Redaksiku.com – Sebuah pola tinta yang awalnya tampak tidak beraturan bisa berubah menjadi pohon, bunga, hewan, atau objek lain ketika berada di tangan anak-anak. Pengalaman itulah yang muncul dalam kegiatan 吹画 CHUI HUA (Cipta Hembus Unik Inspirasi) yang digelar Kelompok KKN 225 Universitas Sebelas Maret (UNS) di SD Kradenan 01, Desa Kradenan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Semarang, Senin (8/9/2026).
Alih-alih mengarahkan siswa untuk menghasilkan gambar dengan bentuk tertentu, kegiatan tersebut memberi kesempatan kepada siswa kelas 4 dan 5 untuk menentukan sendiri makna dari pola tinta yang mereka hasilkan melalui hembusan napas.
Pendekatan itu membuat satu pola dapat menghasilkan tafsir yang berbeda. Bentuk yang sama dapat dipandang sebagai pohon oleh seorang siswa, tetapi dianggap sebagai hewan atau bunga oleh siswa lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Bagi Kelompok KKN 225 UNS, perbedaan tersebut justru menjadi bagian penting dari proses kreatif. Penanggung jawab program, Lutfia Nias Maharani, mengatakan pemilihan teknik Chui Hua didasarkan pada keinginan menghadirkan aktivitas seni yang sederhana dan tidak terlalu umum dilakukan siswa.
Teknik tersebut juga tidak menuntut kemampuan menggambar yang tinggi. Siswa cukup mengatur hembusan untuk menyebarkan tinta atau cat, kemudian mengembangkan pola yang muncul berdasarkan imajinasi masing-masing.
Setiap siswa dapat melihat bentuk yang berbeda dari pola yang sama.
Proses Kreatif Tanpa Batasan Baku
Dalam kegiatan tersebut, siswa tidak hanya belajar membuat karya, tetapi juga belajar menerima hasil yang tidak sepenuhnya dapat diprediksi. Kekuatan dan arah hembusan menentukan bagaimana tinta bergerak di atas kertas.
Hembusan yang terlalu kuat dapat membuat tinta menyebar terlalu jauh, sedangkan hembusan yang terlalu pelan membuat pola tidak berkembang secara maksimal. Situasi itu membuat siswa harus melakukan percobaan dan menyesuaikan teknik secara mandiri.
Mereka belajar bahwa hasil yang berbeda bukan selalu berarti kesalahan. Bagi mahasiswa pendamping, kondisi tersebut juga menjadi tantangan tersendiri untuk memberikan ruang eksplorasi yang luas.
Ketua Kelompok KKN 225 UNS, Raka Arya Sadewa, mengatakan pendamping perlu memberikan ruang kepada siswa untuk menentukan sendiri bentuk dan ide yang ingin dikembangkan. Dengan cara itu, siswa tidak hanya mengikuti contoh yang diberikan, tetapi memiliki kesempatan untuk mengambil keputusan berdasarkan gagasan mereka sendiri.
Menumbuhkan Keberanian Lewat Percobaan
Dampak kegiatan juga terlihat dari perubahan sikap sejumlah siswa selama proses berlangsung. Pada awalnya, beberapa siswa masih ragu untuk mencoba karena khawatir hasil karya mereka tidak bagus.
Sesi potret hasil karya kelas 5. (Dok. Pribadi/KKN 225 UNS)
Keraguan tersebut perlahan berkurang setelah mereka melihat teman-temannya mulai mencoba. Siswa yang sebelumnya pasif kemudian ikut berpartisipasi dan menikmati proses peniupan cat.
Setelah menghasilkan karya, sejumlah siswa juga mulai percaya diri memperlihatkannya kepada teman maupun mahasiswa pendamping. Mereka berdiskusi mengenai bentuk yang dihasilkan dan saling meminta pendapat.
Dalam beberapa kesempatan, siswa bahkan membantu temannya yang mengalami kesulitan menggunakan teknik hembusan. Situasi tersebut menunjukkan bahwa kegiatan seni dapat menciptakan ruang interaksi yang hangat.
Melihat Perbedaan Cara Anak Memandang Dunia
Kelompok KKN 225 UNS juga menemukan perbedaan kecenderungan antara siswa kelas 4 dan kelas 5. Siswa kelas 4 secara umum terlihat lebih spontan dan lebih banyak mencoba tanpa terlalu memikirkan bentuk akhir.
