Redaksiku.com – Duta Besar Iran untuk Republik Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menyampaikan pernyataan keras terkait eskalasi konflik yang melibatkan negaranya dengan Amerika Serikat dan Israel.
Dalam konferensi pers di kediaman resminya di Jakarta pada Senin (2/3/2026), Boroujerdi memaparkan posisi Teheran serta menuding kedua negara tersebut telah melampaui batas hukum internasional dengan menyasar tokoh penting dan pemimpin negara.
Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan regional pasca-serangkaian operasi militer yang menargetkan fasilitas strategis dan figur penting Iran. Dalam forum tersebut, Boroujerdi menekankan bahwa Iran selama ini konsisten mengedepankan prinsip-prinsip perdamaian, termasuk penolakan terhadap senjata pemusnah massal.
Sorotan terhadap Fatwa Anti-Senjata Nuklir
Boroujerdi menyinggung bahwa pemimpin Iran yang menjadi target serangan merupakan seorang ulama rujukan atau marja yang dalam fatwanya secara tegas mengharamkan produksi, penggunaan, dan perdagangan senjata pemusnah massal, termasuk senjata nuklir. Ia merujuk pada sikap Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang selama bertahun-tahun menegaskan posisi tersebut dalam berbagai pidato dan keputusan keagamaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Boroujerdi, tindakan militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel justru menyasar sosok yang memiliki pandangan moral dan teologis menentang senjata nuklir. Ia menyebut langkah tersebut sebagai paradoks yang memperlihatkan kontradiksi antara klaim keamanan dan praktik di lapangan.
Dalam pernyataannya, Boroujerdi menilai bahwa serangan terhadap figur pemimpin negara berdaulat mencerminkan eskalasi yang berbahaya serta berpotensi memperluas konflik di kawasan.
Kritik terhadap Rekam Jejak AS
Dalam paparannya, Boroujerdi juga mengulas sejarah hubungan Iran dan Amerika Serikat. Ia menyinggung keterlibatan Washington dalam peristiwa kudeta terhadap Perdana Menteri Iran, Mohammad Mosaddegh, pada 1953 yang hingga kini menjadi salah satu titik sensitif dalam memori kolektif rakyat Iran.
Selain itu, ia mengkritik kebijakan sanksi ekonomi yang diberlakukan terhadap Teheran sejak 2010. Menurutnya, sanksi tersebut berdampak langsung pada masyarakat sipil, termasuk anak-anak dan kelompok rentan. Boroujerdi mempertanyakan klaim Amerika Serikat yang menyatakan ingin membantu rakyat Iran, sembari menilai bahwa kebijakan yang ditempuh justru memperburuk kondisi kemanusiaan.
Ia menyebut contoh intervensi Amerika Serikat di sejumlah negara seperti Irak dan Afghanistan sebagai bukti bahwa bantuan yang diberikan sering kali berujung pada instabilitas dan kerusakan jangka panjang.

Rentetan Insiden dan Tuduhan Agresi
Boroujerdi juga membeberkan sejumlah insiden yang menurutnya mencerminkan pola agresi terhadap Iran. Ia menyinggung insiden 1988 ketika pesawat sipil Iran ditembak jatuh, serta pembunuhan seorang jenderal senior Iran pada 2020 yang dikenal luas sebagai tokoh penting dalam perang melawan ISIS di Irak.
Merujuk pada kasus 2020 tersebut, ia menyebut nama Qasem Soleimani, komandan tinggi yang tewas dalam serangan udara Amerika Serikat di Baghdad. Boroujerdi menyatakan bahwa tindakan tersebut merupakan bentuk pelanggaran terhadap hukum internasional dan kedaulatan negara.
Ia juga menuding adanya provokasi terhadap Israel untuk menyerang fasilitas diplomatik Iran di luar negeri pada 2024, serta serangan terhadap situs militer dan ekonomi Iran pada 26 Oktober 2024. Dalam pandangannya, rangkaian kejadian tersebut menunjukkan keterlibatan langsung maupun tidak langsung Washington dalam mendorong eskalasi konflik.
Perspektif Hukum Internasional dan Stabilitas Kawasan
Dari sudut pandang hukum internasional, tudingan yang disampaikan Dubes Iran menyentuh isu sensitif terkait perlindungan fasilitas diplomatik dan larangan penggunaan kekuatan terhadap negara berdaulat. Konvensi Wina tentang Hubungan Diplomatik secara tegas mengatur inviolabilitas misi diplomatik.
Pengamat hubungan internasional di Jakarta menilai bahwa pernyataan Boroujerdi mencerminkan strategi diplomatik Iran untuk membangun dukungan moral di tingkat global. Dengan menekankan fatwa anti-senjata nuklir dan dampak sanksi terhadap warga sipil, Teheran berupaya memperkuat narasi bahwa pihaknya berada pada posisi defensif.
Namun demikian, analis juga mengingatkan bahwa konflik yang terus memanas dapat mengurangi ruang dialog. Ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel telah berdampak pada stabilitas regional, termasuk di kawasan Teluk dan sekitarnya.
Respons dan Implikasi Diplomatik di Indonesia
Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan hubungan diplomatik yang baik dengan berbagai pihak, Indonesia berada pada posisi yang sensitif. Pernyataan Dubes Iran di Jakarta dipandang sebagai bagian dari upaya menjelaskan posisi resmi Teheran kepada publik dan pemerintah Indonesia.
Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari Kedutaan Besar Amerika Serikat maupun perwakilan Israel di Jakarta terkait pernyataan tersebut. Kementerian Luar Negeri Indonesia sebelumnya telah menyerukan pentingnya deeskalasi dan penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik.
Para pakar kebijakan luar negeri menilai bahwa Indonesia kemungkinan akan terus mempertahankan posisi netral dan mendorong dialog damai di forum internasional.
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai sumber
Halaman : 1 2 Selanjutnya






