Fenomena Les Tambahan dan Refleksi Peran Guru

- Penulis

Rabu, 23 September 2026 - 13:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Fenomena Les Tambahan dan Refleksi Peran Guru

Redaksiku.com – Fenomena pendidikan di wilayah timur Indonesia, khususnya di Merauke, menunjukkan sebuah tren yang menarik sekaligus mengundang tanya bagi para praktisi pendidikan. Pada Rabu, 23 September 2026, pemandangan anak-anak sekolah dasar kelas awal yang masih bertahan di ruang kelas saat matahari mulai tinggi menjadi pemandangan yang lazim ditemui. Mereka tidak langsung pulang untuk beristirahat, melainkan melanjutkan sesi belajar tambahan atau les untuk memperdalam kemampuan dasar yang seharusnya tuntas di jam pelajaran reguler.

Praktik pemberian jam tambahan ini sering kali dianggap sebagai solusi jitu bagi anak-anak yang memiliki kecepatan belajar berbeda. Namun, bagi seorang pendidik dan peneliti seperti Agustinus Gereda Tukan, fenomena ini justru memicu sebuah refleksi pedagogis yang mendalam. Muncul kegelisahan mengenai sejauh mana tanggung jawab profesional seorang guru di dalam kelas reguler ketika bimbingan luar jam sekolah justru menjadi tumpuan utama bagi penguasaan literasi dasar siswa.

Kondisi ini mencerminkan realitas pendidikan di Papua Selatan, di mana tantangan geografis dan keberagaman latar belakang siswa menuntut pendekatan yang lebih personal. Ketika seorang anak belum mampu menguasai keterampilan membaca atau menulis setelah mengikuti proses belajar mengajar dari pagi hingga siang, beban tersebut sering kali dialihkan ke sesi tambahan. Pertanyaan yang muncul kemudian bukan untuk menyalahkan pihak tertentu, melainkan untuk mengevaluasi kembali strategi instruksional yang digunakan selama jam pelajaran formal berlangsung.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dilema Pedagogis di Balik Jam Belajar Tambahan

Kegiatan belajar tambahan pada dasarnya lahir dari niat baik untuk memastikan tidak ada anak yang tertinggal dalam penguasaan kurikulum. Di tingkat sekolah dasar, terutama kelas I hingga III, fokus utama terletak pada kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Guru sering kali merasa bahwa waktu yang tersedia di jam reguler tidak cukup untuk mengakomodasi seluruh siswa yang memiliki tingkat kesiapan berbeda-beda.

Namun, ketergantungan pada les tambahan dapat mengaburkan batas tanggung jawab profesional. Guru perlu melakukan introspeksi mengenai efektivitas metode yang diterapkan di kelas. Jika sebagian besar anak masih membutuhkan jam tambahan untuk memahami materi dasar, mungkin ada celah dalam strategi penyampaian materi atau manajemen kelas yang perlu diperbaiki. Refleksi ini penting agar jam tambahan tidak menjadi “pelarian” dari kegagalan proses pembelajaran utama.

Data lapangan menunjukkan bahwa bimbingan tambahan ini sering kali menyasar siswa pada tingkatan kelas 1 sampai 3 sekolah dasar yang masih berjuang dengan literasi dasar.

Seorang pendidik yang reflektif akan melihat kesulitan siswa sebagai umpan balik bagi kinerjanya sendiri. Alih-alih langsung melabeli anak sebagai individu yang lamban, guru didorong untuk bertanya apakah instruksi yang diberikan sudah cukup jelas atau apakah media pembelajaran yang digunakan sudah relevan dengan dunia anak. Pendekatan ini menempatkan guru sebagai fasilitator yang proaktif, bukan sekadar pelaksana kurikulum yang kaku.

Menjaga Keseimbangan Antara Akademik dan Fase Tumbuh Kembang

Sering kali ada anggapan bahwa semakin banyak waktu yang dihabiskan anak untuk belajar, semakin cepat pula mereka akan pintar. Pandangan ini mengabaikan fakta biologis dan psikologis bahwa anak-anak memiliki batas energi dan fokus. Setelah menghabiskan waktu berjam-jam di dalam kelas, seorang anak membutuhkan ruang untuk bernapas, bergerak, dan berinteraksi dengan lingkungan sosialnya di luar sekolah.

