Redaksiku.com – Nama Sabrina Alatas yang akrab disapa Sasha tengah menjadi sorotan publik dalam beberapa pekan terakhir.
Perbincangan tentang dirinya muncul setelah dikaitkan dengan isu keretakan rumah tangga pasangan selebritas Hamish Daud dan Raisa Andriana, dua figur publik papan atas yang dikenal sebagai pasangan harmonis di industri hiburan Indonesia.
Isu tersebut mencuat usai unggahan viral di platform X (dulu Twitter) oleh akun @bisulpecahhh, yang menampilkan foto kebersamaan Hamish dan Sasha bersama sejumlah teman. Tidak berhenti di situ, publik makin penasaran ketika ditemukan unggahan di Pinterest berjudul Future House by Sabrina Alatas and HDW. Proyek rumah tersebut diduga berkaitan dengan Hamish, memunculkan spekulasi tentang kedekatan pribadi antara keduanya.
Namun, di tengah derasnya pemberitaan dan spekulasi netizen, masih sedikit yang benar-benar mengenal siapa sosok Sabrina Alatas di balik nama yang kini viral. Di luar isu yang beredar, Sabrina merupakan figur dengan perjalanan karier dan pendidikan yang menarik, terutama di dunia kuliner dan desain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Cita-Cita dan Awal Perjalanan Pendidikan
Mengutip kanal YouTube @TworubberMedia, Sabrina sejak kecil telah memiliki cita-cita yang kuat untuk berkarier di bidang arsitektur dan desain interior. Ia dikenal sebagai pribadi kreatif yang tertarik pada seni visual, estetika ruang, dan bentuk-bentuk ekspresi yang menggabungkan fungsi serta keindahan.
Ketika menempuh pendidikan menengah atas, Sabrina mengambil program International Baccalaureate (IB) kurikulum internasional yang dikenal ketat dan menuntut kedisiplinan tinggi. Namun, di masa remaja, ia mengaku sempat mengalami fase eksploratif dan memilih keluar dari sekolah untuk menempuh jalannya sendiri.
Keputusan itu bukan tanpa risiko, tetapi justru menjadi titik balik penting dalam hidupnya. Sabrina mulai mencari pengalaman kerja langsung untuk memahami dunia profesional secara nyata. Langkah awalnya dimulai di sektor kuliner, bidang yang kelak menjadi panggilan hidupnya.
Awal Terjun ke Dunia Kuliner
Sabrina memulai kariernya di Colonial Cuisine and Molecular, sebuah restoran di kawasan Kemang Village, Jakarta Selatan. Di tempat inilah ia pertama kali mengenal dinamika dapur profesional. Meski posisi awalnya tidak bergengsi dan gajinya relatif kecil, pengalaman itu memberinya pelajaran berharga.
Ia menyadari bahwa dunia kuliner bukan hanya soal cita rasa, tetapi juga soal kedisiplinan, ketelitian, dan semangat belajar yang tak pernah padam. Di sela-sela bekerja, Sabrina banyak belajar langsung dari para chef senior. Kesempatan itulah yang menumbuhkan minat dan kecintaannya pada bidang kuliner, hingga ia memutuskan menempuh pendidikan profesional di luar negeri.

Menempuh Studi di Le Cordon Bleu, Paris
Demi memperdalam keahliannya, Sabrina memilih Le Cordon Bleu Paris, salah satu sekolah kuliner paling prestisius di dunia. Ia mengambil dua program sekaligus: Cuisine dan Pastry, yang ditempuh selama sekitar satu setengah tahun.
Le Cordon Bleu dikenal sebagai institusi yang menekankan teknik dasar kuliner klasik Prancis, disertai inovasi modern. Selama masa studinya, Sabrina belajar berbagai aspek mulai dari pengolahan bahan mentah, seni plating, hingga filosofi di balik hidangan.
Setelah menyelesaikan pendidikan, ia diwajibkan menjalani magang selama tiga bulan. Namun, performanya yang luar biasa membuat pihak restoran tempat ia magang menawarkannya posisi sebagai pegawai tetap. Ia pun bekerja di sana selama tiga tahun penuh.
Selama periode itu, Sabrina memperluas wawasannya mengenai standar kuliner internasional. Ia belajar tentang konsistensi rasa, efisiensi dapur, dan pentingnya menciptakan pengalaman makan yang berkesan. Pengalaman ini menjadi fondasi kuat bagi kariernya setelah kembali ke tanah air.
Kembali ke Indonesia dan Berkarier di Bali
Setelah menimba ilmu di Eropa, Sabrina memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan menetap di Bali, salah satu pusat kuliner dan pariwisata dunia. Ia sempat menjabat sebagai Head Chef di Bokashi Bali, restoran yang dikenal dengan konsep ramah lingkungan dan menu berbasis bahan lokal.
Peran tersebut memberinya kesempatan untuk menerapkan pengetahuan kuliner internasional ke dalam konteks lokal, sekaligus mengeksplorasi bahan-bahan alami Indonesia. Dari sinilah, ide membangun bisnis kuliner sendiri mulai tumbuh.
Membangun Manje Restaurant: Dari Bao Joint hingga Bisnis yang Berkembang
Dengan modal pengalaman dan semangat wirausaha, Sabrina mendirikan Manje Restaurant usahanya sendiri di bidang kuliner. Awalnya, Manje hanya berupa bao joint kecil di kawasan Pejaten, Jakarta Selatan. Menu utamanya sederhana namun inovatif: bao (roti kukus khas Asia) dan bowls dengan sentuhan fusion.
Di gerai pertamanya, Sabrina juga menjual kopi sebagai pelengkap, menciptakan suasana santai bagi pelanggan muda. Ia ingin menghadirkan tempat makan yang nyaman, ramah, dan tidak berjarak jauh dari kesan restoran mewah yang kaku.
Seiring meningkatnya respons positif pelanggan, ia membuka outlet kedua di Gandaria. Manje tetap mempertahankan konsep kasual yang sama, mengusung pengalaman kuliner yang menyenangkan dan bersahabat.
Outlet pertama dibuka pada Desember 2018, sementara cabang keduanya resmi beroperasi pada 1 Juli 2020, di tengah tantangan pandemi. Meski situasi bisnis saat itu sulit, Sabrina berhasil mempertahankan usaha berkat kreativitas menu dan strategi layanan yang adaptif.
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai sumber
Halaman : 1 2 Selanjutnya






