Langkah manajemen Garuda Indonesia yang merekrut 14 eks karyawan Lion Air ke dalam struktur manajemen menuai sorotan tajam.
Kebijakan tersebut dianggap tidak transparan dan melukai semangat loyalitas pegawai internal yang telah lama mengabdi.
Serikat karyawan pun kompak menyuarakan penolakan dan menilai keputusan itu melanggar prinsip tata kelola perusahaan yang baik.
Tidak hanya memicu gejolak internal, polemik ini juga berdampak langsung terhadap kepercayaan publik. Bahkan, nilai saham Garuda Indonesia sempat terjun bebas ke titik terendah sepanjang sejarah perusahaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kronologi Rekrutmen 14 Eks Karyawan Lion Air yang Picu Polemik Garuda Indonesia

Isu ini mencuat setelah Serikat Karyawan Garuda Indonesia, yang terdiri dari tiga elemen utama yakni Asosiasi Pilot Garuda (APG), Serikat Karyawan Garuda Indonesia (SEKARGA), dan Ikatan Awak Kabin Garuda Indonesia (IKAGI), menyampaikan penolakan resmi pada awal Maret 2025.
Mereka mengajukan surat kepada Direktur Utama Wamildan Tsani Panjaitan dan meminta ke-14 orang eks Lion Air itu segera dinonaktifkan. Namun hingga akhir Juni, surat tersebut belum juga mendapat balasan resmi dari manajemen.
Langkah manajemen merekrut puluhan eks personel Lion Air dinilai menimbulkan ketidakpercayaan dan kekecewaan mendalam di kalangan karyawan yang telah lama mengabdi.
Tidak hanya itu, kontroversi ini bahkan berdampak langsung ke harga saham Garuda Indonesia yang pada 18 Maret 2025 merosot ke titik terendah sepanjang sejarah, yakni Rp33 per lembar.
Rekrutmen Eks Lion Air oleh Garuda Indonesia Timbulkan 5 Dampak Serius
Keputusan manajemen Garuda Indonesia merekrut mantan staf dari maskapai kompetitor menimbulkan lima konsekuensi penting, baik secara internal maupun eksternal:
1. Ketidakadilan Bagi SDM Internal yang Sudah Loyal
Salah satu pemicu kemarahan dari serikat pekerja adalah rasa ketidakadilan. Selama ini, banyak karyawan internal Garuda Indonesia yang telah bertahun-tahun menanti promosi atau rotasi jabatan strategis.
Namun dengan masuknya 14 wajah baru dari Lion Air tanpa proses terbuka, kepercayaan terhadap sistem promosi internal langsung terguncang.
Banyak pihak mempertanyakan: mengapa tidak mengoptimalkan SDM sendiri yang telah terbukti loyal dan memahami kultur perusahaan?
Pihak serikat menyatakan bahwa tindakan ini bisa menurunkan semangat kerja para karyawan yang merasa diperlakukan tak adil.
Padahal, di tengah masa pemulihan pasca-restrukturisasi, motivasi internal justru menjadi kunci kebangkitan perusahaan.
2. Dugaan Pelanggaran Prinsip Good Corporate Governance (GCG)
Sebagai perusahaan terbuka, Garuda Indonesia wajib menerapkan prinsip tata kelola yang baik (GCG) dalam setiap pengambilan keputusan, khususnya yang menyangkut sumber daya manusia.
Ketidakterbukaan dalam proses rekrutmen dianggap mencederai prinsip transparansi dan akuntabilitas.
Hingga kini, tidak ada penjelasan rinci mengenai alasan strategis di balik perekrutan tersebut, serta proses seleksi yang dilalui ke-14 orang tersebut.
Tanpa adanya dokumentasi atau penjelasan resmi, publik dan investor bisa menduga bahwa langkah ini sarat kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.
Hal ini dapat menjadi preseden buruk dalam upaya perbaikan tata kelola di tubuh Garuda Indonesia.
3. Ketegangan dan Polarisasi di Lingkungan Kerja
Dampak lain yang mulai terasa adalah munculnya ketegangan di antara karyawan. Ketika sekelompok orang dari luar masuk tanpa proses seleksi terbuka, maka potensi friksi dengan karyawan lama tidak dapat dihindari.
Dalam dunia aviasi, kekompakan dan sinergi kru adalah elemen vital untuk menjaga keselamatan dan kenyamanan penerbangan.
Serikat karyawan menyebutkan bahwa sudah mulai terlihat polarisasi antara karyawan lama dan pendatang baru.
Jika tidak segera ditangani, kondisi ini bisa mengganggu operasional dan menghambat upaya efisiensi yang sedang dijalankan perusahaan.
4. Anjloknya Harga Saham Garuda Indonesia
Dampak paling nyata dari polemik ini adalah kejatuhan harga saham Garuda Indonesia. Pada 18 Maret 2025, harga saham menyentuh Rp33 per lembarterendah dalam sejarah perusahaan.
Hal ini terjadi hanya beberapa hari setelah protes terbuka dari serikat karyawan dipublikasikan ke media.
Kepercayaan pasar sangat erat dengan persepsi publik terhadap profesionalisme dan integritas manajemen. Ketika muncul kesan bahwa keputusan strategis diambil tanpa kajian terbuka, investor menjadi ragu.
Anjloknya saham ini menunjukkan bahwa kebijakan internal bisa berdampak serius terhadap performa eksternal perusahaan.
5. Tergerusnya Citra dan Identitas Garuda Sebagai Flag Carrier
Garuda Indonesia selama ini dikenal sebagai maskapai nasional yang menjaga standar pelayanan dan profesionalisme tinggi.
Namun, jika proses perekrutan dianggap tidak sesuai dengan semangat transparansi dan meritokrasi, maka citra perusahaan bisa ikut tercoreng.
Sebagai flag carrier, Garuda Indonesia tidak hanya membawa nama bisnis, tetapi juga citra bangsa.
Halaman : 1 2 Selanjutnya






