Redaksiku.com – Jaringan telekomunikasi di Kabupaten Keerom kini memasuki babak baru dengan beroperasinya 74 Base Transceiver Station (BTS) yang tersebar hingga ke pelosok distrik terjauh. Infrastruktur digital ini menjadi tulang punggung bagi masyarakat di wilayah perbatasan untuk mengakses informasi, memperlancar roda ekonomi, serta meningkatkan standar keselamatan warga melalui konektivitas 4G yang stabil.
Perluasan Infrastruktur di Wilayah Perbatasan
Pemerintah daerah melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Keerom memastikan bahwa seluruh menara pemancar tersebut telah berstatus on air. Keberadaan teknologi ini menjadi bukti nyata keseriusan pemerintah dalam memangkas kesenjangan digital yang selama ini membatasi ruang gerak warga di pedalaman Papua.
Dari total 74 menara yang telah berdiri, sebanyak 24 unit di antaranya mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah pusat. Dukungan ini mencakup pengelolaan operasional dan pemeliharaan teknis yang ditanggung langsung oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebanyak 24 BTS dari total 74 unit yang beroperasi di Kabupaten Keerom mendapatkan dukungan pembiayaan perawatan langsung dari pihak kementerian pusat.
Kolaborasi antara pemerintah daerah dan pusat ini memungkinkan pemeliharaan infrastruktur tetap terjaga meskipun medan yang ditempuh sangat menantang. Plt Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Keerom, Wawan Hidayat Wanma, menjelaskan bahwa peran daerah kini lebih difokuskan pada pemantauan intensif di lapangan.
Dampak Konektivitas bagi Warga Pelosok
Salah satu titik yang kini telah merasakan manfaat sinyal 4G adalah Kampung Niliti yang terletak di Distrik Towe. Wilayah yang sebelumnya sulit dijangkau oleh sinyal telekomunikasi ini kini telah terhubung dengan dunia luar, memberikan akses yang setara bagi warga di perbatasan.
Wawan Hidayat Wanma menegaskan bahwa kehadiran sinyal bukan sekadar untuk kebutuhan media sosial, melainkan instrumen penting bagi keselamatan publik. Berikut adalah beberapa manfaat utama yang dirasakan oleh warga:
- Penyebaran informasi cuaca terkini yang krusial bagi masyarakat yang tinggal di medan pegunungan.
- Pemberitahuan dini terkait kondisi akses jalan, seperti informasi mengenai bencana longsor yang sering terjadi.
- Peningkatan efisiensi dalam transaksi ekonomi bagi pelaku usaha kecil di distrik terpencil.
- Mempermudah koordinasi antarwilayah dalam situasi darurat kesehatan atau keamanan.
“Manfaatnya sangat besar, terutama untuk membuka akses komunikasi. Dengan sinyal yang memadai, warga bisa mengantisipasi berbagai kendala di lapangan. Contohnya informasi cuaca atau bencana longsor di jalan, sehingga warga yang hendak bepergian bisa bersiap lebih awal.” — Wawan Hidayat Wanma
Langkah Lanjutan Menuju Keerom Digital
Meski cakupan sinyal telah meluas, Diskominfo Kabupaten Keerom tidak berhenti pada pencapaian saat ini. Tim teknis di lapangan terus melakukan pemetaan secara berkala untuk mengidentifikasi kawasan yang masih masuk dalam kategori blank spot atau wilayah tanpa sinyal.
Pemerintah Kabupaten Keerom terus memetakan sisa wilayah blank spot untuk diusulkan kembali ke pemerintah pusat agar mendapatkan tambahan infrastruktur telekomunikasi.
Proses pemetaan ini sangat vital agar usulan pembangunan BTS di masa mendatang tetap sasaran. Dengan data yang akurat, pemerintah pusat dapat merencanakan alokasi anggaran yang lebih tepat untuk memastikan tidak ada lagi kampung yang terisolasi secara digital di masa depan.
Masyarakat diimbau untuk segera melaporkan kepada perangkat desa atau kantor distrik setempat apabila menemukan titik-titik lokasi yang masih mengalami kendala sinyal permanen agar bisa masuk dalam pemetaan Diskominfo.
Data jumlah BTS yang beroperasi merupakan catatan resmi hingga Senin, 21 September 2026, dan akan terus berkembang seiring dengan usulan penambahan infrastruktur baru.
Pertanyaan Umum
Apakah seluruh wilayah di Kabupaten Keerom sudah memiliki sinyal 4G?
Saat ini sudah ada 74 BTS yang aktif, namun pemerintah masih terus melakukan pemetaan untuk mengidentifikasi sisa wilayah blank spot yang belum terjangkau agar bisa diusulkan dalam pengembangan selanjutnya.
Siapa yang bertanggung jawab atas perawatan BTS di Keerom?
Perawatan 24 BTS didukung langsung oleh Kementerian Komunikasi dan Digital, sementara pemerintah daerah melalui Diskominfo bertanggung jawab melakukan pemantauan operasional di lapangan.
Apa kendala utama dalam penyediaan sinyal di wilayah tersebut?
Kondisi geografis yang menantang dan lokasi distrik yang berada di wilayah pelosok perbatasan menjadi tantangan utama, sehingga diperlukan koordinasi berkelanjutan antara pemerintah daerah dan pusat.
Ringkasan
Pemerintah Kabupaten Keerom telah mengoperasikan 74 unit Base Transceiver Station (BTS) untuk memperluas akses jaringan 4G hingga ke wilayah pelosok perbatasan. Berdasarkan keterangan Plt Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Keerom, Wawan Hidayat Wanma, per tanggal 21 September 2026, seluruh menara tersebut kini berstatus on air guna memangkas kesenjangan digital dan mendukung konektivitas di daerah terpencil seperti Distrik Towe.
Kolaborasi strategis antara pemerintah daerah dan Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) memastikan keberlanjutan infrastruktur ini, dengan 24 unit BTS mendapatkan dukungan pembiayaan perawatan langsung dari pemerintah pusat. Kehadiran sinyal 4G ini berfungsi krusial sebagai instrumen keselamatan publik, termasuk penyebaran informasi cuaca, peringatan dini bencana longsor, serta koordinasi darurat kesehatan, sekaligus menjadi pendorong efisiensi ekonomi bagi masyarakat setempat.
Guna menuntaskan masalah blank spot, Diskominfo Kabupaten Keerom terus melakukan pemetaan wilayah secara berkala untuk diusulkan kembali ke pemerintah pusat. Masyarakat diimbau untuk melaporkan kendala sinyal kepada perangkat desa setempat agar data pemetaan tetap akurat dan pembangunan infrastruktur telekomunikasi ke depan dapat direncanakan secara lebih tepat sasaran.






