Solidaritas dan Pesan Moral
Lebih jauh, Igun menyampaikan bahwa aksi ini bukan hanya soal ekonomi dan tarif, melainkan juga soal martabat. Para pengemudi ojol ingin menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar pekerja sektor informal yang bisa diperlakukan seenaknya, tetapi bagian dari sistem transportasi nasional yang layak mendapatkan pengakuan.
Solidaritas itu penting. Dengan mematikan aplikasi bersama-sama, kami ingin sampaikan pesan: tanpa driver, aplikasi tidak bisa jalan. Ini bukan sekadar bisnis aplikasi, ini soal kehidupan jutaan orang, kata Igun menegaskan.
Publik Diminta Bijak
Garda Indonesia juga meminta masyarakat untuk memahami perjuangan para pengemudi ojol. Mereka sadar bahwa aksi ini akan membawa ketidaknyamanan bagi warga Jakarta, terutama yang terbiasa menggunakan transportasi online. Namun, Igun berharap masyarakat bisa bersikap bijak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kami minta maaf kalau ada yang terganggu. Tapi mohon dipahami, ini demi kebaikan bersama. Kalau ada regulasi yang jelas, maka pelayanan juga akan lebih baik. Jadi, ini bukan hanya untuk driver, tapi juga untuk konsumen, ujarnya.
Penutup: Jalan Panjang Perjuangan Ojol
Hingga berita ini ditulis, pihak kepolisian dan DPR RI belum memberikan tanggapan resmi terkait rencana aksi ini. Namun, jelas bahwa suara pengemudi ojol semakin nyaring terdengar. Mereka menuntut kepastian, perlindungan hukum, serta pengakuan atas kontribusi besar mereka dalam sistem transportasi modern di Indonesia.
Aksi besar di Jakarta pada 17 September 2025 akan menjadi ujian, baik bagi pemerintah maupun DPR, untuk membuktikan sejauh mana mereka peduli pada kesejahteraan jutaan pekerja transportasi online. Jika tuntutan diabaikan, bukan tidak mungkin aksi serupa akan terus berulang dengan skala yang semakin besar.
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai Sumber
Halaman : 1 2






