Novel : Petaka Sebuah Janji (Part 21)

- Penulis

Jumat, 8 November 2024 - 20:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel : Petaka Sebuah Janji (Part 21)

Novel : Petaka Sebuah Janji (Part 21)

Ratih terbangun dengan tubuh lemah dan hati yang hancur. Rumah mertuanya tempat perlindungannya kini berubah menjadi tempat penuh teror. Kehidupannya kian tersiksa setelah Toni menikahi Erlika. Ibu mertuanya, yang dia panggil Mamah, yang dulu sangat menyayanginya, kini berbalik memusuhi tanpa alasan yang jelas. Setiap kata dan tindakan Ratih selalu salah di mata Ninit, dan perasaan Ratih semakin hancur tiap harinya.

Namun, Ratih tahu ini bukan sikap asli mamahnya. Perlahan ia menyadari bahwa pengaruh jahat Erlika tak hanya menjerat suaminya, tapi kini juga menyebar ke orang-orang di sekitarnya. Termasuk Mamah, sikapnya berubah drastis, sekarang, tiap pertemuan terasa seperti perang dingin, bahkan penuh dengan kemarahan yang tak beralasan. Ini hanya terjadi saat Barman tidak berada di rumah. Sudah dua bulan ini perusahaan kembali ditangani Barman.

Keadaan di rumah semakin parah ketika Barman sibuk mengurus bisnisnya. Dia lebih sering berada di kantor Semarang. Setiap hari Ratih merasa seperti orang asing di rumah yang dulu ia huni dengan penuh kebahagiaan. Erlika tidak hanya mengambil Toni, tapi juga mencoba menghancurkan segala yang ia miliki, termasuk hubungan harmonisnya dengan keluarga Sumbogo.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Senja itu, Ninit datang ke kamar Ratih tanpa salam. Matanya berkilat penuh kebencian yang tak dapat dijelaskan. “Apa yang kau lakukan di sini, hah? Kau tidak berguna! Kau hanya membawa sial untuk anakku!”

Ratih terdiam, menahan air mata yang hampir jatuh. Hatinya hancur mendengar kata-kata tajam itu.

“Apa maksud Mamah? Ratih tidak berbuat apa pun! Mana yang Mamah maksud dengan Ratih membawa sial? Mah, pernikahan ini kemauan Mamah! Kalau saja dulu Mamah tidak masuk ICCU, kami tidak pernah menikah! katanya pelan mencoba mengingatkan mertuanya kejadian awal dia masuk ke keluarga Sumbogo. Dia mencoba mempertahankan ketenangan.

 

Akan tetapi kata-kata Ratih bukannya me-rewind masa lalu, malah membuat amarah Ninit semakin membara. Tanpa peringatan, Ninit mengayunkan ikat pinggang yang diambil dari gantungan baju, lalu memukul Ratih dengan penuh amarah. Ratih terjatuh, tubuhnya memar-memar terkena cambukan keras.

“Aku tidak mau tau! Dulu ya dulu, yang pasti sekarang! Kamu hanya wanita pembawa sial!” teriak Ninit, terus memukuli Ratih dengan membabi buta.

Ratih kini meringkuk di sudut kamar, tubuhnya gemetar kesakitan. Dia hanya bisa menangis, mencoba melindungi tubuhnya dengan tangan, tetapi ikat pinggang itu terus mendera kulitnya.

Ratih tidak melawan. Ia tahu bahwa bukan Mamah sebenarnya yang melakukan ini, tapi karena pengaruh Erlika yang menguasainya. Namun, rasa sakitnya sungguh nyata, dan makin lama, makin tak tertahankan.

Teriakan kesakitan Ratih terdengar hingga ke seluruh rumah. Di luar kamar, Mbok Isah, pembantu yang sudah puluhan tahun mengabdi di keluarga Toni, mendengar suara jeritan Ratih di antara bentakan-bentakan ibu mertuanya. Isah baru saja masuk dari dapur.

Tanpa pikir panjang, Isah segera berlari menuju kamar Ratih dan menggedor pintu dengan keras. “Ndoro, buka Ndoro, buka pintunya! Apa yang Ndoro Putri lakukan? Den Ratih, Den! Apa yang terjadi?”

Gedoran Mbok Isah menghentikan gerakan Ninit. Da terdiam, tangannya yang memegang ikat pinggang tiba-tiba lemas. Tatapan matanya yang tadinya penuh kebencian perlahan-lahan berubah menjadi kosong, kemudian tergantikan oleh kebingungan. Seolah-olah ia baru saja tersadar dari mimpi buruk.

