Redaksiku.com – Pasar modal Indonesia mengalami tekanan jual yang signifikan pada perdagangan Kamis (24/9/2026), di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup terkoreksi dalam sebesar 1,20% atau turun 76,30 poin ke level 6.298,60. Pelemahan ini terjadi hanya sehari setelah Bank Indonesia (BI) secara resmi memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75%, sebuah langkah yang tampaknya direspons negatif oleh para pelaku pasar.
Sepanjang sesi perdagangan, pergerakan indeks terlihat tidak mampu keluar dari zona merah. IHSG sempat menyentuh level terendah di angka 6.287, sementara level tertinggi hanya mencapai 6.368, mencerminkan minimnya minat beli yang mampu menahan laju penurunan harga saham di lantai bursa.
Dampak Kebijakan Moneter dan Sentimen Sektoral
Keputusan bank sentral untuk menahan suku bunga sering kali menjadi pedang bermata dua bagi pasar keuangan. Meskipun bertujuan untuk menjaga stabilitas makroekonomi, kebijakan ini sering kali menekan sektor-sektor yang sensitif terhadap biaya modal, seperti perbankan, properti, hingga industri manufaktur yang sangat bergantung pada pembiayaan kredit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kondisi pasar yang lesu terlihat dari pelemahan yang merata di seluruh sektor yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Berikut adalah beberapa sektor yang mencatatkan penurunan paling dalam:
- Sektor IDX Barang Baku mengalami kontraksi sebesar 2,17%.
- Sektor IDX Perindustrian turun tajam sebesar 2,09%.
- Sektor IDX Properti dan Real Estate tergerus 1,66%.
- Sektor IDX Keuangan melemah sebesar 1,32%.
- Sektor IDX Barang Konsumer Non-Primer menyusut 1,28%.
Total volume perdagangan saham pada hari tersebut tercatat mencapai 29,03 miliar lembar dengan nilai transaksi keseluruhan sebesar Rp 10,82 triliun.
Tekanan Arus Modal Asing
Sentimen negatif tidak hanya datang dari domestik, tetapi juga tercermin dari perilaku investor asing yang melakukan aksi jual besar-besaran. Sepanjang hari perdagangan, investor asing mencatatkan net sell jumbo mencapai Rp 1,49 triliun di seluruh pasar. Fenomena ini sering kali menjadi indikator bahwa pelaku pasar global sedang melakukan rebalancing portofolio atau menarik dana ke aset yang dianggap lebih aman di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Secara statistik, dominasi tekanan jual terlihat jelas dari jumlah saham yang melemah. Terdapat 462 saham yang ditutup di zona merah, sementara hanya 188 saham yang berhasil menguat, dan 144 saham lainnya berakhir stagnan atau tidak mengalami perubahan harga.
Meskipun terjadi aksi jual masif, beberapa saham tetap menjadi incaran investor asing yang melakukan aksi beli bersih (net buy) sebagai bagian dari strategi akumulasi jangka panjang.
Daftar Saham Incaran Asing
Di balik koreksi IHSG yang cukup dalam, sejumlah saham berkapitalisasi besar dan sektor spesifik masih menarik minat beli investor asing. Berikut adalah 10 saham dengan nilai beli bersih (net buy) terbesar pada Kamis, 24 September 2026:
- PT Astra International Tbk (ASII) dengan nilai Rp 24,42 miliar.
- PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dengan nilai Rp 21,33 miliar.
- PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN) dengan nilai Rp 20,12 miliar.
- PT Timah Tbk (TINS) dengan nilai Rp 10,35 miliar.
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan nilai Rp 6,92 miliar.
- PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) dengan nilai Rp 4,72 miliar.
- PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dengan nilai Rp 4,43 miliar.
- PT Indo Acidatama Tbk (SRSN) dengan nilai Rp 3,74 miliar.
- PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dengan nilai Rp 1,91 miliar.
- PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dengan nilai Rp 1,58 miliar.
Investor disarankan untuk tetap mencermati pergerakan volume transaksi dan pola teknikal saham-saham tersebut guna memastikan apakah aksi beli asing merupakan akumulasi berkelanjutan atau hanya perdagangan harian.
Pertanyaan Umum
Mengapa IHSG merosot setelah BI mempertahankan suku bunga?
Pasar sering kali bereaksi terhadap ketidakpastian ekonomi. Keputusan mempertahankan suku bunga di level 5,75% mungkin dianggap kurang memberikan stimulus bagi pertumbuhan sektor riil, sehingga memicu aksi ambil untung atau peralihan aset oleh investor, terutama asing.
Apa arti dari net sell jumbo yang dilakukan investor asing?
Net sell jumbo berarti total nilai penjualan saham oleh investor asing jauh lebih besar daripada total pembelian mereka. Ini mencerminkan sentimen negatif atau kehati-hatian investor global terhadap pasar modal Indonesia pada periode tersebut.
Bagaimana cara memantau saham yang banyak dibeli asing?
Anda dapat memantau data transaksi investor asing melalui situs resmi Bursa Efek Indonesia (BEI) atau menggunakan aplikasi sekuritas yang menyediakan fitur ringkasan transaksi harian berdasarkan kategori investor (asing vs domestik).
Ringkasan
Pada perdagangan Kamis, 24 September 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup terkoreksi sebesar 1,20% ke level 6.298,60. Pelemahan ini dipicu oleh respons negatif pasar terhadap keputusan Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%, yang mengakibatkan tekanan jual masif di berbagai sektor, terutama barang baku dan perindustrian.
Kondisi pasar diperparah oleh aksi jual investor asing (net sell) sebesar Rp 1,49 triliun, yang mencerminkan sentimen kehati-hatian terhadap ketidakpastian ekonomi global. Meski pasar secara keseluruhan melemah dengan 462 saham berada di zona merah, investor asing tetap melakukan akumulasi beli pada beberapa saham berkapitalisasi besar, seperti ASII, MEDC, dan BBCA, sebagai bagian dari strategi portofolio jangka panjang.






