Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

- Penulis

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

“Saya berangkat dulu ya, Ra” ucap Daren kepada Amora yang kini berdiri di hadapannya serta menatap kedua matanya.

Saat itu Daren dan Amora sedang berada di salah satu bandara besar yang ada di kota tempat tinggal mereka, dan dengan senyum tipis Amora menganggukkan kepalanya atas ucapan Daren.

“Iya, Kak. Kak Daren jaga kesehatan ya di sana, jangan gara-gara ngurusin bisnis jadi lupa makan” jawab Amora.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Iya, kamu juga jaga kesehatan ya selama saya di Singapura. Dan ingat, kalau ada apa-apa, langsung kabarin saya, atau Papa kamu. Atau juga teman-teman saya, mereka pasti siap buat bantuin kamu kapan aja” ujar Daren lagi.

Dan untuk kedua kalinya Amora menganggukkan kepalanya beberapa kali, “Iya, Kak. Tenang aja, aku juga bisa jaga diri dan bela diri kok. Jadi Kak Daren ngga usah khawatir.”

Mendengar ucapan Amora membuat Daren tersenyum tipis, dan tiba-tiba saja laki-laki itu menangkup kedua pipi Amora menggunakan kedua tangannya, “Janji sama saya, kamu harus baik-baik saja selama tidak ada saya di sisi kamu.”

Amora seketika membeku, dia terkejut dengan tindakan Daren yang sangat mengejutkan ini, “I-Iya, Iya, Kak.”
“Terima kasih, Ra. Saya pasti akan segera pulang jika urusan saya sudah selesai” ujar Daren setelah melepaskan tangannya dari pipi lembut milik Amora.

“Iya, Kak, ngga papa. Kak Daren selesaiin dulu aja semua urusannya Kak Daren sampai benar-benar selesai, baru Kak Daren pulang” jawab Amora yang masih saja tersenyum, namun kini senyumannya semakin lebar.

Daren menganggukkan kepalanya, “Iya. Ya sudah, saya pergi ya.”

“Iya, Kak. Hati-hati” jawab Amora setelah menganggukkan kepalanya lagi.

“Pasti, cantik. Byee, sampai jumpa satu minggu lagi” ucap Daren seraya menjulurkan tangannya untuk menyentuh hidung Amora.

Lagi-lagi Amora dibuat membeku oleh Daren, namun dengan cepat Amora langsung tersadar dan mulai melambaikan tangannya ketika Daren juga melambaikan tangannya sembari berjalan menjauh dari Amora.

Setelah Amora tidak lagi melihat Daren, dan Daren juga sudah tidak melihat Amora. Amora pun menundukkan kepalanya dengan wajah sedih, “Kenapa aku sedih ya?”

Sedangkan di sisi Daren, terlihat laki-laki itu dengan raut wajah datar terus berjalan dengan diikuti sekertaris serta salah satu orang yang menjadi kepercayaannya, tugasnya hanya untuk membantu Daren dalam berbagai hal dan urusan.

“Saya takut kepergian saya ini akan memunculkan kesalahan yang akan benar-benar saya sesali seumur hidup saya” ucap Daren di dalam hatinya.

Di siang harinya terlihat Amora yang baru saja keluar dari kelasnya setelah menyelesaikan Ujian Akhir Semester di hari itu, karena tidak ada rencana apa-apa lagi, Amora pun memutuskan untuk pulang.

Namun lagi-lagi, saat Amora tengah mengendarai mobilnya di jalan raya, dia kembali mendapatkan gangguan dari mobil hitam kemarin. Amora sudah menebak bahwa orang yang ada di dalam mobil itu adalah badut yang sama.

“Mau dia apa sihh?!! marah Amora ketika melihat mobil itu lagi.

“Oke kalau lo emang mau main-main sama gue. Gue ladenin” ujar Amora yang mulai menggiring mobil itu ke suatu jalan raya yang cukup sepi.

Di mana kanan dan kiri jalan itu hanya hutan belantara, dengan berani Amora terus menginjak gas mobilnya sembari memikirkan sebuah rencana. Sampai akhirnya mobil hitam itu mulai menambah kecepatannya dan menyalip mobil Amora.

