Novel : Petaka Sebuah Janji (END)

- Penulis

Kamis, 28 November 2024 - 13:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel : Petaka Sebuah Janji (END)

Novel : Petaka Sebuah Janji (END)

Pertempuran ilmu gaib tingkat tinggi berakhir, Jungsemi tewas, Pakde sujud syukur. Usaha mereka melenyapkan kebatilan berhasil. Berdua Mpek An Cong mereka duduk bersila kelelahan. Tubuhnya babak belur, napasnya tersengal. Sedikit lebih lama lagi pertempuran berlangsung, mungkin mereka akan tumbang. Namun semesta berpihak pada mereka. Kebaikan lebih unggul dari kejahatan. Karena kecabulannya Jungsemi dapat ditundukkan, kekuatan dan kesaktiannya lenyap.

Pakde dan Mpek An Cong mengatur napas, melancarkan jalan darahnya. Kelompok klenteng menghancurkan rumah dan semua peralatan ritual lalu dipendam di dasar lembah lebih ke hilir. Sedang jasad Jungsemi mereka kubur di seberangnya. Salah seorang turun tebing mengambil air untuk minum Mpek An Cong dan Pakde.

Erlika diam-diam merangkak untuk berlindung di bawah pohon besar yang dikelilingi semak belukar. Dia duduk dengan lemah bersandar pohon melihat dengan nanar, orang-orang yang sedang menghancurkan rumah Jungsemi hingga rata dengan tanah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam keadaan setengah sadar, Erlika terlalu lemah sudah tidak mampu lagi untuk bangkit. Dia ditemukan oleh orang dari kelompok klenteng yang mengambil air. Erlika segera ditolong. Pakde menotok beberapa titik di tubuhnya, untuk memulihkan sedikit tenaga yang tersisa.

“Aku … menyerah …,” bisik lirih Erlika, “aku tak bisa lagi melanjutkan ini.”

***

Ada awal ada akhir. Seperti itulah hukum alam yang berlaku. Begitu juga dengan derita. Tiada penderitaan yang tak berakhir.

Serangan kedua yang menimpa Ratih membuatnya muntah darah. Dia segera dilarikan ke rumah sakit langganan keluarga Sumbogo. Pak Kardi ikut mendampingi untuk mencegah serangan berikutnya. Barman menelpon direktur rumah sakit meminta pertolongan untuk menangani kondisi kesehatan Ratih.

Waktu menunjukkan hampir tengah malam, tapi beberapa dokter yang berkompeten sudah berada di rumah sakit. Ratih langsung dibawa ke ruang observasi. Pak Kardi pamit untuk segera kembali ke rumah keluarga Barman, mencegah masuknya lagi bayangan gaib ke dalam rumah.

Saya pamit, pulang ke rumah Pak Barman. Sebentar lagi mereka akan menyerbu rumah dukun sakti itu. Saya khawatir, dukun itu sempat mengirim utusannya lagi. Saya tidak mau kecolongan, membiarkan bayangan itu lolos masuk rumah lagi.

Silakan, Pak. Saya titip rumah, kata Barman. Kalau butuh sesuatu, minta pada Isah. Nggak usah sungkan Pak Kardi, lanjutnya memberi saran.

Dengan kekhawatiran yang sangat, keluarga Ratih di luar ruang observasi, menunggu dengan gelisah. Arum tak henti-hentinya menangis. Perasaannya campur aduk. Dia merasa sangat bersalah, sekaligus menyesal. Ninit yang sedang menenangkan sahabat sekaligus besannya itu, akhirnya ikut menangis. Barman langsung khawatir akan kesehatan istrinya.

Sedang Toni hanya bisa menangis dalam diam. Dia sedang dihakimi oleh pikiran warasnya. Banyak andai-andai yang berseliweran dibenaknya.

Semua telah terjadi. Kebodohanku telah mencelakakan Ratih, istri sahku, rutuk hatinya.

Toni merasa sedang berusaha menolak pemberian tuhan. Dia sangat terluka, merasa mencelakai adik kecil yang dulu sangat dia sayangi dan kini menjadi istrinya. Dia menggumam lirih di tengah sedu-sedannya sambil menjambak kepalanya.

Seharusnya aku menyadarinya, dan mensyukuri karunia ini. Allah sudah mendekatkan jodohku dari kecil, malah mengejar iblis pendendam dan ambisius. Bodohnya aku!

Sementara di ruang observasi, Tim dokter terkejut mendapati adanya benda-benda tajam di lambung Ratih. Sampai tiga kali USG oleh tiga ahli, hasilnya sama. Tim dokter minta persetujuan direktur untuk melakukan scanning. Hasilnya sama, meskipun lebih akurat. Mereka segera mendiskusikan hasil observasi dengan keluarga.