Anak bukanlah mesin yang bisa terus-menerus dijejali informasi tanpa henti. Kesiapan mental untuk menerima pelajaran sangat bergantung pada kondisi fisik dan suasana hati mereka. Jika anak dipaksa untuk terus belajar dalam kondisi lelah, informasi yang masuk tidak akan terserap secara optimal. Hal ini justru berisiko menimbulkan kejenuhan atau bahkan trauma terhadap proses belajar itu sendiri di masa depan.

Kualitas interaksi antara guru dan murid jauh lebih menentukan keberhasilan belajar dibandingkan durasi waktu yang dihabiskan di dalam ruang kelas.

Pendidikan yang sehat seharusnya memberikan ruang bagi anak untuk menjalani masa kecilnya dengan seimbang. Bermain, makan bersama keluarga, dan beristirahat adalah bagian integral dari pendidikan karakter dan perkembangan kognitif. Guru dan orang tua perlu bijaksana dalam menentukan kapan seorang anak benar-benar membutuhkan bimbingan ekstra dan kapan mereka hanya membutuhkan waktu untuk menjadi anak-anak.

Melihat Proses di Balik Angka dan Hasil Belajar

Dalam dunia pendidikan yang sering kali terobsesi dengan hasil akhir, proses belajar individu sering kali terpinggirkan. Kemampuan membaca bukan sekadar tentang mengeja huruf, tetapi tentang bagaimana anak membangun koneksi dengan makna di balik kata-kata tersebut. Setiap anak memiliki rintangan yang berbeda; ada yang kesulitan dalam fonetik, ada pula yang memiliki kendala dalam konsentrasi visual.

Pendampingan yang efektif membutuhkan kejelian guru untuk melihat detail-detail kecil ini. Seorang anak yang belum lancar menulis mungkin bukan karena tidak tahu huruf, tetapi karena motorik halusnya yang belum terlatih atau kurangnya kepercayaan diri. Di sinilah peran guru sebagai mentor diuji untuk memberikan dorongan emosional, bukan sekadar tumpukan lembar kerja tambahan yang membosankan.

Memberikan apresiasi pada kemajuan sekecil apa pun dalam membaca satu kalimat dapat meningkatkan motivasi belajar anak secara signifikan daripada menambah durasi jam belajarnya.

Kehadiran guru di samping siswa, memberikan bimbingan satu lawan satu dengan penuh kesabaran, sering kali memberikan dampak yang lebih besar daripada metode ceramah di depan kelas yang panjang. Hubungan emosional yang terbangun antara guru dan murid menciptakan rasa aman, yang merupakan fondasi utama bagi otak untuk belajar secara efektif. Tanpa rasa aman dan nyaman, materi sesederhana apa pun akan sulit diterima oleh anak.

Etika dan Tanggung Jawab dalam Bimbingan Tambahan

Diskusi mengenai les tambahan juga tidak bisa dilepaskan dari aspek etika profesi. Muncul kekhawatiran jika jam tambahan menjadi sarana untuk menutupi ketidakefektifan pengajaran di jam reguler. Garis pembatas antara bantuan tulus dan komersialisasi terselubung harus tetap dijaga dengan ketat oleh otoritas sekolah dan para pendidik itu sendiri.

  • Bimbingan tambahan seharusnya bersifat pengayaan atau pemulihan bagi kasus-kasus yang benar-benar khusus dan individual.
  • Kurikulum reguler harus tetap menjadi sarana utama di mana keterampilan dasar dituntaskan bagi mayoritas siswa.
  • Transparansi komunikasi antara guru dan orang tua mengenai alasan dibutuhkannya jam tambahan sangat diperlukan untuk menghindari kesalahpahaman.

Guru yang berintegritas akan memastikan bahwa setiap menit di jam pelajaran reguler dimanfaatkan secara maksimal. Mereka akan mencari cara kreatif untuk melibatkan siswa yang tertinggal tanpa harus selalu mengandalkan waktu tambahan di luar jam sekolah. Hal ini mencakup penggunaan alat peraga yang lebih konkret atau metode belajar sambil bermain yang lebih sesuai dengan psikologi anak kelas awal.

