Novel : Petaka Sebuah Janji (Part 7)

- Penulis

Kamis, 19 September 2024 - 15:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Novel : Petaka Sebuah Janji (Part 7)

Selesai acara, Toni pulang ke vila keluarga Sumbogo. Toni tepar, langsung mengempaskan diri di kasur. Tidak menunggu waktu lama, dia pun terlelap. Toni tetap berniat akan membicarakan persiapan pernikahan dengan orang tua Erlika malam ini, seperti yang sudah dia janjikan.

Dia tidak lagi peduli dengan restu orang tuanya. Hari ini, dia merasa sudah menunjukkan baktinya kepada kedua orang tuanya. Istrinya pun tidak berbeda dengannya, tidak mengharapkan pernikahan ini.

Sementara Barman dan Ninit, sesampainya di rumah, mereka langsung ganti banyu dan istirahat. Keduanya amat sangat kelelahan, terutama Ninit. Dia baru saja sembuh, kesehatannya belum benar-benar pulih.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Setelah bersantap malam, seperti kebiasaan keduanya duduk mengobrol di ruang keluarga. Ninit sangat berduka sampai saat ini Toni dan istrinya belum juga sampai di rumah. HP-nya tidak aktif, begitu juga HP menantunya. Kata penjaga vila, Toni datang sendiri dan sedang tidur.

Ada apa lagi, Mah? Mungkin mereka istirahat di vila, bujuk Barman.

Masalahnya ¦ Ratih tidak bersama Toni, keluhnya.

Jadi Ratih pulang ikut mbakyu Arum? Lalu Toni?

Sedang tidur di vila! Anak itu tetap semaunya, gumam Ninit kesal.

Mah, sudahlah. Toni masih sungkan dengan keluarga mas Rangga. Keduanya pasti juga sangat kelelahan. Biarlah mereka beristirahat!

Ninit tidak puas dengan kelakuan Toni. Hatinya sempat bahagia, ketika putranya bersedia menikahi Ratih, gadis pilihannya. Bahkan dia juga tidak protes saat Ninit mengatur tempat honeymoon mereka.

Seharusnya Mamah tidak perlu menentukan kemana mereka honeymoon.

Aku hanya ingin mereka bahagia, gumam Ninit pasrah.

Standar kebahagiaan mereka berbeda. Ingat, Mah! Ternyata Toni punya pilihan sendiri, kan? Kalau saja kamu nggak ngotot, mungkin Toni akan memperkenalkan pilihannya. Kita bisa menilai dan memberikan pilihan.

Keduanya diam, Barman tidak sampai hati memberitahu kalau Ratih sebenarnya juga tidak setuju dengan perjodohan ini. Keheningan menyergap. Hanya desah napas mereka mewarnai suasana ruang duduk yang senyap.

Mah, kita harus bersyukur, Toni tetap menunjukkan baktinya dengan menuruti keinginan kita mengambil Ratih sebagai istrinya. Dia juga tidak lari dari pernikahan mereka. Hajatan kita menikahkan mereka terlaksana dengan lancar.

Setelah melepaskan napas keras lalu berdeham, Ninit bangkit dari duduk menuju kamar tidur. Tidak sepatah kata pun keluar dari kedua bibirnya. Wajah ayunya tersaput mendung. Rasa kurang puas bergelayut di hatinya.

Malam pertama yang seharusnya penuh madu dan wangi bunga bagi pengantin baru, Toni malah bersiap hendak ke rumah Erlika, jodoh pilihannya. Hatinya berbunga-bunga, kedua matanya pun berbinar-binar. Senyum manis menghiasi bibirnya, aroma kebahagiaan meliputi jiwanya. Perjodohan yang tidak dikehendakinya, sudah ditunaikan dengan lancar. Kini dia merasa bebas menentukan kemana hatinya hendak berlabuh.

Saat hendak meraih kunci mobil di nakas, tiba-tiba HP di sampingnya bergetar. Notifikasi nomor papahnya yang kesekian kali. Dengan gugup, sambungan diterima.

Toni! Kemana aja kamu? bentak Barman. Saking kerasnya muka Toni berkerinyut sambil menjauhkan HP dari telinganya.

Aku tidur Pah, capek sekali. Maaf, HP tak-silent. Ada apa, Pah?

