IDAI Usul MBG Dimasak di Kantin Sekolah demi Keamanan Pangan

- Penulis

Jumat, 11 September 2026 - 20:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penyajian makanan sehat untuk siswa di kantin sekolah dalam program Makan Bergizi Gratis.

Ikatan Dokter Anak Indonesia mengusulkan agar proses memasak Makan Bergizi Gratis dilakukan langsung di kantin sekolah.

Redaksiku.com – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) secara resmi mengusulkan perubahan mendasar pada skema pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi agenda prioritas nasional. Organisasi profesi dokter anak ini menyarankan agar seluruh proses pengolahan hingga penyajian makanan dilakukan langsung di kantin sekolah guna meminimalkan risiko kontaminasi dan menjamin kualitas nutrisi tetap terjaga hingga ke tangan siswa.

Ketua Umum IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, menekankan bahwa aspek keamanan pangan dalam program berskala besar ini merupakan harga mati yang tidak bisa dikompromikan. Menurutnya, metode pengawasan manual seperti meminta guru untuk mencicipi makanan terlebih dahulu sebelum dibagikan kepada siswa tidaklah cukup untuk mendeteksi ancaman mikrobiologis yang tidak terlihat secara kasat mata.

Langkah ini diambil menyusul adanya beberapa laporan insiden gangguan pencernaan dan keracunan makanan yang terjadi di sejumlah wilayah selama masa uji coba program. Piprim menegaskan bahwa standar keamanan pangan memiliki protokol yang sangat ketat, mulai dari pemilihan bahan baku, proses pencucian, teknik memasak, hingga suhu penyimpanan sebelum makanan dikonsumsi oleh anak-anak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Keamanan pangan dalam program nasional Makan Bergizi Gratis merupakan prioritas utama yang tidak dapat digantikan hanya dengan prosedur sederhana seperti meminta tenaga pendidik mencicipi hidangan sebelum disajikan.

Transformasi Kantin Sekolah Menjadi Dapur Sentral

Konsep yang ditawarkan IDAI adalah mengubah fungsi kantin sekolah bukan sekadar tempat berjualan, melainkan sebagai dapur pengolahan yang higienis. Dengan memasak langsung di lokasi sekolah, makanan dapat disajikan dalam kondisi yang masih hangat dan segar, yang secara psikologis jauh lebih menarik bagi selera makan anak-anak dibandingkan makanan yang sudah dikemas lama dalam kotak.

Selain faktor kesegaran, memasak di tempat memungkinkan pihak sekolah untuk menerapkan konsep penyajian yang lebih interaktif, seperti prasmanan. Dalam sistem ini, anak-anak dapat mengambil porsi yang sesuai dengan kebutuhan mereka, namun tetap di bawah pengawasan guru atau ahli gizi sekolah untuk memastikan komposisi karbohidrat, protein, dan serat tetap seimbang.

Penyajian secara prasmanan juga dinilai dapat mengurangi limbah makanan atau food waste. Seringkali, makanan dalam kemasan kotak memiliki porsi yang seragam yang mungkin terlalu banyak bagi sebagian anak, sehingga sisa makanan terbuang percuma. Dengan memasak di kantin, fleksibilitas porsi menjadi lebih mudah diatur sesuai dengan usia dan tingkat aktivitas fisik peserta didik.

“Upaya memenuhi gizi anak harus dibarengi dengan upaya memastikan makanan yang dikonsumsi aman dan memenuhi standar keamanan pangan yang ketat.”

— Piprim Basarah Yanuarso

Evaluasi Menyeluruh Terhadap Insiden Keracunan

Usulan IDAI untuk meninjau ulang konsep MBG bukan tanpa alasan yang kuat. Piprim menyampaikan bahwa setiap kejadian keracunan makanan dalam program pemerintah harus dipandang secara serius dan bukan sekadar angka statistik dalam laporan bulanan. Bagi orang tua, kesehatan anak adalah hal yang paling berharga, dan kekhawatiran mereka terhadap keamanan makanan di sekolah adalah valid.

IDAI merekomendasikan agar pemerintah melakukan evaluasi objektif dan menyeluruh terhadap rantai pasok makanan. Jika makanan diolah di lokasi yang jauh dari sekolah (catering luar), risiko kontaminasi meningkat selama perjalanan, terutama jika kendaraan pengangkut tidak memenuhi standar sanitasi atau waktu tempuh yang terlalu lama membuat makanan berada pada suhu ruangan yang rawan pertumbuhan bakteri.