  • Refleksi guru terhadap metode mengajar di kelas reguler lebih krusial daripada sekadar menambah durasi waktu belajar siswa melalui les tambahan.

Membangun Hubungan Manusiawi dalam Pendidikan

Pada akhirnya, pendidikan adalah tentang hubungan antar manusia. Guru bukan sekadar penyampai materi, dan murid bukan sekadar penerima informasi. Ada aspek kemanusiaan yang harus dikedepankan, terutama ketika menghadapi anak-anak yang sedang berjuang dengan kemampuan literasi mereka. Perasaan gagal yang dialami anak saat tidak bisa mengikuti teman-temannya harus direspons dengan empati yang tinggi.

Guru perlu menyadari bahwa mereka tidak harus selalu berhasil secara instan dengan setiap metode yang dicoba. Kegagalan dalam satu pendekatan adalah undangan untuk mencoba pendekatan lain. Sikap pantang menyerah dari seorang guru akan menular kepada muridnya. Ketika seorang anak melihat bahwa gurunya tidak menyerah pada keterbatasannya, anak tersebut akan belajar untuk tidak menyerah pada dirinya sendiri.

“Anak tidak hanya mengingat apa yang diajarkan gurunya, tetapi juga bagaimana gurunya memperlakukannya ketika ia belum mampu.”

— Agustinus Gereda Tukan

Menambahkan perhatian sering kali jauh lebih mendesak daripada menambahkan jam belajar. Perhatian berarti mendengarkan kesulitan anak, memahami latar belakang keluarga mereka, dan memberikan ruang bagi mereka untuk berkembang sesuai ritme alaminya. Pendidikan yang memanusiakan manusia akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga memiliki ketahanan mental dan rasa percaya diri yang kuat.

“Di situlah pendidikan menemukan wajahnya: bukan pada panjangnya waktu belajar atau banyaknya latihan, melainkan kesediaan guru untuk terus mendampingi anak sampai ia menemukan keyakinan dalam dirinya.”

— Agustinus Gereda Tukan

Melalui refleksi yang mendalam, diharapkan praktik pendidikan di Merauke dan daerah lainnya dapat terus bertransformasi. Jam belajar tambahan tidak lagi dilihat sebagai beban atau konsekuensi dari kegagalan, melainkan sebagai ruang kolaboratif yang penuh kasih sayang. Dengan demikian, sekolah benar-benar menjadi tempat yang membahagiakan bagi setiap anak untuk tumbuh dan menemukan potensi terbaik mereka tanpa merasa tertekan oleh durasi waktu.

Pertanyaan Umum

Apakah les tambahan di sekolah dasar selalu diperlukan?

Tidak selalu. Les tambahan sebaiknya hanya diberikan kepada siswa yang benar-benar membutuhkan bantuan khusus setelah guru melakukan evaluasi mendalam terhadap proses belajar di kelas reguler. Prioritas utama tetap pada pengoptimalan jam pelajaran formal.

Bagaimana cara guru mengetahui jika seorang anak membutuhkan perhatian lebih daripada sekadar jam tambahan?

Guru dapat melakukan observasi terhadap perilaku belajar anak, seperti tingkat fokus, cara mereka merespons instruksi, dan kendala spesifik dalam keterampilan motorik atau kognitif. Komunikasi dengan orang tua juga penting untuk memahami faktor eksternal yang mungkin memengaruhi belajar anak.

Apa dampak negatif jika anak terlalu banyak menghabiskan waktu untuk les?

Anak berisiko mengalami kelelahan mental (burnout), kehilangan waktu bermain yang penting untuk perkembangan sosial, serta menurunnya motivasi belajar karena merasa sekolah menjadi beban yang tidak ada habisnya.

Ringkasan

Fenomena pemberian jam belajar tambahan bagi siswa kelas awal sekolah dasar di Merauke, Papua Selatan, sebagaimana diamati pada 23 September 2026, memicu refleksi kritis terhadap efektivitas pengajaran formal. Pendidik dan peneliti Agustinus Gereda Tukan menyoroti bahwa ketergantungan pada sesi tambahan untuk menuntaskan literasi dasar—seperti membaca dan menulis pada kelas I hingga III—menuntut evaluasi mendalam terhadap strategi instruksional dan tanggung jawab profesional guru selama jam pelajaran reguler berlangsung.

