Redaksiku.com – Departemen Keadilan dan Perdamaian Sinode Gereja Kemah Injil di Tanah Papua memberikan dukungan penuh terhadap langkah damai yang digagas oleh para tokoh adat dalam menyelesaikan sengketa tanah ulayat.
Dukungan Terbuka untuk Jalur Musyawarah Adat
Konflik tapal batas antara Suku Mee dan Suku Kamoro di kawasan Kapiraya mendapat perhatian serius dari lembaga keagamaan setempat. Pendekatan dialogis dinilai sebagai cara paling efektif untuk meredam ketegangan horizontal di tengah masyarakat adat.
Kepala Suku Kamoro Yance Boyau sebelumnya telah menyerukan agar sengketa wilayah ini diselesaikan secara kekeluargaan. Pendekatan tersebut dinilai sejalan dengan nilai-nilai kearifan lokal yang menjunjung tinggi kebersamaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Penyelesaian sengketa tapal batas di Kapiraya dipandang bukan sekadar urusan administrasi wilayah, melainkan menyangkut kehormatan dan ikatan sejarah antarsuku.
Pernyataan Sikap dan Seruan Gembala
Pernyataan resmi ini dikeluarkan langsung dari Timika melalui dokumen Seruan Gembala. Pimpinan gereja berharap langkah ini mampu membuka ruang komunikasi yang lebih luas bagi kedua belah pihak yang bersengketa.
Pihak gereja menekankan beberapa poin penting dalam proses penyelesaian masalah ini:
- Mendorong pertemuan langsung antartokoh adat dari Suku Mee dan Suku Kamoro.
- Membedah bukti sejarah serta batas alam secara transparan dan jujur.
- Menghindari klaim sepihak yang dapat memicu eskalasi konflik di lapangan.
Menjaga Martabat dan Hubungan Genealogis
Wilayah Kapiraya selama ini menjadi ruang hidup bagi masyarakat adat dari kedua belah pihak. Oleh karena itu, penyelesaian sengketa harus melibatkan para tua-tua adat dan kepala keret atau marga yang memahami betul silsilah wilayah.
Pendekatan kultural diyakini mampu merawat ikatan persaudaraan yang telah terjalin turun-temurun. Keterlibatan aktif tokoh masyarakat lokal menjadi kunci utama agar keputusan yang diambil memiliki legitimasi kuat di mata warga.
Pertanyaan Umum
Mengapa sengketa tapal batas di Kapiraya harus diselesaikan secara adat?
Penyelesaian secara adat dinilai paling tepat karena menyangkut hak ulayat, ikatan sejarah, dan martabat kemanusiaan antarsuku yang hidup berdampingan di wilayah tersebut.
Siapa saja pihak yang didorong untuk duduk bersama menyelesaikan masalah ini?
Para pemangku adat dari Suku Mee dan Suku Kamoro, termasuk kepala suku, kepala keret atau marga, serta para tua-tua adat, diminta untuk berdialog secara transparan.
Apa peran lembaga keagamaan dalam konflik tapal batas ini?
Departemen Keadilan dan Perdamaian Sinode KINGMI di Tanah Papua bertindak sebagai pendukung moral yang mendorong terciptanya dialog damai demi mencegah terjadinya konflik terbuka.
Ringkasan
Departemen Keadilan dan Perdamaian (DKP) Sinode Gereja Kemah Injil di Tanah Papua (KINGMI) secara resmi menyatakan dukungan penuh terhadap penyelesaian damai sengketa tanah ulayat dan tapal batas Kapiraya antara Suku Mee dan Suku Kamoro melalui jalur musyawarah adat.
Dukungan moral yang dituangkan dalam Seruan Gembala dari Timika ini sejalan dengan seruan Kepala Suku Kamoro, Yance Boyau, yang mengutamakan pendekatan kekeluargaan. Gereja mendorong agar pertemuan langsung antartokoh adat, kepala keret atau marga, serta tua-tua adat dilakukan secara transparan untuk membedah bukti sejarah dan batas alam demi menjaga martabat serta ikatan genealogis antarsuku.






