Penyebab Fenomena Telur Ceplok Usai Erupsi Anak Krakatau Menurut Ahli

- Penulis

Senin, 21 September 2026 - 19:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kawah Gunung Anak Krakatau dengan formasi pola visual menyerupai telur ceplok pasca erupsi

Ahli kebencanaan menjelaskan pola visual menyerupai telur ceplok di kawah Gunung Anak Krakatau merupakan hasil proses geokimia alami.

Redaksiku.com – Penampakan pola visual menyerupai telur ceplok yang muncul di kawah Gunung Anak Krakatau setelah erupsi menarik perhatian publik dan memicu rasa penasaran masyarakat. Ahli kebencanaan menjelaskan bahwa formasi unik berwarna kuning dan putih tersebut murni merupakan hasil dari proses geokimia alami di lingkungan kawah gunung api aktif.

Proses Terbentuknya Pola Kuning dan Putih di Kawah

Aktivitas vulkanik di kawasan Selat Sunda ini mereda pascaerupsi besar yang terjadi pada 3 September 2026. Saat ini, pemantauan menunjukkan aktivitas yang tersisa didominasi oleh kegempaan serta embusan asap putih sisa erupsi.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menjelaskan bahwa fenomena visual tersebut lahir dari interaksi kompleks antara air genangan, gas vulkanik, serta batuan kawah. Kombinasi unsur kimia ini menghasilkan gradasi warna yang sangat kontras jika dilihat dari udara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Warna kuning di bagian tengah berasal dari endapan sulfur atau belerang, sedangkan warna putih di sekelilingnya merupakan batuan yang mengalami alterasi hidrotermal.

Berikut adalah faktor-faktor utama yang memicu pembentukan pola tersebut di dalam kawah:

  • Genangan air hujan atau kawah yang menempati bagian terendah dari cekungan kawah.
  • Interaksi kimiawi antara air dan gas vulkanik, khususnya senyawa aktif sulfur atau belerang.
  • Proses alterasi batuan dan mineral akibat paparan fluida serta gas bersuhu tinggi.

Perspektif Ilmiah di Balik Istilah Populer

Masyarakat, melalui berbagai platform media sosial, mulai membagikan rekaman video penampakan tersebut sejak 18 September 2026. Sebutan “telur ceplok” dengan cepat melekat pada fenomena ini karena bentuk visualnya yang mirip.

Namun, para ahli menegaskan bahwa istilah tersebut bukan bagian dari nomenklatur resmi dalam ilmu vulkanologi. Fenomena ini lebih tepat dikategorikan sebagai genangan kawah yang mengalami perubahan geokimia akibat mekanisme alam.

“Genangan air menempati bagian terendah kawah, sementara proses kimia dan pengendapan mineral di sekitarnya menciptakan kontras warna yang dari udara terlihat sangat menyerupai kuning telur dengan putih telur.”

— Daryono

Perubahan pada sistem hidrotermal pascaerupsi memungkinkan kemunculan formasi serupa secara temporer. Hal ini bergantung sepenuhnya pada dinamika suplai gas dan kondisi geologis di dalam tubuh gunung.

Dinamika Aktivitas Gunung Anak Krakatau

Kemunculan pola geokimia ini tidak menandakan adanya ancaman bahaya yang bersifat luar biasa. Perubahan visual di dasar kawah merupakan siklus wajar setelah sebuah gunung api menyelesaikan fase letusannya.

Pihak berwenang dan para peneliti terus memantau perkembangan aktivitas vulkanik secara berkala guna memastikan keselamatan masyarakat di sekitar pesisir Banten dan Lampung. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan merujuk pada informasi resmi dari instansi kebencanaan.

Erupsi besar yang menjadi awal mula perubahan sistem hidrotermal ini tercatat terjadi pada 3 September 2026 yang lalu.

Fenomena ini merupakan proses geokimia alami di lingkungan kawah vulkanik aktif, bukan sesuatu yang aneh, misterius, atau pertanda bahaya.