“Apa yang sudah aku lakukan?” bisiknya lirih, suaranya bergetar tangannya gemetar. “Ratih … maafkan Mamah … maafkan Mamah … Mamah tidak tau apa yang terjadi pada diri Mamah.”

Air mata mulai mengalir dari mata Ninit yang kebingungan. Dia segera melepaskan ikat pinggang dari tangannya, membuangnya ke lantai, lalu bergegas memeluk Ratih yang masih terisak kesakitan di lantai.

“Oh, Ratih … Mamah mohon maafkan Mamah … Mamah tidak bermaksud, sungguh ¦ Mamah tidak pernah berpikir untuk menyakitimu!” tangisnya, sambil menggenggam tangan Ratih erat-erat, penuh penyesalan. Keduanya bertangisan.

Ratih yang kesakitan hanya bisa mengangguk lemah, matanya masih berurai air mata. Dalam pelukan mertuanya, ia merasakan kepedihan yang dalam. Mertuanya, sekaligus bunda kedua baginya, kini kembali menjadi wanita penyayang yang dia kenal, tapi luka fisik dan emosi yang dia alami sulit untuk dilupakan. Ratih menangis nelangsa, dia ingin pulang.

Isah yang akhirnya berhasil masuk melihat pemandangan yang memilukan itu. Ia segera menghampiri mereka dan membantu menenangkan Ratih. “Den Ratih, sabar Den. Ndoro, mari kita bawa den Ratih ketempat tidur, biar bisa istirahat.”

Dengan hati-hati, Ninit berdua ART-nya, membantu Ratih bangkit dari lantai, lalu membaringkannya di atas tempat tidur. Bilur-bilur biru kemerahan mulai tampak jelas di lengan dan punggung Ratih. Ninit yang masih berderai air matanya, segera mengambil obat dari lemari dan mulai mengoleskan salep ke semua bagian yang biru kemerahan di tubuh Ratih.

“Sakit sekali, Mah…” bisik Ratih lirih, air mata masih mengalir di pipinya, disertai desisan-desisan kesakitan.

Setiap desis kesakitan Ratih seperti sembilu yang menoreh dinding hati Ninit. Mata Ratih yang sembab menatap ke arah mertuanya. Ibu mertuanya tampak sedang menanggung penyesalan yang sangat mendalam. Ratih tahu bahwa ini bukan sepenuhnya salah Mamah Ninit, tapi tetap saja, rasa sakitnya nyata.

“Sabar ya, Sayang. Maafkan Mamah … Mamah benar-benar tidak tahu apa yang terjadi. Bisa-bisanya Mamah kesetanan begitu. Rasanya seperti ada yang mengendalikan Mamah. Tapi, bagaimanapun ini kesalahan Mamah,” gumam lirih Ninit. Tangannya bergetar saat mengoleskan obat ke kulit Ratih yang memar. Setiap kali salep menyentuh kulit Ratih, dia tersentak kesakitan. Ratih tetap diam tidak mengeluh. Dia tidak ingin membuat mamahnya semakin sedih.

Isah ikut membantu, menenangkan Ratih dengan sentuhan lembut dan kata-kata penuh kasih. “Den Ratih, njenengan kuat. Semua akan berlalu. Kita semua tau ini bukan salah Ndoro Putri.” Isah juga memberinya teh manis hangat.

Ninit hanya bisa menangis di samping Ratih sambil menggenggam tangannya dengan erat. “Maafkan Mamah, Sayang … maafkan Mamah ¦,” ucapnya berkali-kali. Azan magrib berkumandang dari HP Ratih. Sah, tolong ambilkan mukena dan sajadah di kamarku, pintanya, sambil bangkit mengambil kerudung instan di gantungan baju.

Ninit menyuruh Ratih untuk tayamum, lalu memakaikan kerudung dan merapikan selimut. Ratih berniat salat sambil duduk, tiba-tiba merasakan mulas yang luar biasa di perut bagian bawah. Dia terus mendesis. Begitu keluar kamar mandi sehabis wudhu, Ninit mendapati Ratih meringkuk kesakitan langsung berlari mendapatkannya.

Ratih, kenapa Sayang?

Perutku Mah, perutku mulas sekali.

Ayo Mamah bantu ke kamar mandi!

