Seperti yang sudah kuduga, tidak mungkin Mas Bayu akan pulang cepat seperti janjinya. Aku melihat jam di dinding kamar, sudah pukul 09.30 malam. Mau pergi jam berapa kalau saat ini saja dia belum pulang. Restoran juga rata-rata sudah akan tutup saat kami tiba. Perlahan aku meraih pembersih wajah dan menghapus riasan yang sudah bercampur dengan air mata.
Dadaku terasa sesak oleh tangis yang berusaha kutahan. Aku nggak boleh cengeng! Mas Bayu banyak dibutuhkan masyarakat. Sosok suamiku itu memang senang menolong orang lain, apalagi ini untuk urusan agama. Dia pasti dengan senang hati mengorbankan semuanya untuk mendapatkan rida Allah, termasuk mengecewakan istrinya.
Tepat pukul 10.00, terdengar suara mobil di depan rumah. Sejak dua bulan lalu, kami memutuskan untuk menjual motor dan membeli mobil bekas yang masih layak pakai. Alhamdulillah, posisi Mas Bayu di kantor semakin bagus dan gajinya juga meningkat, sehingga kami bisa menabung lebih banyak untuk membeli sebuah mobil.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tak lama bunyi pagar dibuka dan mobil masuk halaman, lalu suara Mas Bayu mengucap salam. Aku bergeming, ada rasa enggan untuk menyapanya. Mas Bayu membuka pintu kamar.
Maaf ya, Mir, ternyata acaranya lama. Tanya jawabnya banyak banget. Kirain abis salat Isya selesai, nggak tahunya masih lanjut. Eh udah tidur, ya?
Aku tak menjawab. Kupejamkan mata, pura-pura terlelap.
Ya udah, deh. Aku juga mau mandi terus tidur. Oleh-olehnya aku masukin kulkas aja, buat besok. Nggak baik malam-malam masih makan. Lelaki itu berjalan ke kamar mandi dan tak lama kemudian terdengar suara gemericik air.
Aku tetap memejamkan mata dan membiarkan air mata membasahi pipi. Tak lama kudengar Mas Bayu membuka lemari untuk mengambil baju tidur. Ia menoleh dan melihat linangan air mataku.
Lho, ucapnya sambil menyeka air mataku, kirain udah tidur. Kok malah nangis?
Aku membalikkan badan, membelakanginya.
Mir, aku kan bukan pergi keluyuran, tapi nolong orang lain. Masa kamu keberatan? Kalau aku batalin janji karena mau nongkrong sama teman-teman di kafe, baru aku salah, ujarnya lembut.
Aku memilih untuk membisu.
Ya udah deh, aku mau tidur aja. Capek seharian di luar rumah. Jangan lama-lama ngambeknya, ya? Sambil meraih guling, Mas Bayu bersiap tidur.
Aku hanya bisa menahan sakit hati. Semua yang dia katakana benar, aku tahu itu. Namun, apakah aku tidak boleh merasa kecewa karena sudah berharap makan malam di tempat romantis? Menikmati malam dengan suami terkasih? Aku membiarkan semua pertanyaan timbul di benakku tanpa mendapatkan jawaban.
Apakah begini rasanya menikah dan menjadi seorang istri? Harus banyak mengalah dan bersabar? Aku tahu, Mas Bayu adalah seorang suami yang baik dan bertanggung jawab. Aku juga tidak ingin menjadi istri manja yang merepotkan. Akan tetapi, salahkah bila terkadang aku merasa tidak dihiraukan? Salahkah bila aku berharap Mas Bayu bisa sedikit romantis, seperti suami teman-temanku?
Batinku masih berkecamuk. Sementara itu, kudengar suara dengkur halus Mas Bayu yang sudah terlelap. Aku menatap wajah terkasih itu. Lihat saja, bahkan di saat aku marah, ia memilih untuk tidur dan tidak meladeniku. Ya Allah, aku tahu kalau seorang istri harus menaati suaminya. Rida Allah adalah rida suami. Namun, bagaimana dengan rasa sakit dan kecewa ini? Aku menguatkan hati dengan terus berdoa. Karena merasa lelah menangis, akhirnya aku pun ikut terlelap membawa hati yang mulai terluka.
-bersambung-
Halaman : 1 2






