Insiden terbakarnya Gedung Grahadi Surabaya oleh akibat amukan massa yang tak terkendali juga membuat ruangan Wakil Gubernur Jawa Timur hangus tak tersisa.
Kerusuhan besar pecah di Surabaya ketika massa yang awalnya berkumpul untuk menyampaikan aspirasi berubah menjadi gelombang amarah tak terkendali.
Gedung Grahadi yang selama ini menjadi simbol kekuasaan pemerintah Jawa Timur menjadi sasaran utama, dengan sejumlah ruangan penting di dalamnya dilalap api, termasuk ruang kerja Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak.
Insiden ini menambah daftar panjang kerusuhan di tanah air, bahkan banyak pihak menilai situasi kali ini lebih parah dari tragedi 1998, mengingat simbol pemerintahan dan fasilitas publik yang dibakar begitu cepat tanpa ada kendali.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kronologi Kerusuhan dan Pembakaran Gedung Grahadi
Awalnya, ribuan massa mulai berkumpul di sekitar Taman Apsari dan Jalan Gubernur Suryo untuk menyuarakan kekecewaan terhadap kebijakan pemerintah pusat maupun daerah.
Suasana sempat berjalan kondusif ketika aparat keamanan mencoba menenangkan massa melalui pengeras suara.
Namun, tensi mulai meningkat saat kelompok provokator memancing keributan dengan melemparkan botol kaca dan batu ke arah gedung pemerintahan.
Bentrok tak bisa dihindari ketika aparat menembakkan gas air mata, namun situasi semakin liar karena massa justru semakin beringas.
Sekitar pukul 18.30 WIB, barisan depan massa berhasil merangsek masuk ke area halaman Gedung Grahadi dengan menjebol pagar.
Teriakan dan sorakan memenuhi udara, bersamaan dengan aksi pelemparan benda keras ke arah gedung utama.
Hanya berselang beberapa menit, api pertama kali terlihat menyala di bagian ruang rapat lantai dasar. Api cepat menjalar karena interior gedung yang didominasi kayu tua mudah terbakar.
Petugas pemadam kebakaran yang berusaha masuk dihalangi oleh massa, membuat kobaran api sulit dipadamkan pada tahap awal.
Ruang Wakil Gubernur Jadi Korban

Dari pantauan saksi mata, salah satu titik paling parah adalah ruang kerja Wakil Gubernur Jawa Timur. Ruangan yang terletak di sisi timur lantai dua itu luluh lantak setelah massa menjebol pintunya dan menyalakan api menggunakan bensin yang disiram dari botol.
Dalam waktu singkat, seluruh isi ruangan hangus, mulai dari meja kerja, sofa tamu, hingga dokumen-dokumen penting yang tersimpan di lemari arsip. Bahkan, sejumlah perangkat teknologi seperti komputer, printer, dan sistem komunikasi khusus untuk koordinasi pemerintahan ikut terbakar tanpa tersisa.
Beberapa foto resmi dan lukisan tokoh Jawa Timur yang terpajang di dinding ruang wakil gubernur tampak meleleh bersama sisa dinding yang menghitam. Kondisi ini menjadi bukti bahwa massa tidak hanya melampiaskan amarah, tetapi juga menargetkan simbol-simbol kekuasaan yang ada di dalam gedung.
Reaksi Publik dan Media Sosial
Kebakaran ruang wakil gubernur di Gedung Grahadi langsung menjadi sorotan publik nasional. Media sosial dipenuhi dengan video dan foto kobaran api yang melahap gedung bersejarah itu. Tagar #JagaJawaTimur dan #GrahadiTerbakar menjadi trending di X (Twitter) dalam hitungan jam.
Banyak warganet menyayangkan aksi brutal ini, karena di balik kemarahan yang ingin disampaikan, aset negara yang menyimpan nilai sejarah kini rusak tak terselamatkan.
Sejumlah akademisi dan aktivis budaya juga menyuarakan keprihatinan mendalam, sebab Gedung Grahadi bukan hanya sekadar kantor pemerintahan, melainkan juga bagian penting dari identitas Jawa Timur yang dibangun sejak era kolonial Belanda.
Tak sedikit pula masyarakat yang membandingkan kerusuhan ini dengan tragedi Mei 1998. Mereka menyebut bahwa apa yang terjadi di Surabaya kali ini terasa lebih mengerikan karena menyasar langsung pusat pemerintahan daerah.
Upaya Pemadaman dan Evakuasi
Sebanyak 20 unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan, namun akses menuju gedung terhambat oleh kerumunan massa yang masih ricuh. Beberapa petugas pemadam bahkan dilaporkan terkena lemparan batu saat mencoba mendekati titik api.
Setelah hampir dua jam, barulah api berhasil dikendalikan, meski sebagian besar bangunan, termasuk ruang wakil gubernur, sudah rata dengan puing hitam dan abu.
Aparat keamanan kemudian melakukan penyisiran untuk memastikan tidak ada korban jiwa di dalam gedung. Untungnya, tidak ada pejabat maupun staf yang berada di lokasi ketika api melahap ruangan, karena mereka sudah dievakuasi sebelumnya. Namun, kerugian material ditaksir mencapai miliaran rupiah.
Pemerintah dan Aparat Turun Tangan
Gubernur Jawa Timur dalam keterangannya menyatakan duka mendalam atas terbakarnya Gedung Grahadi, khususnya ruang kerja wakil gubernur yang selama ini digunakan untuk koordinasi strategis pemerintahan. Ia menegaskan bahwa peristiwa ini bukan sekadar kerusuhan biasa, melainkan sudah masuk kategori penyerangan terhadap simbol negara.
Kapolda Jawa Timur juga menegaskan bahwa pihaknya akan memburu provokator dan aktor intelektual di balik kerusuhan. Ratusan orang telah diamankan untuk diperiksa lebih lanjut. Aparat berjanji akan melakukan tindakan hukum tegas agar kejadian serupa tidak terulang.
Halaman : 1 2 Selanjutnya