Sama seperti kemarin, saat hendak menyalip mobil hitam itu menyamai posisi mobil Amora terlebih dahulu dan mulai menurunkan kaca mobilnya. Saat kaca mobil itu mulai turun, persis seperti dugaan Amora.

Bahwa pengendara mobil itu adalah badut yang sama seperti kemarin. Jujur Amora mulai ketakutan saat melihat wajah badut itu yang sungguh membuatnya seketika ketakutan hingga membuat nafasnya menjadi cepat.

Tapi karena Amora sudah bertindak jauh, Amora pun melanjutkan rencananya untuk mengetahui siapa orang di balik costum badut itu. Dia pun semakin menambah kecepatan mobilnya untuk menyalip kembali mobil itu.

Melihat mobil Amora yang semakin cepat membuat badut yang ada di dalam mobil hitam itu juga menambah kecepatannya agar Amora tidak berhasil mendahuluinya. Namun dirinya kalah, karena Amora berhasil menyalip mobilnya dan langsung menghentikan mobil putih itu di depan mobilnya.

Karena tindakan yang dilakukan oleh Amora barusan benar-benar cepat dan mendadak membuat badut di dalam mobil hitam itu terbentur di setir mobilnya sendiri karena menginjak rem dengan sangat mendadak.

Namun saat melihat Amora turun dari mobil putih itu dan berjalan mendekat ke arah mobilnya, badut itu seketika panik dan segera menginjak gas mobilnya kembali, dia meninggalkan Amora sendirian di tengah-tengah jalan raya yang sepi itu.

“Pengecut!” sentak Amora saat melihat mobil itu pergi dari pandangannya.

Setelah melihat kepergian mobil hitam itu, Amora pun membalikkan badannya dan kembali berjalan menuju mobil putih yang berhenti di tengah jalan.

Di malam harinya terlihat Amora yang tengah belajar untuk UAS besok, dan di tengah acara belajarnya itu tiba-tiba dia teringat Daren, “Kenapa gue tiba-tiba kepikiran Kak Daren ya?”

“Ahh, ngga-ngga. Pasti karena ngga ada yang gangguin gue hari ini. Udaahh, fokus, Raa” ucap Amora kepada dirinya sendiri.

Baru saja Amora hendak kembali fokus melihat laptopnya untuk belajar, tiba-tiba handphone-Nya berbunyi serta bergetar. Melihat itu Amora pun segera memalingkan pandangannya ke arah benda pipih yang ada di sebelah tangannya.

Dan Amora langsung terkejut saat melihat nama yang tertera di panggilan video itu, “Kak Daren.”

“Angkat ngga yaa?” tanya Amora karena bingung.

Namun pada akhirnya dia tetap mengangkat telfon itu tanpa memperlihatkan wajahnya, “Ngapain, Kak?”

“Wajah kamu mana, Ra?” tanya Daren yang ada di sebrang sana. Ternyata laki-laki itu juga sedang bekerja di meja belajar sembari menatap layar laptopnya.

“Ngga mau, malu. Aku lagi jelek, Kak” jawab Amora yang masih tidak ingin memperlihatkan wajahnya.

“Saya nelfon kamu karena saya ingin lihat wajah kamu, bukan soal-soal di layar laptop ini” ucap Daren atas jawaban dari Amora barusan.

Akhirnya mau tidak mau Amora pun menunjukkan wajahnya, “Nih, udah kan?”

Melihat wajah Amora di layar handphone itu membuat Daren langsung tersenyum, “Kamu ngga tidur, Ra?, udah hampir jam 11 malam loh.”

“Di sana malah udah jam 12 kan, Kak?. Udah Kak Daren aja yang tidur duluan, aku dikit lagi selesai” jawab Amora.

“Kamu ini, selalu saja memputar balikan omongan saya. Ya sudah, senderkan handphonemu. Saya temani, saya juga masih menyelesaikan pekerjaan saya” ucap Daren yang sudah menyenderkan handphone di gelas minumnya.

Amora terdiam sejenak saat mendengar ucapan Daren barusan, tak sadar sudut bibirnya mulai terangkat, “Oke, Kak” jawab Amora yang langsung menyenderkan handphone-Nya di gelas minumannya juga.

