Novel : Cindur Mata (Part 4)

- Penulis

Jumat, 20 September 2024 - 19:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel : Cindur Mata (Part 4)

Aku tengah sibuk memasukkan beberapa keperluan pribadi ke dalam tas kantor,  ketika mataku menangkap bayangan perempuan yang sangat aku kenal. Saking kagetnya, aku hanya mematung menatap perempuan yang tengah berdiri di ambang pintu kamarku.

Rupanya bukan hanya aku yang kaget, melainkan perempuan itu juga. Dia mengamatiku dari atas sampai bawah dan kembali ke atas lagi seolah aku ini orang asing, bukan anak yang sudah dilahirkannya.

Kamu mau ke mana, Karin?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Aku menunduk, melihat tas hitam yang masih tergenggam erat di tangan kiriku, lalu beralih memandang Mama lagi

Mau ke kantor. Ini, kan, hari kerja, Ma.

Arka bilang kamu cuti, ngapain ke kantor?

Cuti? Aku nggak mengajukan cuti.

Itu, kan, kantor punya kamu sendiri. Gimana, sih? Mama benar. Tapi, kenapa rasanya ada yang salah?

Kok malah bengong. Nggak mau peluk Mama? nggak kangen?

Aku tertawa dan menghambur ke pelukannya.

Kangen dong. Kangen banget. Tapi, Mama kenapa tiba-tiba datang?

Makanya punya ponsel tuh jangan dianggurin. Papa sudah tulis pesan dari semalam, tapi tidak kamu baca. Bahkan, setelah kami sampai pun belum juga kamu baca, sela Papa yang aku lihat muncul dari balik punggung Mama. Aku hanya terkikik dan beralih memeluknya.

Kemarin setelah bersitegang dengan Arka, aku muntah beberapa kali karena bau kopi pekat yang dibuatnya. Akhirnya aku memilih tidur dan tidak melakukan apa pun. Arka menemaniku. Dia memijat kaki dan pundakku bergantian karena aku mengeluh lemas. Tulang dan ototku memang terasa melemah setelah aku memuntahkan semua yang kumakan dan minum. Aku sedikit mati rasa. Arka membantuku meminum obat antimual, tapi sepertinya efek obat itu tidak terlalu lama. Aku kembali muntah sampai rasanya pahit sekali. Sesi muntah itu berakhir saat aku sudah sangat lemas dan akhirnya tertidur.

Pagi ini aku merasa semuanya sudah membaik.  Aku memutuskan untuk pergi ke kantor. Masalah Bu Hendrawan harus segera diselesaikan. Aku sudah janji dengan Tante Lani.

Sebenarnya, waktu mandi tadi aku sempat muntah, tapi Arka tidak mengetahuinya. Dia tengah sibuk menyiapkan sarapan. Sebelum Mama datang, aku sempat menelan obat antimual. Semoga Mama tidak menyadari keadaanku.

Bawa oleh-oleh apa, nih? todongku

Enteng-enteng wijen, jenang Lasimun, kripik pisang Gunung Budeg, sama kerupuk rambak mentah. Mama sengaja bawa banyak buat dikasih ke Tante Lani juga besan.

Setahun yang lalu, tepatnya tiga bulan sebelum acara lamaranku dengan Arka dilangsungkan, Papa memutuskan untuk mengajak Mama dan adikku Revan pulang ke kota kelahirannya di Tulungagung. Mereka menempati rumah nenek yang sudah lama kosong.

Setelah menikah, Arka mengajakku pindah. Dia membeli rumah di Banyumanik. Rumah besar Papa di kawasan Sriwijaya akhirnya dikontrakkan. Rumah itu terlalu besar untuk aku tempati berdua saja dengan Arka.

Mama mau mengundang mereka buat makan malam. Mama duduk di pinggir tempat tidur. Tangannya mulai iseng membereskan apa saja yang dirasanya tidak rapi. Papa sendiri memilih ke luar dan sepertinya menemani Arka di dapur.

Mama kenapa tiba-tiba ke sini?

Kamu lupa atau bagaimana kasih tahu Mama tentang undangan nikahan anaknya Tante Sha? tanya Mama dengan mata menyipit.

Aku baru ingat kalau kemarin seharusnya aku datang ke pesta pernikahan anaknya Tante Sha, teman karib Mama. Undangan itu aku terima setengah bulan yang lalu, tapi karena kesibukan aku lupa memberi tahu Mama. Ditambah kabar kehamilanku yang membuat heboh semua orang semakin mengubur ingatanku tentang undangan dari Tante Sha.

Mama baru ngeh sekarang. Kamu sampai lupa kasih tahu Mama soal undangan itu pasti karena lagi usaha banget, kan?

Aku mendengkus. Kenapa ibu-ibu selalu ditakdirkan usil. Apalagi kalau menyangkut urusan anak perempuannya.

