Redaksiku.com – Video asusila remaja kembali menjadi sorotan publik setelah sebuah rekaman yang memperlihatkan sepasang remaja melakukan tindakan tidak senonoh di kawasan Teras Cihampelas, Kota Bandung, viral di media sosial.
Kejadian yang terekam kamera pengunjung tersebut menyebar cepat dan memicu reaksi keras dari warganet, terutama karena lokasi kejadian merupakan ruang publik yang seharusnya aman dan nyaman bagi masyarakat.
Peristiwa ini terjadi pada Kamis (18/12/2025) dan langsung menuai kecaman luas. Banyak pihak menilai bahwa tindakan tersebut tidak hanya melanggar norma kesusilaan, tetapi juga mencederai fungsi ruang publik sebagai tempat interaksi sosial yang sehat dan ramah keluarga.
Video asusila remaja tersebut memperlihatkan pasangan muda yang diduga tengah dimabuk asmara, tanpa mengindahkan lingkungan sekitar dan potensi dampak sosial dari perbuatannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Detik-detik Video Asusila Remaja Tersebar Luas
Dalam video yang beredar, tampak pasangan remaja berada di salah satu area Teras Cihampelas. Situasi awal terlihat biasa, namun kemudian berujung pada tindakan yang dinilai tidak pantas dilakukan di ruang terbuka.
Perekam video yang merasa terganggu sempat menegur pasangan tersebut. Tak lama setelah ditegur, keduanya terlihat panik dan langsung meninggalkan lokasi dengan turun ke bawah area Teras Cihampelas.
Meski kejadian berlangsung singkat, dampaknya sangat besar. Video tersebut terlanjur tersebar dan menjadi bahan perbincangan hangat di berbagai platform media sosial.
Banyak warganet mengaku kecewa dan prihatin, sekaligus mempertanyakan efektivitas pengawasan di kawasan wisata publik tersebut.
Reaksi Netizen Antara Marah, Prihatin, dan Khawatir
Viralnya video asusila remaja ini memicu gelombang reaksi dari masyarakat digital. Sebagian besar warganet mengecam keras perilaku pasangan remaja tersebut.
Mereka menilai bahwa tindakan asusila di ruang publik menunjukkan lemahnya kesadaran etika dan norma sosial di kalangan sebagian remaja.
Namun, tidak sedikit pula yang mengajak publik untuk melihat persoalan ini secara lebih luas. Beberapa netizen menilai bahwa kejadian tersebut bukan semata-mata kesalahan individu, melainkan juga menjadi alarm bagi orang tua, pendidik, dan pemerintah daerah untuk memperkuat edukasi moral, pengawasan, serta pengelolaan ruang publik.
Nada komentar pun beragam, mulai dari kemarahan, kekecewaan, hingga kekhawatiran bahwa kejadian serupa dapat terulang jika tidak ada langkah tegas dan berkelanjutan. Intinya satu: masyarakat meminta pengawasan diperketat agar Teras Cihampelas tidak disalahgunakan untuk aktivitas negatif.
Satpol PP Kota Bandung Buka Suara
Menanggapi viralnya video asusila remaja tersebut, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bandung, Bambang Sukardi, memberikan penjelasan kepada media.
Ia menegaskan bahwa pihaknya selama ini telah melakukan pengamanan dan pengawasan secara maksimal di kawasan Teras Cihampelas.
Menurut Bambang, petugas Satpol PP telah diplot di beberapa titik strategis, termasuk sembilan pintu masuk menuju Teras Cihampelas.
Namun, pengawasan dilakukan secara mobile dan tidak memungkinkan setiap pintu dijaga secara permanen sepanjang waktu.
Ia juga mengakui bahwa praktik kucing-kucingan kerap terjadi. Artinya, meski petugas rutin berkeliling, masih ada saja pengunjung yang memanfaatkan celah pengawasan untuk melakukan tindakan yang tidak semestinya. Fenomena ini, menurutnya, menjadi tantangan tersendiri dalam pengelolaan ruang publik terbuka.
Teras Cihampelas Bukan Ruang Bebas Tanpa Aturan
Satpol PP menegaskan bahwa Teras Cihampelas bukanlah tempat untuk melakukan tindakan asusila, konsumsi minuman keras, atau aktivitas negatif lainnya. Oleh karena itu, pemerintah daerah telah menetapkan aturan penutupan akses masuk ke kawasan tersebut pada pukul 22.00 WIB.
Kebijakan ini diambil sebagai langkah preventif untuk meminimalkan potensi penyalahgunaan ruang publik, terutama pada malam hari. Meski demikian, kejadian viral ini menunjukkan bahwa kebijakan teknis saja tidak cukup tanpa dukungan kesadaran kolektif dari masyarakat.
Persoalan Lebih Dalam Remaja, Ruang Publik, dan Kontrol Sosial
Kasus video asusila remaja di Teras Cihampelas membuka diskusi yang lebih luas tentang relasi remaja dengan ruang publik.
Di satu sisi, ruang publik dibutuhkan sebagai tempat berekspresi, bersosialisasi, dan melepas penat. Namun di sisi lain, tanpa kontrol diri dan nilai etika, ruang tersebut bisa disalahgunakan.
Para pengamat sosial menilai bahwa era digital turut memperbesar dampak dari setiap pelanggaran norma. Satu kejadian singkat dapat direkam, disebarkan, dan dikonsumsi jutaan orang dalam waktu singkat.
Konsekuensinya tidak hanya dirasakan oleh pelaku, tetapi juga mencoreng citra ruang publik dan kota secara keseluruhan.
Tuntutan Pengawasan Diperketat dan Edukasi Diperluas
Desakan netizen agar pengawasan diperketat bukan tanpa alasan. Masyarakat berharap ada langkah nyata, mulai dari penambahan petugas, pemasangan kamera pengawas, hingga patroli yang lebih intensif di jam-jam rawan.
Namun, pengawasan fisik perlu diimbangi dengan pendekatan edukatif. Pendidikan karakter, literasi digital, serta penguatan peran keluarga menjadi kunci agar remaja memiliki kesadaran batas antara ruang privat dan ruang publik. Tanpa itu, pengawasan seketat apa pun berpotensi hanya menjadi solusi jangka pendek.
Ikuti berita terkini dari Redaksiku di Google News atau Whatsapp Channels






