Redaksiku.com – Dinamika politik nasional menuju pemilihan umum berikutnya mulai memperlihatkan pergeseran arah dukungan dari partai-partai besar. Partai Golkar diprediksi akan tetap berada di barisan pendukung Prabowo Subianto pada Pilpres 2029 mendatang.
Analisis tersebut disampaikan oleh Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah. Menurutnya, keputusan tersebut sangat bergantung pada dinamika hubungan antara faksi Hambalang dan faksi Solo yang belakangan kerap menjadi sorotan publik.
Jika kedua faksi besar tersebut tidak menemukan titik temu atau gagal bersatu, Golkar diyakini lebih memilih merapat ke kubu petahana. Langkah ini diambil karena partai berlambang pohon beringin tersebut dinilai realistis dalam membaca konstelasi politik nasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Peluang Golkar dan Bayang-Bayang Faksi Kekuasaan
Dalam pandangan pengamat politik, Golkar sebagai partai besar menghadapi tantangan tersendiri dalam menyiapkan kader internal. Partai ini dinilai belum memiliki figur yang cukup kuat untuk diusung secara mandiri sebagai calon presiden pada kontestasi mendatang.
“Peluang terbesarnya tetap bersama Prabowo. Golkar sepertinya kesulitan untuk mendorong cawapres sekali pun,” kata Dedi melalui layanan pesan pada Jumat (11/9).
Partai Golkar diprediksi akan kesulitan mendorong calon wakil presiden sendiri jika harus bersaing di luar poros petahana pada Pemilu 2029.
Corak politik yang dimainkan oleh Golkar selama dua periode terakhir memang selalu menempatkan mereka di dalam lingkaran kekuasaan utama. Pengalaman pragmatis ini membuat arah dukungan mereka cenderung pragmatis dan realistis demi mengamankan posisi strategis di pemerintahan.
Menakar Posisi Politik Jokowi di Masa Depan
Terkait peluang merapat ke faksi Solo atau kubu yang terafiliasi dengan mantan Presiden Joko Widodo, peluang tersebut dinilai cukup kecil. Kecuali, jika faksi tersebut masih menunjukkan dukungan penuh kepada kepemimpinan Prabowo Subianto.
Poros kekuatan politik pada pemilu mendatang diprediksi masih akan didominasi oleh Prabowo Subianto bersama Partai Gerindra. Sementara itu, kekuatan alternatif lain kemungkinan besar akan dimotori oleh Partai Demokrat, serta Partai Solidaritas Indonesia jika berhasil melenggang ke Senayan.
Di sisi lain, posisi politik Joko Widodo sendiri dinilai tidak lagi berada di pusat kendali kekuasaan utama. Tanpa kendaraan politik yang masif dan kepemimpinan formal, pengaruhnya diperkirakan akan lebih bersifat menunggu momentum yang tepat.
Posisi Joko Widodo dalam konstelasi politik 2029 berada di kisaran strategi wait and see sambil menunggu keberuntungan sebelum menentukan figur yang akan didukung.
“Jokowi mungkin punya strategi. Namun, dia bukan tokoh inti kekuasaan. Dia di posisi wait and see,” lanjutnya.
Pertanyaan Umum
Mengapa Golkar diprediksi tetap bersama Prabowo pada 2029?
Golkar dinilai realistis karena belum memiliki kader internal yang cukup kuat untuk diusung sebagai calon presiden secara mandiri serta memiliki tradisi politik yang kuat di dalam lingkaran kekuasaan.
Bagaimana peluang faksi Solo dalam konstelasi politik mendatang?
Faksi Solo diperkirakan akan mengambil posisi menunggu atau wait and see sambil memantau kekuatan partai pendukung seperti PSI dan dinamika koalisi yang terbentuk.
Siapa yang memegang kendali poros utama politik saat ini?
Poros kekuatan politik utama masih dikuasai oleh Prabowo Subianto bersama Partai Gerindra, dengan beberapa partai lain seperti Demokrat yang berpotensi membentuk poros alternatif.
Ringkasan
Partai Golkar diprediksi akan tetap mendukung Prabowo Subianto pada Pilpres 2029 karena partai tersebut bersikap realistis dalam membaca konstelasi politik dan belum memiliki kader internal yang cukup kuat untuk diusung secara mandiri sebagai calon presiden.
Menurut pengamat politik Dedi Kurnia Syah, arah dukungan Golkar ini juga dipengaruhi oleh dinamika faksi Hambalang dan Solo, serta tradisi pragmatis partai untuk selalu berada di dalam lingkaran kekuasaan utama pemerintah.






