Ekspresi Wapres Gibran Rakabuming Raka saat menyaksikan sejumlah anggota DPR RI berjoget di ruang sidang tahunan MPR bersama DPR-DPD, Jumat (15/8/2025), mendadak viral di media sosial baru-baru ini.
Banyak masyarakat menilai tatapan datar Gibran yang hanya diam tanpa komentar mewakili perasaan publik.
Fenomena unik ini langsung mengundang pro dan kontra, karena dianggap mencerminkan potret parlemen Indonesia yang semakin jauh dari kesan formal.
Dalam momen itu, para anggota DPR bergoyang mengikuti lagu daerah seperti Sajojo hingga Fa Mi Re.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Suasana riuh tawa memang tercipta, namun banyak pihak justru menganggap aksi berjoget tersebut kurang pantas dilakukan di ruang sidang negara yang seharusnya dijaga wibawa dan keseriusannya.
Ekspresi Gibran yang tetap tenang, hanya menatap tanpa senyum maupun tepuk tangan, kemudian menjadi bahan pembicaraan luas di dunia maya. Bahkan, sebagian netizen menyebut bahwa sikap diam Gibran justru lebih lantang daripada seribu kata.
Fenomena DPR Joget di Sidang Tahunan

Fenomena DPR joget di sidang tahunan sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah rapat resmi bahkan sering berubah menjadi semacam panggung hiburan.
Dari bernyanyi bersama, berjoget, hingga guyonan di ruang sidang, semua kerap terjadi.
Namun, bila dibandingkan dengan negara-negara lain, hal ini terasa sangat kontras. Di Amerika Serikat, Jepang, Tiongkok, maupun negara-negara Eropa seperti Inggris, Jerman, dan Prancis, parlemen selalu menjaga suasana sidang tetap formal. Tidak ada ruang untuk berjoget apalagi bernyanyi massal di forum resmi.
Parlemen di berbagai negara dipandang sebagai lembaga tertinggi demokrasi, sehingga tindakan yang melenceng dari norma formal dianggap tidak pantas.
Sementara di Indonesia, aksi joget DPR justru sering menjadi bahan guyonan masyarakat, meski banyak juga yang menganggapnya sebagai bentuk “kedekatan” wakil rakyat dengan budaya.
Di titik inilah, ekspresi datar Gibran terasa relevan. Tanpa harus berkata apa-apa, tatapan kosongnya sudah cukup memberi isyarat bahwa ia menyadari ada ketimpangan besar antara ekspektasi masyarakat dan kenyataan di ruang parlemen.
Reaksi Publik dan Komentar Netizen
Seperti biasa, publik tidak tinggal diam. Video Gibran yang terdiam menyaksikan DPR berjoget langsung dibanjiri komentar netizen. Banyak yang menilai ekspresi Gibran adalah cerminan kekecewaan rakyat.
Seorang warganet menulis: Untuk kali ini ekspresi wajah pak wapres sangat mewakili sekali kami sebagai rakyatnya!!
Komentar lain menyebut: Respect king, tatapanmu mewakili kita.
Ada pula yang lebih kritis dengan menyinggung peran DPR dalam tata negara. Akun nia.april25 menulis: Jadi gini kawan: DPR, MPR sama presiden itu lembaga berbeda. Jadi musuh utama rakyat itu DPR, MPR, DPD & menteri. Salam akal sehat.
Sementara akun lain lebih satir: Joget di atas penderitaan rakyat, tulis maulanafarhan_07.
Bahkan ada komentar yang menyebut: Untung saya golput saat pemilihan DPR RI, DPRD, DPD… sampai detik ini kelakuan mereka saya gak suka.
Tidak sedikit pula yang menyoroti wajah Gibran dengan komentar unik, seperti:
Apa cuma aku yang makin kesini lihat pak wapres dengan kantong matanya? Semua demi Indonesia.
Ya emang begitu kan mukanya, jangan menggiring opini seolah beliau peduli negeri ini.
Namun secara umum, mayoritas komentar lebih condong menganggap ekspresi Gibran sebagai simbol keresahan rakyat.
Gibran, Simbol Diam yang Lantang
Menariknya, fenomena ini melahirkan narasi baru di publik: bahwa dalam politik, terkadang sikap diam bisa lebih bermakna daripada pernyataan panjang.
Dengan hanya duduk terdiam, Gibran dianggap berhasil “berbicara” tentang keresahan masyarakat terhadap DPR.
Banyak netizen kemudian menempelkan label “King Gibran” pada momen ini, karena tatapannya dinilai penuh arti. Bahkan, ada yang menyebut ekspresi tersebut lebih jujur ketimbang pidato panjang yang penuh retorika.
Meski begitu, sebagian pihak tetap menilai ekspresi semacam itu hanyalah gimmick politik. Tanpa tindakan nyata, publik khawatir ekspresi itu akan berakhir sekadar meme belaka.
Perlukah DPR Menjaga Wibawa?
Fenomena DPR joget di sidang tahunan mengundang pertanyaan besar: apakah wakil rakyat perlu lebih menjaga wibawa di forum resmi? Atau justru membiarkan suasana cair sebagai tanda kedekatan dengan rakyat?
Sebagian masyarakat menilai, tidak ada salahnya sesekali menghadirkan hiburan di sidang tahunan. Namun, mengingat parlemen adalah lembaga terhormat, sebaiknya hiburan tidak mendominasi acara resmi.
Kritik yang muncul dari publik bukan semata soal jogetnya, melainkan karena dianggap tidak sejalan dengan kondisi rakyat yang sedang menghadapi berbagai masalah serius.
Penutup
Ekspresi Gibran saat DPR berjoget di sidang tahunan MPR 2025 akan terus dikenang sebagai salah satu momen politik yang unik.
Bukan karena ia berbicara, melainkan justru karena ia memilih diam. Tatapan kosong yang viral itu kini menjadi bahan perdebatan publik, sekaligus simbol keresahan masyarakat.
Halaman : 1 2 Selanjutnya