Dilema pedagogis ini menunjukkan adanya celah dalam manajemen kelas dan metode penyampaian materi yang perlu diperbaiki agar jam tambahan tidak menjadi sekadar solusi instan atas kegagalan proses belajar utama. Penggunaan media pembelajaran yang relevan dan pendekatan personal dinilai lebih efektif daripada sekadar menambah durasi belajar yang berisiko melampaui batas energi fisik serta mental anak. Kualitas interaksi antara guru dan murid menjadi faktor penentu keberhasilan pendidikan dibandingkan lamanya waktu yang dihabiskan siswa di dalam ruang kelas.

Secara etis, bimbingan tambahan seharusnya bersifat pengayaan individual dan bukan sarana untuk menutupi ketidakefektifan pengajaran reguler. Guru didorong untuk mengedepankan aspek kemanusiaan dan empati, memahami bahwa setiap anak memiliki ritme perkembangan yang berbeda. Dengan membangun hubungan emosional yang kuat dan menjaga keseimbangan antara tuntutan akademik serta fase tumbuh kembang anak, proses pendidikan diharapkan dapat melahirkan generasi yang percaya diri tanpa mengabaikan hak mereka untuk bermain dan beristirahat.

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Suahasil Nazara Lantik 14 Pejabat Kemenkeu dan KSSK
Henri Subiakto Khawatir Risiko Hukum Kopdes Merah Putih
Pemprov Jatim Tingkatkan Kapasitas Dermaga Pelabuhan Ketapang
Anggi Fauzi Pimpin DPD GMNI Jabar 2026–2028
Bea Cukai Surabaya Bongkar Penyelundupan Beras dan Garam Senilai Rp7,8 Miliar
Menkeu Suahasil Sebut Impor Beras Ilegal Rugikan Petani
Mahfud MD Minta Prabowo Nonaktifkan Nusron Wahid Terkait Korupsi ATR/BPN
Reforma Agraria Sah Jadi UU, Akademisi Dorong Penguatan Implementasi

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 14:28 WIB

Suahasil Nazara Lantik 14 Pejabat Kemenkeu dan KSSK

Rabu, 23 September 2026 - 13:53 WIB

Henri Subiakto Khawatir Risiko Hukum Kopdes Merah Putih

Rabu, 23 September 2026 - 13:21 WIB

Pemprov Jatim Tingkatkan Kapasitas Dermaga Pelabuhan Ketapang

Rabu, 23 September 2026 - 13:16 WIB

Fenomena Les Tambahan dan Refleksi Peran Guru

Rabu, 23 September 2026 - 12:12 WIB

Anggi Fauzi Pimpin DPD GMNI Jabar 2026–2028

Berita Terbaru

Pidato Donald Trump di Sidang Majelis Umum PBB memicu sorotan publik karena sejumlah pernyataan yang diklaim mengandung kekeliruan data.

United States Politics and Government

Periksa Fakta Pidato Trump di PBB

Rabu, 23 Sep 2026 - 14:35 WIB

Pelatih Timnas Indonesia John Herdman membuka peluang Luke Vickery menjadi pemain utama saat menghadapi Singapura.

Olahraga

Peluang Luke Vickery Jadi Starter Timnas Kontra Singapura

Rabu, 23 Sep 2026 - 14:31 WIB

Christina Applegate terbuka mengenai tantangan fisik dan penyesuaian gaya hidup setelah didiagnosis multiple sclerosis pada 2021.

Celebrity Health

Kondisi Kesehatan Christina Applegate Usai Diagnosis Multiple Sclerosis

Rabu, 23 Sep 2026 - 14:31 WIB

Perdana Menteri Israel menuding Wali Kota New York City Zohran Mamdani mendukung Hamas setelah wawancara di CNN.

Israel-Gaza War (2023- )

Pernyataan Keliru Netanyahu Tuding Mamdani Dukung Hamas Usai Wawancara CNN

Rabu, 23 Sep 2026 - 14:29 WIB

error: Content is protected !!