Jika manajemen gagal merawat integritas internalnya, maka kredibilitas Garuda di mata masyarakat dan dunia internasional bisa ikut terguncang. Citra sebagai maskapai kebanggaan nasional bisa berubah menjadi simbol krisis tata kelola.
Respons Serikat Karyawan dan Harapan ke Depan
Capt. Ruli Wijaya, Presiden Asosiasi Pilot Garuda, dengan tegas menyatakan bahwa serikat tidak menolak reformasi atau restrukturisasi.
Namun, semua kebijakan strategis harus dijalankan berdasarkan prinsip yang adil, terbuka, dan mengutamakan SDM internal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia juga menekankan pentingnya manajemen untuk mendengarkan suara karyawan, bukan hanya memperhatikan kelompok elite dalam perusahaan.
Serikat berharap agar manajemen membuka dialog terbuka untuk membahas kejelasan proses perekrutan, transparansi sistem promosi, serta jaminan bahwa loyalitas karyawan lama tetap dihargai.
Selain itu, serikat juga meminta pengawasan lebih ketat dari Kementerian BUMN agar semua langkah yang diambil Garuda Indonesia tetap sejalan dengan kepentingan nasional.
Kesimpulan
Kebijakan Garuda Indonesia merekrut 14 eks Lion Air bukan sekadar isu rekrutmen biasa.
Langkah ini memicu respons keras dari internal, menimbulkan ketegangan, serta berdampak langsung pada kepercayaan publik dan pasar modal.
Di tengah masa pemulihan, seharusnya Garuda lebih mengedepankan profesionalisme, integritas, dan keterbukaan.
Apapun alasan strategis di balik kebijakan ini, perusahaan tetap bertanggung jawab untuk menjelaskan secara terbuka dan mengembalikan kepercayaan dari dalam dan luar.***
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest
Halaman : 1 2