Cepat kesini, Mamah dirawat! titah Barman tegas, masih dengan nada tinggi.

Toni mengempaskan diri duduk di pembaringan, hatinya tergugu, Mamah pasti kecapean. Lagian ngapain sih bikin pesta heboh banget! gerutunya lirih.

Secepat kilat Toni pergi ke Rumah Sakit, di mana keluarganya adalah pemilik saham terbesar. Di ruang rawat, mamahnya tampak pulas dengan wajah pucat pasi. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Papahnya, dengan lembut mengeringkan keringat menggunakan tisu.

Toni beringsut mendekat perlahan-lahan, bermaksud tidak mengejutkan. Ketukan halus langkah sepatunya terdengar oleh papahnya. Barman menoleh, kedua netranya menatap tajam putranya dari atas sampai ke bawah dengan kening berkerut. Wajah Barman terlihat tidak senang. Dia menggamit putranya, lalu mengisyaratkan untuk duduk di sofa.

Mau ke mana Kamu? tanya Barman lirih, dan tegas. Wangi parfum Toni menguar di ruangan.

Nggak ke mana-mana, Pah!

Serapi ini? cecar Barman dengan tatapan mengintimidasi, pasti mau menemui perempuan itu, kan?

Toni diam membisu. Dia hanya mampu menundukkan wajah. Suasana ruang perawatan VVIP sunyi. TV dalam keadaan Off.

Beberapa saat kemudian, keheningan membuat suara getaran HP milik Toni terdengar nyaring. Toni langsung menatap jam yang melingkar di tangan kirinya. Tatapan tajam Papahnya, membuat Toni salah tingkah.

Kenapa nggak diangkat? Angkatlah, barangkali penting! kata Barman sambil berdiri menuju kursi di samping pembaringan Ninit yang masih dalam pengaruh obat tidur.

Toni keluar ruangan sambil mengeluarkan HP. Erlika sangat kecewa karena pembicaraan tentang pernikahan mereka ditunda lagi. Toni tidak bisa memberi keputusan kapan waktunya, karena kondisi kesehatan mamahnya.

Sabarlah, Sayang. Harusnya kau lebih tenang. Ratih juga tidak menghendaki pernikahan ini, bisik Toni. Dia sengaja tidak menutup rapat pintu kamar agar papahnya tidak mencurigainya.

Erlika tidak bisa memaksa. Dia mengetahui, kekasihnya terpaksa menikah untuk membahagiakan ibunya. Toni sangat mengasihi dan berbakti kepada orang tuanya. Dia menomorsatukan ibunya.

Sementara di tempat tinggal keluarga Danusaputra, Arum tidak bisa mendesak putrinya untuk tinggal bersama suaminya. Dia tidak mengetahui perjanjian antara putrinya dengan Toni, menantunya. Dia juga tidak berani bersikeras memaksa Ratih untuk menuruti kehendaknya, takut putrinya itu kabur lagi.

Ratih sendiri menyibukkan diri dengan kegiatan kampus untuk menghindari komunikasi dengan ibunya. Koper berisi baju dan keperluan mandi, yang ditaruh di dasar lemari gantung, selalu siap untuk diangkat. Hatinya sudah bulat, jika bundanya menekan lagi, dia akan cabut dari rumah.

Keadaan kesehatan Ninit berangsur pulih. Toni, kembali ke rumah, cukup menenangkan hati Ninit. Meskipun hatinya masih risau karena menantunya tidak juga bersedia tinggal bersama. Toni dan Barman berhasil memberinya pengertian. Keluarga besan sama sekali tidak diberitahu kondisi kesehatan Ninit terakhir.

Baru seminggu usia pernikahaannya, Ratih disibukkan oleh ujian semester. Dia fokus mengerjakan proyek-proyek tugas kampus yang cukup menyita perhatiannya. Ratih juga menenggelamkan diri dalam kegiatan ekstra kurikuler kampus.

Yah, gimana ini. Kau semakin terbenam dalam kegiatan proyekmu. Ratih entah sibuk apa, rumah ini sudah serasa hotel saja! Arum mengadu, selepas makan malam.