Lalu, putriku muntah darah, itu kenapa Dok? tanya Arum sambil berurai air mata. Ninit memeluk menguatkan hati sahabatnya.

Masih diobservasi, Bu, belum selesai. Sesuai hasil USG, dinding lambungnya banyak goresan. Kami masih mencari penyebab muntah darah. Kami terlalu fokus pada pasien yang kesakitan di bagian perutnya. Bagaimana benda-benda itu bisa masuk ke perut pasien, terus terang, kami juga tidak bisa memperkirakan.

Semua diam membisu. Toni semakin terpukul dengan penderitaan istrinya. Rasa benci yang datang terlambat kepada Erlika, makin memuncak. Tak seorang pun yang bicara, meskipun mereka tahu dari mana asalnya benda-benda itu. Mereka kemudian berembuk mencari solusi terbaik.

Arum mengabari suaminya tentang kondisi Ratih. Dia menyesal mengijinkan Ratih tinggal di rumah mertuanya. Arum hanya bisa menangis.

Aku akan kesana, jika diijinkan Pak Kardi! Tenanglah secara medis sudah ada yang menanganinya. Biar nanti sekalian aku melapor pada Pak Kardi.”

Mbakyu bicara dengan Mas Rangga? tanya Barman. Arum mengangguk.

Boleh saya bicara? Arum mengangguk lagi sambil memberikan ponselnya.

Halo, Mas Rangga. Sudah mendengar keadaan Ratih sekarang? Coba, Mas Rangga minta pendapat Pak Kardi.

Tidak makan waktu lama Rangga sudah sampai di rumah sakit. Arum lega melihat suaminya. Dia langsung memeluk dan menangis di dada suaminya. Rangga hanya mampu memeluk sambil menenangkan. Setelah istrinya tenang, Arum di papah duduk di sebelah Ninit, kemudian dia menyampaikan hasil pembicaraan dengan Pak Kardi.

Pak Kardi minta maaf, beliau tidak mempelajari ilmu sesat itu. Sedang ilmu gaibnya masih jauh dari tingkat yang diperlukan. Beliau juga menyarankan untuk mencari bantuan orang yang mempunyai ilmu tandingan.

Kemudian, keluarga mengambil keputusan untuk mengeluarkan benda-benda asing itu dengan cara lain. Pihak medis menyetujui keputusan keluarga pasien. Seorang dokter memberi isyarat kepada Barman untuk mengikutinya. Berdua Rangga, mereka mengikuti dokter tersebut. Setelah masuk ruangan kosong, Barman memperkenalkan Rangga.

Maaf, Pak Barman. Menurut saya, pasien harus ditangani orang yang mempunyai ilmu setara. Saya menyarankan untuk minta pertolongan Eyang Mahmud dari Kemutug Lor. Dia cukup beken di sana.

Barman dan Rangga langsung setuju. Mereka sangat berterima kasih atas info yang diberikan. Dokter tersebut sudah beberapa kali mendapat pasien yang menderita seperti Ratih.

Jangan terkejut, benda-benda tajam di lambungnya, akan dikeluarkan dengan muntah darah beberapa kali, jelas dokter tersebut.

Dini hari menjelang terbit fajar, Mpek An Cong dan Pakde sampai di rumah keluarga Sumbogo. Keduanya masuk dengan ilmu meringankan tubuh. Tak seorang pun yang mendengar. Sepertiga malam terakhir tadi kedua sopir dan Mbok Isah disuruh istirahat. Seperti disepakati sejak awal Pakde memberi kode bunyi burung Emprit Gantil tiga kali berturut-turut. Pak Kardi yang masih terjaga membukakan pintu.

Kangmas, Mpek, alhamdulillah kalian selamat. Jeng Ratih, dibawa ke rumah sakit tengah malam tadi. Serangan kedua mengakibatkan muntah darah.

Pakde terduduk lemas di sofa. Menutup wajah sambil kedua siku bertumpu di pahanya. Tidak makan waktu lama, air merembes di sela-sela jari jemari yang mulai keriput. Hatinya terasa teriris sembilu. Ratih, keponakannya menjadi tumpuan kemarahan gadis gila penuh ambisi.

Kita pulang sekarang. Ratih jangan diganggu dulu. Biarkan dia beristirahat. Mpek, kami pulang, rasanya lelah sekali, lelah oleh penderitaan Ratih, pamit Pakde sedikit menyindir.

Mpek An Cong tidak bisa berkata-kata, hanya mengangguk setuju. Dia berada di pihak keluarga Sumbogo. Dia mengetahui dengan persis apa yang dialami Ratih selama menikah dengan Toni. Hati rasanya seperti disayat-sayat sembilu.

