Game online kembali menjadi sorotan publik setelah pernyataan kontroversial dari Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Menkomdigi), Meutya Hafid.
Dalam kunjungannya ke Purwakarta, Meutya menyampaikan pendapat pribadi bahwa game online bukan termasuk olahraga karena tidak melibatkan aktivitas fisik secara langsung.
Pernyataan ini menuai beragam reaksi, mengingat esports saat ini telah resmi menjadi cabang olahraga yang diakui di berbagai ajang internasional.
Pernyataan Tegas Menkomdigi tentang Game Online

Dalam kunjungannya ke Resimen Artileri Medan 1 Sthira Yudha, Batalyon Artileri Medan 9, Purwakarta, Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Menkomdigi), Meutya Hafid, kembali menyoroti fenomena game online yang kini begitu digemari oleh berbagai kalangan, terutama generasi muda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam sesi konferensi pers yang digelar usai peninjauan lapangan, Meutya menyampaikan pandangannya secara lugas mengenai status game ini dalam konteks olahraga.
Menurutnya, game ini tidak dapat dikategorikan sebagai olahraga karena tidak melibatkan unsur gerak tubuh secara nyata maupun aktivitas fisik yang menghasilkan keringat.
Ia menekankan bahwa istilah “olahraga” seharusnya tidak hanya berfokus pada kompetisi atau aspek strategis digital, tetapi juga perlu mencakup elemen fundamental berupa kegiatan fisik yang menuntut gerakan nyata dari tubuh.
Dalam pandangannya, olahraga adalah aktivitas yang menyatukan tubuh dan pikiran melalui pergerakan yang terukur dan menghasilkan dampak fisik secara langsung.
“Kalau bagi saya, sport tetap perlu melibatkan juga giat-giat fisik, selain juga online. Saya nggak bilang online itu jelek, tapi tetap, kalau namanya sport, perlu ada giat fisiknya,” ujar Meutya dikutip pada Sabtu, 24 Mei 2025.
Pernyataan ini menjadi menarik karena disampaikan dalam konteks yang sangat relevan, yaitu ketika muncul perdebatan publik mengenai peran game ini dalam kehidupan anak-anak.
Salah satu polemik yang mencuat belakangan ini adalah langkah sebagian daerah yang membawa siswa bermasalah ke lingkungan militer, dengan alasan untuk memperbaiki disiplin dan perilaku yang salah satunya dipengaruhi oleh kecanduan bermain game.
Menanggapi isu tersebut, Meutya Hafid menyampaikan bahwa prioritas utama pemerintah pusat saat ini bukan semata-mata menghukum, melainkan mengembalikan anak-anak ke jalur kehidupan yang sehat, baik secara mental maupun fisik.
Menurutnya, perhatian terhadap dampak digital sangat penting, terutama di tengah arus teknologi yang terus berkembang tanpa batas.
Ia menekankan bahwa ruang digital memiliki dua sisi: satu sisi membuka peluang untuk belajar, berkompetisi, dan berprestasi, namun di sisi lain juga menyimpan potensi bahaya ketika tidak ada kontrol, terutama dalam konteks penggunaan game online secara berlebihan.
Oleh karena itu, keseimbangan antara dunia virtual dan aktivitas nyata menjadi penting untuk menjaga perkembangan anak-anak agar tidak timpang.
Dalam pernyataan tersebut, Meutya juga tidak menutup mata terhadap kenyataan bahwa game online dan esports telah menjadi bagian dari realitas saat ini.
Namun, ia tetap meyakini bahwa jika ingin dikategorikan sebagai cabang olahraga, sebuah aktivitas harus memenuhi unsur fundamental berupa aktivitas fisik, bukan hanya sekadar keterampilan digital.
Game Online Menjadi Cabang Olahraga Resmi dalam Ajang Sea Games
Meskipun mendapat kritik dari Menkomdigi, fakta di lapangan menunjukkan bahwa game online telah diakui secara resmi sebagai cabang olahraga.
Esports, yang merupakan kompetisi berbasis game online, kini menjadi bagian dari KONI dan masuk dalam daftar cabang olahraga resmi di Indonesia.
Tidak hanya itu, esports juga telah menjadi salah satu cabang yang dipertandingkan dalam ajang SEA Games 2025 di Thailand dan Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
Keikutsertaan game online di event olahraga multinasional ini menunjukkan adanya perkembangan signifikan terhadap pengakuan esports secara global.
Pengurus Besar Esports Indonesia (PB ESI) bahkan sudah mulai mempersiapkan para atlet esports dengan pendekatan sports science.
Program pelatnas yang disusun mencakup aspek fisik, mental, dan strategi, menunjukkan bahwa game online kini tak hanya mengandalkan keterampilan digital semata, tetapi juga melibatkan aspek ketahanan tubuh dan psikologis.
Implikasi Game Online terhadap Perilaku dan Kesehatan Anak
Salah satu alasan utama Meutya Hafid mengangkat isu ini adalah kekhawatiran terhadap dampak game online pada perilaku anak-anak di Indonesia.
Ia menyatakan bahwa ada indikasi meningkatnya masalah perilaku digital, termasuk kecanduan dan menurunnya kemampuan interaksi sosial akibat penggunaan game online secara berlebihan.
Polemik ini makin memanas karena adanya kebijakan memasukkan siswa bermasalah ke pelatihan militer, yang salah satu penyebab perilaku menyimpangnya dikaitkan dengan kecanduan bermain game secara online.
Halaman : 1 2 Selanjutnya