Setelah itu mereka berdua pun lanjut menyelesaikan aktivitas mereka yang sempat tertunda, beberapa kali Daren terdiam ketika menatap layar handphone-Nya untuk memantau Amora yang terlihat sangat fokus.

Satu jam berlalu, dan kini mata Amora rasanya sungguh sangat berat seperti sudah tidak bisa diajak untuk belajar lagi, kepala yang sedang dia senderkan di tangannya pun beberapa kali terjatuh karena mengantuk.

Akhirnya karena kondisinya itu dilihat oleh Daren, laki-laki itu pun langsung menyuruh Amora untuk tidur, “Ra.”

“Emh, ya?” tanya Amora yang langsung melihat ke arah handphone-Nya ketika dia mendengar Daren memanggil namanya.

“Udah, sekarang tidur. Ayo cepet ke kasur” ujar Daren.

“Tapi masih kurang dikit lagi, Kak” jawab Amora yang langsung mendadak kembali fokus menatap layar laptopnya.

“Raa. Cepet matiin laptopnya dan tidur. Besok saya telfon jam 5 biar kamu bisa lanjut belajar” ucap Daren yang akhirnya dipatuhi oleh Amora.

Perempuan itu melakukan semua yang telah diucapkan oleh Suaminya.

Keesokan harinya terlihat Amora yang tengah sarapan sendirian seraya melihat-lihat kembali soal-soal yang telah dia pelajaran semalam.

Saat tengah sibuk dengan aktivitasnya itu, lagi dan lagi Amora mendapatkan sebuah pesan dari nomor yang tidak dia kenal, tanpa masuk ke dalam aplikasi pesannya itu, Amora sudah dapat membaca isi dari pesan tersebut.

“Selamat pagi, Amora. Untuk ucapan lebih panjangnya, bisakah kamu membukakan pintu rumahmu ini untukku?”

Saat membaca pesan itu, jantung Amora langsung berdetak cepat. Detik itu juga perasaan Amora menjadi tidak enak, dia merasa bahwa sepertinya sekarang ada seseorang yang berada di depan rumahnya.

Dan perasannya itu semakin terbukti ketika bel rumahnya berbunyi. Jantung Amora semakin berdegup dengan kencang, nafas Amora pun menjadi tidak beraturan.

Namun karena penasaran dan berpikir bahwa bisa saja orang yang menekan bel itu adalah teman atau keluarganya, Amora pun beranjak dari ruang makan itu dan berjalan menuju pintu utama.

Baru saja sampai di ruang tamu yang berjarak beberapa meter dari pintu utama, langkah Amora seketika terhenti saat pandangan matanya tertuju ke arah kaca yang berdiri tegak di sebelah pintu rumahnya, dan dari kaca itu dia melihat orang berpakaian badut sedang berdiri seraya menatapnya.

Mata mereka saling menatap satu sama lain dengan hanya dibatasi oleh kaca rumah Amora. Di detik itu juga jantung Amora serasa ingin lepas dari tempatnya, kakinya pun juga terasa sangat lemas seperti tidak bisa lagi digunakan untuk menopang tubuhnya.

Kejadian itu membuat Amora mematung hingga tidak bisa melangkah pergi serta memalingkan pandangannya dari orang berpakaian badut itu. Detik demi detik berlalu dan kondisi Amora semakin memburuk, kini nafas Amora menjadi cepat dan sangat tidak beraturan, dadanya terasa sangat sesak.

Itu semua terjadi karena orang dengan pakaian badut yang awalnya diam saja seraya menatap Amora mulai mengangkat tangannya dan melambaikan tangannya itu ke Amora sembari tersenyum lebar, terlihat sangat menyeramkan.

Setelah menjalin kontak mata beberapa menit, dengan jantung yang berdetak cepat Amora mulai melangkahkan kakinya ke belakang secara perlahan. Melihat pergerakan Amora yang sepertinya ingin menghindar darinya membuat badut itu marah.

Dia mulai memukul-mukul kaca yang ada di depannya itu hingga membuat Amora semakin ketakutan. Dengan cepat Amora pergi dari hadapan badut itu menuju ke ruang makannya lagi.

Seluruh tubuh Amora terus saja bergetar dengan dada yang semakin terasa sesak, ditambah bunyi gedoran pintu rumahnya yang masih saja berbunyi hingga menambah ketakutan Amora.

