Novel : Room for Two Bab 21: Kejutan yang Menyakitkan

- Penulis

Minggu, 17 November 2024 - 08:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Room for Two Bab 21 Karya Bumban Dafnah

Room for Two Bab 21 Karya Bumban Dafnah

Novel : Room for Two Bab 21: Kejutan yang Menyakitkan

Room for Two Bab 21 Karya Bumban Dafnah
Room for Two Bab 21 Karya Bumban Dafnah

Hari itu bapakku pulang sambil marah-marah. Reivan melanjutkan ceritanya tanpa kuminta. Aku memilih bungkam seribu bahasa. Dia kesal karena uang setorannya kurang, padahal katanya dia harus bayar utang, sedangkan uang yang ada di Mama sudah terpakai semua untuk beli obat Resti.

Reivan kembali menghela napas. Kali itu ia tidak lagi memakan makanan pesanannya. Kentang yang ada di jepitan jari-jarinya pun hanya dijadikan tongkat pengaduk saus tomat.

Aku ada di sana pas kejadian. Aku berusaha ngelindungin Mama dan Resti. Tapi Bapak itu memang keterlaluan. Dipukulnya Mama sampai berdarah-darah. Reivan tercekat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Reivan, kalau kamu enggak mau, kita enggak usah bahas ini. Yang penting aku udah tahu arti tato itu.

Akan tetapi, Reivan menggeleng sambil berusaha menyunggingkan senyum. Aku yang mau cerita. Kamu dengar aja. Ia menghela napas sesaat. Jadi, waktu itu aku berusaha bikin Bapak berhenti mukulin Mama. Aku keingetan minyak tanah yang ada di jerigenkami masih pakai kompor minyak waktu itu. Dalam pikiranku, Mama enggak boleh lagi menderita karena Bapak. 

Aku lari ke dapur ambil jerigen minyak tanah itu, terus aku siram ke arah Bapak. Si jerigen malah jatuh,  tumpah ¦. Maaf.

Tangan Reivan bergetar ketika hendak mengambil botol air mineral. Tidak hanya itu, ia juga tampak kesulitan memutar tutup botolnya. Aku segera mengambil botol itu dan kuserahkan kepadanya setelah terbuka sempurna.

Kita enggak usah terusin bahasan ini, ya?

Reivan menenggak air minumnya tanpa jeda, menyisakan sekitar satu atau dua tegukan lagi di botolnya. Ia menatapku dengan matanya yang memerah, tampak terluka dan pasrah. Aku langsung menggenggam tangan Reivan, berharap itu bisa memberinya kekuatan dan kesembuhan dari luka apa pun yang ia rasakan.

Minyaknya tumpah ke Resti. Bapak buru-buru mau ambil Resti, tapi rokok yang dia jepit di jarinya lepas dan langsung menyulut api ¦. Mama berusaha ambil Resti, tapi Mama juga ¦ Mama juga kebakar. Lalu Bapak nyuruh aku cari bantuan.

Aku terkesiap. Cerita yang kudengar dari mulut Bu Nawang dan Reivan ternyata berbeda 180 derajat. 

Jadi ¦?

Karena sikap kasar Bapak, orang-orang nyangka kebakaran itu perbuatan dia. Bahkan setelah semua itu Bapak enggak berusaha menceritakan yang sebenarnya, dia cuma ¦ dia terima semuanya gitu aja. 

Akhirnya Reivan menangis di depanku. Tangisan tanpa suara yang paling menyakitkan yang pernah kudengar.

Sejak kejadian itu aku cuma pengin mati, tapi terakhir kali aku ketemu Bapak, dia bilang aku harus bertahan hidup supaya bisa memperbaiki masa depan keluarga kami yang dia hancurkan. Sejak hari itu sampai hari ini, aku enggak berani nemuin Bapak lagi. Aku ¦ enggak punya muka. Aku terlalu pengecut untuk mengakui perbuatanku.

Mungkin itulah sebabnya mengapa Reivan begitu murka ketika aku bilang kelakuannya mirip dengan ayahnya. Maka pantas saja jika ia terluka. Maka pantas juga jika ia melemparkan tamparan ke pipiku. Setelah mendengar ceritanya, kurasa aku tidak layak hanya dapat satu pukulan, mungkin seharusnya dua atau tiga ¦ mungkin harusnya lebih karena aku telah sengaja mengorek lukanya yang paling dalam.