Dia sibuk dengan tugas-tugas kampus! Biar sajalah, untuk membiasakannya hidup mandiri. Dia cukup berprestasi lho, Bun. Anak itu baru saja terpilih sebagai ketua tim Penelitian Manfaat Suntikan Dana bagi Peningkatan Produktivitas UMKM Banyumas. Hebat kan, putri kita?

Mendengar penjelasan suaminya, Arum merengut hatinya sakit seperti tertusuk sesuatu. Sebagai ibunya dia merasa diacuhkan putri semata wayangnya. Putrinya seolah menganggapnya musuh yang harus dijauhi. Menurutnya, apa yang dia lakukan adalah untuk kebahagiaan putrinya, apalagi menentukan pasangan pendamping hidupnya.

Cemburu? goda Rangga. Dibalas dengan cubitan. Aduh! Sakit tau!

Biarin, jawab Arum kesal.

Aku tuh bingung, Yah. HP Ninit jarang aktif. Giliran aktif, sambungan nggak diangkat! ¦ Seperti nomor yang nggak dikenal, gitu. Kirim WA juga lama sekali baru dibales! Jawabannya pendek dan itu-itu aja, kaya copas gitu, keluhnya.

Kamu ini, mbok ya tilik ke rumahnya! Sendiri bisa, kan?

Aku bingung mau ngomong apa, kalau nanyain Ratih, jawabnya putus asa.

Katakan saja, anak-anak butuh waktu untuk saling terbiasa. Yang tua-tua sabar saja.

Keduanya membisu, dengan pikiran masing-masing. Tiba-tiba, Ratih masuk sambil mengucapkan salam. Kedua orang tuanya menatapnya dengan mata berbinar.

Assalamualaikum, Ayaaah, panggilnya sambil bergegas mendekat lalu memeluk ayahnya, aku kangen, Yah! katanya manja.

Arum menatap cemburu kedua makhluk yang sangat dia kasihi. Setelah berpelukan sebentar, Ratih melepas pelukan lalu mendekati bundanya. Dengan takzim mencium punggung tangannya. Baru saja tangan kiri Arum hendak memeluk putrinya, Ratih pamit.

Ratih mandi dulu, ya, katanya, lalu melesat ke dapur minta disiapkan makan malam untuknya.

***

Selama menunggui Mamahnya di rumah sakit, otak Toni tetap bekerja. Karena usahanya yang makin berkembang, dia berencana untuk memindahkan kantor pusatnya ke Semarang. Dia terus menatap layar laptop dan memainkan tetikus, menaikturunkan tampilan layar, tiba-tiba HP berbunyi. Sambungan dari sahabatnya. Secepat kilat sambungan diterima.

Ton, lu gila ya! Buka sosmed lo, nama lu ancur! seru Rendi. Toni geragapan.

Ren, postingan apa? Sejak kawin aku belum buka sosmed. Sibuk banget nih, rencananya kantor mau tak pindahin ke Semarang.

Dari dulu napa? Dah lama aku saranin, kan?

Rendi! Ada apa? Cepet katakan!

Eh iya, ada orang yang ngunggah foto kawinanmu. Ucapan selamatnya dikomen macem-macem. Salah satunya ada yang nanyain tentang pernikahannya denganmu! Kau mau kawin lagi? Yang bener aja Ton! Baru beberapa bulan menikah, mo kawin lagi! Lo dihujat netizen, tau!

Pantes ¦, gumam Toni.

Pantes apaan? samber Rendi kesal.

Karyawan kantor ¦ mereka menatapku sinis, walaupun secara sembunyi-sembunyi! kata Toni sebal lalu melempar HP di meja.

Halo ¦ Toni ¦ Halo ¦, teriak Rendi di seberang sana. Toni meraih HP lalu memutus sambungan. Segera dia membuka sosmed yang disebut Rendi.

Dia melihat akun Erlika yang mengunggah foto pernikahannya, dan ucapan selamat serta doa-doa di captionnya. Unggahan mendapat ratusan komen berisi hujatan pedas dari netizen. Ada beberapa yang menanyakan kapan menikah? Yang dijawab oleh akun @diarindah bahwa pengantin prianya adalah calon suami Erlika. Toni benar-benar marah besar.

Saat sedang melihat postingan di akun Erlika, masuk sambungan telepon dari Bagas.