Dengan cepat Amora meraih handphone-Nya yang ada di atas meja makan, setelah itu dia langsung menjatuhkan dirinya ke lantai dan memilih untuk bersender di kaki meja makan.

Amora benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri, dia berusaha untuk meminta bantuan kepada seseorang yang bisa dia hubungi sekarang. Dan jari tangannya menekan tombol telfon di nomor Daren.

Beberapa menit kemudian telfon dari Amora dijawab oleh Daren yang saat itu juga sedang sarapan, “Iya, Ra. Kenapa?”
“Kak, Kak Daren, Kak Daren tolong” ucap Amora dengan suara yang bergetar serta nafas yang memburu.

“Ra, ada apa?, kamu kenapa?. Jawab saya, Ra” ujar Daren yang terdengar sangat panik ketika mendengar ucapan Amora di telfon barusan.

“Di depan ada badut, Kak. Dia sekarang mukul-mukul pintuu, aku takutt” jawab Amora yang hampir saja menangis.

Mendengar jawaban Amora membuat Daren yang awalnya duduk di kursi langsung berdiri dengan mata yang sedikit melotot karena terkejut, “Saya telfon Varo, Ra. Kamu tenang dulu ya, habis ini kalau ada suara Varo, kamu langsung buka, oke?”

“I-iya.”

Setelah itu Daren pun dengan terpaksa memutus telfon antara dirinya dan Amora, lalu dengan langkah panjang menuju pinggiran ruang apartemennya itu, Daren menelfon Varo.

Tanpa menunggu lama Varo langsung menjawab telfon dari Daren itu, “Why, Ren?”

“Varo, saya minta tolong. Kamu ke rumah saya sekarang, badut sialan itu ada di depan rumah saya dan sedang menakuti Amora” ucap Daren dengan menekan beberapa kata yang dia ucapkan.

“Oke, gue ke sana sekarang” ucap Varo yang lalu menutup telfon itu dan langsung meraih kunci mobilnya.

Setelah itu Daren kembali menelfon Amora, tapi ternyata panggilan pertamanya itu tidak dijawab oleh Amora. Mengetahui itu Daren semakin panik, dia takut Amora kenapa-napa karena ulah badut itu.

Daren mondar-mandir di pinggiran apartemennya yang langsung memperlihatkan pemandangan kota Singapore dari kaca besar yang menjadi tembok ruangan apartemennya itu seraya menunggu telfonnya dijawab oleh Amora.

Akhirnya setelah beberapa menit menelfon, telfon Daren pun dijawab oleh Amora, “Ra, kamu ngga papa kan?” tanya Daren.

“Kak, dada aku sesak banget” jawab Amora sembari memukul-mukul dadanya.

“Ra, terima panggilan video saya” ujar Daren yang dipatuhi oleh Amora.

Namun panggilan video itu hanya dijawab oleh Amora, sedangkan handphone-Nya masih tergeletak di lantai karena dia sibuk memukul-mukul dadanya agar sesak itu menghilang.

“Ra, tenang, Ra. Kamu jangan panik, nanti kamu semakin ngga bisa nafas” ujar Daren yang hanya bisa melihat separuh wajah Amora.

Ucapan Daren barusan tidak membuat Amora semakin tenang, justru perempuan itu semakin menguatkan pukulannya dan mulai mengerang kesakitan, samar-samar juga terdengar isakan tangis.

Mendengar suara isakan yang menandakan bahwa Amora menangis membuat Daren semakin panik, “Ra, lihat saya, Amora perlihatkan wajah kamu ke saya. Amora!”

“Apaa?!” tanya Amora setelah meraih handphone-Nya dan mengarahkan ke wajahnya sehingga Daren bisa melihat kondisinya sekarang.

“Kamu sekarang tenang, jangan nangis, nanti kamu semakin sesak. Tenang, tarik nafas perlahan. Kalau udah cukup tenang, kamu ambil minum yang ada di atas meja makan” ucap Daren dengan sangat lembut.

Melihat wajah Daren serta mendengarkan ucapan lembutnya barusan membuat Amora cukup tenang, lalu Amora pun mulai menarik nafasnya dengan pelan. Dan setelah merasa cukup tenang, Amora menghapus air matanya sebelum berdiri untuk minum agar merasa semakin tenang.

