di Acara PAN dan Foto Bareng Prabowo
Wisatawan Terjebak di Pantai Oregon Saat Swafoto

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 14:46 WIB

Laporan Indexing Google Search Console Hilang Juni 2026

Senin, 21 September 2026 - 14:15 WIB

KPK Identifikasi 8 Titik Rawan Masalah Pertanahan di Jabodetabek

Senin, 21 September 2026 - 14:12 WIB

Satgas Jombang Tarik Beras Fortifikasi Tak Sesuai Standar Kementan

Senin, 21 September 2026 - 14:09 WIB

Harga Emas Antam Turun Rp10 Ribu ke Rp2,628 Juta per Gram

Senin, 21 September 2026 - 14:05 WIB

Jadwal Ramadhan dan Idul Fitri 2027 Versi Muhammadiyah

Berita Terbaru

Olahraga

Daftar Juara West Java Paragliding Championship 2026

Senin, 21 Sep 2026 - 15:01 WIB

Google Search Console mengalami gangguan teknis berupa hilangnya laporan pengindeksan halaman periode Juni 2026.

Viral

Laporan Indexing Google Search Console Hilang Juni 2026

Senin, 21 Sep 2026 - 14:46 WIB

Valen DA7 menjadi salah satu penyanyi dangdut yang diminati untuk memeriahkan berbagai acara publik maupun pribadi.

Hiburan

Estimasi Biaya Mengundang Valen DA7 Terbaru dan Faktornya

Senin, 21 Sep 2026 - 14:28 WIB

Ndarboy Genk menjadi salah satu musisi pop Jawa yang sering diundang untuk memeriahkan berbagai acara.

Hiburan

Tarif dan Cara Mengundang Ndarboy Genk Terbaru

Senin, 21 Sep 2026 - 14:18 WIB

error: Content is protected !!