Redaksiku.com – Charles Spencer, adik laki-laki mendiang Putri Diana, kembali menyoroti luka lama yang melibatkan keluarga Kerajaan Inggris melalui narasi terbarunya. Dalam buku yang diterbitkan pada Selasa, 22 September 2026, Earl Spencer melontarkan kritik tajam terhadap cara institusi monarki memperlakukan kakaknya selama masa pernikahan hingga perpisahan yang tragis.
Ketegangan yang Belum Usai
Kekecewaan Earl Spencer terhadap keluarga Windsor bukanlah hal baru, namun buku ini membawa dimensi kemarahan yang lebih personal dan mendalam. Ia secara khusus menyoroti bagaimana Diana, yang saat itu masih sangat muda, harus berhadapan dengan lingkungan yang dianggapnya dingin dan tidak suportif.
Dalam tulisannya, Spencer menggambarkan pola perilaku yang sistematis dalam memojokkan Diana. Ia merasa bahwa institusi tersebut tidak hanya gagal melindungi sang putri, tetapi juga secara aktif membiarkan narasi negatif berkembang untuk menutupi kesalahan internal mereka sendiri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Lebih dari tiga dekade telah berlalu sejak kepergian Diana, namun upaya Spencer untuk menuntut keadilan bagi kenangan kakaknya tetap menjadi pusat perhatian publik Inggris.
Sorotan Tajam kepada Raja Charles III
Bagian paling kontroversial dari buku ini adalah serangan langsung yang ditujukan kepada Raja Charles III. Spencer tidak ragu menyebutkan nama sang Raja dalam konteks yang sangat kritis, menyinggung masa lalu mereka saat masih menjadi ipar.
Menurut Spencer, kegagalan komunikasi dan kurangnya empati dari Charles menjadi salah satu pemicu utama penderitaan Diana. Ia menuliskan beberapa poin yang menyoroti ketimpangan relasi tersebut:
- Ketidakmampuan keluarga kerajaan dalam memahami kebutuhan emosional Diana yang saat itu masih beradaptasi dengan tekanan publik.
- Adanya upaya dari pihak kerajaan untuk membatasi akses Diana terhadap dukungan keluarga kandungnya sendiri.
- Ketegangan yang meningkat akibat ketidakjujuran dalam hubungan pernikahan yang kemudian menjadi konsumsi media dunia.
Spencer menegaskan bahwa meskipun waktu telah mengubah status Charles menjadi seorang Raja, hal itu tidak menghapus tanggung jawab moral atas apa yang terjadi di masa lalu. Ia merasa perlu untuk meluruskan sejarah agar tidak ada lagi distorsi mengenai karakter kakaknya.
“Sejarah tidak bisa dibungkam oleh gelar atau posisi kekuasaan, terutama ketika kebenaran tentang penderitaan seseorang telah dikaburkan selama bertahun-tahun.”
— Earl Spencer
Dampak Terhadap Hubungan Keluarga
Publikasi ini diprediksi akan memperkeruh hubungan antara Earl Spencer dengan pihak istana. Sejak pemakaman Diana pada tahun 1997, di mana Spencer memberikan pidato yang sangat menyentuh dan kritis, jarak antara dirinya dan keluarga kerajaan memang terasa sangat lebar.
Para pengamat kerajaan menilai bahwa langkah Spencer ini merupakan bentuk perlindungan terakhir terhadap warisan Diana. Ia tampaknya ingin memastikan bahwa narasi tentang sang putri tidak hanya didikte oleh pihak yang selama ini memegang kendali atas sejarah monarki.
Klaim yang disampaikan dalam buku ini bersifat subjektif berdasarkan perspektif pribadi Earl Spencer dan belum mendapat tanggapan resmi dari pihak Istana Buckingham.
Perspektif Sejarah dan Opini Publik
Banyak pembaca dan sejarawan melihat buku ini sebagai pelengkap dari berbagai dokumenter dan biografi yang sudah ada sebelumnya. Spencer memberikan detail intim yang hanya diketahui oleh lingkaran keluarga terdekat, memberikan warna baru pada narasi yang selama ini beredar.
Tentu saja, ada perdebatan mengenai apakah langkah ini bijaksana. Beberapa pihak berpendapat bahwa menggali kembali trauma masa lalu hanya akan menyakiti generasi penerus, khususnya Pangeran William dan Pangeran Harry. Namun, Spencer bersikeras bahwa kejujuran adalah satu-satunya cara untuk berdamai dengan masa lalu.
Earl Spencer secara konsisten menggunakan posisinya untuk membela martabat mendiang kakaknya di tengah narasi kerajaan yang seringkali dianggap tertutup.
Pertanyaan Umum
Mengapa Earl Spencer menulis buku ini sekarang?
Spencer menyatakan bahwa ia merasa perlu untuk mendokumentasikan kebenaran dari sudut pandang keluarga Spencer sebelum sejarah yang sesungguhnya benar-benar terlupakan oleh generasi baru.
Bagaimana reaksi pihak Istana Buckingham terhadap buku tersebut?
Hingga saat ini, pihak Istana Buckingham belum memberikan pernyataan resmi atau tanggapan terkait isi buku yang ditulis oleh Earl Spencer tersebut.
Apa dampak buku ini terhadap citra Raja Charles III?
Buku ini kemungkinan akan memicu diskusi publik yang luas mengenai masa lalu Raja Charles III, terutama bagi mereka yang masih memegang simpati mendalam terhadap mendiang Putri Diana.
Ringkasan
Charles Spencer, adik mendiang Putri Diana, menerbitkan buku pada 22 September 2026 yang secara tajam mengkritik perlakuan institusi Kerajaan Inggris terhadap kakaknya. Dalam karya tersebut, ia menuduh keluarga monarki menciptakan lingkungan yang dingin dan tidak suportif, serta secara sistematis membiarkan narasi negatif berkembang untuk melindungi kepentingan internal mereka selama masa pernikahan Diana.
Buku ini secara spesifik menyoroti Raja Charles III, dengan menuduh kurangnya empati dan kegagalan komunikasi sang Raja sebagai faktor utama penderitaan Putri Diana di masa lalu. Meskipun Spencer menegaskan tujuannya adalah meluruskan sejarah berdasarkan perspektif keluarga, pihak Istana Buckingham hingga saat ini belum memberikan tanggapan resmi atas klaim tersebut, sementara pengamat menilai langkah ini berpotensi memperkeruh hubungan antara keluarga Spencer dan pihak istana.