Setelah minum, Amora merasa semakin tenang. Dia pun menarik nafas panjang dan menghembuskannya, “Udah tenang, Ra?”

Amora mengambil handphone-Nya yang tadi sempat dia letaknya di meja makan, “Udah, Kak. Makasih ya, dan maaf karena tadi ngga sengaja bentak Kak Daren.”

“Iya, Ra. Saya juga minta maaf karena tadi udah bentak kamu, saya ngga bermaksud” jawab Daren.

“Iya, Kak, ngga papa.”

“Kamu udah beneran ngga papa ‘kan?. Masih terasa sesak ngga?, atau saya suruh Varo untuk bawa kamu ke rumah sakit?” tanya Daren yang masih terlihat cukup khawatir.

Mendengar pertanyaan Daren barusan membuat Amora tersenyum, “Ngga papa, Kak. Tadi aku panik aja, makanya jadi sesak.”

Daren menghembuskan nafasnya lega ketika mendengar jawaban itu. Setelah itu terdengar suara bel yang sangat tidak asing bagi Daren dan Amora, “Varo udah datang?”

“Ngga tau, aku takut kalau badut itu lagi yang berdiri di depan pintu, Kak” jawab Amora yang kini melihat ke arah tembok yang jika tidak ada sudah memperlihatkan pintu utamanya.

“Ra, ini Varo kirim pesan ke saya. Katanya dia udah di depan, kamu buka aja ngga papa” ucap Daren yang membuat Amora semakin tenang dan lega.

Lalu dia pun beranjak dari kursi itu menuju pintu utama rumahnya, dan ternyata setelah pintu itu terbuka terlihat Varo yang berdiri dengan gagah bersama Kalvin yang juga berdiri di sampingnya.

“Halo, Kakak Ipaar, selamat pagii” ucap Kalvin yang terdengar sedikit heboh.

Melihat itu semua rasanya jantung Amora sudah kembali ke posisi semula, “Pagi juga Kalvin, Varo”

“Pagi, Ra.”

Tiba-tiba Amora menggerakkan lehernya ke kanan dan ke kiri seperti mencari sesuatu di luar rumahnya itu, “Cari siapa, Ra?”

Mendengar pertanyaan dari Varo seketika membuat Amora menghentikan aktivitasnya, “Kalian tadi ngelihat badut ngga?”

“Engga ada, kita nyampai di sini sepi, bahkan orang aja ngga ada” jawab Varo.

 

“Ngga, ngga mungkin. Tadi ada badut di sini, ada badut yang gedor-gedor kaca ini” ujar Amora sembari menggelengkan kepalanya dan menunjuk kaca yang ada di sebelah pintu rumahnya itu.

Mendengar ucapan Amora membuat Varo dan Kalvin langsung melihat satu sama lain, seperti sedang berbicara lewat tatapan itu, “Udah, Ra, ngga usah dipikirin lagi. Mungkin badut ngga jelas itu udah pergi.”

“Tap-”

“Amoraa, kamu ada ujian hari ini. Kamu ngga lupa’kan?” sebuah suara lembut menyapa gendang telinga Amora, Varo dan Kalvin.

Ternyata itu adalah suara dari Daren yang sedari tadi menyimak pembicaraan mereka bertiga melalui telfon antara dirinya dan Amora yang masih berlangsung.

Mendengar ucapan Daren membuat Amora seketika mengangkat tangannya yang masih memegang benda pipih yang kini layarnya masih memperlihatkan wajah Daren.

“Iya, Kaakk.”

Di siang harinya terlihat Amora yang tengah belajar sendirian di kantin kampusnya sembari meminum kopi sebagai temannya di siang hari itu.

Namun di pertengahan aktivitasnya itu tiba-tiba Amora teringat perihal badut tadi pagi yang ada di rumahnya, entah kenapa tiba-tiba badut itu melintas di benak Amora hingga membuat perempuan itu menghentikan aktivitasnya.

Amora masih terus memikirkan badut itu hingga tak sadar dirinya melamun seraya melihat ke arah kerumunan mahasiswa yang berlalu lalang di kantin itu untuk makan siang.