Setelah mendapat alamat Eyang Mahmud, sehabis salat Subuh, Barman dan Rangga menjemputnya. Dengan bantuan Eyang Mahmud, Ratih mulai memuntahkan benda-benda gaib itu, disaksikan Mpek An Cong dan Pakde. Keadaannya sangat memilukan. Sementara keluarga Ratih dan Toni terus menguatkan hati dengan berdoa dan berzikir. Ratih memerlukan rawat inap sekitar tiga hari untuk pemulihan kesehatannya.

***

Setelah dirawat tiga hari, Ratih diperbolehkan pulang. Dia minta pulang ke rumahnya. Tidak ada seorangpun yang tidak menyetujui, termasuk Mpek An Cong. Dan tidak ada satupun yang meminta Toni untuk tinggal di keluarga Danusaputra. Keluarga Sumbogo mengantar kepulangan Ratih ke rumah orang tuanya.

Ratih mulai merasa sedikit lebih baik. Hidupnya lebih tenang berada di rumah sendiri, dikelilingi orang-orang yang mencintainya tanpa syarat. Guyuran cinta dan kasih sayang keluarga membuat kesehatannya pulih dengan cepat. Dalam hatinya mulai timbul perasaan muak dan lelah terhadap semua penderitaan yang dialaminya. Perasaan ini hari demi hari mulai menguat. Ketika akhirnya dia merasa mampu mengutarakan isi hati, Ratih menyampaikan keinginannya yang mengejutkan.

Ratih ingin cerai, kata Ratih dengan suara tegas, saat mereka sedang berkumpul di ruang keluarga.

Ayahnya menatap putrinya dengan rasa campur aduk. Bunda dan Yayo terkejut. Saat itu Bagas sudah pulang, dia tidak merasa terkejut, apalagi sudah mendengar kisah penderitaan adik bungsunya. Akhirnya, Rangga mampu menenangkan gejolak hatinya.

Ratih, kamu tahu kan konsekuensi dari perceraian?

Jadi janda kan, Ayah? Ratih nggak takut. Ratih tetep mau ke Jerman. Di sana nggak ada yang peduli. Di sana otak yang cemerlang yang akan dihargai.

Aku setuju! Daripada menderita hanya untuk menjadi bagian dari keluarga Sumbogo! ujar Bagas dengan nada sinis dan menekan di kalimat terakhir.

Bundanya terdiam dengan rasa sesal yang menghujam dalam, tanpa komentar. Saat Ratih mengatakan kata janda, hatinya seperti diremas hingga hancur. Dan kata-kata putra sulung menampar mukanya, seolah dia berambisi berbesanan dengan keluarga Sumbogo. Kilau bening merebak di netranya.

Ratih, Ayah dan Bunda tidak dapat memutuskan. Kamu sudah berada dalam ikatan suami istri. Ayah serahkan semua keputusan padamu. Bagaimana pendapat Bunda? tanya Rangga. Arum mengangguk pasrah.

Semua terserah Ratih. Bunda mendukungmu, Sayang kata Arum dengan suara bergetar. Bunda hanya berpesan, jangan membuat keputusan dalam keadaan marah. Ada Bunda dan Ayah di sampingmu! lanjutnya sambil mengembuskan napas mengusir rasa sesak di dada.

Ada Mas Yayo! Inget itu, samber Yayo serius.

Ada aku juga! Kata Bagas tegas.

Seminggu kemudian keluarga Danusaputra datang berkunjung ke kediaman Sumbogo. Mereka membicarakan keinginan Ratih, yang selama ini dia pendam. Rangga menyilakan putrinya untuk berbicara.

Papah, Mamah, dan kamu Mas Toni, aku minta maaf. Ratih sudah berusaha menjadi istri yang baik, juga sudah berusaha mencintai dan memaafkan mas Toni. Tapi, Ratih sudah tidak tahan dengan penderitaan yang menimpa akhir-akhir ini.

Napas Ratih mulai tersengal, kilau bening di matanya menggelayut mau tumpah. Ratih menyapu dengan punggung tangannya. Setelah mengembuskan napas dengan keras untuk menenangkan gejolak hatinya, dia melanjutkan.

Ratih minta cerai dan akan menjauh dari kehidupan mas Toni. Hanya itu satu-satunya cara yang dapat dilakukan untuk keselamatan hidupku. Ratih ingin hidup tenang!

Keluarga Sumbogo terdiam dan terkesima. Toni, yang kini sudah kembali sadar dan terlepas dari kendali Erlika, memandang Ratih dengan penuh kesedihan. Namun, tekad Ratih sudah bulat. Setelah semua yang terjadi, Toni merasa tak ada lagi yang bisa mengubah keputusan istrinya. Dia hanya memikirkan kebahagiaan Ratih, meski hatinya remuk.