Ninit tidak tega meninggalkannya, dia berdiri di depan pintu. Begitu mendengar sentoran air, hatinya sedikit lega. Kemudian Ratih berwudhu sempurna. Dia keluar, keduanya salat Magrib berjamaah. Terdengar desahan dan desisan dari bibir Ratih. Hati Ninit terasa teriris-iris. Dalam sujudnya dia memohon pertolongan Allah yang mahakuasa untuk melindungi diri dan keluarganya.

Dengan tertatih Ratih bangun melepas mukena. Ketika hendak melipat, Ninit melarangnya. Menyuruhnya kembali rebahan di tempat tidur. Ninit membantu menumpuk bantal untuk meninggikan kepala.

Ratih menatap mertuanya dengan pandangan sulit ditebak. Dalam keheningan malam itu, ia berusaha memahami bahwa Mamahnya juga sedang terjebak dalam kegelapan yang sama dengan Toni. Kegelapan yang disebabkan oleh pengaruh sihir dukun suruhan Erlika.

Setelah beberapa lama, Ratih akhirnya tertidur karena kelelahan, tubuhnya yang lemah akhirnya menyerah pada rasa sakit dan keletihan. Namun, meski ia tertidur, wajahnya masih tampak cemas, seolah-olah jiwanya masih berjuang di alam bawah sadarnya.

Malam itu, Ninit tidak meninggalkan Ratih. Dia duduk di samping tempat tidur, memegangi tangan menantunya yang babak belur, sambil sesekali menangis lirih. Mamah Toni menyesali semua yang telah terjadi, tapi dalam hatinya, dia juga mulai merasa takut. Dia tahu ada sesuatu yang mengendalikan dirinya, sesuatu yang membuatnya bertindak di luar kendali.

Di sudut ruangan, Isah ikut berjaga, sesekali menatap ke arah ndoro putrinya dan den Ratih. Isah tahu bahwa semua ini bukan sekadar masalah rumah tangga biasa. Dia merasakan adanya sesuatu yang lebih jahat, sesuatu yang berasal dari luar.

Sementara di atas pohon peneduh tepi jalan depan rumah, bertengger bayangan hitam pekat tidak berbentuk. Kedua mata merahnya tajam mengawasi jendela kamar Toni di lantai dua. Tidak ada seorang pun menyadari kehadirannya.

“Ndoro, semua ini bukan salah Ndoro,” bisik Isah akhirnya. “Ada kekuatan jahat yang bermain. Kita harus hati-hati, Ndoro.

Ninit menatap Isah dengan mata yang masih sembab. “Aku tahu, Sah … Aku tahu. Tapi bagaimana caranya kita melawan sesuatu yang tak kasat mata? Aku merasa begitu lemah … Aku bahkan tak bisa mengendalikan diriku sendiri.”

Sebaiknya kita tuguran, perbanyak zikir. Kalau bisa tadarus Quran, kata Isah lirih, takut membangunkan Ratih.

Baiklah, Sah. Kamu tidur di sini. Kita tidur bertiga. Aku tidak bisa meninggalkan Ratih sendiri, dan juga untuk berjaga-jaga takut terjadi seperti tadi.

“Menurut saya, sebaiknya, matur Ndoro Kakung. Kita harus segera mencari bantuan,” kata Isah serius, “sebelum semuanya makin parah.”

Sementara itu, di tempat lain, entah di mana, Toni duduk di lantai sambil memeluk lutut. Dia berada di sebuah ruangan gelap sendirian. Toni merasa berada jauh dari rumah dan vila yang kini dikuasai Erlika. Pengaruh Erlika semakin kuat. Di setiap detik, Toni merasa jiwanya diambil sedikit demi sedikit. Kepalanya terasa berat, dan pandangannya mulai kabur, seolah-olah ada kabut yang menghalangi pikirannya.

Di dalam hatinya, dia tahu sesuatu sedang terjadi pada Ratih. Namun, tubuhnya tak mampu bergerak. Seperti boneka yang dikendalikan, Toni tak bisa menolong dirinya sendiri, apalagi menolong istri yang sebenarnya mulai dia cintai. Cinta yang tersemai kini makin subur. Dalam kegelapan, Toni mendengar suara Erlika bergema di kepalanya.

“Kau milikku, Mas … Dan tidak ada yang bisa mengubah itu.”

***

Barman sedang memimpin rapat direksi. Semua peserta sangat tertekan dan kelelahan. Tiba-tiba ponsel yang tergeletak di meja rapat, bergetar. Ninit menghubunginya. Ada rasa cemas menjalar di hatinya. Barman meraih ponsel memberi tanda maaf, lalu keluar ruangan.

Ada apa, Sayang?

