Dengan begitu, calon anggota dewan tidak hanya sekadar memenuhi syarat akademik, tetapi juga benar-benar menjadi wakil rakyat yang kompeten.
Sebagai penutup, perdebatan tentang calon anggota dewan yang diwajibkan memiliki gelar S2 dan skor TOEFL minimal 500 menggambarkan keresahan publik terhadap kualitas legislatif.
Di satu sisi, standar ini dianggap mampu memperbaiki citra parlemen, namun di sisi lain dikhawatirkan menimbulkan diskriminasi pendidikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Polemik ini memperlihatkan bahwa kualitas wakil rakyat tidak bisa diukur hanya dari capaian akademik, tetapi juga integritas dan kepedulian sosial.
Harapan terbesar masyarakat adalah lahirnya calon anggota dewan yang cerdas, beretika, dan dekat dengan rakyat, sehingga kepercayaan terhadap DPR dapat dipulihkan.
Tuntutan yang muncul setelah demo pembubaran DPR menjadi tanda bahwa publik semakin kritis dan ingin perubahan nyata dalam politik Indonesia.***
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest
Halaman : 1 2






