Redaksiku.com – Pasar modal Indonesia kembali mengalami tekanan jual yang cukup signifikan pada perdagangan Kamis (24/9), yang menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi sebesar 1,2% ke posisi 6.298,61. Penurunan ini dipicu oleh kombinasi sentimen negatif dari arus keluar modal asing serta ketidakpastian ekonomi global yang bersumber dari pasar keuangan Amerika Serikat.
Koreksi ini muncul tepat setelah indeks sempat mencatatkan rebound atau pembalikan arah yang cukup kuat pada sesi sebelumnya. Fenomena ini mengindikasikan bahwa para investor cenderung memanfaatkan momentum penguatan tersebut untuk melakukan aksi ambil untung atau profit taking guna mengamankan posisi portofolio mereka di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi.
Tekanan Arus Keluar Modal Asing
Salah satu pendorong utama pelemahan IHSG adalah aksi jual masif yang dilakukan oleh investor asing. Data pasar mencatat nilai penjualan bersih atau net sell mencapai Rp 1,49 triliun di seluruh pasar, sebuah angka yang cukup besar dan memberikan tekanan langsung pada saham-saham berkapitalisasi besar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Aksi jual investor asing yang mencapai Rp 1,49 triliun menjadi salah satu faktor utama yang menekan pergerakan IHSG pada penutupan perdagangan Kamis kemarin.
Beberapa emiten yang menjadi sasaran utama aksi jual tersebut antara lain:
- Saham sektor perbankan dengan kapitalisasi besar seperti Bank Mandiri (BMRI) dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI).
- Emiten sektor telekomunikasi, yakni Telkom Indonesia (TLKM), yang juga mengalami tekanan jual cukup intensif.
Sentimen Eksternal dan Kebijakan Moneter
Selain faktor domestik, pergerakan IHSG sangat dipengaruhi oleh dinamika di bursa Wall Street. Pelemahan di bursa Amerika Serikat dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah dunia serta lonjakan imbal hasil atau yield US Treasury. Kondisi ini menciptakan kekhawatiran baru di kalangan pelaku pasar global terkait arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve.
Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS sering kali dianggap sebagai indikator risiko yang meningkatkan biaya pinjaman global. Investor kini mencermati apakah The Fed akan mempertahankan kebijakan yang lebih ketat untuk menahan laju inflasi, yang pada gilirannya dapat memengaruhi aliran dana investasi ke pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Kenaikan imbal hasil obligasi AS mencerminkan kekhawatiran investor terhadap tekanan inflasi global yang dipicu oleh tingginya biaya energi dan pertumbuhan ekonomi yang belum stabil.
Proyeksi Teknis dan Level Krusial
Secara teknikal, posisi IHSG saat ini sedang berada dalam kondisi yang menantang. Analis Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, mencatat bahwa indeks saat ini ditutup di bawah garis rata-rata pergerakan 5 hari (MA5) dan 100 hari (MA100). Selain itu, indikator histogram MACD masih berada di area negatif, sementara stochastic RSI menunjukkan sinyal oversold atau jenuh jual.
Berdasarkan analisis tersebut, terdapat beberapa level teknikal yang perlu diperhatikan oleh para pelaku pasar pada perdagangan Jumat (25/9):
- Level support berada di kisaran 6.186 hingga 6.200, yang menjadi batas bawah krusial untuk menahan penurunan lebih dalam.
- Level resistance di angka 6.400, yang harus ditembus jika indeks ingin kembali ke tren penguatan.
- Estimasi pergerakan dari Mirae Asset Sekuritas menempatkan support di level 6.254 dan 6.146, dengan resistance di 6.352 serta 6.429.
Investor disarankan untuk tetap memantau pergerakan imbal hasil US Treasury karena pergerakannya masih menjadi kompas utama bagi arah investasi asing di pasar saham domestik.
Pertanyaan Umum
Apa penyebab utama IHSG terkoreksi pada perdagangan 24 September 2026?
Koreksi IHSG dipicu oleh aksi profit taking investor domestik serta tekanan jual yang kuat dari investor asing dengan nilai net sell mencapai Rp 1,49 triliun, di tengah sentimen negatif dari kenaikan harga minyak dunia dan imbal hasil US Treasury.
Bagaimana pengaruh yield US Treasury terhadap pasar saham Indonesia?
Kenaikan yield US Treasury meningkatkan biaya modal secara global dan memicu kekhawatiran pasar terhadap kebijakan moneter The Fed. Hal ini cenderung membuat investor menarik dananya dari aset berisiko di negara berkembang menuju instrumen yang dianggap lebih aman di AS.
Apa yang dimaksud dengan kondisi oversold pada indikator teknikal?
Kondisi oversold atau jenuh jual terjadi ketika suatu aset telah mengalami penurunan harga yang signifikan dalam waktu singkat, yang secara teknikal sering kali menjadi sinyal bahwa harga mungkin akan mengalami koreksi ke atas atau rebound dalam waktu dekat.
Ringkasan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan koreksi sebesar 1,2% ke level 6.298,61 pada perdagangan Kamis (24/9), yang dipicu oleh aksi jual bersih (net sell) investor asing senilai Rp 1,49 triliun. Tekanan pasar ini diperparah oleh aksi ambil untung (profit taking) setelah indeks sempat mengalami pembalikan arah pada sesi sebelumnya, dengan saham-saham perbankan besar dan sektor telekomunikasi menjadi sasaran utama pelepasan aset oleh investor.
Pelemahan ini didorong oleh sentimen eksternal berupa kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury dan harga minyak dunia, yang memicu kekhawatiran terhadap kebijakan moneter ketat The Fed serta dampaknya terhadap aliran modal di negara berkembang. Analis teknikal mencatat bahwa posisi IHSG saat ini berada di bawah garis MA5 dan MA100, dengan level support krusial berada di kisaran 6.186 hingga 6.200 yang perlu diwaspadai pelaku pasar untuk memitigasi risiko penurunan lebih lanjut.