Maaf lagi, ucap Reivan seperti tidak enak hati sendiri. Ia cepat-cepat menyeka sudut matanya kemudian menghirup udara sebanyak-banyaknya. Gara-gara ceritaku makan malamnya jadi sendu. Makananmu juga sampai enggak habis.

Oh, enggak,aku buru-buru meralataku memang udah kenyang.

Mana ada kamu kenyang? Bentuk nasinya masih bulet, ayamnya juga belum kemakan banyak.

Aku tiba-tiba kepingin makan yang lain.

Apa?

Tiba-tiba saja kubilang, Gelato! Kata itu terucap bahkan sebelum aku sempat memikirkannya.

Menuruti kemauanku, Reivan langsung membawaku ke sebuah kafe es krim dan gelato di bilangan Ciumbuleuit. Reivan bilang, kafe gelato di sana rasanya enak, tempat makannya juga nyaman. Karena aku belum pernah mengunjungi kedai itu, kuiyakan saja apa katanya.

Kamu sering ke sini, ya? Sama Rayna?

Reivan menggeleng. Yang pertama sama Ibu. Ini yang kedua.

Aku menggigit bibir kuat-kuat, menahan dorongan untuk meneriakkan kegembiraan karena menjadi salah satu orang spesial yang pernah dibawa Reivan ke kafe es krim dan gelato itu. Rasanya menyenangkan karena mendapat perlakuan istimewa semacam itu dari suamiku sendiri.

Begitu tiba di dalam kafe, Reivan tanpa ragu membuka freezer es krim dan melihat-lihat beberapa jenis gelato yang dimasukkan ke wadah kaca, sesuai konsep gelato packed jar yang diusung kafe itu. Kamu suka yang manis atau yang asam? tanyanya. 

Mendengar kata asam membuat produksi liurku melimpah ruah. Ada daya tarik yang tidak biasa dari kata itu yang memancing gairah dari lidahku.

Kalau suka yang asam kamu bisa cobain strawberry yoghurt

Aku mau itu!

Reivan terlihat terkejut, mungkin karena aku memotong kalimatnya tanpa permisi. Oke.

Tapi kayaknya yang klapertaart juga enak, ya? Salted caramel, pistachio ¦.

Kayak ngidam.

Kata-kata Reivan itu sebetulnya biasa saja, tetapi hatiku terluka mendengarnya. Aku merasa Reivan menuduhku mengalami sesuatu yang memang benar kualami, tapi sedang ingin kusembunyikan darinya dan tidak ingin kubahas dengan dirinya.

Kenapa harus bilang gitu, sih? Memangnya cuma orang ngidam yang boleh makan banyak? Kalau enggak boleh ya udah, enggak usah aja.

Aku enggak bilang enggak boleh. Mau semuanya juga boleh, asal dimakan.

Ck!

Aku bermaksud pergi meninggalkan Reivan yang masih sibuk memilih gelato, tetapi Reivan lebih dulu merentangkan lengan dan mengadang langkahku. Ia lalu merengkuh bahuku dan membawaku kembali ke sisinya.

Coba jangan ngambekan, ya. Aku beli yang kamu mau, kita makan bareng-bareng.

Lima gelatoseakan-akan aku sanggup menandaskannya sendiriankemudian dibawa Reivan ke meja makan yang kami pilih. Kucicipi satu per satu, walau enak tetapi aku tidak memiliki kemampuan untuk menghabiskannya.

Aku kenyang. Kamu yang abisin, titahku kepada Reivan. Iya, iya, kamu enggak makan malam, tapi nyemil beberapa sendok gelato enggak akan bikin badanmu melar, kan?

Beberapa sendok dari lima jar? Berapa sendok tepatnya?

Masing-masing lima.

Dua.

Tiga, deh!

Oke.

Kurebut sendok kayu dari tangan Reivan sebelum ia sempat mencolek isi gelato dari tiap jar yang kami pesan. Kukeruk dalam-dalam masing-masing gelato itu lalu kupaksa Reivan membuka mulut dan menelannya.

Enggak! Reivan tertawa lepas. Itu sendokannya enggak manusiawi.

Ayo makan! Makan ¦! Apakah suaraku yang mendayu-dayu itu akan terdengar terlalu manja di telinga Reivan?

Reivan memalingkan wajahnya. Enggak

Makan ¦. Aku berdiri kemudian kudatangi Reivan di tempat duduknya. Kupegang dagunya kuat-kuat. Ayo, buka mulutnya!