Tiba-tiba Ratih merasa dunia berputar kencang, perut pun terasa mual, pandangannya mengabur, Ratih terkulai pingsan. Dengan segera Toni menggendong istrinya dibawa ke kamar tidur. Upaya  menyadarkan Ratih, dilakukan oleh Arum dan Nìnit. Usaha keduanya berhasil. Perlahan-lahan Ratih membuka mata.

Bunda ¦ mana Ayah?

Sayang, istirahatlah. Apa semalam kamu nggak bisa tidur? tanya sang Bunda, Ratih mengangguk.

Tidurlah. Ratih harus kuat ya, Sayang! Bunda di sini, menemanimu. Arum mencium kening putrinya. Ratih kembali terlelap.

Toni yang sedari tadi duduk di sofa ruang kerja, mengamati Mamah dan Bunda menyadarkan istrinya. Dia bangkit lalu mendekat. Arum bergeser. Toni duduk di bibir pembaringan, menggenggam tangan istrinya dengan lembut. Perlahan air bening yang menggenangi matanya tumpah.

Maafkan aku ¦ maafkan aku ¦ harusnya aku yang tersiksa begini. Ratih ¦ aku mencintaimu, katanya sambil terisak. Aku akan mendukung apapun keputusanmu. Tapi tidak sekarang, di saat kamu belum sehat.

Toni terisak tak bisa lagi meneruskan ucapannya. Arum memberikan tisu. Dia mengambil beberapa lembar kemudian menyusut hidung lalu memeluk Arum.

Bunda ¦ apa yang harus kulakukan? Toni tidak mau kehilangan Ratih!

Kita tunggu saja apa keputusan Ratih. Toni mengangguk.

Setelah Ratih sadar, mereka berkumpul lagi di ruang kerja Toni. Ratih tidak perlu turun tangga, ruang kerja menyatu dengan kamar tidur. Dengan sareh Barman angkat bicara.

Ratih, Papah tahu kamu pasti punya alasan meminta berpisah dari Toni. Kita semua tahu dan memahami perasaanmu. Kamu telah mengalami hal-hal yang tidak masuk akal dan mengerikan, sekaligus menyakitkan, sampai hampir merenggut nyawamu. Masalah ini harus dipikirkan dengan kepala dingin. Apakah perpisahan sepadan dengan semua penderitaanmu?

Semua itu akibat Ratih menjadi istri mas Toni, Pah. Kalau tidak, semua ini tidak akan terjadi! Hanya cerai, itulah satu-satunya jalan! kata Ratih dengan tegas.

Semua terdiam, argumentasi Ratih sangat masuk akal. Toni sudah bertunangan dengan Erlika, sebelum menikahi Ratih. Di sini status Ratih sebagai orang ketiga yang merebut Toni dari tunangannya. Namun, di saat semua orang hampir menyetujui perceraian, Ratih tiba-tiba tersadar. Sejak tiga bulan lalu sejak kejadian rudapaksa yang dilakukan Toni dia belum datang bulan. Keringat dingin mengucur, pandangannya kabur, lalu gelap. Ratih kembali tidak sadarkan diri.

Rangga langsung menggendong, lalu membawa Ratih ke rumah sakit diantar Toni. Barman dan istri mengikuti dengan mobil lain. Bagas dan Yayo bersama bundanya memakai mobil mereka. Toni membawa ke rumah sakit keluarganya agar bisa segera masuk ruang rawat inap dan mendapat perawatan yang intensif.

Dokter masuk sambil membawa hasil laboratorium, lalu memberitahukan hasil tes darah yang menunjukkan Ratih dalam keadaan hamil. Untuk memastikan, akan dilakukan tes USG.

Toni meloncat memeluk Ratih dengan gembira. Ratih diam mematung, otaknya beku tidak bisa berpikir. Toni terus menciumi Ratih sambil berbisik, aku akan jadi Ayah, Ratih! Kita akan punya anak, anak kita!

Toni seakan enggan melepas lagi pelukannya. Ratih seperti terbangun dari mimpi indah, senyum bahagia merekah di bibirnya. Perlahan tapi pasti, dia membalas pelukan suaminya sambil menyandarkan kepala dengan manja di dada Toni. Kedua orang tua mereka saling berpelukan sambil berurai air mata bahagia. Bagas dan Yayo saling pandang dengan ekspresi sulit ditebak.

 

TAMAT

Follow Sosial Media Redaksiku : FacebookInstagramTiktokXYoutubePinterest

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru

Meriah! Konvoi Merah Putih di Barru, Kapolres Kawal Langsung

Internasional

Meriahkan HUT RI, Kapolres Barru Kawal Konvoi Merah Putih

Minggu, 16 Agu 2026 - 10:40 WIB