Brilian!
Setelah berganti pakaian, Alson langsung menyuruhku tidur di atas kasur. Tanpa bertanya apakah aku mengizinkan, atau setidaknya berbasa-basi untuk itu, ia langsung membaringkan tubuhnya di sebelahku. Namun, aku tidak keberatan. Alih-alih marah karena Alston bersikap seperti itu, aku malah senang. Aku lebih senang lagi ketika kami tidur berhadapan, dengan jemari Alston yang memainkan helai-helai rambutku dan jemariku yang mengusap garis-garis wajahnya.
I love you, Hun, bisik Alston.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Secara ajaib, kata-kata itu mengirimkan getaran yang merangsang kerja kelima indraku. Mataku jadi lebih tajam menatap wajah Alston, telingaku lebih jelas mendengar helaan napasnya, hidungku lebih peka terhadap aroma tubuhnya, kulitku lebih sensitif terhadap sentuhannya, bahkan lidahku seakan-akan bisa merasakan tubuhnya.
I love you too, Bee.
Udah lama aku kepingin begini sama kamu. Bisa tidur berdua sama kamu, bisa belai wajah kamu.
Alston mengecup keningku dengan hati-hati, tetapi kehati-hatiannya malah menimbulkan bara dalam tubuhku.
Aku sayang kamu, kata Alston lagi, kali itu sambil menjalankan tangannya dari pundak hingga ke pinggangku, mendatangkan sensasi gesekan dua batu yang memercikkan api. Bara dalam tubuhku pun mulai menyala.
Kita seharusnya enggak begini.
Itu akal sehatku yang bicara. Ia berusaha meredam letupan gairah yang hampir tak terkendali agar tidak menggila sebelum waktunya.
Aku banyak menahan diri selama ini, Hun.
Aku tahu, aku juga sama. Tapi ini enggak bener, Bee. Aku enggak begini sama Reivan
Jangan sebut nama itu sekarang.
Aku ngejaga ini buat setelah nanti kita menikah
Apa bedanya kalau kita ngelakuinnya sekarang? Hari ini atau nanti, kamu sama aku bakal begini juga.
Aku terdiam dan memejam, menikmati tiap sentuhan Alston yang penuh dengan muatan cinta. Bagaimana bisa satu sentuhan membangkitkan riak gelora yang begitu tak tertahankan?
Bibir Alston merapat ke bibirku. Napasnya yang hangat menyapu pipiku, telingaku, leherku ¦ seketika itu pula aku kehilangan kendali diri.
Kurasa aku mendengar Alston sempat bertanya, apakah aku mau melakukannya, apakah aku mengizinkannya. Kurasa aku tidak menjawab, atau mungkin aku menjawab tetapi bukan dengan kata-kata yang tertata, melainkan dengan belaian dan sentuhan.
Mungkin kukatakan lakukan saja. Mungkin aku juga bilang aku menginginkannya. Mungkin karena itulah kubiarkan Aslton menuntun gairahku agar bersama-sama memasuki pintu gairahnya, berjalan melewati lorong hasratnya, lalu keluar dari gerbang kepuasan yang sama dengannya.
Malam itu, Alston menciptakan jutaan kupu-kupu dari ketiadaan. Tiap kupu-kupu itu memasuki tubuhku, sayap mereka membawaku terbang hingga ke langit ketujuh. Saat mereka mendaratkanku kembali ke bumi, aku tersenyum dan tersadar, aku bahagia.
Alston membuatku bahagia. Ia melengkapiku seutuhnya. []
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest
Halaman : 1 2






