Konflik perbatasan Kamboja dan Thailand harus diakhiri melalui jalur negosiasi dan saling pengertian, bukan melalui senjata dan kekerasan.
Meningkatnya ketegangan ini menjadi pengingat bahwa isu kedaulatan dan sejarah tidak bisa diabaikan dalam diplomasi modern.
Aksi saling serang di kawasan sengketa menunjukkan bahwa negara Kamboja dan Thailand membutuhkan solusi menyeluruh yang melibatkan aspek politik, militer, dan budaya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Penyelesaian damai atas konflik yang terjadi tidak hanya penting bagi kedua negara, tetapi juga bagi stabilitas kawasan secara keseluruhan.
Sudah saatnya komunitas internasional, termasuk ASEAN, mendorong dialog konstruktif untuk meredakan konflik perbatasan Kamboja dan Thailand yang tak kunjung usai.
Konflik ini harus diakhiri melalui jalur negosiasi dan saling pengertian, bukan melalui senjata dan kekerasan.
Tanpa komitmen politik yang kuat, setiap kesepakatan gencatan hanya akan menjadi jeda singkat sebelum konflik perbatasan Kamboja dan Thailand bergulir lagi.
Pemerhati HAM juga memperingatkan risiko krisis kemanusiaan karena konflik ini dapat memutus akses bantuan bagi desa‘desa terpencil.
Investasi jangka panjang di wilayah perbatasan terancam stagnan, menghambat pertumbuhan ekonomi yang dibutuhkan kedua negara untuk menyejahterakan warganya.
Oleh karena itu, kerangka kerja regional yang mengikat menjadi langkah realistis agar konflik yang terjadi antara Kamboja dan Thailand bisa berakhir secara berkelanjutan.***
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest
Halaman : 1 2






