Novel : Bertahan di Atas Luka Part 26

- Penulis

Selasa, 5 November 2024 - 20:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel : Bertahan di Atas Luka Part 26

Novel : Bertahan di Atas Luka Part 26 : Amira Dzakiya

Aku nggak tahu, Mas. Menurut kamu gimana? Aku sengaja memancingnya.

Mas Bayu tidak menjawab.  Ia memandangku lekat. Wajahnya seperti ragu ingin mengatakan sesuatu.

Setelah terdiam cukup lama, akhirnya ia bersuara. Kamu masih mau di sini? Masih kangen sama Ibu dan si kembar? Atau kamu takut kalau nanti kita bertengkar lagi? tanyanya hati-hati.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Boleh? tanyaku sambil menahan senyum.

Kalau aku larang, nanti kamu marah lagi.  Kalau emang masih mau di sini, nggak apa. Aku bisa pulang duluan, nanti kamu nyusul …. Tiba-tiba ia berhenti, lalu mengalihkan pandangan ke arah lain, kamu masih mau kan pulang ke Riyadh?

Aku tak langsung menjawab. Kuraih piring berisi somay dan menyuap makanan dari ikan tenggiri itu.  Rasa kenyal daging ikan yang nikmat dan sambal kacang pedas melebur dalam mulutku.

Ya sudah, aku nyusul, ya, pulangnya? Aku masih mau jalan-jalan sama adik-adik dan ngobrol-ngobrol sama Marisa. Oya, kita belum ke rumah Marisa untuk lebaran, Mas. Aku meraih gelas air putih dan meneguknya. Mumpung kamu masih di sini, kita ke sana, yuk? Besok?

Mas Bayu mengiyakan. Kami menghabiskan sisa somay sambil menikmati senja yang semakin temaram. Tak ada yang berbicara, hanya keheningan yang menemani.  Aku teringat harus menelepon Marisa untuk mengabari kalau kami akan berkunjung besok. Setelah saling mengucapkan selamat Idulfitri, aku memberitahu Marisa tentang niat kami. Syukurlah ia tidak ada rencana pergi.

Esok harinya, kami tiba di rumah Marisa menjelang siang. Rumah Marisa yang terletak di pinggir kota Jakarta, terlihat sangat nyaman.  Bagian depan dilindungi oleh pagar tinggi berwarna hitam yang sangat kokoh. Bangunan abu-abu bertingkat dua dengan teras luas dan dilengkapi beberapa sofa serta meja kaca, bisa digunakan untuk menerima tamu. Bunga beraneka warna menghiasi taman yang dirawat dengan baik.

Marisa dan Arga menyambut kami dengan hangat. Meskipun tahu cerita hubunganku dan Mas Bayu yang sedang tidak baik-baik saja, Marisa tetap ramah menyapa suamiku. Kami berbincang di ruang tamu yang sejuk dan tak kalah estetik dengan teras di depan rumah. Sofa besar dan halus ditata dengan apik, dilengkapi meja kaca mewah.  Berbagai toples kaca berisi kue-kue lebaran tertata rapi di sana. Di dinding abu-abu muda, tergantung foto keluarga Arga, Marisa, dan kedua putra mereka. Aku harus mengakui, Marisa dan Arga memiliki selera yang tinggi soal penataan rumah.

Karena sudah tiba saat makan siang, tuan rumah lalu mengajak kami untuk menikmati hidangan yang Marisa siapkan.

Kamu mau nasi merah atau ketupat, Sayang? tanya Marisa sambil menatap Arga mesra.

Kali ini boleh ya, aku bandel? Ketupat aja, mumpung lebaran, jawab Arga penuh harap.

Marisa pura-pura mendelik, tapi tetap mengambilkan ketupat untuk suaminya.

Makasih, Sayang.  Janji deh, abis ini aku jogging supaya gulanya keluar lagi. Arga menerima piring berisi ketupat dan dengan semangat melengkapinya dengan berbagai lauk pauk.

Aku melirik Mas Bayu yang pura-pura sibuk mengambil makanan.

Aku emang jaga banget pola makan Arga sejak dia kena diabetes dua tahun lalu.  Diet ketat, deh! Marisa menjelaskan perihal sakitnya Arga.

Iya. Perawat kalah galak, Mir. Daripada ngomel sepanjang hari, mending nurut aja deh! Arga terkekeh.

Semuanya kan untuk kebaikan, Ga! Gue nggak mau jadi janda muda kalau kamu meninggal gara-gara diabetes. Marisa tergelak, membuatku dan Mas Bayu ikut tertawa.

Sungguh romantis hubungan sahabatku itu.

Sambil makan, Mas Bayu dan Arga asyik berbincang tentang pekerjaan masing-masing. Aku lebih banyak mendengarkan. Setelah selesai, kami kembali ke ruang tamu, menikmati hidangan kue-kue lebaran. Marisa lalu mengajakku ke ruang keluarga.

Gimana hubungan lo sama Bayu? tanyanya sambil merebahkan tubuh di sofa besar.

Aku mengangkat bahu.

Ya nggak gimana-gimana, Sa, tapi kita udah ngobrol sedikit, jawabku singkat.

Alhamdulillah.  Jadi lo berubah pikiran?

Belum tahu. Gue masih ragu, apa laki gue beneran udah berubah atau hanya karena gue ngancam mau pisah, ujarku pelan.

Lo nggak boleh gitu, Mir! Siapa tahu emang Bayu udah berubah beneran.  Dia kan cinta banget sama lo. Kenapa sih nggak kasih dia kesempatan?