Halo Bagas, apa ka ¦

Ton, kamu mau kawin lagi? Mau kamu kemanakan Ratih? Tega sekali kamu, Ton! Kalau kamu nggak mau, kenapa tidak menolak saja? Susah payah Bunda membujuk Ratih, sekarang mau kamu campakkan, dia?

Gas, bukan begitu. Sebenarnya ¦ aku … memang sudah punya calon. Tapi Mamah dan Papah memaksaku ¦

Kamu pikir adikku tidak terpaksa menerima? Tau enggak sih, kalau kamu buang adikku, dia akan menjadi janda. Janda, Ton! Di negri ini seorang janda itu aib keluarga! Dia masih muda, belum juga lulus kuliah, tapi sudah janda! Kau tidak berpikir seperti itu? Bagas benar-benar marah dan kecewa. Sambungan langsung diputus sepihak. Bagas memberitahu ayahnya.

Ayah, ternyata Toni mau kawin dengan pacarnya ¦

Iya, Gas. Papah Barman baru saja memberitahu. Kau dapat postingan dari mana? tanya Rangga.

Teman kantor ada yang follow akun yang posting. Trus memberitahu nama akunnya. Aku membukanya, ternyata benar.

Jangan ambil tindakan apapun, Gas. Dan jangan memberitahu Bunda, takut nanti sampai ketelinga Mamah Ninit. Ayah takut dia masuk rumah sakit lagi, pesan Rangga.

Sementara di kantornya, Toni benar-benar uring-uringan sambungan telepon ke Erlika selalu di luar area. Belum lagi pihak mertuanya sudah mengetahui postingan di sosmed Erlika. Toni takut berita ini sampai ke telinga mamahnya. Dia sangat mengkhawatirkan kesehatan mamahnya. Berkali-kali Toni mencoba menghubungi Erlika, namun tetap di luar area.

Sialan! semburnya sambil melempar HP dengan kasar ke meja.

Toni mengempaskan punggung ke sandaran punggung kursinya yang empuk. Tangannya memijat kening. Otaknya buntu, hatinya mendidih. Dia melihat jam tangan, lalu bergumam, mungkin dia lagi kerja, lalu HP-nya dimatikan! Toni mendengkus kesal.

 

 

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

One Piece 1190: Spoiler, Cerita Terbaru, dan Perkembangan Besar Dunia Bajak Laut
Chris Hansen Kembali Jadi Sorotan, Profil Jurnalis Investigasi di Balik To Catch a Predator
The Odyssey Christopher Nolan Jadi Sorotan, Film Epik dengan Produksi Terbesar
Cara Ikut Upacara Kemerdekaan di Istana 17 Agustus 2026, Syarat dan Link Pendaftaran
Sanghyeon ALPHA DRIVE ONE Jalani Operasi Pita Suara, WAKEONE Ungkap Kondisi Terbarunya
Sinopsis Reborn Rookie, Drama Korea Fantasi dengan Plot Tak Terduga yang Bikin Penasaran
Festival Teman Tulus 2026, Jadwal, Line Up, Tiket, dan Fakta Konser Musik
Miss Supranational 2026 Jadi Sorotan, Ini Jadwal, Peserta, dan Fakta Kontes Kecantikan Dunia

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Jumat, 7 Agustus 2026 - 13:09 WIB

One Piece 1190: Spoiler, Cerita Terbaru, dan Perkembangan Besar Dunia Bajak Laut

Jumat, 7 Agustus 2026 - 11:23 WIB

Chris Hansen Kembali Jadi Sorotan, Profil Jurnalis Investigasi di Balik To Catch a Predator

Jumat, 7 Agustus 2026 - 09:37 WIB

The Odyssey Christopher Nolan Jadi Sorotan, Film Epik dengan Produksi Terbesar

Kamis, 6 Agustus 2026 - 15:19 WIB

Cara Ikut Upacara Kemerdekaan di Istana 17 Agustus 2026, Syarat dan Link Pendaftaran

Selasa, 4 Agustus 2026 - 15:20 WIB

Sanghyeon ALPHA DRIVE ONE Jalani Operasi Pita Suara, WAKEONE Ungkap Kondisi Terbarunya

Berita Terbaru