Reivan kembali berusaha mengelak, tetapi berkat upaya paksa yang kulakukan, ia menyerah juga. Aku tertawa geli ketika melihat Reivan mengibas-ngibaskan tangan begitu sesendok besar gelato dingin masuk ke mulutnya. Sebagai balasan, Reivan memaksaku menerima hal yang sama seperti yang kulakukan kepadanya. Aku mengelak dan tergelak ketika melihat segumpal gelato yang basah dan lengket jatuh mengotori celana Reivan.

Malam itu, keberadaan Reivan di dekatku bagai angin berembus yang mendatangkan kesejukan di tengah terik sinar matahari. Bersamanya, aku bisa melupakan hal-hal lain yang tidak ingin kupikirkan, yang terlalu takut untuk kucemaskan, dan terlalu mengerikan untuk menjadi kenyataan. 

***

 

Jam sepuluh malam lebih sedikit, kami akhirnya berkendara pulang. Dalam perjalanan kali itu, aku lebih banyak diam dibandingkan bicara. Pikiranku sibuk berkelana ke masa kecil Reivan yangaku yakin betulpenuh trauma. Kubayangkan, pasti tidak mudah bagi Reivan untuk bertahan hidup sembari belajar berdamai dengan rasa bersalahnya.

Maaf, ya.

Reivan sekilas mengalihkan pandangannya dari jalanan. Untuk apa?

Untuk asumi-asumsiku tentang dirimu. Untuk tuduhanku yang tidak bisa dibuktikan. Untuk perbuatanku yang tidak akan pernah bisa kaumaafkan. 

Akan tetapi, aku tidak benar-benar mengatakan itu semua. Alih-alih menyuarakan penyesalanku, aku malah berkata, Untuk semuanya, apa pun, yang bikin kamu marah dan sakit hati sama aku.

Kalau enggak salah, kamu pernah bilang soal papamu yang bahas, kalau minta maaf itu

Enggak-enggak-enggak. Jangan ungkit lagi soal itu.

Enggak adil. Waktu itu saya harus minta maaf

Pertama, jangan saya lagi. Pakai aku, Reivan, aku! Kedua, aku cuma minta maaf, titik, enggak usah disambung-sambungin ke masa lalu. Ketiga, aku enggak mau bahas ini.

Reivan tertawa kecil sembari membelokkan setir mobil memasuki jalan besar menuju rumahnya. 

Sudah saya maafin.

Saya lagi!

Menimpali keluhanku, Reivan hanya menggaruk-garuk kepalanya.

Ketika ia menghentikan mobilnya di depan gerbang, menunggu Bu Lia membukakan pintu masuk menuju garasi, aku cepat-cepat menarik Reivan ke pelukan. Kuhidu sisa aroma parfum yang masih melekat pada kulit dan pakaiannya kala kurekatkan tubuhku ke tubuhnya.

Terima kasih untuk malam ini, bisikku di samping telinga Reivan. Aku seneng kita bisa ketawa-ketawa kayak tadi.

Karena Reivan tidak menjawab, juga tidak kurasakan ada gerakan tangannya di punggungku, akhirnya kulepaskan pelukanku darinya. Ketika wajahnya berada dalam pandanganku, ternyata Reivan tengah menatapku lekat lewat kedua bola matanya yang tajam, membuat bayangan wajahku terpantul dari sana. Kira-kira, keributan apakah yang tengah terjadi dalam benaknya? Adakah Reivan tengah bertanya-tanya, mengapa hari itu aku berulang kali memeluknya?

Maaf, aku tahu seharusnya kita enggak boleh pelukan

Yang terjadi berikutnya di luar perkiraanku. Tanpa aba-aba, Reivan memiringkan kepalanya kemudian menempelkan bibirnya ke bibirku. Hanya sebentar, mungkin tidak lebih dari setarikan napasku, tetapi satu kecupan singkat yang terjadi tiba-tiba itu telah menjelma sebagai tangan malaikat pencabut nyawa yang menarik ruhku kemudian mengembalikannya, bahkan sebelum aku sadar bahwa aku sempat mati bersamaan dengan perlakuan Reivan tadi.

Sekarang impas. Aku minta maaf juga karena udah lancang cium kamu.

Aku tidak habis berlari, tetapi jantungku berdetak tak terkendali. Dan sebelum aku sempat berpikir dua kali, kutarik kerah kemeja Reivan dan kuarahkan bibirnya agar bertemu bibirku kembali. 