Aku tak menjawab.  Marisa tidak bisa merasakan semua rasa kecewaku selama bertahun-tahun.  Dia beruntung mendapatkan suami yang sangat perhatian.  Arga tipe suami yang mengerti istri. Satu hal lagi, mereka sudah dikaruniai dua orang anak. Sungguh, aku iri melihat hidup sahabatku itu. Meskipun sama-sama bekerja, mereka selalu menyempatkan diri untuk berkumpul saat liburan.

Mir! Suara Marisa menyadarkanku.

Aku membetulkan jilbab coklat mudaku, Eh, apa, Sa?

Kenapa lo nggak ngasih kesempatan Bayu buat buktiin kalau dia benar-benar berubah? Nothing to lose, Neng! Kalau nanti ternyata dia kembali ke Bayu yang dulu, nah lo bisa beneran minta pisah.  Lo juga nggak boleh terlalu sensitif, Mir. Pikiran kita perempuan, beda sama laki-laki, tutur Marisa panjang lebar.

Ngomong emang gampang, Bu! Lo nggak ngalamin soalnya. Hidup lo tuh sempurna. Arga suami yang sangat perhatian dan ngertiin lo banget, cetusku.

Siapa bilang? Lo kan nggak tahu apa yang terjadi sama rumah tangga gue?

Maksud lo?

Gue udah ngelewatin fase yang elo alamin sekarang”

Serius, Sa? Kok lo nggak cerita sama gue? potongku dengan kening berkerut.

Kayaknya rata-rata pasangan suami istri pernah ngalamin yang namanya nggak cocok, ngerasa nggak dihargai, ngerasa menderita sendiri ¦, tapi mereka berhasil ngelaluin semuanya.

Terus cara lo bertahan gimana? Aku menatap perempuan berwajah timur tengah itu.

Ya ngomong.  Berusaha untuk saling terbuka dan mengalah. Kan masalahnya bukan karena orang ketiga, jadi lebih enak ngomonginnya.

Siapa bilang? Buktinya gue udah berusaha berkali-kali ngajak Mas Bayu ngobrol, tapi nggak ada hasil. Dia masih aja nggak mau terbuka. Aku menunduk lesu.

Lo nggak boleh putus asa. Coba lagi. Buktinya dia udah sedikit ngalah, kan?

Iya sih, tapi masih jauh dari harapan, Sa, ujarku.

Nggak apa, namanya udah bertahun-tahun, butuh waktu, Mir. Makanya gue bilang, lo nggak boleh putus asa.

Aku mengangguk.

Lo nggak pernah cerita kalau pernah ada masalah sama Arga. Kenapa, Sa? Aku kembali bertanya. Rasanya tak percaya kalau pasangan romantis seperti Arga dan Marisa pernah mengalami masalah besar.

Mirip sama kasus lo, tapi kalau gue lebih ke sikap Arga yang urakan dan sedikit kasar. Kalau nggak suka sesuatu, dia nggak segan-segan teriak marahin gue. Waktu pertama ngalamin, gue kaget dan balas teriak, sampai rumah berasa kayak di hutan, tutur Marisa menceritakan awal pernikahannya.

Tapi lama-lama gue capek. Akhirnya kalau Arga ngamuk, gue diemin aja. Gue nggak jawab, nggak ngomong apa-apa. Sakit banget rasanya. Gimana nggak, seumur-umur mana pernah gue dibentak-bentak kayak gitu. Keluarga gue meski suaranya kencang kayak orang marah, tapi nggak pernah marah-marah nggak jelas.

Aku terperangah.

Terus?

Lama-lama Arga sadar karena misi diam gue bisa berhari-hari.  Dia bingung, mau apa-apa harus sendiri. Akhirnya dia minta maaf, dan janji akan memperbaiki diri.

Segampang itu? tanyaku takjub.

Nggaklah ¦, butuh bertahun-tahun, Mir. Nggak gampang mengubah sifat yang udah jadi bawaan kayak gitu, tapi yang penting ada kemauan, niat untuk berubah.

Aku terpaku mendengar cerita Marisa.  Seandainya saja Mas Bayu tulus ingin berubah, apakah aku harus memberinya kesempatan kedua? Pertanyaan itu kembali menggodaku.  Namun, cepat kutepis. Aku tidak mau berandai-andai untuk masalah pernikahan.

Saat aku dan Marisa asyik ngobrol, tiba-tiba Arga masuk dan memberi tahu kalau ada tamu yang ingin ketemu aku dan Marisa.

Aku terkejut dan memandang suami Marisa itu dengan penuh tanda tanya. Arga mengajak kami ke ruang tamu. Siapa gerangan tamunya? Rasanya aku nggak ada janji sama siapa pun. Walaupun merasa heran, aku tetap mengikuti Arga dan terpaku saat tahu siapa orang yang dimaksud. Lelaki bertubuh tegap yang sedang berbincang dengan suamiku itu menoleh saat mendengar kami datang.

-bersambung-

Baca bab berikutnya :

Novel : Bertahan di Atas Luka Part 27

Follow Sosial Media Redaksiku : FacebookInstagramTiktokXYoutubePinterest

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru

Foto:Kantor Dinas Kesehatan Kota Parepare. BPK dalam LHP atas LKPD Pemerintah Kota Parepare Tahun Anggaran 2025 menyoroti pembayaran tagihan listrik

Viral

BPK Ungkap Temuan Perjadin Dinkes Parepare, Ada Apa?

Jumat, 7 Agu 2026 - 15:20 WIB