Oleh karena itu, IDAI mendorong adanya audit terhadap vendor-vendor penyedia makanan atau penguatan infrastruktur kantin sekolah agar mampu memenuhi standar dapur sehat. Niat mulia untuk memberikan nutrisi tambahan bagi generasi masa depan harus dijalankan dengan manajemen risiko yang matang agar tidak menimbulkan dampak kesehatan yang merugikan di kemudian hari.

  • Penyajian makanan langsung di kantin menjamin suhu dan kesegaran hidangan tetap optimal saat dikonsumsi siswa.
  • Konsep prasmanan di sekolah dapat meningkatkan minat makan anak sekaligus mengurangi potensi sisa makanan yang terbuang.
  • Evaluasi rantai pasok diperlukan untuk mencegah kontaminasi silang selama proses distribusi dari dapur luar ke sekolah.

Memahami Bahaya dalam Pengolahan Makanan

Menjelaskan lebih dalam dari sisi medis, Prof. Dr. Damayanti Rusli dari Unit Kerja Koordinasi (UKK) Nutrisi dan Penyakit Metabolik IDAI memaparkan bahwa keracunan pangan umumnya dipicu oleh dua faktor utama yang saling berkaitan. Faktor pertama adalah food-based hazard, yaitu bahaya yang memang berasal dari bahan makanan itu sendiri atau kontaminasi lingkungan.

Bahaya ini bisa berupa paparan kimia seperti pestisida pada sayuran yang tidak dicuci bersih, atau bahaya biologis seperti keberadaan bakteri Salmonella, E. coli, jamur, hingga parasit cacing. Jika bahan makanan tidak ditangani dengan benar sejak dari pasar atau gudang penyimpanan, risiko ini akan terbawa hingga ke piring anak-anak.

Faktor kedua yang tidak kalah penting adalah perilaku manusia dalam mengolah makanan. Kesalahan kecil dalam prosedur dapur bisa berdampak fatal. Damayanti memberikan contoh beberapa kekeliruan yang sering terjadi di lapangan, seperti penggunaan talenan yang sama untuk memotong daging mentah dan sayuran matang, atau menyimpan makanan pada temperatur yang memicu perkembangbiakan bakteri secara cepat.

Gunakan peralatan masak yang berbeda untuk bahan mentah dan makanan matang guna menghindari kontaminasi silang bakteri yang dapat memicu keracunan.

Kerentanan Anak Terhadap Gangguan Pencernaan

Anak-anak, terutama mereka yang berusia di bawah lima tahun, masuk dalam kategori kelompok yang sangat rentan terhadap dampak keracunan pangan. Sistem kekebalan tubuh mereka belum sesempurna orang dewasa, sehingga paparan bakteri dalam jumlah kecil sekalipun dapat memicu reaksi tubuh yang hebat, mulai dari diare akut, dehidrasi, hingga kondisi yang mengancam nyawa.

Damayanti juga menyoroti rencana perluasan program Makan Bergizi Gratis yang nantinya akan menyasar kelompok balita di bawah tiga tahun atau kelompok 3B. Risiko pada kelompok umur ini jauh lebih besar karena kebutuhan higienitas mereka jauh lebih tinggi. Tanpa pengawasan ketat di dapur sekolah atau pusat pengolahan, potensi terjadinya kejadian luar biasa (KLB) keracunan akan selalu menghantui.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa 1 dari 10 orang di seluruh dunia mengalami keracunan makanan setiap tahunnya dengan dampak yang lebih berat pada anak-anak.

Selain anak-anak, kelompok lansia dan individu dengan daya tahan tubuh rendah juga menjadi pihak yang paling terdampak jika standar keamanan pangan diabaikan. IDAI menilai bahwa aspek keamanan pangan harus menjadi pilar utama yang setara dengan aspek kecukupan gizi dalam setiap tahap pelaksanaan program, mulai dari pemilihan bahan, penyimpanan dingin (cold chain), hingga teknik penyajian akhir.

Langkah Mitigasi dan Pengawasan Berkelanjutan

Untuk memastikan program ini berjalan sukses tanpa insiden kesehatan, IDAI mengusulkan adanya pelibatan ahli gizi dan tenaga sanitasi lingkungan di setiap unit sekolah. Tenaga ahli ini bertugas memantau kualitas air yang digunakan untuk memasak, kebersihan peralatan makan, hingga kesehatan para petugas pengolah makanan di kantin.