Akan tetapi, gemuruh gerbang yang membuka mengusir kegilaanku yang nyaris hilang kendali. Aku buru-buru duduk tegak sembari mengatur napas dan mengumpulkan kewarasanku  sendiri. Sementara itu, di sebelahku, Reivan menyetir dengan gerakan tangan yang teramat kaku.

Aku langsung keluar dari mobil Reivan begitu mobilnya selesai diparkirkan. Cepat-cepat kulangkahkan kaki memasuki ruang keluarga.

Ibu pasti udah tidur, ya? 

Belum, Neng, jawab Bu Lia yang berusaha menyamai kecepatan langkahku. Anu, Neng

Nanti, Bu.

Kepulanganku langsung disambut pelukan erat Bu Nawang. Tidak hanya itu, ia juga menghujaniku dengan ciuman bertubi-tubi.

Selamat, ya, katanya dengan mimik wajah ceria, sekaan-akan ia baru saja memenangkan lotere bernilai puluhan juta. Matanya berbinar-binar, diwarnai dengan sukacita yang tak kuketahui untuk alasan apa.

Selamat kenapa, Bu?

Bu Nawang hanya mengulum senyum. 

Selamat, ya, Reivan, kata Bu Nawang lagi. 

Ucapannya ditimpali pertanyaan serupa dari Reivan. Kami berdua sepertinya dilanda kebingungan yang sama.

Kalian itu ¦ pasti kalian sengaja, ya, mau bikin kejutan buat Ibu? Pantas Hana kelihatan pucat, lemas, sama mual-mual terus ¦ ternyata istrimu itu hamil, Reivan!

Keheningan seketika mencekikku. Aku tidak sanggup menimpali ucapan ibu mertuaku itu. 

Kok, kalian diem aja, sih? Aduh, Hana, kamu belum kasih kabar ini ke Reivan, ya? Ya ampun! Ibu enggak ngerusak rencana kamu, kan, Nak?

Saat itu juga, ribuan lebah seakan-akan menancapkan sengatnya secara bersamaan ke kepalaku. Kepalaku langsung berdenyut-denyut sementara pandanganku berpindah-pindah, ke wajah Bu Nawang yang memancarkan kebahagiaan, ke muka Bu Lia yang menyiratkan kecemasan, lalu ke paras Reivan yang menunjukkan kemurkaan. 

Oh, Tuhan ¦ jika aku diizinkan bunuh diri, aku akan menggunakan sorot mata Reivan yang tersakiti itu sebagai senjata untuk menggapai kematianku sendiri. Kemudian aku akan memohon kepada-mu, Tuhan, tolong, di kehidupan yang mana pun, matikan aku sebelum sempat terlahir kembali. [] 

Follow Sosial Media Redaksiku : FacebookInstagramTiktokXYoutubePinterest

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas
Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]
Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue
Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024
Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )
Novel Senja Membawamu Kembali (Part 31)
Novel Hitam Putih Pernikahan (Bab 16)
Novel : Hitam Putih Pernikahan (Bab 15)

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Selasa, 16 Desember 2025 - 11:41 WIB

Daftar Klasemen Sementara SEA Games 2025 per Hari Ini, 16 Desember 2025, Persaingan Medali Kian Memanas

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 18:44 WIB

Baca Novel : Suamiku, Tentara Dingin! [TAMAT]

Minggu, 3 Agustus 2025 - 16:11 WIB

Novel : Choose Happiness (Part 26) Ada kabar nih dari Blue

Selasa, 4 Februari 2025 - 17:40 WIB

Ini Dia Juara Pandora IWZ x Redaksiku.com 2024

Senin, 20 Januari 2025 - 10:32 WIB

Novel Senja Membawamu Kembali ( Part 13 )

Berita Terbaru

Meriah! Konvoi Merah Putih di Barru, Kapolres Kawal Langsung

Internasional

Meriahkan HUT RI, Kapolres Barru Kawal Konvoi Merah Putih

Minggu, 16 Agu 2026 - 10:40 WIB

Penyebab Anak Sulit Konsentrasi Saat Belajar

Pendidikan

5 Penyebab Anak Sulit Konsentrasi Saat Belajar

Sabtu, 15 Agu 2026 - 12:50 WIB

Siapa Maya Boyd? Bintang Broadway yang Kini Jadi Sorotan

Hiburan

Siapa Maya Boyd? Bintang Broadway yang Kini Jadi Sorotan

Sabtu, 15 Agu 2026 - 12:34 WIB