Mama ngomong apa, sih?

Kenapa? Kehamilan itu berita bahagia. Ngapain harus kamu rahasiakan? Mertuamu juga senang mendengar kabar ini.

Mama dengar dari mana? Lagian hebat banget, ya, gosip itu bisa melintasi kabupaten, provinsi, sampai dengan selamat dari Semarang ke Tulungagung.

Mama mencubit hidungku dengan tangan kanannya, sedang tangan kirinya menekan pahaku memakai telunjuk mungilnya. Kamu, ya. Mama bukan dengar dari gosip, tapi dari Arka sendiri. Waktu kamu masih di rumah sakit dan tidur setelah diberi obat, Arka nelepon Mama. Dia bahagia banget. Mama bisa tahu dari caranya menyampaikan kabar kehamilanmu. Aduh Karin … kamu kok bisa-bisanya nggak menyadari kehamilan itu. Makanya, Mama maksa Papa buat cepetan ke sini. Mama mau memastikan keadaan kamu dan calon cucu Mama.

Aku benar-benar tidak mengira kalau kehamilan ini membuat semua orang bahagia. Lalu bagaimana denganku? Bagaimana kalau mereka tahu aku belum siap? Bahkan aku dan Arka belum menemukan kesepakatan tentang apa dan bagaimana kami setelah adanya calon bayi ini. Aku masih muak dengan semua perlakuan Arka semenjak tahu aku hamil.

Ada yang mau aku sampaikan, Ma. Takut-takut aku melirik Mama yang tengah fokus memperhatikanku. Sebenarnya, kami masih syok dengan berita kehamilan ini, Ma. Kami belum siap.

Mama tertawa.

Karin, kalau Mama nggak kenal kamu, pasti sudah Mama jitak biar isi kepala kamu lurus. Tapi, Mama sangat tahu siapa anak Mama. Ini hanya karena perubahan hormon, Sayang. Mama yakin kalau semuanya sudah membaik kamu akan menikmati kehamilanmu ini. Kamu, kan, suka anak-anak.

Tapi, kan ….

Aduh, Karin. Banyak perempuan di luar sana yang pengin hamil, sudah usaha keras, tapi belum juga dikasih. Giliran kamu yang baru sebentar menikah dan sudah hamil seharusnya banyak-banyak bersyukur. Orang menikah dan akhirnya hamil itu peristiwa lumrah. Malah seharusnya memang begitu. Itu artinya kamu subur.

Tak ada yang bisa aku lakukan untuk mengubah pendapat Mama, kalau memang dia sendiri tidak ingin. Sungguh aku belum menginginkan kehamilan ini, tapi aku juga tidak tahu apa yang mesti aku lakukan. Andai Mama memahami perasaanku, mungkin aku bisa meminta sedikit saran.

Oh ya, Mama, Papa, dan Arka sudah sepakat, besok kita dan keluarga Arka bakal kumpul di sini buat makan malam. Mama sudah kangen sama mertuamu, sudah lama nggak ketemu. Pengin cerita-cerita kayak dulu lagi.

Ngapain? Mama mau ngapain ngundang Ibu ke sini? Apa-apaan, sih? Aku belum siap bertemu keluarga besar. Aku belum siap dengan pertanyaan seputar kehamilanku. Acara makan malam? Pasti topik pembicaraan hanya seputar aku dan kehamilan ini.

Apa anehnya, sih, ngundang mereka makan malam? Kita, kan, sudah jadi keluarga. Seingat Mama, kita juga sering makan malam bersama, bahkan saat kita sudah nggak lagi tetanggaan, itu sebelum kamu nikah sama Arka, kan?

Mama ngaco, ah.

Kok ngaco?

Ratu ngaco!

Waduh, kok, kamu jadi imut gini kalau lagi ngambek. Pasti nanti anakmu cewek. Bisa Mama bayangkan gimana bucinnya Arka sama anak pertamanya nanti.

Ma!

Mama sudah minta tolong Tante Lani buat pesan makanan di restoran biar Arka juga nggak repot menyiapkan semuanya. Lagian Mama malas masak di dapur kamu yang balik badan saja sudah nabrak kulkas.

Aku menyerah. Aku tak punya kelebihan energi untuk memaksa Mama membatalkan acara makan malam spesialnya. Mau tidak mau aku harus siap dengan semua pertanyaan yang semakin aku pikirkan semakin membuat kepalaku pusing.

Akhirnya aku tidak bisa ke mana-mana. Sepanjang hari ini aku lebih banyak mengurung diri di kamar. Aku tidak bisa bersandiwara seolah keadaanku baik-baik saja. Saat dapur dipenuhi dengan aroma masakan, mualku kembali datang. Itulah yang akhirnya menjadi alasan Arka tidak membiarkanku melakukan apa pun selain rebahan.