Dan lamunan Amora membuyar ketika matanya menangkap pemandangan yang langsung membuatnya berkeringat dingin, lagi dan lagi Amora melihat badut itu.

Kini badut dengan muka menyeramkan itu berdiri di antara puluhan mahasiswa yang berlalu lalang hingga membuat Amora tidak terlalu jelas melihat keberadaannya, namun itu semua sudah berhasil membuat Amora ketakutan.

Jaraknya dengan badut itu tidak terlalu jauh, hingga membuat Amora kini membeku dengan pandangan yang masih melihat ke arah badut yang saat itu juga menatapnya.

“Kenapa gue ngga bisa gerak?, Amora please tutup mata lo. Amora sadar, Amora gerakin tubuh lo” batin Amora yang terlihat sedang memarahi dirinya sendiri.

Tapi usahanya sia-sia, karena Amora masih saja melihat ke arah badut itu hingga satu menit berlalu, dan pada akhirnya tubuh Amora bisa kembali digerakkan ketika handphone-Nya bergetar dan berbunyi karena ada telfon yang masuk.

Amora langsung memalingkan pandangannya ke arah benda pipih itu dan melihat siapa yang menelfonnya, sebelum menjawab telfon dari Fara itu, Amora hendak melihat kembali keberadaan badut menyeramkan tadi.

Dan Amora kembali dibuat terkejut ketika badut itu sudah tidak ada di tempat tadi, mengetahui keberadaan badut itu yang tiba-tiba menghilang membuat Amora menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari lagi keberadaan badut itu, namun hasilnya nihil.

Akhirnya Amora pun mengangkat telfon dari sahabatnya itu, “Apa, Far?”

“Mor, Adek-Adek lo pada ngajak makan siang bareng nih” ucap Fara yang saat itu tengah duduk di depan cermin meja riasnya.

“Ohh, makanya ngga telfon sendiri ke gue, ternyata udah nyuruh lo jadi perantaranya toh” jawab Amora.

“Gimana?, lo bisa ngga?, atau lo masih ada ujian lagi habis ini?” tanya Fara ketika jawaban dari Amora tidak sesuai dengan harapannya.

“Engga, udah selesai kok. Ya udah 10 menit lagi gue on the way ke restoran biasanya, lo telfon Adek-Adek lo buat cepetan ke sana juga” jawab Amora lagi yang kini sudah sesuai debagn yang diharapkan oleh Fara.

Di sebrang sana Fara menganggukkan kepalanya, “Okee.”

Setelah itu telfon antara Amora dan Fara pun berhenti di sana dan Amora kembali melanjutkan belajarnya sejenak sebelum beranjak dari kantin itu dan pergi ke restoran yang menjadi favoritnya dan sahabat-sahabatnya.

Bersambung…….

 

 

 

hai para pembaca Choose Happiness, pasti kalian kaget banget kan aku muncul lagi setelah sekian lamanyaa

aku cuma mau infoin nihh, ini aku kali terakhir aku up cerita Choose Happiness di lapak ini, karena sekarang aku mulai up lagi part 1 dan seterusnya di lapak sebelah (tiktok)

kalau kalian masihh mau ikutin perjalanan hidupnya Amora dan Daren, kalian boleh kunjungi akun aku, namanya Blublue_

dan di sana akan ada beberapa part yg di rubah dan ada sedikit pembenahan, jadi kalau mau baca-baca lagi, langsung search nama akun ku yaa, jangan lupa like komen jugaa

aku tunggu yaaa, byeee

salam hangat, Blue_

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)
Novel: Padamu Aku Akan Kembali (Part 7)
Novel : Senja Membawamu Kembali ( Tamat)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Senin, 20 Januari 2025 - 10:31 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)

Berita Terbaru

Penyebab Anak Sulit Konsentrasi Saat Belajar

Pendidikan

5 Penyebab Anak Sulit Konsentrasi Saat Belajar

Sabtu, 15 Agu 2026 - 12:50 WIB

Siapa Maya Boyd? Bintang Broadway yang Kini Jadi Sorotan

Hiburan

Siapa Maya Boyd? Bintang Broadway yang Kini Jadi Sorotan

Sabtu, 15 Agu 2026 - 12:34 WIB