Pertanyaan Umum

Apa penyebab utama munculnya pola seperti telur ceplok di kawah Anak Krakatau?

Pola tersebut terbentuk dari interaksi antara air genangan di kawah dengan gas vulkanik seperti sulfur, serta batuan yang mengalami alterasi hidrotermal setelah erupsi.

Apakah istilah telur ceplok merupakan nama resmi dalam ilmu vulkanologi?

Bukan. Istilah tersebut hanyalah sebutan informal dari masyarakat berdasarkan kemiripan visual dari udara, sedangkan secara ilmiah disebut sebagai genangan kawah dengan perubahan geokimia.

Kapan fenomena visual ini mulai ramai diperbincangkan publik?

Video penampakan kawah tersebut mulai viral di media sosial pada 18 September 2026, disusul dengan pemberitaan luas pada 19 September 2026.

Ringkasan

Fenomena visual menyerupai telur ceplok yang muncul di kawah Gunung Anak Krakatau pascaerupsi besar pada 3 September 2026 merupakan hasil dari proses geokimia alami. Menurut anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, pola unik ini tercipta dari interaksi kompleks antara genangan air, gas vulkanik, serta batuan kawah.

Berdasarkan analisis ilmiah, warna kuning di bagian tengah formasi tersebut berasal dari endapan sulfur atau belerang, sedangkan warna putih di sekelilingnya terbentuk dari batuan yang mengalami alterasi hidrotermal. Istilah “telur ceplok” sendiri hanyalah sebutan informal dari masyarakat di media sosial dan bukan merupakan nomenklatur resmi dalam ilmu vulkanologi.

Para ahli memastikan bahwa kemunculan pola geokimia ini adalah siklus wajar setelah aktivitas vulkanik mereda dan tidak menandakan adanya ancaman bahaya luar biasa. Pihak berwenang tetap melakukan pemantauan berkala terhadap sistem hidrotermal tersebut guna memastikan keamanan masyarakat di sekitar Selat Sunda.

Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Haji Isam Negosiasi Akuisisi 62 Persen Saham BYAN
Krisis Air Bersih Melanda 13 Desa di Bangka Belitung Akibat Kemarau
Alasan Ilmiah Manusia Sering Menunda Pekerjaan dan Cara Mengatasinya
Nusron Wahid Hadiri Rapat DPR RI Bahas RUU Pengaturan
Populasi Satwa Liar Endemik di Papua Selatan Menurun
Jadwal Sholat Surabaya dan Sekitarnya 21 September 2026
Laporan Indexing Google Search Console Hilang Juni 2026
KPK Identifikasi 8 Titik Rawan Masalah Pertanahan di Jabodetabek

Tulis Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *.

Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 20:59 WIB

Haji Isam Negosiasi Akuisisi 62 Persen Saham BYAN

Senin, 21 September 2026 - 19:49 WIB

Penyebab Fenomena Telur Ceplok Usai Erupsi Anak Krakatau Menurut Ahli

Senin, 21 September 2026 - 19:34 WIB

Krisis Air Bersih Melanda 13 Desa di Bangka Belitung Akibat Kemarau

Senin, 21 September 2026 - 18:17 WIB

Alasan Ilmiah Manusia Sering Menunda Pekerjaan dan Cara Mengatasinya

Senin, 21 September 2026 - 17:20 WIB

Nusron Wahid Hadiri Rapat DPR RI Bahas RUU Pengaturan

Berita Terbaru

Haji Isam dikabarkan tengah merintis negosiasi strategis untuk mengakuisisi 62 persen saham PT Bayan Resources Tbk.

Viral

Haji Isam Negosiasi Akuisisi 62 Persen Saham BYAN

Senin, 21 Sep 2026 - 20:59 WIB

Jawa Barat menghadapi krisis sampah dan kerusakan Daerah Aliran Sungai yang membutuhkan pembenahan total dari hulu ke hilir.

Adikarya Parlemen

Mengatasi Krisis Sampah dan Kerusakan DAS di Jawa Barat

Senin, 21 Sep 2026 - 20:20 WIB

error: Content is protected !!