Tepat pukul tujuh malam keesokan harinya, persis seperti yang direncanakan Mama, seluruh keluarga Arka datang ke rumah. Bahkan Mas Dika yang kesehariannya di Surabaya bisa ikut datang ke acara makan malam dadakan ini. Tidak hanya itu, Sifa dan Dio, kedua adik Arka yang saat ini tengah berkuliah di Jogja pun ikut datang. Sepertinya rencana Mama memang direstui alam.

Rumah jadi sangat ramai setelah Tante Lani dan suaminya ternyata juga turut diundang. Baru saat ini aku menyadari kalau rumah ini terlalu kecil. Aku merasa sulit bergerak. Mau melangkah ke depan sudah berhadapan dengan orang lain. Berbalik ke samping, pandangan mata membentur dinding. Membalik ke belakang sudah dapur.

Sebenarnya yang membuatku sesak bukan hanya ukuran rumahku yang kecil, tapi karena aku merasa semua orang memperhatikanku. Aku tidak nyaman. Aku kesal. Rasanya ingin kembali ke kamar dan menutup seluruh tubuhku dengan selimut, tapi sejak semuanya datang Arka terus membuntutiku seolah aku bisa menghilang kalau dia lengah.

Duh, kayak lagi perayaan pengantin baru, nih. Dari tadi Arka nggak bisa ngelepas Karin yang mondar-mandir kayak bola pingpong, ujar Mas Dika yang aku rasa suaranya bisa menembus dinding dapur, padahal dia sedang berada di ruang tamu.

Tahu namaku disebut, otomatis aku menoleh. Aku pelototi Mas Dika yang justru cengengesan kayak remaja ABG yang sukses mengisengi, padahal sudah punya anak dua. Melihat ke arah Mas Dika otomatis aku melihat Arka, karena dia berdiri di sampingku agak belakang lurus dengan arah Mas Dika duduk. Digoda seperti itu Arka justru tersenyum malu-malu. Apaan, sih? Harusnya dia mengatakan sesuatu untuk membela istrinya, bukan malah diam pasrah. Sebenarnya kalau dia mau menanggapi dengan kalimat ringan yang konyol akan jauh lebih baik. Aku tidak akan merasa semakin kesal.

Karin, dari pada kesal digodain terus mending ke sini. Bantu isi gelas nggak masalah, kan? ujar Mama yang tengah menata hidangan di meja makan.

Merasa terselamatkan, segera aku menghampiri Mama. Baru juga beberapa langkah, belum benar-benar sampai di dekat Mama aku mulai mual lagi. Tidak. Jangan sekarang.

Mama masak apa, sih?

Nggak masak. Lagian kenapa? Ini menu kesukaan kamu.

Baunya nggak enak, bikin aku enek. Arka obat antimualku mana? Aku berbalik dan mendapati Arka tengah berdiri di belakangku dengan mengerutkan alis.

Udah habis, kan.

Kok nggak beli lagi?

Aku baca di google nggak boleh minum obat itu kebanyakan, Karin.

Jangan percaya google, terkadang informasi di sana itu ngawur. Aku mau kamu beli lagi.

Nggak boleh. Obat itu harus dengan resep dokter.

Jangan kaku. Memangnya kamu senang lihat aku muntah-muntah? Aku kesal sekali. Arka tidak tahu apa yang aku rasakan. Makan malam ini belum dimulai, tapi aku sudah ingin memuntahkan isi perutku. Apa dia tidak paham kalau aku tersiksa?

Duduk deh, pinta Mama sambil mengelus pundakku. Yang dikatakan Arka benar. Kebanyakan minum obat antimual bisa berdampak buruk pada kehamilanmi. Apalagi kamu sama sekali nggak mau makan. Kamu harus memaksa dirimu sendiri agar bisa makan, walau sedikit.

Entah kenapa aku merasa sangat kesal. Sekarang bukan hanya Arka, Mama juga, semuanya saja mengaturku. Aku belum menanggapi apa yang diminta Mama, Arka sudah mengulurkan segelas air putih dan tablet vitamin. Aku menerimanya dengan pasrah dan perasaan kesal.

Tuh, Rin, Arka tahu apa yang kamu butuhkan. Kalau tidak ada efek buruk kebanyakan nelan obat antimual pasti Arka kasih juga sebelum kamu minta. Arka tuh sudah paham apa yang kamu butuhkan, sela Mama di tengah aku menenggak vitamin. Aku masih sempat melihatnya mengedipkan mata. Apaan, sih?

Ya jelas dong, Mbak. Mereka kan sudah dekat dari sama-sama masih ngompol. Pasti ikatan batinnya jauh lebih kuat. Betul nggak Rin? balas Tante Lani dengan senyum jemawa.