Pemerintah juga diharapkan dapat menyediakan fasilitas pendukung di sekolah, seperti tempat cuci tangan yang memadai dan alat penyimpanan makanan yang dapat menjaga suhu tetap stabil. Dengan pengawasan yang berlapis dan berbasis sains, program Makan Bergizi Gratis diharapkan benar-benar mampu meningkatkan kualitas SDM Indonesia tanpa dihantui risiko masalah kesehatan jangka pendek akibat kelalaian sanitasi.

Keracunan makanan pada anak dapat menyebabkan dehidrasi berat dalam waktu singkat, sehingga penanganan medis segera sangat diperlukan jika muncul gejala mual atau diare setelah mengonsumsi makanan sekolah.

Pertanyaan Umum

Mengapa IDAI menyarankan memasak di kantin sekolah daripada menggunakan catering?

Memasak di kantin memastikan makanan disajikan dalam kondisi segar dan hangat, serta meminimalkan risiko kontaminasi bakteri yang sering terjadi selama proses distribusi atau pengiriman dari lokasi yang jauh.

Apa saja risiko utama keracunan makanan pada program Makan Bergizi Gratis?

Risiko utama meliputi kontaminasi bakteri akibat penyimpanan suhu yang tidak tepat, penggunaan air yang tidak bersih, hingga kontaminasi silang antara bahan makanan mentah dengan makanan yang sudah matang.

Bagaimana cara memastikan makanan sekolah aman dikonsumsi anak?

Keamanan dapat dipastikan dengan menerapkan standar sanitasi yang ketat, memastikan petugas dapur menjaga kebersihan diri, serta melakukan audit rutin terhadap kualitas bahan baku dan proses pengolahan makanan.

Ringkasan

IDAI menyarankan agar program Makan Bergizi Gratis dimasak langsung di kantin sekolah untuk menjamin keamanan pangan dan mencegah risiko keracunan bakteri selama proses distribusi. Memasak di lokasi memastikan makanan tetap segar, hangat, dan kualitas nutrisinya terjaga melalui pengawasan sanitasi yang lebih ketat.

Langkah ini bertujuan meminimalkan kontaminasi silang dan bahaya mikrobiologis yang sulit dideteksi secara manual. Dengan standar pengolahan yang benar di sekolah, risiko gangguan pencernaan pada kelompok rentan seperti anak-anak dan balita dapat ditekan secara signifikan.

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

57 Pelajar Sakit Usai Makan MBG, BGN Periksa Sampel
Kampus Kedokteran Terbaik di Asia Tenggara 2026 Versi QS WUR
Ratusan Pelayat Hadiri Pemakaman Lovay Williams di Harlem
Panduan Praktis Latihan Mindfulness Sederhana untuk Fokus Harian
Rekap Monster The Lizzie Borden Story Episode 5 Father Figure
Bocoran Spesifikasi Handheld PS6 Project Canis Mengemuka
Harga Emas Antam dan UBS di Pegadaian 20 September 2026
Tren Kepemilikan Perangkat Teknologi Rumah Tangga 2021–2025

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Minggu, 20 September 2026 - 21:52 WIB

57 Pelajar Sakit Usai Makan MBG, BGN Periksa Sampel

Minggu, 20 September 2026 - 21:48 WIB

Kampus Kedokteran Terbaik di Asia Tenggara 2026 Versi QS WUR

Minggu, 20 September 2026 - 21:18 WIB

Ratusan Pelayat Hadiri Pemakaman Lovay Williams di Harlem

Minggu, 20 September 2026 - 20:43 WIB

Rekap Monster The Lizzie Borden Story Episode 5 Father Figure

Minggu, 20 September 2026 - 19:58 WIB

Bocoran Spesifikasi Handheld PS6 Project Canis Mengemuka

Berita Terbaru

Badan Gizi Nasional memeriksa sampel makanan menyusul insiden kesehatan yang dialami 57 pelajar di Kendari.

Viral

57 Pelajar Sakit Usai Makan MBG, BGN Periksa Sampel

Minggu, 20 Sep 2026 - 21:52 WIB

Selebgram berinisial Jule ditangkap Satuan Reserse Narkoba Polresta Bandara Soekarno-Hatta terkait kasus dugaan penyalahgunaan narkotika.

Buletin

Selebgram Jule Ditangkap Polisi Terkait Kasus Etomidate

Minggu, 20 Sep 2026 - 21:28 WIB

Suasana duka menyelimuti pemakaman Lovay Williams di Harlem, New York City.

Viral

Ratusan Pelayat Hadiri Pemakaman Lovay Williams di Harlem

Minggu, 20 Sep 2026 - 21:18 WIB

error: Content is protected !!