Pah, pulanglah! Ada yang tidak beres di rumah! kata Ninit bergetar campur isak yang tertahan. Dia tidak mampu mengatakan kejadian yang sebenarnya.

Barman menangkap adanya masalah yang sedang terjadi. Dan itu sangat menyedihkan istrinya. Tidak biasanya Ninit setenang itu dan menahan tangis. Ini pasti masalah Ratih, dan dia ada bersamanya, desisnya lirih. Barman melihat arlojinya, lalu segera masuk ruangan.

Oke, sementara rapat sampai sini dulu. Dan laksanakan hasil rapat. Rapat selanjutnya menunggu pemberitahuan lebih lanjut. Barman menoleh kepada Sekretarisnya, buat notulen rapat, lalu kirim ke Emailku!

Baik, jawab sekretarisnya dengan hormat.

Barman memberi kode kepada kedua adik ipar untuk ikut ke ruangannya. Selamat malam, salamnya sambil beranjak meninggalkan ruang rapat.

Di ruang kerja Dirut, Robert dan Daniel duduk dihadapan Barman dengan wajah penuh tanda tanya. Barman menjelaskan semua permasalahannya. Keduanya tahu keponakannya sangat tidak bertanggung jawab. Mereka terkejut mendapatkan kenyataan yang sebenarnya. Toni terperangkap wanita culas yang menjeratnya tanpa ampun.

Koko, sekarang pulanglah. Di sini biar kami berdua yang mengurusnya. Daniel, coba hubungi Mpek An Cong, suruh magerin rumah Ko Barman, dan ¦ di mana Toni sekarang? tanya Robert.

Barman hanya menggeleng, HP-nya susah dihubungi. Kata penjaga vila, Toni ndak di sana. Perempuan itu sekarang menguasai vila, penjaganya diusir.

Kalau begitu, Dan, suruh Mpek nyari keberadaan Toni. Ini gawat banget! Kalau ndak gercep bisa bahaya. Perempuan itu pasti terus nguras duit Toni.

Kalau begitu blokir semua rekening atas nama Toni! Mpek Cong harus membawa Toni pulang! kata Daniel.

Barman terperangah. Masalah itu terlewat begitu saja oleh kesibukan perusahaan yang ditinggal Toni. Wajahnya merah padam, rahang mengatup erat. Tensinya naik membuat kepalanya pening. Barman menarik napas panjang lalu mengembuskannya sampai habis. Diulangnya beberapa kali sampai debaran jantungnya mereda.

Astagfirullahaladzim ¦ astagfirullahaladzim ¦ astagfirullahaladzim ¦ lahaula walakuata illabillah ¦. Barman merasa tenang. Menaruh kedua siku di meja, lalu menutup wajah dengan kedua tangan.

Daniel langsung menghubungi Mpek An Cong, masih kerabatnya, seorang paranormal berilmu tinggi dan ahli sihir. Lalu menjelaskan dengan singkat, dan keperluannya.

Tunggu sebentar! perintahnya dari ujung sambungan di seberang sana. Dengan patuh Daniel menunggu. Tiba-tiba, suruh Barman pulang sekarang juga! Jangan sampai terlambat! kata Mpek sambil memutus hubungan telepon.

Dengan wajah pucat, Daniel masuk ruangan kembali, mendapati Barman sedang menolak sebuah benda segi enam dengan cermin bermotif Yang dan Ying dilingkari anyaman khusus dari benang merah. Benda yang mereka anggap sebagai jimat keselamatan.

Ini milikmu, Rob. Penting untuk keselamatan keluargamu.

Terima saja, Ko. Saat ini keluarga Koko butuh sekali. Percayalah, doa-doa kami akan terpantul dari situ! sahut Daniel. Robert mengiyakan.

Ko, pulang sekarang. Itu perintah Mpek Cong. Dia langsung bergerak, lanjut Daniel.

Mendengar Mpek An Cong yang mempunyai ilmu gaib aliran putih langsung bergerak, Barman segera bersiap-siap untuk pulang. Dia merasakan istri dan menantunya dalam keadaan bahaya. Nono, supirnya, disuruh bersiap menunggu di lobi.

Follow Sosial Media Redaksiku : FacebookInstagramTiktokXYoutubePinterest

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru

Meriah! Konvoi Merah Putih di Barru, Kapolres Kawal Langsung

Internasional

Meriahkan HUT RI, Kapolres Barru Kawal Konvoi Merah Putih

Minggu, 16 Agu 2026 - 10:40 WIB