Sebenarnya aku kesal sekali dan ingin membalas ucapan Tante Lani, tapi ada ibu Arka yang terus saja melihatku dengan senyum-senyum. Aku jadi tidak enak. Aku tidak berani bersikap seenaknya di depan perempuan yang sangat dicintai suamiku itu. Akhirnya aku hanya bisa tersenyum pasrah.

Nah sudah siap. Yuuk kita makan! seru Mama.

Tak pikir nggak jadi makan malam, Mbak. Lama banget persiapannya. Om Haris muncul diikuti para lelaki yang tadi duduk di ruang tamu. Semuanya heboh. Para ibu seolah berlomba memberi pelayanan terbaik. Aku enggan bergabung, meski Arka hendak mengambilkanku makan. Aku memilih menyingkir menuju teras dapur untuk menghirup udara banyak-banyak. Langit gelap bertabur bintang jauh lebih menenangkan dari pada bau masakan.

Bukannya Mama memintamu sedikit memaksa diri buat makan?

Aku menoleh. Arka berdiri tak jauh dariku. Sebelah tangannya mengelus punggungku.

Kamu nggak kasih aku obat antimual. Bagaimana aku bisa makan? Kalau sampai aku muntah di tengah semua orang yang tengah makan, tidak lucu, kan?

Aku beranjak. Kekesalan ini membuat tubuhku lelah dan kakiku ikut lemas. Saat sampai di kursi santai yang menghadap ke halaman belakang, aku mendaratkan tubuh begitu saja.

Karin, tubuhnya jangak dibanting-banting gitu. Di perutmu ada baby. Sekarang aku makin kesal mendengar suara Arka yang sudah mirip emak-emak militan yang suka menawar di tukang sayur.

Sejak pulang dari rumah sakit dia semakin cerewet. Aku seperti orang yang menderita penyakit parah, padahal hamil kan bukan penyakit. Memangnya dia pikir rahim itu seperti gelembung sabun yang mudah meletus?

Udah deh. Kamu jangan bikin aku makin kesal.

Ya, jangan dong. Kesal nggak baik buat kehamilan kamu. Arka tersenyum mendekat. Tangan kanannya menyentuh perutku. Nggak mau kan kalau nanti anak kita lahir jadi gampang ngambek juga?

Arka menarik tanganku. Setelah aku berdiri, dia menyampirkan tangannya di pundakku. Kami kembali masuk rumah. Semua orang yang tengah asyik dengan piring masing-masing spontan menoleh dan memerhatikan kami dengan antusias.

Gitu dong. Suami siaga jagain istri yang lagi bawa calon anaknya. Istri yang lagi hamil tuh bawaannya pengin disayang-sayang. Harus ditempel terus, jangan jauh-jauh kayak orang musuhan. Semua orang tertawa mendengar celetukan Mas Dika. Arka tertawa dan aku semakin kesal.

 

 

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

One Piece 1190: Spoiler, Cerita Terbaru, dan Perkembangan Besar Dunia Bajak Laut
Chris Hansen Kembali Jadi Sorotan, Profil Jurnalis Investigasi di Balik To Catch a Predator
The Odyssey Christopher Nolan Jadi Sorotan, Film Epik dengan Produksi Terbesar
Cara Ikut Upacara Kemerdekaan di Istana 17 Agustus 2026, Syarat dan Link Pendaftaran
Sanghyeon ALPHA DRIVE ONE Jalani Operasi Pita Suara, WAKEONE Ungkap Kondisi Terbarunya
Sinopsis Reborn Rookie, Drama Korea Fantasi dengan Plot Tak Terduga yang Bikin Penasaran
Festival Teman Tulus 2026, Jadwal, Line Up, Tiket, dan Fakta Konser Musik
Miss Supranational 2026 Jadi Sorotan, Ini Jadwal, Peserta, dan Fakta Kontes Kecantikan Dunia

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Jumat, 7 Agustus 2026 - 13:09 WIB

One Piece 1190: Spoiler, Cerita Terbaru, dan Perkembangan Besar Dunia Bajak Laut

Jumat, 7 Agustus 2026 - 11:23 WIB

Chris Hansen Kembali Jadi Sorotan, Profil Jurnalis Investigasi di Balik To Catch a Predator

Jumat, 7 Agustus 2026 - 09:37 WIB

The Odyssey Christopher Nolan Jadi Sorotan, Film Epik dengan Produksi Terbesar

Kamis, 6 Agustus 2026 - 15:19 WIB

Cara Ikut Upacara Kemerdekaan di Istana 17 Agustus 2026, Syarat dan Link Pendaftaran

Selasa, 4 Agustus 2026 - 15:20 WIB

Sanghyeon ALPHA DRIVE ONE Jalani Operasi Pita Suara, WAKEONE Ungkap Kondisi Terbarunya

Berita Terbaru