“Bapak haus? Mau saya ambilkan minum?” Risya menawarkan diri di tengah-tengah meeting.
“Boleh,” ujar Gumilar.
Risya beranjak dari duduknya, lalu pergi mengambil dua gelas air minum. Satu untuk bosnya dan satu lagi untuk rekan bosnya. Namun, sebelum itu, ia memasukkan sesuatu ke dalam gelas yang akan diberikan kepada Gumilar. Senyum licik tersungging di bibirnya. Rencananya untuk membuat hidup Gayatri hancur sebentar lagi akan terlaksana.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ini minumnya, Pak.” Risya meletakkan gelas pertama di depan Gumilar dan gelas kedua ke rekan kerja bosnya yaitu Henry sambil mengedipkan mata.
Gumilar menerima gelas yang diberikan Risya, lalu meminumnya dengan cepat. Ia memang sangat haus sekali. Setelah itu, ia meneruskan pembicaraan bisnis dengan Henry. Namun, baru saja lima menit, kepalanya terasa pusing. Bahkan, matanya mulai buram. Akhirnya, ia pun tak sadarkan diri.
Gumilar tidak tahu, apa yang terjadi ketika tidak sadarkan diri. Yang jelas, Kirei ada bersamanya saat kesadarannya mulai pulih. Dari putri sematang wayangnya itulah, mengalir cerita kalau ia dijebak oleh Risya dan rekan kerjanya. Sekretaris baru dan rekan kerjanya itu bersekongkol untuk menghancurkan bisnis dan keluarganya. Hanya karena dendam yang salah alamat. Harusnya, mereka membalas dendam kepada diri mereka sendiri karena terlalu dibutakan akan cinta dan harta. Ia hampir saja masuk jebakan mereka. Beruntung, Kirei ada pekerjaan di hotel yang sama. Kemudian, melihat sendiri, saat Risya dan rekan kerjanya membawanya ke kamar hotel.
Setelah kejadian itu, Gumilar langsung melakukan penyelidikan. Ternyata mama Risya diam-diam menyukai Gumilar. Perempuan itu adalah teman arisan Gayatri. Melihat hidup Gayatri yang serba berkecukupan, ditambah memiliki suami yang selalu bersikap hangat. Membuat perempuan itu iri, sekaligus benci dengan semua yang dimiliki Gayatri.
“Sepertinya, Papa sangat mencintai Mama Gayatri?” Attala penasaran, seberapa besar cinta papa mertuanya itu.
“Papa sangat mencintai Gayatri. Untuk mendapatkan Mama mertuamu itu tidak mudah, Attala. Papa harus menentang semua keluarga, bahkan sampai dicoret dari daftar ahli waris. Hanya Gayatri yang mau memulai hidup semuanya dari nol. Mama mertuamu adalah perempuan paling tangguh yang Papa temui. Jadi, untuk apa Papa mencari perempuan lain dan melepaskan perempuan setulus Gayatri.” Gumilar bercerita dengan penuh semangat.
“Papa juga ingin kamu memperlakukan Kirei sama seperti Papa kepada Mama mertuamu.”
“Baik, Pa. Aku akan berusaha untuk membahagiakan Kirei. Papa tenang saja. Eh, aku baru teringat sesuatu, Pa.” Attala tiba-tiba teringat pada pria berkacamata hitam yang mengenakan baju batik.
“Apa?” Gumilar penasaran. Sorot matanya menatap ke arah Attala.
“Aku mencurigai satu pria yang hadir dalam acara resepsi kemari. Aku dan Kirei sempat bersalaman dengannya. Namun, dilihat dari postur tubuhnya, aku tidak mengenalnya sama sekali. Apa pria itu temannya Kirei?” tanya Attala meminta penjelasan. Mungkin saja, kado berisi ular itu adalah sebuah protes atau ungkapan sakit hati karena Kirei menikah dengan dirinya.
Saat Gumilar hendak menyambung penjelasan Attala, terdengar suara teriakan Kirei yang penuh dengan nada amarah.
“MAMA!!! APA-APAAN INI?”
Halaman : 1 2