Sementara itu, beberapa siswa kelas 5 terlihat lebih mempertimbangkan objek yang ingin mereka bentuk dari pola tinta yang muncul. Namun, mahasiswa tidak menjadikan perbedaan tingkat kelas tersebut sebagai ukuran kemampuan kreativitas.
Setiap anak dinilai memiliki cara berekspresi dan tingkat kreativitas yang berbeda. Kreativitas diamati dari keberanian siswa mencoba berbagai bentuk, sementara imajinasi terlihat ketika mereka memberikan makna terhadap pola tinta.
Seni Sebagai Alternatif Pembelajaran Menyenangkan
Berdasarkan pengamatan mahasiswa, aktivitas seni memiliki ruang dalam pembelajaran siswa di sekolah. Pelaksanaannya tentu tetap disesuaikan dengan materi dan kegiatan belajar yang berlangsung di kelas.
Kondisi tersebut membuat Kelompok KKN 225 UNS melihat Chui Hua sebagai salah satu alternatif aktivitas seni yang dapat dilakukan secara praktis dan menyenangkan. Teknik ini memungkinkan siswa belajar sambil bereksperimen.
Mereka tidak dituntut menghasilkan gambar yang sempurna sehingga memiliki ruang lebih luas untuk mengekspresikan ide. Guru SD Kradenan 01 juga memberikan tanggapan positif terhadap kegiatan tersebut karena antusiasme siswa yang tinggi.
Harapan Keberlanjutan Program Selepas KKN
Kelompok KKN 225 UNS berharap kegiatan semacam itu tidak berhenti setelah program KKN selesai. Menurut tim, Chui Hua masih dapat dikembangkan sebagai alternatif aktivitas seni apabila disesuaikan dengan fasilitas sekolah.
Agar dapat dilakukan secara mandiri, kegiatan tersebut dapat dilengkapi panduan sederhana yang berisi bahan, tahapan teknik hembusan, serta contoh pengembangan karya. Meskipun demikian, contoh tersebut tidak dimaksudkan sebagai batasan.
“Manfaat kegiatan tidak hanya berupa pengalaman membuat satu karya, tetapi juga dapat mendorong siswa untuk terus berkreasi dan berani mencoba bentuk seni yang baru.”
— Lutfia Nias Maharani
Kegiatan Chui Hua pada akhirnya tidak sekadar menghasilkan lembaran kertas berisi pola tinta. Di balik pola yang tidak beraturan itu, siswa belajar mengamati, mencoba, menafsirkan, dan mengambil keputusan.
Kelompok KKN 225 UNS terdiri atas Raka Arya Sadewa, Sakti Adi Wijaya Basuki Putra, Adelia Dewi, Lutfia Nias Maharani, Annisaa Dwi Septianti, Dieny Azmi Zainab, Shaila Azahra Adhelia, Hannove Kurniasih, Arina Al haq, dan Syahla Muti’ Ghina Athaya. Seluruh rangkaian kegiatan ini berada di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Khresna Bayu Sangka, SE, MM, Ph.D, CMILT.
Pertanyaan Umum
Apa itu teknik seni Chui Hua?
Chui Hua (Cipta Hembus Unik Inspirasi) adalah teknik seni rupa sederhana di mana siswa meniup cairan tinta atau cat di atas kertas untuk menciptakan pola abstrak, lalu menafsirkan pola tersebut menjadi bentuk objek tertentu sesuai imajinasi.
Di mana kegiatan ini dilaksanakan?
Kegiatan ini dilaksanakan oleh mahasiswa KKN UNS di SD Kradenan 01, Desa Kradenan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Semarang.
Apa tujuan utama dari kegiatan ini?
Tujuannya adalah melatih keberanian, kreativitas, keterampilan motorik, serta kemampuan anak dalam menafsirkan bentuk tanpa harus dibatasi oleh aturan menggambar yang kaku.
Ringkasan
Mahasiswa KKN UNS Kelompok 225 mengajarkan teknik seni Chui Hua (Cipta Hembus Unik Inspirasi) kepada siswa kelas 4 dan 5 di SD Kradenan 01, Kabupaten Semarang, pada Senin (8/9/2026). Teknik ini melatih siswa meniup tetesan tinta di atas kertas untuk membentuk pola abstrak dan menafsirkannya sesuai imajinasi.
Melalui kegiatan tanpa batasan baku ini, siswa belajar bereksperimen, menerima hasil yang tidak terduga, serta menumbuhkan keberanian dan kepercayaan diri dalam berekspresi seni secara menyenangkan.






